... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Kebijakan Baru AS di Afghanistan, Eskalasi Masif Butuh Biaya Masif

KIBLAT.NET, Kabul- Hari Senin (21/08) yang lalu, Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan strategi baru AS untuk tetap mempertahankan sekaligus memperluas eskalasi perang yang sudah berlangsung selama 16 tahun di Afghanistan. Kebijakan ini nampaknya akan berdampak langsung pada peningkatan anggaran militer secara signifikan tahun 2018 nanti untuk menutupi tingginya pengeluaran & belanja perang yang terus membengkak.

Hingga saat ini belum ada data yang betul-betul akurat berapa biaya yang telah dihabiskan selama 16 tahun pertama perang AS di Afghanistan. Mengutip CNN Money, diestimasikan AS telah menghabiskan dana triliunan dolar. Sementara menurut Neta Crawford, direktur Cost of Wars Project di Brown University menyebut angka USD 2 triliun (sekitar Rp 27 ribu triliun) yang telah dialokasikan untuk perang di Afghanistan. Pun belum termasuk uang yang harus dibayar negara bagian atau pemerintah lokal bagi pelayanan veteran yang kembali dari perang.

Biaya pelayanan bagi para veteran, seperti: war syndrome, cacat permanen, dsb., bersifat terus menerus dan grafiknya akan terus bertambah. Berdasarkan data biaya perang selama 16 tahun sebelumnya, seberapa besar uang yang harus digelontorkan untuk perang selama 20 tahun atau 24 tahun sebenarnya bisa diperkirakan. Akan tetapi kecenderungan Trump untuk merahasiakan jumlah pasukan yang akan dikerahkan membuat prediksi anggaran sulit dilakukan.

Secara potensial, biaya perang AS ke depan akan lebih besar. Hal itu karena penghitungan biaya langsung termasuk variable-variabel turunannya tidak linear. Perang Afghanistan hari ini merupakan perang Amerika terpanjang dalam sejarah. Dan biaya yang harus dikeluarkan per individu pasukan AS yang berada di garis depan tahun 2001 tidak sama dengan biaya per individu tahun 2017. AS akan terjebak untuk mengeluarkan biaya yang sangat besar bagi veteran perang dari berbagai angkatan, termasuk biaya rotasi keluar masuk pasukan di Afghanistan. Artinya, semakin lama perang berlangsung, akan semakin banyak veteran yang dihasilkan.

BACA JUGA  Difitnah Bekerja Sama dengan Rusia, Begini Jawaban Taliban

Presiden Donald Trump mengungkapkan komitmennya untuk tidak akan memberikan sebuah “cek kosong”, dan nampaknya hal itu akan betul-betul terjadi. AS juga telah berkomitmen untuk mengalokasikan dana tak terduga bagi perang yang sudah berlangsung melawan pejuang-pejuang jihadis sejak 2001 di Afghanistan. Ketika Trump mengumumkan kebijakan eskalasi militer pada hari Senin lalu, Trump sama dengan menyeret negaranya ke dalam suatu level konflik dimana uang akan cepat menguap secara terus menerus dan tanpa terasa. Meskipun pada akhirnya tidak akan ada data otentik & akurat biaya perang keseluruhan yang bisa dilaporkan, namun biaya-biaya itu sungguh sangat riil. Dan AS akan merasakan beban besar itu dalam beberapa dekade ke depan.(Syaf)

 
Sumber: Antiwar
Redaktur: Yasin Muslim


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Merah Putih Terbalik, Persis Ajak Warga Indonesia tak Mudah Terprovokasi

KIBLAT.NET, Jakarta- Wasekjen Persatuan Islam (Persis), DR. Tiar Anwar Bachtiar memberikan komentar soal jargon ‘nasionalisme’...

Kamis, 24/08/2017 18:14 0

Indonesia

Kisruh Bendera Terbalik, Munarman: Nasionalisme Salah Tempat

Menurut Direktur An-Nasr Institute, Munarman, lebih banyak persoalan yang lebih penting dalam mengutarakan sikap nasionalisme.

Kamis, 24/08/2017 17:13 0

Indonesia

Sejarawan Imbau Jangan Ada Perpecahan Sesama Negara Mayoritas Islam

Sejarawan Indonesia ini juga menegaskan bahwa hubungan yang saling menguntungkan antara Indonesia-Malaysia lebih banyak daripada yang saling merugikan. Maka, ia menekankan jangan ada perpecahan antara negara yang sama-sama mayoritas Islam ini.

Kamis, 24/08/2017 15:00 1

Khazanah

Inilah yang Menjadikan Awal Bulan Dzulhijjah Menjadi Mulia

Tidak seperti hari-hari yang lain, pada awal bulan Dzulhijjah Allah Ta'ala kumpulkan semua bentuk ibadah di dalamnya. Shalat, zakat mal bagi yang sudah mencapai nishab dan haul, puasa bagi siapa saja yang ingin menambahkan amalan sunnahnya atau jamaah haji yang wajib membayar dam (denda) atau al-hadyu tapi tidak memperoleh hewan sesembelihan.

Kamis, 24/08/2017 14:53 0

Opini

Arti Penting Mengisi Kemerdekaan Bagi Penguasa

KIBLAT.NET – Tema “mengisi kemerdekaan” selalu menjadi perbincangan yang diulang setiap peringatan hari Kemerdekaan Indonesia....

Kamis, 24/08/2017 13:50 0

Indonesia

Wantim MUI: Kasus First Travel Terjadi Karena Lemahnya Pengawasan Kemenag

"Saya menilai ini terjadi karena lemahnya pengawasan bahkan mungkin ada pengabaian, dan ada pembiaran," ujar Din saat ditemui Kiblat.net di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat pada Rabu (23/08)

Kamis, 24/08/2017 13:46 0

Indonesia

Indonesia Berqurban, Menjangkau Ratusan Kabupaten, Menyapa Puluhan Negeri

Tak bisa dipungkiri, makna terbesar dari ibadah qurban adalah tentang berbagai seluas-luasnya kebahagiaan. Rini Maryani, President Global Qurban mengatakan bahwa berqurban adalah ibadah sekaligus bentuk kepedulian.

Kamis, 24/08/2017 13:30 0

Indonesia

DR Tiar Anwar: Kita Tak Punya Alasan Logis Musuhi Malaysia

Ia juga mengungkapkan bahwa insiden bendera terbalik hanya dalam buku panduan. Maka, ia menghimbau kejadian tersebut jangan menjadi alasan untuk memusuhi Malaysia. "Nggak punya alasan logis bagi kita untuk memusuhi Malaysia," tandasnya

Kamis, 24/08/2017 13:16 0

Indonesia

Polisi Tangkap Saracen, Kelompok Penyebar Berita Hoax

Kepolisian Indonesia menangkap tiga orang tersangka yang menamakan kelompoknya dengan sebuta Saracen. Kelompok ini diduga karena kerap menyebarkan postingan ujaran kebencian bernuansa SARA di akun media sosial.

Kamis, 24/08/2017 13:03 0

Indonesia

Dalam Eksepsi, Penasihat Hukum Alfian Tanjung Ungkap Sejumlah Kesalahan Dakwaan JPU

Sudah sepatutnya ustadz Alfian Tanjung bebas dari segala dakwaan karena dakwaan yang disusun dan dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap.

Kamis, 24/08/2017 11:45 0

Close