... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Sialnya Orang Rohingya di Tengah Kecamuk Perang Media Sosial

KIBLAT.NET – Matahari hampir terbenam ketika kami sampai di Penang, Malaysia. Perjalanan darat dilalui hampir enam jam dari Kuala Lumpur ke Penang. Sisa-sisa hujan membuat hawa semakin sejuk. Kepergian ke Penang kali adalah misi “sederhana” untuk berbagi Qurban dengan saudara muslim kita pengungsi Rohingya, yang tinggal di daerah Penang. Para pengungsi ini bukan pengungsi baru, mereka telah beberapa waktu tinggal di Penang. Beberapa dari mereka datang pada tahun 2014, dan setelahnya.

Bekerjasama dengan NGO lokal Malaysia, UNIROD, hewan qurban ini didistribusikan ke beberapa titik di Penang yang dihuni oleh pengungsi asal Rakhine. UNIROD pula lah yang selama ini mengatur program untuk membantu para pengungsi tersebut. Pimpinan UNIROD ini pun beretnis Rohingya, hanya saja telah bermigrasi ke Malaysia sejak awal dekade 90-an.

Mungkin, para pengungsi Rohingya di Penang ini termasuk dari sedikit yang beruntung. Mereka masih mendapatkan tempat yang layak untuk hidup. Bahkan beberapa kelompok dari pengungsi ini mendapat program pendidikan, seperti sekolah tahfidh misalnya. Namun, tetap saja, konflik selalu menyisakan luka dan kesedihan.

Luka umat Islam Rohingya ini hanya satu, di antara luka-luka lain yang masih perih dirasakan dalam tubuh umat Islam. Masih ada luka di Suriah, di Palestina, Xinjiang, Patani, dan beberapa tempat lain di bumi. Pun, ini bukan pertama kali konflik di Rakhine, Myanmar, yang mayoritas dihuni etnis Rohingya, terjadi.

Hari ini eskalasi konflik kembali terjadi di Rakhine, provinsi tempat Muslim Rohingya bertempat tinggal. Ribuan mengungsi ke Bangladesh, negara tetangga terdekat, hingga Bangladesh angkat tangan dan tak mau lagi membuka pintu untuk pengungsi Rohingya. Ribuan lagi masih terlunta-lunta di alam bebas.

Rohingya di dalam Kecamuk Perang Opini

Malam semakin beranjak ketika daging qurban selesai didistribusikan ke beberapa titik pengungsian Rohingya. Tetiba memori meluncur jauh. Jauh kembali ke jagad media social Indonesia. Dunia maya tempat perang opini, yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Seperti konflik-konflik lain yang ketika korbannya adalah umat Islam, selalu saja ada pihak-pihak yang memunculkan isu miring, yang mencoba untuk mengalihkan fokus dan perhatian publik pada fakta yang terjadi. Setidaknya ada dua hal yang selalu menjadi “senjata” pihak-pihak ini.

Pertama, konflik selalu memunculkan banyak teori penyebab. Dalam konflik yang korbannya adalah menimpa muslim Rohingya ini pun banyak teori yang bermunculan di media sosial. Ada yang berkata bahwa konflik ini berlatar agama, kebrutalan umat Budha yang dipicu oleh ujaran kebencian Biksu Wirathu. Ada pula yang menganggap bahwa konflik ini bukan berlatar agama, hanya soal gesekan social antara penduduk lokal Myanmar, dengan etnis Rohingya yang dianggap sebagai pendatang illegal. Ada beberapa teori lain pula, yang saya tidak mau membahasnya.

Terlalu banyak berteori tentang penyebab konflik akan menghabiskan waktu, dan membuat kita berbantah, lalu hanya berbuat sedikit, ataupun malah tak berbuat apapun untuk membantu korban konflik. Teori-teori ini adalah asumsi. Asumsi yang diyakini oleh pembuatnya, lalu disebarkan ke public agar public menerima dan mendukung teorinya. Seharusnya, kita fokus pada fakta, bahwa ada banyak korban, dan mereka muslim, yang wajib kita bantu.

Salah atau benar teori penyebab konflik yang kita percayai, tidak menurunkan urgensi untuk membantu korban konflik. Toh, bila ada rumah tetangga kita terbakar, apakah kita perlu sibuk berdebat dahulu tentang penyebab kebakaran, lalu mengacuhkan rumah yang semakin habis terbakar? Atau, kita perlu memperdebatkan terlebih dahulu, apakah tetangga kita itu orang asli daerah atau bukan?

Seorang bocah Rohingya menggendong balita di atas pundaknya setelah menyeberangi perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh, September 1, 2017. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

Kedua, mengekspos secara masif berita benar yang disisipi foto dari peristiwa lain. Sebuah foto biasanya mengiringi sebuah berita, termasuk di media sosial. Sayangnya, ada beberapa berita peristiwa yang menyampaikan kejadian A, tetapi menggunakan foto yang merupakan kejadian B. Di era ini memang sangat susah membedakan dan memilah sesuatu hal yang tersebar di media social adalah sebuah hoax atau bukan. Apalagi, rekayasa foto dan video adalah bukan lagi hal yang sulit dilakukan. Memvalidasi berita yang kita terima adalah sangat penting, agar yang kita terima adalah berita-berita yang sesuai kondisi nyata di lapangan.

Proses untuk validasi berita lebih mudah dilakukan daripada validasi sebuah foto atau video. Kita bisa merunut riwayat penyebar berita, dan mengkomparasikan dengan sumber lain. Namun, untuk memvalidasi sebuah foto benar-benar berkaitan dan menggambarkan isi berita, perlu kecermatan yang lebih. Bahkan seorang pegiat media social yang juga mantan menteri pun juga tersandung hal ini.

Titik lemah ini pun menjadi sasaran serang untuk mengaburkan fakta yang terjadi. Ketidaksinkronan antara berita dan foto adalah sebuah kesalahan. Namun, harusnya tidak menutupi esensi pesan yang disampaikan, bahwa ada peristiwa yang sedang terjadi.

Satu hal yang patut disyukuri adalah bahwa sebenarnya umat Islam di Indonesia memiliki semangat yang besar untuk meng-update perkembangan berita tentang saudara sesama muslim yang didholimi. Semangat ini yang patut terus dijaga, dan semakin diperbaiki agar tidak lagi menjadi bulan-bulanan dan bahan risak.

Dus, mari kita fokus pada fakta bahwa saat ini sedang terjadi konflik yang korbannya etnis Rohingya, dan qadarullah, adalah beragama Islam. Maka kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah membantu. Membantu mereka agar tidak lagi dizalimi, mendapatkan kehidupan yang layak, dan selayaknya manusia lain.

Membantu dengan doa, qunut nazilah, dan memberikan donasi melalui lembaga mana pun bukan menjadi soal. Semoga, kita menjadi bagian dari mereka yang peduli, mau dan mewujudkan pembelaan dan uluran bantuannya kepada Muslim Rohingya. Bukan menjadi bagian dari mereka yang nyinyir tapi abai terhadap penderitaan sesama Muslim.

Mari berfastabiqul Khoirot.

 

 

Penulis: Multazim Jamil, gemar menekuni isu dan konflik kemanusiaan

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Pemerintah Diminta Terus Update Informasi soal Rohingya

Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia Bidang Hak Asasi Manusia (HAM) meminta pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Komunikasi dan Informatika agar terus mengupdate tentang kondisi Rohingya.

Rabu, 06/09/2017 12:50 0

Indonesia

Begini Sikap Syabab Hidayatullah terkait Krisis Rohingya

Ketua Syabab Hidayatullah, Suhardi Sukiman merasa bangga dengan adanya solidaritas umat Islam Indonesia kepada warga Muslim Rohingya. Ia menegaskan, solidaritas adalah perilaku yang diajarkan oleh Islam.

Rabu, 06/09/2017 12:12 0

Indonesia

Cuitan Kontroversial Hindu-Indonesia soal Rohingya Bikin Netizens Geram

Akun twitter Hindu-Indonesia atau @infoHINDU memuat cuitan kontroversial terkait genosida Rohingya di Myanmar. Pemilik akun menyebut bahwa Rohingya adalah etnis Islam Bengali yang tidak memiliki kewarganegaraan di Rakhine State.

Rabu, 06/09/2017 11:55 2

Afrika

Sulit Intai Pergerakan Jihadis Afrika, Prancis Tambah Drone

"Di luar batas kita, kita musuh lebih mampu bersembunyi, bergerak dan menghilang di gurun pasir yang luas dan di antara penduduk sipil," kata Barley dalam pidatonya di hadapan tentaranya, seperti dilansir Reuters Arabic

Rabu, 06/09/2017 09:12 0

Suriah

3571 Pengungsi Palestina Terbunuh Akibat Konflik Suriah

total korban warga Palestina selama konflik Suriah mencapai 3.571 jiwa, 463 di antaranya wanita.

Rabu, 06/09/2017 08:16 0

Indonesia

Pemuda Muhammadiyah: Tragedi Rohingya Momentum Fastabiqul Khoirot

Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa umat Islam Indonesia harus tetap memberikan bantuan pada saudaranya di Rohingya. Menurutnya, saat ini adalah momentum untuk menyatukan semangat solidaritas.

Rabu, 06/09/2017 07:28 0

Asia

Bangladesh Siapkan Pulau Terpencil Lagi Rawan Banjir untuk Tampung Rohingya

Bangladesh, salah satu negara termiskin dan terpadat di dunia, berencana terus maju mengembangkan pulau terpencil dan rentan banjir di Teluk Benggala untuk menjadi penampungan sementara puluhan ribu Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di negara tetangga Myanmar, kata beberapa pejabat.

Rabu, 06/09/2017 06:47 0

Indonesia

Ustadz Arifin Ilham Serahkan Bantuan untuk Rohingya

Ustadz yang memiliki ribuan jamaah itu menyerahkan bantuan sebesar 10 juta. Uang tersebut diserahkan pada hari Selasa (05/09), seusai melaksanakan shalat subuh, melalui Ustadz Ferry Nur, Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA).

Rabu, 06/09/2017 06:03 0

Indonesia

Ini Alasan Hasene Kembali Gandeng IZI Bantu Daerah Rawan Bencana di Indonesia

  KIBLAT.NET, Jakarta – Lembaga Kemanusiaan Internasional Hasene Germany sinergi bersama Lembaga Amil Zakat Indonesia...

Selasa, 05/09/2017 20:22 0

Myanmar

Genosida Rohingya Berlanjut, Pasokan Senjata Israel ke Myanmar Tak Surut

Israel terus menjual senjata ke Myanmar di tengah arus pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari tindak kekerasan militer di negara bagian Rakhine.

Selasa, 05/09/2017 14:31 0