... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Pernah Difitnah ‘Hoax’ Media Syiah, Omran Daqneesh Muncul Kembali

Foto: Omran Daqneesh

KIBLAT.NET – Beberapa bulan yang lalu, publik digemparkan dengan munculnya sesosok bocah di media. Bocah itu sempat menarik perhatian dunia. Foto dan video yang menampakkan wajahnya dengan lumuran darah dan debu tersebar luas di internet.

Wajahnya terpampang sebagai headline di banyak surat kabar dan media online. Ya, dia adalah Omran Daqneesh, salah satu anak Suriah yang menjadi korban serangan udara rezim Assad dan sekutunya, Rusia.

Omran Daqneesh, bocah Suriah yang selamat dari reruntuhan akibat serangan Rusiah

Omran Daqneesh, bocah Suriah yang selamat dari reruntuhan akibat serangan Rusia

Tragedi berdarah itu terjadi di Aleppo pada bulan Agustus 2016 lalu. Bocah itu duduk dan terdiam kebingungan di atas kursi oranye sebuah ambulans setelah rumahnya menjadi puing-puing. Ia mengelap darah di pipinya, lalu ia melihat tangannya, namun ia tetap diam membisu.

Ekspresinya itu menjadi gambaran kepada dunia tentang betapa mengerikannya kondisi Suriah. Sehingga, Omran Daqneesh berhasil menjadi simbol penderitaan rakyat Suriah akibat kekejian rezim Bashar Assad.

Baru-baru ini, Omran Daqneesh kembali muncul ke muka publik. Foto-fotonya dipublikasikan di akun media sosial seorang wartawan stasiun televisi pro-rezim Assad. Di foto tersebut Omran tampak sehat.

Kini, ia dikabarkan tinggal di Aleppo, tepatnya daerah yang sekarang berada di bawah kekuasaan pasukan pendukung Bashar Assad. Ketika pihak oposisi dan warga sipil mengungsi dari Aleppo, ada laporan bahwa keluarga Daqneesh menyebrang ke wilayah yang dikuasai rezim. Belum jelas apakah keluarga Daqneesh secara suka rela melakukannya atau karena dipaksa oleh pihak rezim.

 

Gambar 2. Omran Daqneesh dan ayahnya, Mohamad Kheir Daqneesh.

Foto-foto dan video pendek tersebut dipublikasikan oleh Kinana Allouch. Ia adalah seorang wartawan yang pernah mengunggah sebuah foto selfi bersama jenazah-jenazah pejuang oposisi (Baca : http://www.mirror.co.uk/news/world-news/sick-selfie-shows-exactly-how-7851113). Ia mengunggah foto dan video pendek Omran Daqneesh ke internet. Ini adalah pertama kali Omran Daqneesh muncul ke publik setelah ia terluka dalam serangan udara rezim Assad-Rusia.

Omran Daqneesh dan Kinana Allouch

Wawancara bersama keluarga Omran juga muncul di saluran berita pendukung rezim Suriah, seperti stasiun televisi nasional Rusia, Iran, Libanon, dan tentu saja stasiun televisi rezim Suriah itu sendiri. Media tersebut selama ini telah menyokong Bashar Assad selama enam tahun revolusi Suriah melawan pejuang oposisi.

BACA JUGA  Ramadhan yang Membekas

Dalam sebuah wawancara dengan saluran milik Rusia, Rupty, Omran menghadap ke arah kamera dan mengatakan kepada wartawan, “Aku Omran Daqneesh. Aku berusia 4 tahun.” Padahal, informasi sebelumnya dari banyak aktivis di Suriah menunjukkan bahwa Omran berusia 5 tahun di hari serangan.

Mohamad Kheir Daqneesh, ayah Omran, ketika diwawancarai mengatakan bahwa ia memotong rambut Omran serta mengganti namanya karena takut Omran akan diculik. Ayah Omran juga mengatakan bahwa pejuang oposisi mengambil foto Omran di hari itu untuk dijadikan sebagai alat propaganda untuk melawan rezim Assad.

Namun, Valerie Szybala selaku direktur eksekutif dari The Syria Institute, sebuah lembaga riset independen yang berfokus pada Suriah, mengatakan bahwa keluarga Omran berbicara di bawah paksaan rezim Assad.

“Mereka berada di bawah kendali pemerintah Suriah sekarang. Kita tahu bahwa pemerintahan ini adalah pemerintahan yang akan menangkap dan menyiksa siapa saja yang melawan mereka. Menurut saya, pada situasi tersebut sangat mungkin terjadinya paksaan”, ujar Szybala kepada Reuters.

Seperti yang dilansir dari The Guardian, rezim Suriah juga telah melakukan usaha penyesatan informasi sebelumnya. Mereka menjanjikan suatu hal kepada para pembelot atau warga sipil yang terusir jika mereka mau berbicara di media untuk melawan pejuang oposisi.

Terlepas dari benar atau tidaknya informasi yang disampaikan oleh keluarga Daqneesh, ada satu hal yang sangat menarik untuk ditelusuri. Ayah Omran membenarkan bahwa pada hari itu serangan benar terjadi dan Omran memang terluka dan dibawa ke rumah sakit. Namun, Bashar Assad menyangkalnya. Ia mengatakan bahwa foto bocah di kursi oranye itu palsu dan serangan tidak pernah terjadi.

BACA JUGA  Hukum Menambahkan Lafadz "Sayyidina" Saat Tasyahhud, Shalawat dan Adzan

[Video link : https://www.youtube.com/watch?v=Mc4NiiDd6D8]

Perkataan yang sama dilontarkan oleh media-media dan aktivis yang selama ini terkesan mendukung rezim. Dina Sulaeman misalnya. Menanggapi serangan udara yang melukai Omran Daqneesh pada Agustus 2016 lalu, Dina mengatakan bahwa bocah di kursi oranye adalah hoax.

Dalam tulisannya yang dimuat blog propaganda, Liputanislam.com, sebuah blog berita yang banyak memberikan pembelaan kepada Bashar Assad, Dina memaparkan analisanya untuk membuktikan bahwa Omran Daqneesh adalah palsu. “Bulan Agustus 2016 media-media mainstream mem-blow up foto “bocah di kursi oranye”. Meski sudah lama berlalu, foto hoax ini masih terus disebar, dan media-media mainstream juga masih terus memproduksi hoax serupa”, tulis Dina.

Tak tanggung-tanggung, Dina juga mendiskreditkan fotografer yang mengambil foto Omran (Baca : http://liputanislam.com/tabayun/hoax-bocah-di-kursi-oranye/) . Ia bahkan menyebut seseorang yang menyangkal pendapatnya sebagai orang yang mengalami logical fallacy (kesalahan berpikir).

Munculnya Omran Daqneesh ke hadapan dunia menjadi bukti bahwa Omran bukan figur palsu seperti apa yang dituduhkan oleh Bashar Assad dan para kaki-tangannya. Apabila para pendukung Assad di Indonesia masih kokoh pada pendiriannya bahwa tragedi Aleppo pada Agustus 2016 lalu tidak pernah terjadi. Juga masih meyakini bahwa Omran Daqneesh adalah cerita palsu, lantas siapa bocah wajah tak berdosa yang sekarang muncul di media itu?

 

Oleh : Astriva Harahap

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

News

Menlu Qatar Menyatakan Siap Berdialog dengan Saudi Cs

Pemerintah Qatar menyatakan siap berdiaolog dengan pihak Arab Saudi cs untuk menemukan solusi atas krisis diplomatik.

Selasa, 13/06/2017 16:51 0

News

Selain Turki, Kerajaan Maroko Bersedia Penuhi Kebutuhan Pangan Qatar

Kerajaan Maroko mengatakan akan mengirim banyak muatan makanan ke Qatar guna meningkatkan pasokan di sana

Selasa, 13/06/2017 15:22 0

Afrika

Sekutu AS di Somalia Mengaku Kalah Melawan Al-Syabaab

AFRICOM merilis pengakuan bahwa pasukan Uni Afrika dan Somalia mengalami kekalahan telak di tangan para jihadis Al-Syabaab,

Selasa, 13/06/2017 14:55 0

Indonesia

Penampakan Pusat Pemantau Masjidil Haram dengan 2.200 CCTV

Pusat Komando dan Kontrol Keamanan Publik telah memasang 2.200 kamera CCTV di sekitar Masjidil Haram dan Kawasan Pusat Al-Haram untuk memantau pergerakan peziarah dan jamaah umrah selama bulan suci Ramadhan.

Selasa, 13/06/2017 14:14 0

Indonesia

Kementan Akhirnya Klarifikasi soal Program Beras untuk Somalia

Setelah ramai mendapat komentar pedas dari para netizen, akun instagram Kementerian Pertanian (Kementan) membuat klarifikasi soal 'Beras untuk Somalia'. Dalam postingan terbaru, nama ACT telah disebut; 'Beras untuk Somalia melalui ACT'.

Selasa, 13/06/2017 13:40 0

Eropa

FIFA Yakin Piala Dunia 2022 Tetap Digelar di Qatar

FIFA meyakini krisis diplomatik yang melanda Qatar akan menormal dan tidak mengancam gelaran Piala Dunia 2022. Demikian dikatakan Presiden Fédération Internationale de Football Association (FIFA), Gianni Infantino.

Selasa, 13/06/2017 13:13 0

Video News

Kiblat Review 03: Fenomena Islamophobia

Kiblat Review adalah program baru dengan mengusung konsep obrolan seputar tema Islam kekinian, program ini dirilis setiap pekan sekali setiap Selasa. Kali ini tema yang diangkat seputar fenomena Islamophobia.

Selasa, 13/06/2017 12:42 0

Eropa

Tak Cukup Bukti, Pengungsi Suriah yang Dituduh ISIS Dibebaskan

Seorang pengungsi Suriah yang ditangkap di Jerman karena diduga menjadi anggota kelompok ISIS dan memperkosa seorang wanita dibebaskan karena kurangnya bukti.

Selasa, 13/06/2017 12:41 0

Afrika

Operasi Gagal, AS Kembali Umumkan Serangan Baru terhadap Al-Syabab

Kekhawatiran AFRICOM terkait kebangkitan kembali al-Syabab di Somalia ini secara tidak langsung merupakan pengakuan bahwa upaya bersama yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir oleh AS, Uni Afrika, dan pemerintah Somalia untuk mengalahkan kelompok jihadis itu mengalami kegagalan.

Selasa, 13/06/2017 12:05 0

Amerika

Lebih Utamakan Bisnis Ketimbang Negara, Donald Trump Diperkarakan

Pejabat di Maryland dan Washington akan menuntut Presiden Donald Trump karena menerima pembayaran dan keuntungan dari pemerintah asing melalui kerajaan bisnisnya. Sebuah LSM yang menangani masalah etika mengajukan tuntutan serupa pada bulan Januari. Tapi ini yang pertama disampaikan oleh instansi pemerintah.

Selasa, 13/06/2017 11:21 0

Close