Kronologi Penangkapan Asma Dewi, Sosialita yang Diduga Terlibat Saracen

KIBLAT.NET, Jakarta- Asma Dewi, ibu rumah tangga dan seorang pengguna media sosial ditangkap karena kasus hate speech dan dugaan keterlibatannya dengan Seracen. Penangkapan dilakukan pada pukul 7 pagi, Jumat (08/09) di rumahnya Kompleks AKRI, Jalan Ampera Raya Jakarta Selatan.

Asma Dewi memiliki keluarga yang berlatar belakang dari kepolisian. Ia merupakan putri dari seorang mantan petinggi Polri. Begitu pula kakak dan suaminya juga merupakan anggota kepolisian. Suaminya kini tengah bertugas di Gorontalo.

Hal itu diungkap oleh pengacara Asma Dewi, Djuju Purwantoro kepada Kiblat.net saat ditemui di kantornya di Jalan Hj Sa’abun, TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (12/09).

“Beliau ditangkap dirumah almarhum bapaknya yang merupakan mantan petinggi Polri. Sekarang rumah keluarganya itu ditinggali oleh kakaknya, dan Bu Asma sendiri punya rumah di Ciledug, Tangerang,” ungkap Djuju Purwantoro.

Menurut keterangan Djuju, penangkapan dilakukan saat Asma tengah bercengkrama dengan keluarganya. Polisi yang mendatangi rumahnya saat itu, langsung membawanya ke Bareskrim untuk penyidikan awal.

“Penangkapanya kami kira tidak logis dan melanggar hak asasi manusia, karena ketika ditangkap, Ibu Asma tidak diperbolehkan siap-siap dulu ketika akan dibawa ke Bareskrim untuk penyidikan awal,” ungkap Djuju.

Selain itu, Djuju juga bercerita tentang bagaimana proses penangkapan terjadi. Para aparat datang dengan melompati pagar dan memutus aliran listrik dengan cara mematikan sekring rumah. Cekcok juga sempat terjadi saat itu ketika kakak Asma yang juga polisi tidak diberikan surat penangkapan.

BACA JUGA  Viral Azan "Hayya 'alal-jihad", Wamenag Minta Tokoh Islam Beri Pencerahan

“Memang polisi berhak menangkap seseorang jika sudah terpenuhi bukti-buktinya, tapi ya itu apa harus dengan cara melompati pagar dan juga memutus listrik. Bahkan, ketika ada ibu pengurus RW yang menanyai polisi sedang melakukan apa di rumah Bu Asma, malah pengurus itu di usir dan tidak diperbolehkan mendekat,” ungkapnya.

 

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Syafi’i Iskandar

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat