... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Plin-plan, Beginilah Kebijakan Donald Trump soal Perang di Afghanistan

Foto: Taliban| Donald trump

KIBLAT.NET, Washington – Presiden AS Donald Trump pada hari Senin menegaskan untuk mengirim ribuan tentara AS ke Afghanistan. Kebijakan itu dipandang menandai sebuah konflik terbuka di negara tersebut setelah 16 tahun perang.

Pada puncak keterlibatan AS di Afghanistan pada 2010-2011, sekitar 100.000 tentara AS ditempatkan di negara itu sebelum Presiden Barack Obama mengurangi jumlahnya menjadi 8.600 personel.

Terkait kebijakan baru di Afghanistan tersebut, Trump tidak memberikan indikasi apakah akan menggunakan instrumen kekuatan AS lainnya untuk mengakhiri perang tersebut. Ia hanya mengatakan bahwa Amerika bermaksud untuk membunuh “teroris” daripada membangun bangsa.

Kebijakan ini jelas bertolak belakang dengan pandangan Trump sebelumnya, dimana dalam 48 postingan di Twitter sejak 2011, ia kerap menunjukkan kecaman terkait keterlibatan AS di negara tersebut.

Pada tahun 2011 ketika Obama mengirim gelombang pasukan di Afghanistan, ia menulis di Twitter: “Kapan kita akan berhenti membuang-buang uang kita untuk membangun kembali Afghanistan? Kita harus membangun kembali negara kita terlebih dahulu.”

Setahun kemudian dia mengatakan di media sosial bahwa sekarang saatnya untuk keluar dari Afghanistan. “Kami sedang membangun jalan dan sekolah untuk orang-orang yang membenci kami,” imbuhnya.

Pada Januari 2013, dia mengatakan Amerika harus membawa pulang pasukan, membangun kembali AS, membuat Amerika menjadi hebat lagi. Beberapa bulan kemudian dia menulis, “Kita harus segera meninggalkan Afghanistan.”

BACA JUGA  Kiblatorial: Kisruh Tentara Urus Dakwah

Setelah Obama memutuskan untuk mempertahankan pasukan di Afghanistan pada tahun 2014, Trump kembali mengkritik mantan presiden tersebut, dengan mengatakan bahwa “dia kehilangan dua perang secara bersamaan.”

Pandangannya tentang Afghanistan mulai berubah tapi masih tetap kontradiktif dan membingungkan. Dalam sebuah wawancara dengan CNN pada tahun 2015, Trump mengatakan bahwa AS telah membuat “kesalahan besar” untuk terlibat di Afghanistan. Ia sebut hal itu sebagai “kekacauan”.

Dalam wawancara yang sama, dia kemudian mengatakan, “Pada saat ini, Anda mungkin harus (tinggal di Afghanistan) karena hal itu akan runtuh sekitar dua detik setelah mereka pergi.”

Dalam debat calon presiden Partai Republik 2016, Trump mengatakan “Anda harus tinggal di Afghanistan untuk sementara waktu”, menunjuk pada kehadiran Pakistan yang berada di sisi Afghanistan dengan senjata nuklirnya.

Dan setelah tujuh bulan pertama masa jabatan kepresidenannya, bulan lalu Trump membahas konflik tersebut dengan para pejabat keamanan. Dalam Twitter, ia berkata, “Saya telah mendengar banyak gagasan dari banyak orang, tapi saya ingin mendengarnya dari orang-orang di lapangan.”

Kebijakan baru Trump tampaknya menandai keputusasaan yang mendalam terkait peran Amerika di Afghanistan. Belum terlihat kemajuan yang nyata, selain terulangnya laporan kematian korban sipil akibat serangan Amerika terhadap target-target yang dianggap teroris. Di sisi lain, pemerintah lokal terus kehilangan wilayah dan menderita kerugian akibat operasi-operasi yang dijalankan Taliban.

BACA JUGA  Gejolak Politik Suriah: Kemesraan Assad-Alawi Segera Berlalu?

Sumber: The New Arab
Redaktur: Ibas Fuadi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Info Event

Mengapa Anda Harus Ikut Program Kurban di Halmahera?

Idul Qurban sebentar lagi tiba. Syari'at yang penuh dengan makna. Tahukah kita? Di pedalaman Halmahera jarang sekali ada yang berkurban. Selain rendahnya perekonomian, juga karena minimnya pengetahuan tentang agama.

Rabu, 23/08/2017 17:00 0

Indonesia

Keluarga Baru Terima Surat Penangkapan Usai Sepekan ARD Diciduk Densus

Tim Pembela Kemanusiaan (TPK) mengungkapkan terdapat kejanggalan dalam penangkapan ARD. Yaitu tidak adanya surat penangkapan yang dibawa Densus 88 ketika menjalankan proses penangkapan.

Rabu, 23/08/2017 16:37 0

Kolom

Haruskah Kita Menjadi Primitif Lagi?

Sayangnya, manusia seringkali tak menyadari bahwa hal-hal yang tampaknya baik dan dilakukan mayoritas manusia semisal mengolok-olok ide khilafah, menolak pemakaian cadar, serta nyaris mewajibkan penghormatan terhadap bendera bisa jadi merupakan pintu lebar bagi dirinya untuk menjadi primitif kembali.

Rabu, 23/08/2017 16:30 0

Indonesia

Dilarang Besuk Kliennya, Pengacara Terduga Teroris Karanganyar Protes Keras

Tim Pembela Kemanusiaan (TPK) yang menjadi kuasa hukum keluarga terduga teroris Karanganyar hari ini mendatangi Mako Brimob, Depok. Namun, kunjungan tersebut tidak mendapat sambutan baik dari pihak Mako Brimob, TPK dilarang masuk.

Rabu, 23/08/2017 16:15 0

Indonesia

Insiden Merah Putih Terbalik, Warganet Ajak Saling Memaafkan

Hal itu pun membuat Khairy segera berinisiatif membalas cuitan Menpora, dan menuliskan kata-kata permintaan maaf.

Rabu, 23/08/2017 15:15 0

Indonesia

Bilang Jokowi Mirip Soekarno, Mensesneg Disindir Netizen: Dijamin Gak Kena Reshuffle

Menteri Sekretaris Negara, Pratikno menyebut Soekarno mirip dengan Jokowi. Hal ini disampaikannya saat pameran foto bertajuk “Soekarno: Besar Bersama Rakyat” yang digelar di Istana Merdeka pada Selasa (22/08).

Rabu, 23/08/2017 14:54 0

Indonesia

Ajukan Eksepsi, Kuasa Hukum Alfian Tanjung Yakin Majelis Hakim Tolak Dakwaan JPU

Pada sidang pertama, JPU telah membacakan dakwaan terkait kasus yang menjerat Alfian Tanjung. Alfian disebut telah melakukan tindak pidana menyebarkan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan dan atau diskriminasi ras dan etnis.

Rabu, 23/08/2017 13:20 0

Tazkiyah

Kisah Sarat Hikmah Hakim yang Bijak

Ada seorang hakim yang terkenal bijak dan berilmu. Hakim itu bernama Abu Khazim Al-Qadhi . Abu Khazim adalah lelaki yang berilmu. Suatu ketika, datang kepadanya seorang pemuda bersama orangtua yang sudah lanjut usianya.

Rabu, 23/08/2017 12:20 0

Indonesia

Novanto Minta Kunjungan Nguyen Phu Trong Tak Dikaitkan dengan Ideologi Komunis

Novanto yang saat ini tengah berstatus tersangka kasus korupsi pengadaan E-KTP, juga berpendapat bahwa pihaknya sangat mendukung usaha Pemerintah Indonesia dan Vietnam yang sepakat untuk menaikkan nilai perdagangan kedua negara secara bertahap.

Rabu, 23/08/2017 11:59 0

Indonesia

Komisi I DPR: Sekjen Partai Komunis Vietnam Diterima Sebagai Tamu Negara

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid, mengatakan bahwa kunjungan Sekjen Partai Komunis Vietnam hanya sebatas membicarakan tentang kerjasama antara kedua negara dalam menjaga kawasan dan meningkatkan hasil perdagangan.

Rabu, 23/08/2017 11:28 0

Close