... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Potret Taliban di Mata Wartawan BBC, Sebuah Laporan Perjalanan

Foto: Masyarakat sedang berkumpul di pasar di wilayah Musa Qala, ibukota pemerintahan Taliban.

KIBLAT.NET – Enam belas tahun setelah pemerintahan Taliban terguling akibat invasi AS ke Afghanistan, Taliban terus berperang dan kembali menguasai sejumlah wilayah secara signifikan. Hingga kini, Afghanistan masih terjerumus ke dalam konflik berkepanjangan, termasuk beberapa bulan terakhir dimana kita menyaksikan serangkaian aksi serangan berdarah dan mematikan.

Di sejumlah kota penting di bagian selatan yang dikuasai Taliban, wartawan BBC Auliya Atrafi diundang untuk melakukan liputan empat hari di propinsi Helmand. Melalui perjalanan jurnalistik itu, kita bisa menyaksikan secuil kisah bagaimana ritme dan pola kehidupan berlangsung di bawah kekuasaan Taliban.

Kota Sangin menjadi saksi sejarah betapa perang Afghanistan terlalu ganas bagi pasukan agresor asing manapun yang ingin menaklukkan bangsa Muslim Afghanistan. Sekitar dua puluhan lebih pria terlihat tengah duduk bersila di dalam sebuah kompleks besar yang dinding bangunannya terbuat dari lumpur. Mereka adalah pasukan khusus Taliban dari Unit Merah.

Dengan tenang, mereka duduk sambil mendengarkan cerita dari komandan mereka, Mullah Taqi, tentang kisah-kisah perang. Beberapa di antaranya terlihat menenteng senapan serbu M4 buatan Amerika. Senjata-senjata keluaran pabrikan Colt dan Bushmaster yang dilengkapi dengan teropong malam “google night-vision” itu menjadi salah satu senjata utama Taliban hingga berhasil merebut dan menguasai hampir 85% propinsi Helmand dari tangan pasukan pemerintah Afghan yang senjatanya kalah canggih.

Tantangan Baru
Berbagai kemenangan di medan tempur telah membawa para pemimpin Taliban pada tantangan baru berikutnya yang barangkali tak terduga. Masyarakat yang mereka atur saat ini pernah merasakan hidup di bawah kekuasaan pemerintah boneka pro-Barat dengan berbagai fasilitas dan layanan publik yang mereka terima selama lebih dari satu dekade. Sekolah-sekolah, rumah sakit, dan berbagai fasilitas umum lainnya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga.

Menjadi fenomena menarik bagaimana sebuah kelompok insurjensi seperti Taliban yang selama ini secara total fokus merebut wilayah kemudian berubah dan berkembang menjadi satu entitas yang mampu menjalankan itu semua.

BACA JUGA  Rusuh di Natuna, Buntut Ketidakterbukaan Informasi Pemerintah Pusat

Membuat rencana kunjungan ke wilayah Taliban memerlukan waktu berbulan-bulan. Ini adalah yang pertama kali sejak beberapa tahun sebelumnya seorang wartawan media internasional memiliki semacam akses yang terjamin keamanannya. Perjalanan menyeberang garis depan di Gereshk dilakukan pada medio Mei 2017 dengan sepeda motor mengikuti pemandu jalan seorang pemuda. Rute perjalanan melewati jalan raya utama Kabul-Herat menuju Kandahar.

Ketika akan melewati pos pemeriksaan tentara nasional Afghan, pemuda itu tiba-tiba berbelok ke kiri menjauh dari jalan raya menuju perkampungan yang rumah-rumah warganya saling berpencar. Ia menyerahkan wartawan BBC yang diundang kepada dua penjaga pos Taliban yang sedang bergantian jadwal jaga. Salah seorang pejuang Taliban duduk bersama rombongan di mobil, sementara lainnya bersepeda motor menuju area Zanbulai.

Di sana, Mullah Taqi sedang menunggu. Ia adalah komandan pasukan khusus Taliban, dan ia sedang berdiri di tengah pasukannya yang sedang membersihkan senjata-senjata canggih buatan musuh mereka. Di sepanjang kunjungan itu, wartawan BBC ditemani oleh tim media dari Taliban yang menjadi mitra sekaligus pengawas terhadap segala yang mereka lihat.

Sidak di Pasar Sangin
Perjumpaan pertama kami dengan “pemerintah” Taliban terjadi di sebuah pasar di Sangin. Di distrik inilah pertempuran sengit sering terjadi selama lebih dari satu dekade. Ratusan hingga ribuan tentara Inggris, AS, dan pasukan sekutu lokal Afghan mereka tewas di daerah ini hingga akhirnya jatuh ke tangan Taliban pada bulan Maret 2017 lalu.

Pasar lama Sangin yang asli sudah hancur rata dengan tanah saat terjadi pertempuran. Kami berjalan melewati sebuah tempat yang dijadikan sebagai pasar sementara. Terpal dan kotak-kotak kardus terlihat ada di setiap sudut pasar. Di dekat sebuah kedai makan kami melihat dua orang yang sepertinyanya sedang terlibat adu mulut.

Pasar Sangin

“Saya ngga bisa baca!” kata seorang penjaga toko bernama Haji Saifullah. “Jadi bagaimana saya tahu kalau biskuit-biskuit itu ternyata sudah kadaluwarsa?” katanya lagi sambil menggeser-geser surban di kepalanya. Terlihat sekali ia sedang khawatir dan gugup.

BACA JUGA  MUI: Pengelolaan Filantropi Islam Kurang Maksimal

Di depannya, berdiri kepala distrik Sangin bernama Noor Muhammad. Ia menjadi kepanjangan tangan Taliban. Noor Muhammad memerintahkan supaya Haji Saifullah dipenjara tiga hari plus membayar denda karena menjual biskuit kadaluwarsa di pasar.

Daftar inspeksi Noor Muhammad berikutnya adalah memeriksa kontainer minyak apakah takarannya sudah benar dan sesuai ukuran 1 galon yang dijanjikan. Agenda selanjutnya, adalah menguji orang-orang yang mengaku sebagai dokter, terutama kepada orang-orang yang sudah dicurigai sebelumnya berbohong.

Noor Muhammad, Kepala distrik Sangin sedang memeriksa takaran minyak.

Musa Qala, Ibukota Taliban
Setelah melihat Sangin, kami menuju ke Musa Qala yang secara de facto menjadi ibukota Taliban. Tidak lama setelah tiba di kota itu, kami berhenti di sebuah pasar semi-permanen di atas sungai kering yang menjual banyak peralatan dan pakaian untuk bepergian/travelling.

Pasar senjata

Selain itu, Musa Qala juga terkenal sebagai jalur perdagangan opium di samping merupakan jalur perdagangan utama di distrik tersebut. Para pedagang datang ke sini dari berbagai tempat di daerah perbatasan Afghanistan-Pakistan. Di pasar inilah kita bisa membeli berbagai macam barang seperti sepeda motor, sapi, dan es krim. Sementara barang-barang komoditas konvensional seperti amunisi malah sedikit.

Satu butir peluru AK-47 dijual 25 sen. Sementara peluru senapan mesin Rusia yang biasanya dijual 40 sen per biji, sekarang harganya turun menjadi 15 sen saja. Menurut para penjual, harganya terjun bebas karena barangnya banyak sekali dan peluru-peluru senapan mesin itu diperoleh “secara gratis” dari pasukan keamanan Afghan yang kabur.

Baca halaman selanjutnya: Simbiosis Aneh Taliban-Kabul...

Halaman Selanjutnya 1 2 3
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Film ‘Kau Adalah Aku yang Lain’ Bisa Dijerat UU ITE

Ketua Komunitas Sarjana Hukum Muslim (KSHUMI), Candra Purna Irawan menyebutkan bahwa film 'Kau Adalah Aku yang Lain' melanggar ketentuan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang diatur dalam pasal 28 ayat 2.

Ahad, 02/07/2017 20:19 0

Indonesia

Ada Teror Lagi, Politisi PDI-P Ngebet RUU Terorisme Segera Dirampungkan

Anggota Komisi I DPR RI ini juga menilai pemberantasan terorisme tidak bisa dilakukan hanya melibatkan polisi saja. Selain itu, ia juga meminta revisi RUU Terorisme segera diselesaikan.

Ahad, 02/07/2017 20:00 0

Khazanah

Kampung yang Dikuasai Setan

KIBLAT.NET - Shalat jamaah adalah salah satu amalan harian rutin yang sering dijumpai masyarakat pada umumnya. Bagi kebanyakan orang, amalan tersebut seolah menjadi hal yang lumrah dan biasa. Oleh karena kelumrahan itulah, tidak jarang bila kebanyakan orang meremehkannya.

Ahad, 02/07/2017 10:15 0

Qatar

Tak Sejalan dengan Hukum Internasional, Qatar Tolak 13 Tuntutan Saudi

Qatar akan menolak tuntutan yang dikeluarkan oleh empat negara Arab untuk mengakhiri krisis diplomatik saat ini. Demikian dikatakan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammad bin Abdurrahman Al-Thani, Sabtu (01/07).

Ahad, 02/07/2017 09:45 0

Suriah

Laporan Terbaru SOHR: Ribuan Orang Disiksa sampai Mati di Penjara Suriah

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) pada Jum'at (30/06), mengumumkan telah mendokumentasikan bukti bahwa sekitar 13.000 orang, termasuk wanita dan anak-anak, tewas di penjara yang dikelola oleh rezim Suriah antara Maret 2011 dan Juni 2017.

Ahad, 02/07/2017 09:00 0

Amerika

Penembakan Terbaru di Klub Malam AS, Polisi Sebut Bukan Terorisme

Sedikitnya 25 orang telah ditembak di sebuah klub malam di negara bagian Arkansas, AS pada Sabtu (01/07). Menurut keterangan polisi, dua di antara korban berada dalam kondisi kritis.

Ahad, 02/07/2017 08:12 0

Yaman

Jumlah Korban Wabah Kolera Yaman Semakin Meningkat

Jumlah korban tewas akibat wabah kolera di Yaman telah meningkat menjadi 1.500 orang. Demikian menurut Nevio Zagaria, yang menjadi perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Yaman, Sabtu (01/07). Ia meminta bantuan lebih lanjut untuk mengakhiri epidemi ini.

Ahad, 02/07/2017 07:37 0

Syam

Kapal Induk AS dalam Perang Kontra-ISIS Berlabuh di Israel

Kapal induk Angkatan Laut AS, yang diklaim terbesar di dunia, berlabuh di pelabuhan Haifa, Israel pada Sabtu (01/06). Ini menjadi pendaratan pertama dari kapal yang digunakan untuk mendukung operasi koalisi anti-ISIS ini sejak 17 tahun silam.

Ahad, 02/07/2017 06:52 0

Amerika

Virus Petya Menyerang Jaringan Komputer Dunia, Begini Antisipasinya

Di Ukraina, virus Petya telah menyerang sistem komputer kapal selam hingga supermarket yang menyebabkan kekacauan.

Ahad, 02/07/2017 00:03 0

Analisis

Bin Salman dan Misteri Penyerahan Dua Pulau Mesir untuk Saudi

Hubungan antara Israel dan Arab Saudi cenderung menjadi lebih kuat di bawah Mohammed Bin Salman yang berusia 31 tahun, yang dinobatkan sebagai Putra Mahkota minggu ini oleh ayahnya, raja Saudi.

Sabtu, 01/07/2017 22:55 4

Close