Wantim MUI: Kasus First Travel Terjadi Karena Lemahnya Pengawasan Kemenag

KIBLAT.NET – Jakarta – Diduga masih ada sekitar 55 ribu calon jamaah umroh yang mendaftar di First Travel yang belum jelas nasibnya. Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin ‎menduga kasus ini terjadi karena lemahnya pengawasan dari Kementerian Agama (Kemenag).

“Saya menilai ini terjadi karena lemahnya pengawasan bahkan mungkin ada pengabaian, dan ada pembiaran,” ujar Din saat ditemui Kiblat.net di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat pada Rabu (23/08).

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menambahkan, hal seperti ini tidak mungkin terjadi apabila pengawasan yang baik berjalan. Karena lemahnya pengawasan itu, akibatnya jamaah yang tertipu oleh dua bos First Travel Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan bisa mencapai 55 ribu orang.

“Sehingga hal-hal seperti ini dibiarkan, begitu ada masalah besar ribut semua,” katanya.

Seharusnya, kata Din, sedari awal apabila ada jamaah yang dibawa First Travel tidak kunjung berangkat ke Tanah Suci, maka Kemenag bisa langsung bergerak untuk melakukan pengecekan. Sehingga jamaah yang tertipu tidak menjadi besar.

“Seyogyanya begitu mengetahui jamaah untuk Ramadan (umrah) tidak bisa berangkat, maka jangan menunggu bulan Ramadan selesai (Musim Haji tiba, red) baru dilakukan penindakan,” pungkasnya.

 

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Fajar Shadiq

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat