Muslim Itu ‘Gak Baperan’, Belajar dari Khalifah Abu Bakar

KIBLAT.NET – Seusai mendengar orasi Sa’ad bin Ubadah RA di Saqifah Bani Saidah, Abdullah bin Ustman atau yang lebih dikenal dengan nama Abu Bakr Ash Shiddiq RA lantas berjalan bersama segenap kaum muhajirin menuju tepian kota Madinah, mereka membentuk halaqah melingkar di bawah pohon kurma, setelah formasi lingkarannya sempurna lalu, Abu Bakr memulai curhatannya,

“Ya memang sih kita mah apa atuh jika dibanding mereka. Memang sih kita lebih lama bersama Rasulullah, tetapi selama bersama kita, dakwah Rasulullah gitu-gitu aja, gak berkembang.  Ya sudahlah, biar mereka saja yang jadi pemimpin, kita jadi pembantu yang baik saja untuk mereka.”

Maklum saja dalam orasinya Sa’ad bin Ubadah RA menyebut-nyebut perihal keutamaan kaum anshar, bahwa kaum anshar adalah kaum yang tidak sebatas beriman kepada Allah dan Rasul-Nya namun juga kaum pertama di muka bumi yang mampu memberi perlindungan kepada Rasulullah SAW beserta para sahabatnya, kaum pertama yang mampu memuliakan beliau dan agama beliau, dan sebagai kaum yang paling tegas terhadap musuh-musuh beliau. Dan karena keutamaan-keutamaan tersebut Sa’ad bin Ubadah menyimpulkan bahwa hanya kaum anshar lah yang berhak memegang kepemimpinan selepas wafatnya Rasulullah SAW.

Namun cerita yang sebenarnya tidaklah seperti yang saya ceritakan pada tiga paragraf pembuka tulisan ini. Kualitas Abu Bakr Ash Shiddiq tidak sereceh itu, meskipun dia dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, rendah hati, serta tidak ambisius tetapi dia adalah pria dewasa pertama yang membenarkan dan menyambut ajaran kenabian. Dia lebih tahu ketimbang Sa’ad bin Ubadah dan semua yang hadir di Saqifah Bani Saidah perihal apa itu keutamaan dan apa itu kepemimpinan.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, seusai Sa’ad bin Ubadah berorasi Abu Bakr pun maju dan berpidato, “Sungguh kalian telah mengetahui bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Seandainya manusia meniti suatu lembah, sedangkan orang-orang anshar melewati lembah yang lain, aku akan melewati lembah anshar.

Dan engkau telah mengetahui wahai Sa’ad, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda saat engkau sedang duduk, “Kaum Quraisy adalah pemegang urusan (kekhilafahan) ini, maka orang yang berbakti dari kalangan manusia akan mengikuti orang yang berbakti dari kalangan Quraisy. Dan orang yang durhaka dari kalangan manusia akan mengikuti orang yang durhaka dari kalangan Quraisy.”

Kemudian Sa’ad menjawab, “Engkau benar, kami adalah menteri sedangkan kalian adalah pemimpin.”

Singkat cerita, polemik soal siapa yang layak menjadi pemimpin sepeninggal Muhammad SAW pun terselesaikan. Dan majlis di Saqifah Bani Saidah pada hari itu yaitu hari Senin 12 Rabiul awwal 11 H diakhiri dengan pembaiatan Abu Bakr Ash Siddiq RA sebagai khalifah yang pertama dan merupakan penanda dimulainya era kekhilafahan bagi umat Islam setelah berakhirnya era kenabian.

Setelah menjadi khalifah, beberapa masalah mulai bermunculan. Di antaranya adalah banyaknya orang yang murtad setelah mendengar berita wafatnya Rasulullah SAW, bermunculannya orang-orang yang mengaku menjadi nabi, serta adanya gerakan orang-orang yang tidak mau membayar zakat.

Menghadapi ketiga golongan tersebut Abu Bakar RA tidak lantas merasa inferior lalu menggalau bahwa mereka sampai berlaku seperti itu karena pesona, kharisma, dan aura kepemimpinan belaiu yang memang tak sebanding dengan Rasulullah SAW.

Namun Abu Bakar Ash Shiddiq sangat memahami bahwa agama bukanlah perkara pesona dan kharisma, agama adalah soal ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, sedikit ketidaktaatan harus segera diingatkan, dan untuk ketiga golongan tersebut tidak ada alat pengingat yang lebih baik selain pedang yang terhunus.

Pada akhirnya Abu Bakar Ash Shiddiq RA memerangi mereka dan menumpas mereka sampai akar-akarnya. Sebagai khalifah pertama beliau sangat tidak rela satu bagian pun dari agama ini dipermainkan dan tidak ditaati sepeninggal Rasulullah SAW.

Di samping itu, beliau sangat memahami realitas bahwa dengan menumpas mereka berarti telah menjaga stabilitas keamanan dalam negeri kaum muslimin. Dan ketika sebuah negeri telah mencapai stabilitas keamanan, maka dia akan disegani oleh negeri-negeri di sekitarnya serta tidak akan dipandang sebagai sasaran empuk penjajahan.

Keberhasilan Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq dalam menumpas kaum murtad ternyata memberi kekecewaan bagi penguasa imperium Persia serta romawi. Mereka menyadari akan kekuatan umat Islam dan menjadi berpikir ulang untuk menyerang negeri umat Islam.

Namun di saat mereka sedang berpikir ulang, mereka justru semakin tercengang ketika pasukan Islam justru menyerang mereka. Hal ini dilatarbelakangi oleh kesadaran Abu Bakar RA bahwa Islam bukanlah untuk satu suku, satu kelompok, atau satu bangsa, namun diperuntukkan untuk seluruh umat manusia. Karena itu kewajiban seorang muslim adalah mendakwahkan Islam tanpa mengenal batas ruang dan waktu, serta meruntuhkan segala sesuatu yang mengganggu dan menghambat tersampainya pesan dakwah.

Dan untuk penghambat sebesar imperium Persia dan Romawi, tidak ada alat penghancur yang relevan selain penyerangan dan penaklukan. Dan pada masa Abu Bakar RA pasukan Islam akhirnya berhasil menaklukkan salah satu wilayah kekuasaan romawi yaitu Syam, dan satu wilayah kekuasaan Persia yaitu Iraq.

Keberhasilan-keberhasilan yang diraih umat Islam pada masa itu mungkin tak akan tercapai seandainya Abu Bakar RA lebih memilih baper (istilah gaul: terbawa perasaan, red) ketimbang mengikuti akal sehatnya ketika mendengar orasi Sa’ad bin Ubadah.

“Baper” sendiri sejatinya merupakan heretik atau kebid’ahan dalam bahasa Indonesia yang kita junjung tinggi ini. Karena meskipun tak jelas asal-usulnya tetap kita sepakati penggunaannya, bahkan kita tak segan-segan melabeli siapapun yang tidak memahaminya sebagai kurang gaul dan kurang update.

Jadi alangkah baiknya kita menjauhi sikap “bid’ah” ini, sebuah sikap yang tak pernah dicontohkan para pendahulu ummat ini. Terlebih buat kamu-kamu yang sudah berkomitmen meniti jalan dakwah demi memperjuangkan khilafah.

 

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat