... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Politik Identitas Muslim Melayu Patani Terhadap Bangsa Thailand

Foto: Militer Thailand di Masjid Gresik. Masjid ini pernah menjadi saksi pembantaian kaum muslimin oleh aparat Tahiland pada tahun 2004.

KIBLAT.NET – Proses perubahan sosial politik di Patani, tidak terlepas dari peran aktor-aktor baik Civil Society Organizations (CSOs), kultural masyarakat Patani dan elit politik yang berada di pusat kekuasaan. Dengan modal-modal yang mereka memiliki mampu membawa perubahan yang signifikan dengan bekerjasamanya ketiga aktor itu dalam membangun perdamaian di Patani.

Proses perdamaian Patani melalui rekonsiliasi dan rekontruksi akan mendorong Muslim Melayu Patani dan pemerintah Thailand membuka pintu perubahan untuk Patani dan Thailand dalam suatu wadah. Dengan demikian proses perdamaian yang hakiki yang berbijak pada nilai-nilai budaya Melayu Patani mampu mengiringi suatu perubahan sosial politik. Kebijakan-kebijakan pemerintah Thailand harus dapat mengadopsi pada budaya dan masyarakat politik (political society) Patani yang mayoritas muslim.

Rekonsilaisasi pemerintah Thailand dengan masyarakat Patani (BRN) dalam menyelesaikan konflik yang selama ini terjadi dengan melibatkan pihak ketiga yaitu pihak pemantau asing dapat melahirkan kesepakatan berhentinya sikap saling bermusuhan akibat konflik dan prosesi perdamaian yang hakiki.

Dalam konflik yang terjadi dapat kita temui bahwa konflik umumnya berakar pada latar-belakang politik, maupun berasal dari kebijakan yang tidak adil. Di sisi lain, ketidakseimbangan alokasi sumberdaya telah mendorong rasa ketidakadilan yang berujung pada konflik. Sementara, isu agama, etnis, maupun separatism, merupakan faktor pemicu yang membungkuskan konflik terus berkepanjangan. Dalam situasi konflik, hampir seluruh fungsi-fungsi pemerintah tidak dapat berjalan efektif.

Semenjak 2004 cetusan manifesto politik pada era revolusi di Patani dengan secara gerilya, dalam situasi dan kondisi konflik lebih kurang satu dekade dengan tanpa titik temu ujung pangkalnya. Walaupun proses dialog perdamaian antara pemerintah Thailand dengan BRN (Barisan Revolusi Nasional Melayu Patani) sering beberapa kali namun tidak begitu nampaknya resolusi yang paling terbaik dalam menyelesai masalah konflik.

Justru dampak dari kekerasan bersenjata ini dapat mengurangi dan hendari sasaran mangsa terkorban bukan kelompok sesama angkatan bersenjata, akan tetapi rasa ketakutan bagi penduduk di zona konflik dan seluruh warga negara masih berharap untuk berhenti segala operasi kekerasan dan aktivitas bersenjata, dan harus mengembalikan ke meja dialog untuk mendapatkan kontrak yang bersepakatan sehingga terus mengembalikan hak-hak meraka dengan kesejahteraan dan kedamaian bagi warga penduduk setempat dengan hakiki.

Problem yang sama sebagaimana dikemukakan oleh Sartono Kartodirdjo dan Manuel Castells tampaknya terjadi pada kasus Muslim minoritas Patani di Thailand Selatan. Sejak diproklamirkannya kemerdekaan itu, masyarakat Muslim Patani yang merasa berbeda agama, etnis, dan klaim historis atas tanah menganggap bahwa pemerintah pusat tersebut adalah “semacam kolonial” yang sedang menawarkan perubahan atau modernisasi dengan identitas tunggal, yaitu identitas nasional Thailand (Siamisasi) yang berbeda dan menggerus identitas kultural yang mereka miliki.

BACA JUGA  Haluan Ekonomi Masyumi

Perbedaan kepentingan politik antara nasional dan lokal dan identitas ini mendorong masyarakat minoritas itu melakukan pemberontakan melalui konflik dan bahkan kekerasan. Gerakan dengan menuntut merdeka wilayah tersebut mungkin bisa disebut sebagai “gerakan nasionalis (nationalist movements)”, yaitu suatu gerakan oleh kelompok minoritas atas dasar identitas politik berdasar kultural dan klaim kewilayahan tertentu atas pemerintah pusat karena merasa ditindas oleh kelompok mayoritas. Jika aspirasi itu tidak bisa dicari titik temu maka kekerasan adalah salah satu konsekuensinya.

Menurut Meadwell, ada tiga faktor yang membuat terjadinya mobilisasi kultural berhadapan dengan mayoritas dan pemerintah pusat, yaitu berkaitan dengan kemajuan dan perubahan ekonomi; adanya ketidaksederajatan dalam kesempatan pendidikan, lapangan kerja, dan ekspresi; serta meningkatnya kelas menengah yang bisa merumuskan kepentingan bagi mereka. Sedangkan Chalk, berpendapat bahwa setidaknya ada tiga faktor yang menjadi akar penyebab gerakan minoritas Muslim atas pemerintah pusat dan mayoritas. Pertama, ketidaksensitifan pemerintah pusat terhadap keprihatian lokal, kemiskinan, ketertinggalan pendidikan, dan langkanya lapangan kerja di satu pihak dan ke-abai-an atau ketidakpedulian regional atau pemerintah pemerintah dan masyarakat di sekitarnya di pihak lain. Kedua, represi militer dan penyeragaman identitas; dan Ketiga, kekuatan dorongan Islam.

Dalam konteks hak-hak kelompok minoritas di dalam negara nasional, Willy Kymlicka berpendapat bahwa baik minoritas pribumi atau native maupun imigran harus diberi hak yang sama dengan mayoritas dalam identitas nasional. Keduanya memiliki hak sederajat dalam konstitusi maupun sosial-ekonomi-politik. Namun mereka dibedakan bahwa, imigran tidak memiliki hak untuk menuntut self-government, berbeda dengan minoritas pribumi. Menurut Kymlicka, minoritas pribumi seharusnya memiliki hak untuk menuntut atau diberi self-government. Dalam konteks berlarutnya konflik dan kekerasan di Patani dengan Thailand, dengan demikian, bisa dilihat adanya konsep nasionalisme yang berbasis pada (nation-state) negara-bangsa di satu pihak dan tidak diberikannya hak self-government kepada kelompok minoritas tersebut di lain pihak.

Selanjutnya, identitas nasional (national identity) biasa dikatakan sebagai suatu fenomena modern yang membentuk solidaritas dari berbagai elemen suatu masyarakat di dalam kawasan terotorial tertentu yang kemudian menjadi bangsa atau negara-bangsa. Menurut Anthony Smith, identitas nasional adalah sesuatu yang mencakup hampir seluruh dimensi kehidupan sehingga ia menjadi suatu kekuatan yang ekslusif dan inklusif sekaligus. Ia bukan hanya dalam aspek politik, ekonomi tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari atau budaya.

Elemen-elemen tersebut bisa terdiri dari banyak hal seperti etnis, agama, kultur dan kebiasaan lokal, ras dan sebagainya. Meski demikian, identitas nasional tidak meleburkan secara tuntas keseluruhan dari elemen-elemen tersebut. Bangsa dalam pengertian modern sesungguhnya lebih menyerupai apa yang oleh Bennedict Anderson disebut sebagai imagined communities, suatu bentuk masyarakat yang diangankan sebagai satu kesatuan tetapi elemen-elemen di dalamnya sesungguhnya masih bertahan. Identitas nasional, dengan demikian, adalah suatu bentuk hubungan yang bersifat dinamis antara elemen-elemen tersebut yang bisa berubah dari waktu ke waktu lain. Hubungan antara elemen-elemen tersebut terikat oleh suatu perjanjian bersama berupa konstitusi.

BACA JUGA  Haluan Ekonomi Masyumi

Namun betapa pun solidnya identitas nasional tersebut tidak karena desakan dari luar seperti globalisasi maupun yang berasal dari dalam dengan makin tumbuhnya kesedaran akan hak-hak, seperti hak kultural dan keadilan ekonomi minoritas atau mereka yang terpinggirkan dengan berbagai alasan. Di masa lalu, setidaknya hingga Perang Dunia II tetapi pengaruhnya masih terasa hingga sekarang, identitas nasional bisa berimplikasi bagi usaha penghapusan elemen etnis, kultur local, agama demi kesatuan bangsa, dengan cara yang paling halus melalui asimilasi sampai pemaksaan dan kekerasan.

Asumsi identitas nasional yang bersifat homogin dan mencakup itu kini sedang dipertanyakan kembali secara deras dan munculnya factor global dan kesedaran hak dari elemen-elemen di dalamnya, terutama paska berakhirnya Perang Dingin. Artinya, identitas nasional sebagai suatu kesatuan yang mencakup danbentuk solidaritas dalam lingkup teritorial tertentu yang disepakati sebagai suatu negara atau negara bangsa (nation-state), bisa terus dipertanhankan. Namun realitas baru pengaruh global dan bangkitkan kesedaran internal itu menutut adanya suatu bentuk baru hubungan antara elemen di dalam lingkup negara-bangsa itu sendiri.

Fenomena minoritas Muslim di lingkup negara Thailand bisa jadi merupakan bukti dari fenomena tersebut. Meskinpun tuntutan itu muncul sejak kemerdekaan segera setelah Perang Dunia II, tetapi kini mengalami pergeseran yang signifkan. Misalnya, di satu pihak mereka telah melepaskan tuntutan atas kemerdekaan namun di lain sisi mereka menuntut hak yang lebih substantive misalnya dalam pengelolaan sumberdaya alam dan hak untuk memerintah sendiri (self-government).

Demikian halnya, di dalam minoritas Muslim di wilayah itu juga mengalami pergeseran baik strategi maupun tuntutan. Jika dulu gerakan separatisme cenderung dianggap sebagai representasi satusatunya bagi minoritas untuk menuntut kemerdekaan maupun otonomi, kini muncul kelompok-kelompok civil society dan bahkan gerakan individu yang cenderung menggunakan public sphere dan penguatan masyarakat sipil sebagai strategi perjuangan untuk mencapai tujuan dan menuntut hak mereka sebagai minoritas.

 

Penulis : John Patanisia


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Koalisi AS Tembak Jatuh Drone Iran di Al-Tanf, Suriah

Koalisi AS membangun pangkalan militer di daerah Al-Tanf dan menempatkan ratusan tentara. Pangkalan tersebut dikelola oleh militer AS dan Inggris.

Rabu, 21/06/2017 18:28 0

Amerika

Keluar Masjid Cari Sahur, Muslimah AS Ini Dipukuli Hingga Tewas

Seorang pemuda di Amerika Serikat memukul hingga tewas seorang remaja muslimah berusia 17 tahun di pinggiran Washington, ibukota negara bagian Virginia, Amerika Serikat. Insiden pada Sabtu lalu (17/06/2017) itu terjadi saat sang remaja muslimah keluar dari masjid selepas Salat Tarawih.

Rabu, 21/06/2017 17:16 0

Eropa

AS Desak PBB Masukkan Hamas dalam Daftar Hitam dan Menghukum Pendukungnya

Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley mendesak Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk memasukkan Gerakan Perlawanan Palestina (Hamas) dalam daftar hitam (organisasi teror) dan memberikan sanksi kepada para pendukungnya.

Rabu, 21/06/2017 14:57 0

Suriah

Militer Suriah dan Milisi Iran Buka Operasi Militer di Wilayah Gurun

“Dengan dukungan udara Rusia, rezim dan milisi Iran berupaya maju dan merebut tempat-tempat ini,” katanya seperti dilansir Reuters Arabic.

Rabu, 21/06/2017 14:41 0

Suriah

Koalisi AS Konfirmasi Terbunuhnya “Mufti Besar” ISIS

– Koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat, Selasa (20/06), mengumumkan telah mengonfirmasi tewasnya Mufti Besar Daulah Islamiyah (ISIS) , Turki Al-Binali, dalam serangan udara pada 31 Mei lalu di Suriah. Kematian Al-Binali sebelumnya dilaporkan oleh banyak media.

Rabu, 21/06/2017 13:33 0

Rusia

Rusia Akan Tembak Jatuh Jet Koalisi AS di Suriah

Kementerian Pertahanan Rusia mengaku akan menargetkan jet tempur AS atau sekutunya yang terbang di sebelah barat sungai Efrat. Pernyataan tersebut muncul setelah AS menjatuhkan sebuah jet tempur Suriah pada hari Ahad di daerah pedesaan Raqqah selatan.

Rabu, 21/06/2017 11:29 0

Khazanah

Menakutkan, Begini Azab Kubur Bagi yang Tidak Mau Membayar Zakat

’Suaranya itu membuatku menangis. Aku pun menggali kuburannya untuk melihat keadaannya. Tiba-tiba dalam kuburannya itu ada nyala api dan di lehernya ada kalung dari api.

Rabu, 21/06/2017 10:41 0

Eropa

Studi: Porsi Liputan Media Mainstream Lebih Banyak ketika Pelaku “Teror” Muslim

Serangan teror dengan pelaku non-Muslim di Amerika Serikat lebih sedikit mendapat porsi liputan media daripada ketika dilakukan oleh orang Islam. Demikian hasil kesimpulan studi oleh para peneliti dari Georgia State University.

Rabu, 21/06/2017 10:20 0

Timur Tengah

Ancam Qatar, Menlu UEA: Isolasi Dapat Berlangsung Selama Bertahun-tahun

Gargash menuding Qatar menyediakan sarana pendukung keuangan, media dan politik yang canggih untuk para radikalis dan menjadi tuan rumah banyak pemimpin mereka.

Rabu, 21/06/2017 09:23 0

Video Kajian

Dr. Anung Al Hamat: Marah yang Terpuji dan Tercela

KIBLAT.NET-  Dr. Anung Al Hamat: Marah yang Terpuji dan Tercela dalam Islam. Marah dibagi menjadi...

Rabu, 21/06/2017 06:00 0

Close