... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Surat dari Rohingya: Kami Sedang Menghadapi Kepunahan

Foto: Lebih dari 270.000 Rohingya yang terdiri dari wanita dan anak-anak melarikan diri dari Myanmar dalam dua pekan terakhir (Mohammad Ponir Hossain/Reuters)

Kami sedang menghadapi kepunahan. Kecuali bila masyarakat internasional berdiri di sisi kami, bangsa yang paling teraniaya di dunia ini. Kami akan menghadapi genosida dan Anda, Anda semua akan menjadi saksi akan hal itu.

KIBLAT.NET, Maungdaw- Sepanjang hidupku, tepatnya sejak 24 tahun lalu, aku telah menjadi seorang tahanan di sebuah penjara terbuka, Anda tahu? Penjara itu adalah Rakhine State.

Aku dilahirkan di Myanmar, sebagaimana kedua orangtuaku. Namun lahir sebagai orang yang tidak memiliki kewarganegaraan. Bahkan, sebelum aku berada di kandungan.

Aktivitas, pendidikan, akses ke layanan kesehatan bahkan karirku sangat dibatasi (oleh pemerintah). Hal itu semata-mata hanya karena latar belakang etnisku.

Aku dilarang bekerja di pemerintahan. Aku tidak bisa melanjutkan pendidikan tinggi, dilarang mengunjungi Ibukota Yangon. Dan bahkan dicegah untuk meninggalkan negara bagian Rakhine State.

Aku sedang mengalami bentuk diskriminasi terburuk (sepanjang kehidupan manusia). Semua itu karena aku Rohingya. Ya, seorang Muslim dengan etnis Rohingya.

Selama bertahun-tahun, hak-hak paling dasar bangsaku telah dihapuskan. Selang hari, kami terus dibunuh. Ditembak mati di depan mata, secara sistematis dibuat lumpuh. Rumah kami diruntuhkan tepat di depan mata kami. Kami adalah korban dari sebuah negara yang brutal.

Bagi Anda yang sangat ingin tahu kondisi kami, aku berikan sebuah analogi: Bayangkan seekor tikus terjebak di dalam kandang seekor yang kelaparan. Seperti itulah apa yang dialami etnis Rohingya.

Cara kami untuk bertahan hidup dengan terus berlari atau berharap seseorang akan datang dan membawa kami keluar.

Sedangkan bagi kami yang hanya berdiam diri, sebuah kampanye mematikan akan memisahkan kami dari komunitas Rakhine.

Kami dipanggil dengan sebutan “Kalar” (cercaan yang sering digunakan terhadap Muslim) oleh umat Buddha. Baik itu seorang anak maupun orangtua, tidak ada lolos dari sebutan itu.

Kami menghadapi diskriminasi baik di sekolah hingga di rumah sakit. Ada juga sebuah kampanye oleh umat Buddha untuk memboikot kami dari akses jual beli.

“Hanya boleh dibeli oleh umat Buddha,” begitu kata mereka.

Alasan umat Buddha Myanmar adalah “jika uangmu diberikan kepada seorang Buddha, mereka akan membantumu membangun sebuah Pagoda. Tetapi, bila kamu memberikan uangmu kepada Muslim, mereka justru akan membangun Masjid.”

Ketika Aung San Suu Kyi, pemenang Nobel Perdamaian memenangkan pemilu parlemen tahun 2015, berakhir setengah abad nominasi militer. Kami punya harapan besar akan sebuah perubahan.

(Saat itu) kami sangat yakin bahwa wanita ini, dipuji sebagai mercusuar demokrasi, akan mengakhiri kekerasan dan penindasan terhadap kami.

Sayangnya, semuanya menjadi jelas. Nyatanya, dia sama sekali tidak bersuara untuk kami. Bahkan, dia mengabaikan penderitaan kami.

Diamnya dia memperlihatkan keterlibatannya dalam kekerasan ini. Pada akhirnya, dia gagal. Harapan kami lenyap, kami pun gagal.

Pada tahun 2012, bangsa Rohingya dibantai dalam jumlah besar di salah-satu serangan paling mengenaskan. Sekitar 140.000 orang terpaksa mengungsi. Sebuah peristiwa yang kembali terulang pada tahun 2016.

(Kami) Ditembak, dibantai, dan dibakar hidup-hidup di depan keluarga. Kekerasan Oktober lalulah yang menuntut Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) tampil, kelompok kecil dari orang-orang yang berusaha membela diri.

Namun, sekarang saudari perempuan dan ibu kami terpaksa melahirkan di sawah seperti itulah kami menjalankan hidup dalam kekerasan ini.

Ada yang mengatakan bahwa ini pertempuran terjadi dari dua kelompok yang seimbang. Itu tidak benar.

Anak-anak kami ditembaki saat mereka lari dan jasad-jasad perempuan mengambang di sungai. Ini bukanlah pertempuran yang seimbang.

Kami sedang menghadapi kepunahan. Kecuali bila masyarakat internasional berdiri di sisi kami, bangsa yang paling teraniaya di dunia ini. Kami akan menghadapi genosida dan Anda, Anda semua akan menjadi saksi akan hal itu.

 

Penulis surat ini meminta agar dirahasiakan identitasnya karena kekhawatiran akan keselamatan dirinya dari serangan pemerintah Myanmar.

Penulis menyampaikan surat ini kepada jurnalis Al-Jazeera, Faisal Edroos. Diterbitkan melalui laman Al-Jazeera berbahasa Inggris pada Senin, 11 September 2017.

Surat ini telah melalui proses editing, agar lebih mudah dipahami.

Pandangan yang disampaikan dalam surat ini sepenuhnya dari sang penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Al-Jazeera.

 

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Syafi’i Iskandar

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Surat dari Rohingya: Kami Sedang Menghadapi Kepunahan”

  1. Lenny

    Selamat kan Rohingya. Jangan mau dikibuli oleh budha2 Myanmar. Kalau umat Budha lainnya tak mengecam budha2 myanmar. Berarti memang begitulah budha yg sesungguhnya!

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Opini

Berkorban untuk Taat

KIBLAT.NET – Masih dalam bulan Zulhijjah. Masih dalam suasana memperingati agungnya pengorbanan Nabi Ibrahim as....

Senin, 11/09/2017 17:31 0

Amerika

Badai Irma Terjang Amerika, 5 Tewas dan Jutaan Orang Mengungsi

Badai Irma terjang wilayah Florida, Amerika Serikat dengan kecepatan 100 mil per jam.

Senin, 11/09/2017 16:59 0

Amerika

Letjen Robert Ashley Jr Dilantik sebagai Direktur DIA

Jenderal Angkatan Darat Amerika, Letjen Robert P. Ashley, Jr, baru-baru ini dikonfirmasi oleh Senat A.S. sebagai Direktur Agensi Intelijen Pertahanan (DIA) ke-21.

Senin, 11/09/2017 16:33 0

Irak

Banyak Jatuh Korban Sipil di Mosul, Hak Asasi Iraq Tuntut Pasukan Koalisi

Komisi resmi yang menangani hak asasi manusia di Iraq berencana akan menuntut pasukan koalisi asing pimpinan AS yang diduga telah menyebabkan kematian lebih dari 2.000 warga sipil di kota Mosul.

Senin, 11/09/2017 15:33 0

Indonesia

Di Selat Singapura, BMH Turun Aksi Peduli Rohingya

KIBLAT.NET, Batam – Krisis kemanusiaan di Myanmar yang menyebabkan ribuan etnis minoritas Rohingya yang tinggal...

Senin, 11/09/2017 15:14 0

Rilis Syamina

Laporan Syamina: Beban Pajak, Sebuah Prakondisi Jihad Diponegoro

Pajak yang semakin tinggi membuat rakyat semakin miskin dan menderita. Apalagi ditambah dengan bencana alam gunung meletus dan wabah penyakit kolera yang semakin memperburuk keadaan. Pemerintah lokal dan penjajah Belanda yang mengontrolnya tidak peka dengan penderitaan rakyat, tetapi justru menaikkan pajak dan berbagai jenis bea (pajak) bagi barang-barang dagangan di gerbang-gerbang tol.

Senin, 11/09/2017 14:07 0

Video News

Editorial : Ketika Kaum Terpelajar Menolak Cadar

KIBLAT.NET – Entah kenapa cadar bagi Muslimah kini seolah menjadi barang tabu. Sejumlah negara-negara Eropa...

Senin, 11/09/2017 12:37 0

Video News

Tengku Zulkarnain: Ini yang Bisa Kita Lakukan untuk Rohingya

KIBLAT.NET – Kezaliman terhadap muslim Rahingya mengundang perhatian dunia, terutama kaum muslimin. Termasuk saudara-saudara mereka...

Senin, 11/09/2017 10:40 0

Myanmar

Pemerintah Myanmar Tolak Gencatan Senjata ARSA

Pemerintah tidak akan berunding dengan “teroris”. Pernyataan itu ditulisnya beberapa jam setelah pernyataan gencatan senjata ARSA

Senin, 11/09/2017 09:35 1

Rusia

Rusia Tangkap Puluhan Peserta Aksi Solidaritas Rohingya

Sementara itu, polisi tidak memberikan informasi mengenai jumlah peserta aksi yang ditahan. Kantor berita AFP menyebutkan, jumlah demonstran yang ditangkap di kota Saint Petersburg sebanyak 100 orang.

Senin, 11/09/2017 08:17 0