Akibat Tidak Tunduk Syariat

KIBLAT.NET – Sebagai Dzat Yang Maha Bijaksana (al-Hakim), Allah ‘Azza Wajalla tidak hanya menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Lebih dari pada itu, Dia juga membimbing manusia dengan menetapkan  hukum (syariat Islam) sebagai pedoman dalam menjalani hidupnya. Seluruh persoalan telah ada aturannya dari Dzat Yang Maha Adil. Semua itu terekam sempurna dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika manusia patuh dan taat terhadap syariat Allah, maka hidupnya pun terarah menuju jalan kebahagian. Sebaliknya, ketika mereka cenderung dengan akal pikirannya dan memilih berhukum dengan selain yang diturunkan Allah, maka pasti berujung kepada dampak buruk yang tidak sedikit, baik di dunia maupun akhirat. Dampak buruk di dunia bisa terlihat dalam lingkup sosial, politik, ekonomi dan sebagainya. Sementara di akhirat jelas berujung kepada siksaan yang berulang kali diingatkan dalam Al-Qur’an.

Dalam salah satu karyanya, Al-Imanu Billlah, Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi mengungkapkan sejumlah dampak buruk yang dirasakan oleh manusia akibat meninggalkan hukum Allah dan lebih memilih hukum yang disimpulkan oleh akal atau hawa nafsunya sendiri. Tema ini beliau kupas secara rinci dalam bab Tauhid Uluhiyah. Artinya, salah satu bagian dari upaya memurnikan tauhid kepada Allah adalah wajib berpedoman kepada hukum yang telah ditetapkan-Nya. Menariknya, semua poin-poin tersebut, beliau sertakan dalil yang cukup jelas, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

  1. Menolak Penerapan Syariat Menjadikan Hati Keras Membatu

Ketika ahli kitab melanggar perjanjian dengan Allah untuk mendengar dan taat, memperlakukan ayat-Nya secara tidak baik, menakwilkan kitab-Nya tidak seperti yang diturunkan, mengartikan tidak sesuai maksudnya, mengatakan hal-hal yang tidak disebutkan dalam kitab-Nya, enggan mengamalkan karena rasa benci di hati, akhirnya Allah menjadikan hati mereka keras membatu hingga tidak bisa memetik pelajaran dari nasihat yang disampaikan.

Ini adalah salah satu hukuman terbesar yang menghinakan hati, menghalangi hati dari kelembutan-kelembutan Rabbani, petunjuk dan kebaikan yang disampaikan malah semakin menambah keburukan. Allah ta’ala berfirman:

BACA JUGA  Pria Palestina Ini Dipenjara Israel Selama 39 Tahun

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya.” (Al-Mâ’idah: 13)

Seperti itulah kondisi siapa pun yang berpaling dari syariat Allah dan lebih mengedepankan rasio serta hawa nafsu sebagai dasar dalam mengatur hukum di antara manusia. Sebagai balasannya, Allah pun mengunci rapat hatinya.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya…?” (QS. Al-Jâtsiyah: 23)

Dalam tafsirnya, Imam As-Sa’di menjelaskan maknanya adalah pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya; apa yang disenangi nafsunya ia turuti. Tidak peduli diridhai Allah atau tidak. Karena itu, Allah Ta’ala membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan ia tidak diberi hidayah. Pendengarannya dikunci mati sehingga ia tidak bisa menengar apa pun yang bermanfaat untuk dirinya. Hatinya juga tidak bisa menerima kebaikan dan Allah meletakkan tutupan atas penglihatannya dari melihat kebenaran.” (Tafsir As-Sa’di, 7/1637)

  1. Tersesat dari Jalan Kebenaran

Allah Ta’ala berfirman:

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shâd: 26).

Ketika menafsirkan ayat di atas, Syeikh As-Syinqiti menjelaskan:

ومعلوم أن نبي الله داود، لا يحكم بغير الحق، ولا يتبع الهوى، فيضله عن سبيل الله، ولكن الله تعالى، يأمر أنبياءه عليهم الصلاة والسلام، وينهاهم، ليشرع لأممهم.

 Seperti diketahui, Nabi Daud tidak memutuskan perkara apa pun selain yang benar, juga tidak mengikuti hawa nafsu sehingga tersesat dari jalan-Nya. Namun, Allah menyampaikan perintah dan larangan kepada para Nabi-Nya agar menjadi syariat bagi umat masing masing.” (Adhwâ`ul Bayân, 7/28)

BACA JUGA  Harun Yahya Divonis Penjara 1.075 Tahun

Peringatan keras bagi mereka yang mengedepankan hawa nafsu daripada hukum-hukum Allah telah disampaikan. Imam Ar-Razi, dalam tafsirnya menuliskan:

لا ينبغي أن يظن ظان أن هوى نفسه متبعه وأن زمام الاختيار بيد الإنسان كما في الزوجات ، بل ليس لمؤمن ولا مؤمنة أن يكون له اختيار عند حكم الله ورسوله فما أمر الله هو المتبع وما أراد النبي هو الحق ومن خالفهما في شيء فقد ضل ضلالا مبينا ، لأن الله هو المقصد والنبي هو الهادي الموصل ، فمن ترك المقصد ولم يسمع قول الهادي فهو ضال قطعا

Bagi setiap mukmin, tidak patut baginya untuk mengambil pilihan lain selain hukum yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Apa pun yang diperintahkan-Nya harus diikuti, dan apa pun yang diinginkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itulah kebenaran, siapa pun menyalahi sedikit pun di antaranya, sungguh telah tersesat secara nyata. (At-Tafsîr Al-Kabîr, 25/183)

  1. Jatuh dalam Kemunafikan

Salah satu di antara ciri orang munafik adalah benci terhadap penegakkan syariat. Karakter seperti ini telah muncul sejak pertama kali Islam tegak di Kota Madinah. Tabiat mereka senantiasa mencemooh dan menyerang syariat. Sikapnya selalu berpaling dari apa yang diturunkan Allah serta menghalangi manusia dari jalan-Nya. Allah berfirman:

Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul,’ niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu..” (An-Nisâ’: 61)

Ayat di atas dengan jelas menyebutkan bahwa saalah satu karakter orang munafik adalah menolak dan menghalangi orang untuk berhukum dengan hukum Allah. Kalaupun ada syariat yang mereka terima, itu bukan lantaran mereka yakin akan kebenarannya, namun semata-mata karena syariat tersebut sejalan dengan kepentingannya.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat