Si Pembela Keislaman Fir’aun

KIBLAT.NET – Pada tahun 761 H tersebutlah seorang lelaki yang bernama Hasan. Ia seorang penjahit di daerah Mahallah Syaghur dan bekerja sebagai penolong Fir’aun. Ia mengira Fir’aun telah masuk Islam.

Ia berhujah bahwa di dalam surat Yunus dijelaskan bahwa ketika Fir’aun tenggelam, ia berkata “Saya percaya bahwa tidak ada Illah melainkan Illah yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Yûnus: 90).

Dia tidak memahami makna firman Allah, “Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.” (An-Nâzi’ât: 25), dan firmanNya, “Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.” (Al-Muzammil: 16), serta firman-firman Allah lainnya di dalam Al-Qur’an dan sejumlah hadits.

Dalam Al-Qur’an dan hadits telah dijelaskan bahwa Fir’aun adalah orang yang paling kafir. Kekafirannya bahkan telah disepakati oleh orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Pada hari Ahad tanggal 9 Muharram, Hasan dipanggil dari Mahallah Syaghur ke majelis persidangan kerajaan. Saat itu Hasan mengajak diskusi tentang keimanan Fir’aun untuk menguatkan dakwaannya tentang Fir’aun. Ia adalah seorang tua yang bodoh dan kampungan. Ia tidak memahami nash secara benar tapi menjadikannya sebagai dalil. Anggapannya terhadap Fir’aun itu hanya dilandaskan pada syubhat (kesamaran).

Orang kampungan ini meyakini bahwa keimanan yang berasal dari Fir ’aun dan kondisi ini bermanfaat baginya. Padahal, Allah telah berfirman:

“Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, ‘Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.’ Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.” (Ghâfir: 84-85).

Pada hari yang lain, laki-laki itu hadir dan tetap bersikukuh pada kesesatannya. Ia pun dipukul dengan cemeti. Saat itu ia menampakkan keinginan untuk bertobat sehingga ia dikembalikan ke dalam penjara di Zanjabir.

Untuk ketiga kalinya ia mengukuhkan dan mengumumkan tobatnya dan akhirnya ia dibebaskan.

Redaktur : Dhani El_Ashim

Diambil dari  Ajaib wa Tharaif Ibrat-Tarikh karya Hasan Ramadhan

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat