... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Wahai Nabi, Kini Aku di Sampingmu

Foto: Suasana di salah-satu sudut Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawarah pada 24 Agustus 2017 (foto: Tony Syarqi)

KIBLAT.NET, Madinah— Di musim haji 2017 ini, cuaca di Madinah cukup terik. Siang hari mencapai 40 derajat Celcius, sementara malam hari hanya turun menjadi 38-39 derajat Celcius. Subuh di Indonesia yang biasanya menghadirkan hawa sejuk, kini di Madinah ia hadir bersama hembusan angin yang lumayan menyengat wajah.

Namun bagi jamaah umrah atau haji—yang memang sejak di Indonesia sudah dikondisikan untuk menerima segala beban fisik, kondisi itu tak menyurutkan langkah. Termasuk 123 orang jamaah haji undangan Kedubes Arab Saudi yang diberangkatkan melalui Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah, Jakarta.

Tiba di Madinah sebelum memulai rangkaian ibadah haji tamattu’, jamaah melaksanakan shalat lima waktu di Masjid Nabawi. Jarak antara masjid dengan hotel tempat menginap sekitar 1,5 km. Cukup jauh untuk pejalan kaki—apalagi bolak-balik. Namun, ini adalah Madinah Al-Munawarah.

Kota tempat Masjid Nabawi, yang pahala shalat dilipatgandakan seribu kali. Masjid, yang di dalamnya ada sebuah taman dari taman-taman surga bernama Raudhah, tempat semua doa-doa yang dipanjatkan akan dikabulkan. Kota tempat Nabi SAW dan para shahabatnya bersemayam dari dunia fana—setelah merampungkan seluruh tugas dengan gemilang.

Di musim haji seperti sekarang ini, Masjid Nabawi hampir tak pernah mengenal kata lengang. Kalau mau mendapatkan tempat di dalam inti masjid, setidaknya dua jam sebelum adzan berkumandang, Anda harus menempatkan diri. Kalaupun sudah mendapatkan shaf yang baik (apalagi shaf awal), “perjuangan” (baca: kesabaran) belum selesai diuji.

Meski samping kanan-kiri kita sudah ada jamaah lain, tapi begitu terlihat celah sedikit saja, ada saja jamaah lain yang mencoba “menyusup,” terutama tetamu Allah yang datang dari Afrika. Jangankan orang Indonesia yang terkenal sering pekewuh dan mengalah, orang Pakistan maupun orang Eropa saja hanya bisa protes dengan menunjukkan muka masam.

BACA JUGA  Kyai Cholil Nafis: Semoga Mursi Diterima Sebagai Syuhada

Mereka dengan pede menggelar sajadah di antara shaf yang sudah rapat, lalu takbiratul ihram. Kalau sudah begitu, apa yang bisa Anda perbuat? Apalagi bagi yang memiliki sikap tepo-seliro dan sifat mengalah yang tinggi. “Ada Nabi SAW bersemayam di sini. Tidak baik untuk bikin ribut-ribut. Pamali!”

Tetamu Allah dari benua Afrika memang cukup mendominasi. Dari yang dijumpai penulis, jamaah asal Nigeria dan Ghana paling banyak dijumpai selain juga Mali dan Sudan. Berkulit gelap dan postur tubuh rata-rata di atas orang Indonesia, jangkauan langkah saat mereka berjalan juga lebih panjang. Melihat penampilan mereka, kita mungkin akan langsung teringat sosok Bilal bin Rabah.

Salah satu shahabat yang mulia, yang hanya tahu cara mempertahankan keislaman—di tengah siksaan kafir Quraisy—dengan sebatas ucapan “ahad.. ahad.” Bilal, muadzin khusus Nabi Muhammad SAW. Suaranya mengundang orang-orang untuk hadir di masjid ini untuk melaksanakan shalat. Namun suara emas itu hilang, seiring kepergian Nabi SAW ke alam barzakh. “Adzanku hanya untuk Nabi SAW,” tuturnya saat itu. Semoga Allah merahmati Bilal.

Namun ada yang patut disayangkan dari mereka. Hasrat kuat mereka untuk meraih keutamaan amal, sering terasa mengganggu ibadah jamaah lain. Saat askar mengatur jumlah jamaah yang hendak masuk Raudhah, seringkali terdengar suara kegaduhan di antara mereka. Begitu dipersilakan masuk, tak jarang terdengar kaki-kaki bising berlari bak lomba marathon.

Pemandangan yang tak jauh berbeda juga dapat dilihat ketika pintu Babus Salam, pintu masuk untuk melintas di depan makam Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA. Bila saat tertinggal jamaah shalat wajib kita tetap diharuskan memasuki masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, mereka malah setengah berlari. Padahal dekat pintu makam tertulis besar-besar ayat:

BACA JUGA  Jejak Perjuangan Syaikh Ahmad Surkati di Tanah Betawi

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (AlHujurat, 49:2)

Cerita “unik” di atas hanya bertujuan untuk membagi pengalaman semata. Berbicara soal Madinah dan Masjid Nabawi, terlalu sayang kalau semangat berburu amal kebaikan kemudian surut oleh “keunikan-keunikan” di atas. Apalagi kita yakin Allah Maha Mendengar dan Mengetahui setiap kehendak, maksud dan keinginan kita.

Lantunan doa yang lirih kita panjatkan dengan sepenuh hati, Allah Maha Kuasa untuk mengabulkannya meski kita berada di luar Raudhah. Salam dan shalawat yang kita lambaikan saat melintas di depan makam Nabi Muhammad SAW dan dua shahabatnya, tetap akan tercatat sebagai amal kebaikan, meski kita tidak berada di jalur terdekat dengan makam tersebut.

Bisikkan dengan nada penuh kerinduan, “Wahai Nabi, ini aku telah hadir. Aku berada di samping kuburmu!” Kenanglah segala sesuatu yang pernah Anda ketahui tentang dirinya, dan barisan shahabatnya yang setia menemani dalam suka maupun duka. Di sela-sela shalat, doa dan membaca Al-Quran, renungilah, bahwa dari tempat inilah cahaya Islam terpancar ke seluruh dunia.

Kalaulah hijrah ke Madinah tidak Allah wajibkan, tak mungkin kita sampai ke tempat ini. Kita mungkin masih menjadi mayat-mayat berjalan—makhluk yang jiwanya kosong dari cahaya keimanan, namun fisiknya masih hidup. Ya, di sini. Di masjid inilah seluruh kejayaaan Islam bermula.

 
Reporter: Tony Syarqi
Editor: Syafi’i Iskandar

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afghanistan

Kebijakan Baru AS di Afghanistan, Eskalasi Masif Butuh Biaya Masif

Kebijakan ini nampaknya akan berdampak langsung pada peningkatan anggaran militer secara signifikan tahun 2018 nanti untuk menutupi tingginya pengeluaran & belanja perang yang terus membengkak.

Kamis, 24/08/2017 19:23 0

Indonesia

Merah Putih Terbalik, Persis Ajak Warga Indonesia tak Mudah Terprovokasi

KIBLAT.NET, Jakarta- Wasekjen Persatuan Islam (Persis), DR. Tiar Anwar Bachtiar memberikan komentar soal jargon ‘nasionalisme’...

Kamis, 24/08/2017 18:14 0

Malaysia

Viral, Netizen Bercadar Ini Sudahi Perdebatan soal Insiden Bendera Terbalik

Kuala Lumpur - Semenjak kejadian insiden 'bendera terbalik' di buku SEA Games 2017, reaksi warganet terus bermunculan baik dari Indonesia maupun Malaysia.

Kamis, 24/08/2017 18:10 1

Indonesia

Kisruh Bendera Terbalik, Munarman: Nasionalisme Salah Tempat

Menurut Direktur An-Nasr Institute, Munarman, lebih banyak persoalan yang lebih penting dalam mengutarakan sikap nasionalisme.

Kamis, 24/08/2017 17:13 0

Suriah

Mengenang 4 Tahun Insiden Ghautah: Ketika 1.000 Kg Gas Sarin Menyambar Warga

Empat tahun silam, di Ghautah timur dan barat, rezim Suriah melakukan serangan massal dengan menggunakan gas sarin yang menewaskan kurang dari 1.500 jiwa dan mencederai lebih dari 10.000 orang.

Kamis, 24/08/2017 16:29 0

Amerika

16 Tahun Perang AS Aghanistan, Taliban Terus Tumbuh

Selama berbulan-bulan, para pejabat telah memastikan bahwa Taliban memiliki kehadiran lebih besar di seluruh negeri daripada sejak invasi AS tahun 2001. Kehadiran Taliban juga tidak hanya di sebagian kecil negara, tetapi meluas hingga di utara dan selatan serta menyentuh setiap area penting.

Kamis, 24/08/2017 15:20 2

Indonesia

Sejarawan Imbau Jangan Ada Perpecahan Sesama Negara Mayoritas Islam

Sejarawan Indonesia ini juga menegaskan bahwa hubungan yang saling menguntungkan antara Indonesia-Malaysia lebih banyak daripada yang saling merugikan. Maka, ia menekankan jangan ada perpecahan antara negara yang sama-sama mayoritas Islam ini.

Kamis, 24/08/2017 15:00 1

Khazanah

Inilah yang Menjadikan Awal Bulan Dzulhijjah Menjadi Mulia

Tidak seperti hari-hari yang lain, pada awal bulan Dzulhijjah Allah Ta'ala kumpulkan semua bentuk ibadah di dalamnya. Shalat, zakat mal bagi yang sudah mencapai nishab dan haul, puasa bagi siapa saja yang ingin menambahkan amalan sunnahnya atau jamaah haji yang wajib membayar dam (denda) atau al-hadyu tapi tidak memperoleh hewan sesembelihan.

Kamis, 24/08/2017 14:53 0

Amerika

Perang Baru AS di Afghanistan Bakal Sedot Banyak Anggaran

Pidato Donald Trump pada Senin (21/08) yang menyatakan bahwa AS akan melanjutkan perang di Afghanistan, tampaknya akan meningkatkan biaya militer yang cukup besar untuk tahun 2018. Biaya semakin meningkat untuk menutupi biaya tambahan dari sebuah konflik yang lebih besar

Kamis, 24/08/2017 14:35 0

Prancis

Kembali Berulah, Charlie Hebdo Identikkan Islam dengan Terorisme

Majalah satir Perancis Charlie Hebdo kembali berulah dengan memuat sampul depan baru yang menyinggung Islam.

Kamis, 24/08/2017 14:00 0

Close