... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Haruskah Kita Menjadi Primitif Lagi?

Foto: Haruskah kita menjadi primitif

KIBLAT.NET – Tak bisa dipungkiri lagi jika manusia adalah makhluk yang dinamis. Karunia berupa akal menjadikannya berbeda dengan ciptaan Allah lainnya yang hidupnya begitu-begitu saja. Sebut saja kucing, sejak generasi pertamanya hingga hari ini cara makannya tetap sama, mengendus-endus makanan setelah baunya dirasa cocok barulah makanan tersebut dicaplok. Langsung melalui mulutnya.

Berbeda dengan manusia, cara makan manusia tentu mengalami perubahan dan perkembangan, mungkin pada awalnya semua makanan di-puluk (diambil pakai tangan, red) lalu dimasukkan ke dalam mulut, namun seiring berjalannya waktu berjalan pula pemikiran manusia, maka ditemukanlah sendok untuk menyantap beberapa makanan yang sulit di-puluk. Bentuk sendok pun mengalami perkembangan dari yang awalnya kurang proporsional menuju bentuk yang lebih kompatibel dengan lebar rongga mulut manusia. Material penyusunnya pun berkembang dari yang rentan dan membahayakan semisal kulit kerang ataupun dedaunan menuju yang dianggap lebih aman semisal plastik dan logam.

Intinya, cara hidup manusia selalu berkembang menuju yang lebih aman dan lebih praktis bagi kelangsungan hidupnya. Dan ketika telah ditemukan sebuah cara hidup yang terbukti lebih aman dan praktis, namun ada seorang manusia yang masih keukeuh menggunakan cara lama, maka perilakunya tersebut bisa didefinisikan sebagai perilaku primitif.

Ya, primitif adalah sikap keras kepala atas cara lama ketika telah tersedia cara baru yang lebih aman dan praktis. Menyantap semangkok bubur ayam dengan sendok daun pisang sementara sang penjual menyediakan sendok logam adalah perilaku primitif. “Membuka” buah mangga dengan cara dibanting sementara anda mempunyai pisau yang tergantung manis di rak dapur juga sebuah perilaku primitif.

Perilaku primitif manusia nyatanya tidak terbatas pada hal-hal yang terindera saja, namun pada hal yang paling transenden sekalipun seperti keyakinan dan kepercayaan ternyata masih kita jumpai perilaku-perilaku primitif di dalamnya.

6 Kelompok Manusia

Ibnu Hazm, seorang ahli fiqh kekhilafahan Andalusia pernah membahas mengenai hal ini. Beliau mengklasifikasikan perilaku manusia dalam berkeyakinan ke dalam enam kelompok, dimulai dari yang paling primitif sampai yang lebih ringan tingkat keprimitifannya.

Yang pertama adalah kelompok yang mengingkari hakikat keberadaan, mereka meyakini bahwa segala sesuatu di muka bumi ini bersifat relatif. Yang benar belum tentu benar, yang ada belum tentu ada, yang hitam belum tentu hitam, yang ganteng belum tentu ganteng, yang wangi belum tentu wangi, hingga akhirnya mereka terjebak dalam kebingungan mereka sendiri mengenai apa itu benar, apa itu baik, apa itu hitam, ganteng, dan wangi. Mereka lah yang dikenal sebagai kelompok sufasthaiyyah.

Para penganut sufasthaiyyah selalu meragukan kebenaran dan keberadaan segala sesuatu, bahkan cara berpikir mereka pada akhirnya membawa mereka pada sebuah pertanyaan yang mencerminkan sebuah kebingungan maksimal; “apakah diri saya ada atau tidak?”

Wajar jika kelompok ini dianggap paling primitif karena cara berpikir semacam ini akan menghancurkan bangunan ilmu dan pengetahuan. Karena paham sufasthaiyyah telah menutup peluang manusia untuk menggapai dan meyakini sebuah kebenaran yang dapat dan bisa dipertanggungjawabkan.

Lalu kelompok yang kedua adalah mereka yang sudah terbebas dari kebingungan kelompok pertama, namun mereka meyakini bahwa alam semesta sudah ada sejak waktu yang tak terbatas dan akan selalu ada tanpa mengenal sebuah akhir. Dan mereka juga meyakini bahwa seluruh realitas (kenyataan) yang terjadi di kehidupan ini adalah kebetulan belaka tanpa ada yang mengatur dan menciptakannya.

Lalu kelompok yang ketiga, mereka sudah lebih maju ketimbang kelompok kedua, karena meski mereka masih meyakini bahwa alam semesta ini tanpa awalan maupun akhiran, namun mereka telah meyakini perihal adanya sang pengatur di alam ini. Segala realitas yang ada bukan semata-mata kebetulan, melainkan telah dirancang oleh sang pengatur yang abadi pula.

Lalu hadir kelompok yang keempat, di mana mereka mulai berselisih mengenai keabadian alam semesta, sebagian masih bersikukuh bahwa alam semesta tak mempunyai awal maupun akhir, dan sebagian mulai meyakini adanya pencipta, namun mereka bersepakat mengenai adanya sang pengatur di alam semesta ini. Di mana sang pengatur itu berjumlah lebih dari satu dan terjadi sedikit perselisihan mengenai jumlahnya.

Lalu hadir kelompok yang kelima, mereka telah terbebas dari segala macam perselisihan tadi dan telah meyakini bahwa alam semesta ini pasti ada penciptanya yang tunggal. Namun mereka masih mengingkari konsep kenabian.

Lalu hadir kelompok yang terakhir, di mana mereka mengakui adanya pencipta yang tunggal serta menerima konsep kenabian namun mengingkari atau tidak mengakui kenabian beberapa nabiyullah alaihissalam.

Keenam kelompok tersebut disebut primitif karena mereka masih bersikukuh pada keyakinan lama sementara telah ada konsep keyakinan baru yang lebih aman dan lebih menempatkan manusia pada kemanusiaannya (baca: fitrahnya).

Islam datang

Islam sebagai konsep keyakinan terbaru memberikan gambaran yang jelas kepada manusia mengenai hakikat alam semesta beserta seluruh isinya, Islam juga menyediakan bagi manusia tujuan yang jelas mengenai hakikat penciptaan mereka.

Sehingga bersama Islam manusia tak perlu lagi membuang-buang waktu dan tenaga untuk hal-hal yang tidak terlalu bermanfaat bagi kemanusiaannya. Bersama Islam, manusia tak perlu repot-repot lagi untuk menerka-nerka mengenai awalan serta akhiran alam semesta. Bersama Islam, manusia tak perlu lagi berselisih mengenai jumlah dewa pengatur alam semesta. Bersama Islam, manusia tak perlu lagi mengorbankan seekor kerbau kepada ratu pantai yang tak pernah ada. Bersama Islam, manusia tak perlu lagi membuang sepiring nasi merah untuk membusuk di tengah jalan.

Dan yang terpenting bersama Islam manusia hanya perlu menghabiskan waktunya di dunia ini untuk beramal shalih sebanyak-banyaknya serta sebaik-baiknya demi mendapat keridhaan dan surga Allah SWT.

Namun manusia yang telah berIslam juga perlu waspada, karena dalam perjalanan kehidupan banyak sekali perangkap-perangkap syaitan yang akan menjerumuskan manusia ke dalam jurang keprimitifan lagi.

Sayangnya, manusia seringkali terbuai dan tertipu karena syaitan tak pernah lupa untuk menghias perangkap-perangkapnya sedemikian rupa agar tampak seperti sesuatu yang baik.

Sayangnya, manusia seringkali tak menyadari bahwa hal-hal yang tampaknya baik dan dilakukan mayoritas manusia semisal mengolok-olok ide khilafah, menolak pemakaian cadar, serta nyaris mewajibkan penghormatan terhadap bendera bisa jadi merupakan pintu lebar bagi dirinya untuk menjadi primitif kembali.

 

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

 

 

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Dilarang Besuk Kliennya, Pengacara Terduga Teroris Karanganyar Protes Keras

Tim Pembela Kemanusiaan (TPK) yang menjadi kuasa hukum keluarga terduga teroris Karanganyar hari ini mendatangi Mako Brimob, Depok. Namun, kunjungan tersebut tidak mendapat sambutan baik dari pihak Mako Brimob, TPK dilarang masuk.

Rabu, 23/08/2017 16:15 0

Indonesia

Insiden Merah Putih Terbalik, Warganet Ajak Saling Memaafkan

Hal itu pun membuat Khairy segera berinisiatif membalas cuitan Menpora, dan menuliskan kata-kata permintaan maaf.

Rabu, 23/08/2017 15:15 0

Indonesia

Bilang Jokowi Mirip Soekarno, Mensesneg Disindir Netizen: Dijamin Gak Kena Reshuffle

Menteri Sekretaris Negara, Pratikno menyebut Soekarno mirip dengan Jokowi. Hal ini disampaikannya saat pameran foto bertajuk “Soekarno: Besar Bersama Rakyat” yang digelar di Istana Merdeka pada Selasa (22/08).

Rabu, 23/08/2017 14:54 0

Arab Saudi

Video Remaja Tanggung Ludahi Al-Qur’an Picu Kemarahan Publik

Publik marah melihat tingkah seorang remaja yang meludahi Al-Qur'an dalam sebuah video yang viral di media sosial.

Rabu, 23/08/2017 14:32 0

Indonesia

Ajukan Eksepsi, Kuasa Hukum Alfian Tanjung Yakin Majelis Hakim Tolak Dakwaan JPU

Pada sidang pertama, JPU telah membacakan dakwaan terkait kasus yang menjerat Alfian Tanjung. Alfian disebut telah melakukan tindak pidana menyebarkan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan dan atau diskriminasi ras dan etnis.

Rabu, 23/08/2017 13:20 0

Tazkiyah

Kisah Sarat Hikmah Hakim yang Bijak

Ada seorang hakim yang terkenal bijak dan berilmu. Hakim itu bernama Abu Khazim Al-Qadhi . Abu Khazim adalah lelaki yang berilmu. Suatu ketika, datang kepadanya seorang pemuda bersama orangtua yang sudah lanjut usianya.

Rabu, 23/08/2017 12:20 0

Indonesia

Novanto Minta Kunjungan Nguyen Phu Trong Tak Dikaitkan dengan Ideologi Komunis

Novanto yang saat ini tengah berstatus tersangka kasus korupsi pengadaan E-KTP, juga berpendapat bahwa pihaknya sangat mendukung usaha Pemerintah Indonesia dan Vietnam yang sepakat untuk menaikkan nilai perdagangan kedua negara secara bertahap.

Rabu, 23/08/2017 11:59 0

Suriah

Jet Koalisi Hajar Tempat Berlindung Sipil Raqqah, Puluhan Tewas

19 korban merupakan anak-anak dan 12 wanita. Serangan udara jet koalisi telah menghancurkan tempat perlindungan mereka.

Rabu, 23/08/2017 11:40 0

Indonesia

Komisi I DPR: Sekjen Partai Komunis Vietnam Diterima Sebagai Tamu Negara

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid, mengatakan bahwa kunjungan Sekjen Partai Komunis Vietnam hanya sebatas membicarakan tentang kerjasama antara kedua negara dalam menjaga kawasan dan meningkatkan hasil perdagangan.

Rabu, 23/08/2017 11:28 0

Amerika

Strategi Baru Trump: Tambah Pasukan di Afghanistan

"Namun kami memutuskan tetap menempatkan mereka dan bertempur untuk meraih kemenangan dan menghindari kesalahan seperti di Irak,” kata Trump seperti dilansir BBC Arabic, Selasa.

Rabu, 23/08/2017 09:34 0

Close