... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Motif Politis dan Agama di Balik Tragedi Rohingya

Foto: Militer Myanmar membakar rumah warga Rohingya dengan dalih dijadikan tempat tinggal "teroris" [foto: BBC Arabic]

KIBLAT.NET – Tragedi Rohingya membuat setiap Muslim terluka. Bagaimana tidak, tersebar viral foto-foto saudara Muslim kita etnis Rohingya yang begitu nelangsa. Merekalah korban kekejian kaum Budha dan junta militer pemerintahan Myanmar. Akhirnya berbagai kecaman pun mengalir laksana air bah. Tak terbendung. Tuntutan untuk memutus hubungan diplomatik dengan rezim bengis Myanmar pun ramai-ramai disuarakan. Tak ketinggalan, seruan untuk mengirimkan tentara ke Myanmar juga lantang terdengar. Memang begitulah semestinya, karena yang dibutuhkan Rohingya bukan sekadar bantuan kemanusiaan, diplomasi basa-basi, doa, apalagi sekadar air mata.

Sungguh Rohingya butuh kepedulian pemimpin-pemimpin negeri Muslim untuk mengakhiri pembantaian atas mereka selama-lamanya. Di sinilah Ukhuwah Islamiyah diuji. Apakah lebih mengedepankan sekat nasionalisme daripada menolong saudara seakidah? Bukankah sesama Muslim itu satu tubuh? Ketika satu bagian terasa sakit, maka yang lagi ikut pula merasakan sakitnya.

Sebab sejatinya di balik tragedi Rohingya ada upaya pemusnahan etnis yang kental dengan motif politis dan agama. Sayangnya semua itu ditutupi rapat-rapat dengan dalih takut menjadi provokasi. Kemudian diserulah dengan lantang oleh media bahwa ini konflik kemanusiaan. Tokoh-tokoh politik pun serentak mengatakan bahwa tragedi Rohingya bukan tragedi agama. Sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid, beliau mengatakan, sebaiknya masyarakat tidak terjebak dalam melihat isu kekerasan terhadap warga Rohingya sebagai konflik antara Islam dan Buddha. Hal tersebut, menurut Yenny, justru akan menimbulkan polemik di dalam negeri.(Kompas.com/06-09-2017)

Sebagai seorang Muslim tentu kita harus cerdas dan kritis memandang setiap persoalan yang terjadi. Tak mudah terseret opini yang sengaja digiring media. Tak juga mudah termakan hoax yang beredar. Agar tak salah bersikap, agar tak salah menilai.

BACA JUGA  Olahraga: Sunnah yang Terlupakan

Dulu, ada negara namanya Arakan, penduduknya Muslim yang berjumlah sekitar 3 juta jiwa. Sedangkan negara yang bersebelahan dengan Arakan, namanya Burma. Kemudian kedua negara ini akhirnya bersatu di bawah nama Myanmar. Kaum Buddha menjadi mayoritas karena jumlahnya mencapai 50juta jiwa, dibanding etnis Rohingya (Muslim) yang hanya  3 juta jiwa.

Sejak saat itu. populasi etnis Rohingya terkonsentrasi di dua kota utara Negara Bagian Rakhine sebelumnya disebut Arakan. Etnis Rohingya adalah masyarakat Muslim yang hidup tanpa kewarganegaraan di Myanmar.

Jika kita menilik jernih fakta sejarah, pembantaian etnis Rohingya secara keji dan membabi buta adalah bukan sekadar masalah kemanusiaan, tetapi genosida pembersihan etnis yang terencana sejak lama. Ada kepentingan koorporasi kapitalis asing dan aseng di tanah tempat etnis Rohingya menetap.

Sebagaimana di lansir oleh Republika.co.id pada 13 September 2017 bahwa dikatakan bahwa sesungguhnya yang terjadi di belakang Tragedi Rohingya adalah di Myanmar terjadi penggusuran petani kecil untuk memberi ruang bagi perampasan tanah secara besar-besaran. Sejak investor asing memasuki negara tersebut, permintaan atas tanah telah menjadi faktor utama dalam konflik Myanmar. Selain Myanmar jadi perbatasan Asia terakhir untuk pembangunan perkebunan pertanian, pertambangan, dan ekstraksi air. Myanmar juga berada di antara dua negara terpadat di dunia, Cina dan India, keduanya lapar akan sumber daya alam.

Tak hanya itu, sentimen agama juga ada di balik tragedi ini. Penyerangan bus yang berisi penumpang Muslim oleh sekelompok Buddha hingga memakan korban tewas 10 orang Muslim dipicu oleh adanya selebaran fitnah dari sekelompok orang.

BACA JUGA  Arab Saudi, Visi 2030, dan Sportswashing

Fitnah tersebut disebarkan oleh orang-orang Budha Rakhine terhadap minoritas Muslim Rohingnya. Dimana dikatakan bahwa tiga pemuda Muslim telah membunuh dan memperkosa seorang wanita Buddha berusia 26 tahun. Tentu saja semua itu bohong. Dimana sebenarnya perempuan itu diperkosa dan dibunuh oleh pacarnya bersama beberapa gang pemuda Budha Rakhine.

Menurut Versi lainnya, aksi penyerangan terhadap etnis Rohingya merupakan tindakan balasan atas penyerangan yang dilakukan oleh ARSA ( Arakan Rohingya Salvation Army ) pada tanggal 25 Agustus lalu ke pos-pos Militer di negara bagian Rakhine. Katanya, kelompok itu membunuh 12 orang dalam serangan terbesar mereka hingga saat ini. Jika memang benar itu serangan balasan mengapa begitu membabi buta? Wanita, lansia, anak-anak dan bayi pun menjadi korbannya. Bahkan rumah-rumah dibakar secara sadis. Tak masuk akal!

Dunia bungkam, pemimpin negeri-negeri Muslim pun tak mampu berbuat banyak selain mengecam.Lebih menyedihkan lagi ketika pejuang demokrasi Myanmar sekaligus peraih Hadiah Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi memilih diam menghadapi kebijakan Presiden Thein Sein dalam menyelesaikan kasus etnis Rohingya.

Nasib Rohingya terkatung-katung sejak lama. Sudahlah tak memiliki kewarganegaraan, ruang hidup mereka dibatasi, ditambah saat ini populasi mereka berusaha dibumihanguskan. Sungguh, hanya institusi politik Islam yang mampu mengakhiri segala bentuk kedzaliman terhadap kaum muslimin, bukan hanya Rohingya, tapi juga Palestina, Irak, Suriah. Kedzaliman yang nyata dan terkesan direstui dunia adalah karena umat Islam terpecah belah bagaikan buih di lautan, tak memiliki pemimpin. Wallahu’alam

Penulis: Hana Annisa Afriliani, S.S


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Arab Saudi

Sebab-sebab Ini Diduga Dorong Saudi Tangkapi Ulama dan Aktivis

Selain karena persoalan Qatar, penangkapan ini juga disinyalir untuk mengamankan kekuasaan Raja

Kamis, 14/09/2017 09:42 0

Arab Saudi

Saudi Tolak Penyelidikan Internasional Pelanggaran HAM di Yaman

"Kami bekerja sama dengan harapan bisa mencapai solusi pertengahan,” kata Abdel-Aziz al-Wasil, Dubes Saudi di PBB, kepada media.

Kamis, 14/09/2017 08:22 0

Suriah

Rezim Akan Gusur Pemakaman Pejuang Aleppo, Warga Khawatir

Warga Suriah anti rezim Assad mengungkapkan keprihatinan mendalam atas niat rezim memindahkan makam sementara warga dan pejuang di Taman Aleppo ke makam baru di pinggiran utara kota, dekat kota industri Sheikh Najjar, lapor portal Arabi21.com pada Rabu (13/09).

Kamis, 14/09/2017 06:41 0

Indonesia

Hina Islam, Akun Tirtahati Chandra Dilaporkan ACTA ke Polisi

Akun Facebook Tirtahati Chandra (TC) dilaporkan Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) ke Bareskrim Polri atas dugaan penyebaran ujaran kebencian berunsur SARA.

Rabu, 13/09/2017 21:30 0

Indonesia

Dinilai Cacat, Polisi Diminta Hentikan Kasus Alfian Tanjung

Barang bukti kasus Alfian Tanjung tak tunjukkan adanya pencemaran nama baik

Rabu, 13/09/2017 20:06 0

Afghanistan

Taliban: Tragedi Rohingya Bukti Standar Ganda terhadap Umat Islam

Imarah Islam Afghanistan mengeluarkan pernyataan kedua berkenaan krisis kemanusian yang menimpa etnis Muslim minoritas Rohingya.

Rabu, 13/09/2017 19:23 0

Indonesia

Pengacara Sebut Ada Pelanggaran HAM dalam Penanganan Kasus Alfian Tanjung

“Penanganan perkara Ustadz Alfian Tanjung oleh Polisi ini sejajar dengan perkara extra ordinary crime atau kejahatan luar biasa"

Rabu, 13/09/2017 18:59 0

Amerika

Keputusan Mahkamah Agung: Trump Bebas Tolak Pengungsi dari Seluruh Dunia

Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Selasa (12/09) mengizinkan Presiden Donald Trump untuk secara luas menerapkan pelarangan masuk terhadap para pengungsi dari seluruh dunia.

Rabu, 13/09/2017 17:17 0

Myanmar

Kunjungi Pengungsi Rohingya, Perdana Menteri Bangladesh: Kami di Samping Kalian

Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina mengunjungi kamp penampungan pengungsi muslim Rohingya Kutupalong, di Ukhiya, Cox's Bazar perbatasan Bangladesh-Myanmar

Rabu, 13/09/2017 16:44 0

Suriah

Saat 69 Warga Suriah Tewas, Syiah Hizbullah Klaim Menang di Suriah

Sekutu kuat rezim Bashar Assad, Syiah Hizbullah mengklaim kemenangan dalam perang Suriah. Meskipun masih tersisa sejumlah pertempuran di wilayah Suriah timur.

Rabu, 13/09/2017 16:12 0

Close
CLOSE
CLOSE