... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Mengapa Rezim Tiran Pelihara Ketakutan Warga terhadap Aksi Terorisme?

Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya

KIBLAT.NET – Dalam buku berjudul The Exercise of Fear: Political Uses of an Emotion, filsuf dan sejarawan Patrick Boucheron dan Corey Robins mengingatkan kita bahwa dalam pelaksanaan kekuasaan politik, pemerintah sering bersandar pada ketakutan—dan mekanisme membangkitkan, memperburuk, serta menguatkannya.

“Kekuatan politik terus memanfaatkan ketakutan, baik dengan menunjuk ancaman yang dianggap berpotensi melemahkan kesatuan nasional, atau dengan memfokuskan perhatian penduduk pada kekuatan politik yang berpotensi mampu memecah semangat kebangsaan dan cara hidup kita,” tulis mereka.

“Ketakutan adalah proyek politik yang berkembang melalui pembangunan tatanan, wacana ideologis dan tindakan kolektif.”

Hari ini, di Barat dan belahan dunia lainnya, rasa takut dan retorika “ancaman teroris” telah melahirkan modus tertentu pemerintahan dan bahkan rezim politik. Tindakan keras berdarah As-Sisi terhadap demonstran di Mesir, pembantaian Assad dan Putin terhadap warga sipil Suriah, dan pemboman mematikan koalisi pimpinan Saudi di Yaman, adalah di antara contoh-contohnya.

Rezim tiran kerap menggunakan ISIS, Boko Haram dan Al-Qaeda, untuk mengalihkan perhatian kita dari kejahatan mereka sendiri terhadap kemanusiaan, yang umumnya jauh lebih buruk.

Ketika ancaman itu tidak cukup kuat, pihak berwenang mendapatkan ide kreatif, sebagaimana polisi Kanada dan AS, yang merekayasa “ancaman jihad” dan serangan palsu.

“Ketakutan ilusi terorisme juga berfungsi untuk memaksa seluruh rakyat untuk memilih di antara dilema palsu seperti ‘kebebasan atau keamanan’, ‘terorisme atau negara polisi’. Bahkan, di beberapa negara seperti Arab Saudi dan Suriah, (pilihan yang ditawarkan adalah) kediktatoran negara berdarah, sebagaimana Assad, atau gerakan ekstremis, seperti ISIS. Rakyat perlu untuk memilih,” ujar Pangeran Hicham Alaoui dari Maroko.

Dilema palsu tersebut (pilih saya atau kekacauan) dan taktik pemerasan (Assad atau ISIS) memungkinkan penguasa otoriter untuk membangun konsensus nasional palsu tentang ancaman ISIS, yang memungkinkan mereka untuk secara efektif mengejar tujuan-tujuan politik mereka sendiri: untuk tetap berkuasa, untuk merebut kekuasaan melalui kekerasan, dan untuk secara brutal menindas para oposan.

BACA JUGA  Densus Tembak Mati Terduga Teroris, Kompolnas Mengaku Prihatin

Di belahan dunia yang lain, di Amerika Serikat, “perang melawan teror” telah melahirkan sejumlah kebijakan yang menyenangkan pengembangan militer dan semua orang yang berhubungan dengan itu, termasuk berbagai think tank, akademisi dan peneliti. Ia juga membenarkan perluasan kekuasaan eksekutif yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Akibatnya, presiden dan bagian intelijennya dapat memutuskan pembunuhan (bahkan secara diam-diam) terhadap setiap warga AS atau orang asing yang dianggap sebagai “ancaman teroris”. Itu semua, tentu saja, dilakukan di luar sistem pengadilan.

Di sini, di Indonesia, setiap kali ada serangan teror, entah asli atau palsu, selalu diiringi dengan desakan revisi UU Terorisme. Secara serentak, dari presiden hingga para menteri dan pejabat kepolisian, menyanyikan lagu yang sama: pemerintah perlu melakukan revisi UU terorisme. Mereka beralsan karena UU terorisme yang berlaku selama ini dianggap kurang memberi kewenangan kepada kepolisian. Tangan mereka merasa diborgol saat memerangi terorisme. Namun yang perlu dicatat, dengan tangan diborgol tersebut, menurut data Komnas HAM, 121 jiwa telah dibunuh oleh Densus 88 di luar proses pengadilan.

Densus 88

Densus 88

Hingga awal tahun 2016, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menyatakan ada 1.025 orang yang ditangkap terkait kasus terorisme. Sebanyak 215 orang masih berada di dalam tahanan yang tersebar di 13 propinsi, 598 di antaranya sudah bebas. 94 di antaranya menjadi korban salah tangkap/kurang cukup bukti dan 3 orang dieksekusi mati melalui pengadilan.

Selain itu, ada 1 korban orang hilang yang dilaporkan diculik Densus 88 dan hingga 12 tahun lamanya belum kembali ke keluarga. Semua pelanggaran ini terjadi bahkan sebelum adanya campur tangan militer dan intelejen negara sebagaimana keinginan pemerintah dalam revisi UU Terorisme yang baru.

Keberanian bukan berarti tidak takut. Tapi keberanian berarti mengenali dan melawan manajemen teror, sejak serangan teror terjadi, tepat di saat paling sulit untuk melakukannya.

 

BACA JUGA  Protes Pernyataan Saudi, Tagar Hamas Bukan Teroris Menggema di Tanah Arab

 

Ilusi Ketakutan

Ada beberapa alasan kenapa ilusi ketakutan terhadap terorisme perlu dijaga. Rasa takut memungkinkan pemerintah untuk mengalihkan perhatian publik dan perdebatan dari masalah sosial dan ekonomi yang belum terselesaikan.

Tiran modern adalah manajer teror, kata Timothy Snyder dalam bukunya, On Tyranny: Twenty Lessons from the Twentieth Century. Para manajer teror mampu mengubah keterkejutan masyarakat menjadi alat untuk membungkam kebebasan mereka. Saat serangan teror terjadi, para tiran mengeksploitasi peristiwa tersebut untuk mengkonsolidasikan kekuatan.

Tirani muncul dari kondisi darurat yang menyenangkan mereka, sebagaimana yang ditulis James Madison. Para tiran hari ini tidak lupa akan pelajaran tahun 1933: bahwa aksi teror—baik yang palsu maupun yang asli, yang terjadi karena provokasi atau karena kebetulan—bisa memberikan senjata. Bagi para tiran, pelajaran penting dari api Reichstag adalah bahwa satu momen kejut bisa membawa pada ketundukan total dan abadi.

Jika kita menghadapi serangan teror—atau sesuatu yang nampak seperti serangan teror, atau apa yang disebut oleh pemerintah sebagai serangan teror—kita harus meminta pemerintah untuk bertanggungjawab atas keamanan kita. Namun, di tengah momen ketakutan dan kesedihan tersebut, ketika denyut politik tiba-tiba berubah, kita juga harus siap untuk memobilisasi hak-hak konstitusional kita.

Sebagaimana tulisan teoris politik setelah peristiwa Reichstag, Hannah Arendt, “Saya tidak lagi berpendapat bahwa kita hanya bisa jadi penonton.”

Keberanian tidak berarti tidak takut. Tapi keberanian berarti mengenali dan melawan manajemen teror, sejak serangan teror terjadi, tepat di saat paling sulit untuk melakukannya.

 

Penulis: Lukman Sapto Adji

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Timur Tengah

Blokade Saudi, Qatar Petroleum: Bisnis Berjalan Seperti Biasa

Raksasa energi Qatar Petroleum mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (10/06), bahwa bisnis tetap berjalan seperti biasa meskipun terjadi krisis diplomatik yang melibatkan Doha dan tetangganya di Teluk.

Ahad, 11/06/2017 12:37 1

Amerika

PBB Sebut Hanya Komitmen pada Daftar “Teroris” yang Dikeluarkannya

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen pada daftar “teroris” yang dikeluarkan lembaganya. Hal ini ditegaskan untuk menanggapi daftar “teroris” yang dikeluarkan Arab Saudi, UEA, Mesir dan Bahrain terhadap individu dan lembaga terkait Qatar.

Ahad, 11/06/2017 12:00 0

Eropa

Juncker: Soal Pertahanan Keamanan, Eropa Tidak Bisa Lagi Bergantung pada Pihak Luar

Ketua Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker, pada hari Jumat (09/06) mengatakan bahwa Eropa harus memperhatikan sistem pertahanannya sendiri mengingat telah terjadi perubahan kebijakan di AS. Juncker mengungkapkan pandangannya tersebut saat mempromosikan anggaran pertahanan yang lebih besar yang sebelumnya telah diumumkan oleh Brussel.

Ahad, 11/06/2017 11:37 0

Philipina

Tiga Pekan Belum Kendalikan Marawi, Filipina Datangkan Pasukan Khusus AS

Tiga belas marinir Filipina terbunuh dalam baku tembak dengan gerilyawan Maute saat pasukan Filipina ingin mengambil alih kota Marawi yang dikuasai kelompok itu selama hampir tiga minggu.

Ahad, 11/06/2017 10:51 0

Malaysia

Sikap Tegas Malaysia terkait Boikot Qatar

"Jika mereka datang dalam damai dan tidak menimbulkan masalah maka apa masalahnya?" katanya dalam sebuah konferensi pers di ibukota Malaysia. "Kami tidak punya masalah. Ini adalah negara merdeka. Siapapun diterima asalkan tidak menimbulkan masalah," imbuhnya.

Ahad, 11/06/2017 10:10 0

Wilayah Lain

Hampir 24 Jam, Puasa Umat Islam di Islandia

Pulau Atlantik utara ditempati oleh sekitar 1.500 warga Muslim. Selama Ramadhan, mereka mulai berpuasa sekitar jam 2 pagi waktu setempat hingga sampai sekitar tengah malam. Meski demikian, hal itu tak menyurutkan niat mereka untuk melaksanakan kewajiban puasa tersebut.

Ahad, 11/06/2017 09:38 0

Afghanistan

Menyusup Pasukan Khusus, Pejuang Taliban Tewaskan Tiga Tentara AS

Setidaknya tiga tentara Amerika Serikat tewas dan satu lainnya luka-luka setelah diserang anggota pasukan khusus Afghanistan pada Sabtu siang (10/06) di provinsi Nangarhar. Insiden semacam ini menambah panjang daftar tentara asing yang tewas akibat serangan insider atau serangan dari dalam.

Ahad, 11/06/2017 08:24 0

Turki

Erdogan: Maaf! Kami Akan Terus Memberi Qatar Dukungan

Menurut Erdogan, Saudi dan sejumlah negara lainnya telah menempatkan saudara sebagai musuh.

Sabtu, 10/06/2017 17:53 0

Indonesia

Kisah Perjuangan Para Dai Ramadhan yang Turun ke Pelosok Sulawesi

Deretan gunung sejauh mata memandang, hamparan padi dan desiran air irigasi menemani perjalanan para dai safari Ramadhan

Sabtu, 10/06/2017 17:18 0

Indonesia

Tanggap Bencana, DPW FPI Poso Turun Membantu Korban Gempa

Gempa berkekuatan 6,6 skala richter telah mengguncang kota Poso pada malam ke-4 Ramadhan tepatnya Senin (29/05).

Sabtu, 10/06/2017 16:55 0