Mungkinkah Orang Indonesia Jadi Imam di Masjidil Haram?

KIBLAT.NET, Mekkah — Shalat di Masjidil Haram, menurut Nabi SAW pahalanya berlipat hingga 100.00 kali. Itulah sebabnya mengapa banyak kaum Muslimin bersemangat untuk melakukan shalat di sana, terlebih di saat mengerjakan ibadah haji atau umrah.

Pesona Masjidil Haram tidak terbatas pada pahala yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Bagi seorang Muslim, sujud dan rukuk langsung dengan Ka’bah berada persis di depan mata, memiliki nilai ruhiyah tersendiri.

Selain itu, mendengarkan kumandang azan dengan suara yang indah dan juga bacaan Al-Quran yang dilantunkan imam shalat, menjadi pengalaman batin yang luar biasa. Ka’bah yang biasa dilihat hanya di gambar, atau suara merdu imam Masjidil Haram yang hanya kita dengar lewat file digital, kini ada di hadapan kita.

Namun, mungkinkah orang Indonesia bisa menjadi muazin atau bahkan imam shalat di Masjidil Haram?

Pertanyaan itu dilontarkan seorang jamaah haji asal Indonesia dalam acara pertemuan bersama Syaikh Ahmad bin Yunus Khaujah, salah seorang muazin Masjidil Haram. Menjawab pertanyaan itu, ia mengatakan bukan wewenangnya untuk menjawab mungkin atau tidak.

“Tetapi Anda sekarang sering berada di Baitullah (Ka’bah). Harusnya orang bersemangat untuk memperbanyak doa di dalamnya,” kata Syaikh Ahmad bin Yunus mengingatkan.

Selanjutnya ia menceritakan pengalaman pribadinya, di mana sebelum lolos menjadi muazin Masjidil Haram, bapaknya telah mendoakannya selama 15 tahun. Demikian pula Syaikh Bandar Balilah, salah satu imam Masjidil Haram. “Selama 20 tahun sebelumnya, bapaknya selalu mendoakan agar ia menjadi imam Masjidil Haram,” tutur Syaikh Ahmad.

BACA JUGA  Habib Rizieq dan Menantunya Dipanggil Polisi Atas Tiga Tuduhan

Ia menambahkan, ada ribuan lamaran masuk menjadi muazin. Selanjutnya, calon-calon tersebut akan diseleksi berdasarkan pengetahuan terhadap agama Islam, rekomendasi beberapa tokoh dan kemampuan si pelamar. “Dari 600 orang yang melamar bersama saya saat itu, hanya 3 yang diterima,” kenangnya.

Pertemuan dengan Syaikh Ahmad bin Yunus itu sendiri digagas oleh Markaz Inayah bil Jaliyat Indonesia. Sebuah perkumpulan yang terdiri dari beberapa mahasiswa asal Indonesia yang tinggal di Saudi, dan bergerak dalam kegiatan dakwah sesama warga Indonesia yang tinggal di Arab Saudi.

Pertemuan dilaksanakan di ruang pertemuan Masjid Al-Rajihi, Mekkah pada Rabu (06/09) kemarin. Dihadiri sekitar 200 jamaah haji asal Indonesia, di antaranya Ust. Tengku Zulkarnain, Ust. Farid Ahmad Okbah, Ust. Fadlan Garamatan dan Bupati Bone, Andi Fahsar Mahdin Padjalangi.

Reporter: Tony Syarqi
Editor: Hamdan

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat