... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

KontraS: Pemerintah Tidak Bisa Membedakan Kondisi Darurat atau Tidak

Foto: Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)

KIBLAT.NET, Jakarta- Beberapa waktu lalu, pemerintah membuat dua keputusan yang menuai banyak kritik dari masyarakat luas. Pertama, pemerintah memutuskan untuk memblokir Telegram dengan alasan media daring (Chatting Online) tersebut digunakan oleh kelompok-kelompok teror. Kedua, pemerintah mengesahkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas.

Dengan keluarnya dua keputusan besar ini, Wakil Koordinator Bidang Advokasi dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Putri Kanesia menilai negara dalam hal ini pemerintah tidak bisa membedakan mana yang masuk dalam kategori darurat atau tidak.

“Dengan adanya pemblokiran Telegram, saya lihat kadang negara dalam hal ini tidak bisa membedakan mana yang masuk dalam kategori darurat atau tidak, satu hal yang sebenarnya itu adalah kebebasan berekspresi, malah diterjemahkan menjadi satu hal yang mengancam. Lagi-lagi saya pikir ini berbahaya,” ungkapnya saat ditemui Kiblat.net usai menghadiri sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (25/07).

Di era teknologi ini, lanjutnya menjadi hal aneh jika ada tuduhan atau ungkapan bahwa Telegram berkaitan dengan ISIS. “Jika misalkan memang benar ada kaitan antara Telegram dan penggunaan nya untuk kepentingan ISIS, maka harusnya ditelusuri dan dibuktikan terlebih dahulu betul atau tidak tuduhan tersebut, jangan langsung main blokir saja,” ungkapnya.

Putri turut menyinggung perihal munculnya Perppu Ormas, dan turut mempertanyakan bagaimana studi dan riset yang dilakukan Menkopolhukam sehingga bisa menyatakan bahwa HTI ini anti Pancasila. Terlebih, setelah melakukan pemblokiran Telegram itu, disusul dengan pernyataan oleh pemerintah akan memblokir Facebook dan juga YouTube.

BACA JUGA  Ustadz Somad: Boleh Tak Salaman dengan Pengidap Penyakit Menular

“Inikan juga alat komunikasi masyarakat, jangan juga tergesa-gesa untuk menilai atau mengklaim bahwa kita ini dalam kondisi berbahaya atau darurat. Lalu fungsi intelijennya dimana dan bagaimana, kok bisa langsung mengatakan ini (Telegram, red) berbahaya,” ungkapnya.

 
Reporter: Muhammad Jundi
Editor: Syafi’i Iskandar

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Yaman

5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Wabah Kolera di Yaman

Yaman mengalami wabah dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sejak April, lebih dari 400.000 orang telah terinfeksi, dan hampir 2.000 orang telah meninggal dunia. Lebih dari 5.000 orang Yaman diperkirakan mengidap penyakit ini, atau memiliki gejala kolera.

Kamis, 27/07/2017 15:18 1

Turki

Erdogan: Israel Ingin Menghancurkan Karakter Islam di Al-Quds

residen Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan langkah Israel untuk memindahkan detektor logam dari pintu masuk kompleks Haram al-Sharif tidak cukup.

Kamis, 27/07/2017 12:15 0

Suriah

Klaim Sepihak Hizbullah Terbantahkan oleh Rilis Hasil Pertempuran HTS

Gerak maju Hizbullah di area Jurud Arsal, Lebanon, membuat milisi Syiah itu merasa di atas angin dan dengan “pede-nya” mengeluarkan ultimatum kepada pejuang-pejuang jihadis Sunni.

Kamis, 27/07/2017 11:32 0

Suriah

Tahrir Syam Tembak Jatuh Drone Syiah Hizbullah di Suriah

Penggunaan drone komersial berukuran kecil yang bisa dimodifikasi dan dilengkapi dengan senjata berbahan peledak oleh Syiah Hizbullah, dan kelompok-kelompok jihadis Sunni lainnya menunjukkan bahwa “dukungan udara” bisa dibangun dengan biaya murah. Berbeda dengan drone Amerika jenis Reaper maupun Predator, drone komersial ini sangat taktis dan terbang dengan elevasi relatif rendah sehingga tidak bisa terdeteksi oleh radar konvensional.

Kamis, 27/07/2017 10:19 0

Palestina

Ini Jawaban Hamas atas Putusan Terbaru Uni Eropa

Pernyataan tersebut sebagai tanggapan atas keputusan Pengadilan Uni Eropa pada Rabu (26/07) yang menetapkan Hamas masih dalam daftar organisasi dan entitas teroris.

Kamis, 27/07/2017 08:37 1

Afrika

Helikopter Serbu Jerman Jatuh di Mali, Pilotnya Tak Selamat

Setidaknya dua pilot militer Jerman tewas setelah helikopter yang mereka kemudikan jatuh di wilayah Gao, Mali. Belum diketahui penyebab jatuhnya helikopter yang tergabung dalam misi perdamaian PBB itu. Saat insiden terjadi, helikopter tersebut tengah memantau pertempuran antara pasukan PBB dan jihadis.

Kamis, 27/07/2017 07:38 0

Eropa

Berjuang di Palestina, Uni Eropa Tetap Masukkan Hamas dalam Daftar Teroris

Pengadilan Tinggi Eropa memutuskan bahwa gerakan perlawanan Palestina, Hamas akan tetap berada dalam daftar teror Dewan Eropa.

Rabu, 26/07/2017 17:25 0

Editorial

Manis Slogan Rezim Tiran

Kini, slogan-slogan seperti 'fundamentalisme', 'pengubah dasar negara', 'anti Pancasila', kembali berkumandang. Menyasar para oposan dan suara masyarakat yang kritis dan vokal. Tentang ini, Snyder berpesan agar masyarakat jangan pernah abaikan pemakaian kata-kata, bahasa, dan simbol-simbol yang menyiratkan arah perubahan politik.

Rabu, 26/07/2017 15:25 0

Palestina

CCTV di Al-Aqsa Lebih Berbahaya dari Detektor Logam, Ini Alasannya

Bagi orang-orang Palestina, masalah memasang kamera di pintu masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsha adalah manifestasi lain dari kontrol Israel atas tempat suci tersebut.

Rabu, 26/07/2017 14:54 0

News

Al-Shabab: Trump Presiden Terbodoh yang Pernah Dimiliki Amerika

Pernyataan tersebut dikeluarkan dalam sebuah video, yang menurut SITE Intelligence Group dirilis pada Ahad (23/07). Dalam rilis Al-Shabab tersebut, juga ditampakkan sebuah video yang diposting Trump di Twitter-nya. Video yang sempat viral dan menuai kecaman itu menampakkan serangan Trump kepada media CNN, karena dianggap sebagai penyebar berita palsu.

Rabu, 26/07/2017 14:00 0

Close