Jejak Panjang Garda Revolusi dalam Mempengaruhi Hasil Pemilu di Iran

KIBLAT.NET, Teheran – Hari Jumat (19/05) pekan lalu, rakyat Iran menggelar “pesta demokrasi” untuk memilih presiden mereka. Banyak pihak melihat pemungutan suara kali ini adalah untuk memilih satu di antara dua: yang “buruk” dan yang “lebih buruk”, antara petahanan Rouhani atau sang penantang Raisi. Penantang utama, Ebrahim Raisi yang dianggap paling berpeluang menggantikan Khamenei mendapat dukungan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Padahal, IRGC sendiri diketahui merupakan penjaga “revolusi Islam” ala Ayatullah Ruhollah Khomeini, yang memiliki jejak panjang nan kelam dalam mempengaruhi perjalanan negara Syiah Iran.

Hari Sabtu (20/05), KPU Iran mengumumkan Hassan Rouhani menang dan menjadi presiden Iran untuk masa jabatan yang kedua. Rouhani adalah pemimpin kelompok reformis meraih 22,7 juta suara (58,5 persen) dari total 38,9 juta suara pemilih. Sementara Ebrahim Raisi yang didukung Korps Garda Revolusi Iran hanya memperoleh 16,2 juta suara (39,7 persen).

Kisruh Kubu Reformis vs Garda Revolusi

Campur tangan Korps Garda dalam dunia politik terkadang sangat kentara dan kasat mata sehingga petahana Presiden Hassan Rouhani pada hari Rabu (17/05) secara terbuka meminta IRGC untuk tidak ikut campur. Di acara debat terakhir itulah Rouhani mengkritisi Korps Garda atau juga disebut Garda Revolusi karena telah memobilisir dukungan bagi Raisi.

Sejumlah pihak di Barat melihat hal ini sebagai bukti bahwa Rouhani adalah sosok yang resikonya lebih kecil di antara “dua penjahat” daripada penantangnya, meskipun secara politik Rouhani tidak memiliki pengaruh besar. Rouhani tidak mampu menundukkan pengaruh Garda Revolusi dan Pemimpin Tertinggi dalam hal kebijakan luar negeri & keamanan. Lebih jauh bahkan Rouhani memiliki sejumlah perbedaan dengan mereka. Kisruh antara Rouhani dengan Garda Revolusi di antaranya terkait soal isu lama Perang Iraq-Iran yang secara politik tidak terlalu heboh dibandingkan dengan isu-isu lain yang terkadang terendus oleh para pengamat luar.

Sejak 1989, intervensi Garda Revolusi dalam kancah perpolitikan & perdagangan di Iran terlihat sedemikian menggurita di bawah pengawasan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Sementara Ali Khamenei sangat bergantung pada Korps Garda ini untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya. Jadi ada semacam simbiosis mutualisme antara Korps Garda dan Khamenei.

Di lain pihak, Rouhani sudah menaruh orang-orangnya dari kementerian atau badan intelijen lebih banyak daripada para veteran Garda Revolusi di dalam kabinetnya. Meski demikian, tetap saja Korps Garda masih terus membayangi seluruh institusi militer dan keamanan.

Dua Inti Hirarki Kekuasaan: Pemimpin Tertinggi & Korps Garda

Khamenei dan Korps Garda menggunakan berbagai cara baik formal maupun informal untuk mengawasi cabang-cabang yang terpilih. Hirarki pembuat keputusan di tubuh Korps Garda didominasi oleh jaringan yang secara ketat terseleksi dari para veteran Perang Iraq-Iran (1980-1988) yang loyal kepada Pemimpin Tertinggi. Selama era reformasi (1997-2005), Khamenei dan Garda membatasi agenda mantan Presiden Mohammad Khatami dan berusaha menyingkirkan elemen-elemen reformis dari parlemen Iran.

Kendati demikian, sebagai sebuah organisasi militer yang sebagian direkrut dari program wajib militer, 150.000 personil anggota Korps Garda yang militan sedikit banyak mencerminkan situasi masyarakat Iran. Walaupun, lebih banyak warga Iran yang pro-rezim tidak jarang lebih memilih masuk ke satuan tentara reguler. Menyusul pemilu presiden tahun 2009 lalu yang kemudian terjadi demonstrasi besar-besaran, Garda Revolusi melakukan pembersihan di jajarannya. Kebijakan itu diambil karena banyak perwira maupun bawahannya yang menolak menyerang para demonstran. Para komandan senior menjadi lebih berhati-hati terhadap perwira-perwira yang dicurigai sedang mengawasi/evaluasi mereka. Komisaris ulama yang ditunjuk oleh Khamenei memaksanakan keseragaman ideologi, dan mengaktifkan Organisasi Kontra-Intelijen yang telah diseleksi ulang pasca 2009 di jajaran Korps Garda, serta tidak membolehkan adanya perbedaan pendapat.

Faksionalisasi Munculkan Raisi

Faksionalisasi di tubuh Garda Revolusi masih menjadi realita yang terus ada. Contoh kasus, seorang mantan komandan senior sekaligus anggota parlemen, Mansour Haghighatpour, menyampaikan kepada sebuah koran pro-reformasi bahwa Garda Revolusi membatalkan tawaran kepada Mansour untuk kembali ikut pemilu di distrik Ardebil tahun lalu karena ia (Mansour) setuju dengan kesepakatan nuklir 2015.

Saat pemilu tahun ini, Garda Revolusi mempromosikan Raisi sebelum ia sendiri mengumumkan akan maju menjadi capres. Raisi yang berhutang budi kepada pemimpin tertinggi, sudah lama memiliki kedekatan dengan dinas intelijen Iran. Setelah pada tahun 2016 yang lalu Raisi ditunjuk oleh Khamenei menjadi komisaris situs keagamaan paling mewah di Iran, yaitu The Reza Holy Percinct. Setelah itu sejumlah komandan tinggi Garda Revolusi mengunjunginya di Mashhad. Media yang berafiliasi dengan Garda Revolusi kemudian mulai mempromosikan Raisi dengan menyebutnya menggunakan pangkat senior “Ayatullah”. Hal itu mengindikasikan bahwa Raisi sedang dipromosikan untuk menempati posisi yang lebih tinggi di bawah pemimpin tertinggi Iran.

Bahkan sebelum walikota Teheran yang juga mantan komandan Garda, Mohammad-Baqer Qalibaf, mengundurkan diri dari kampanye pilpres, Raisi adalah orang yang paling banyak membuat rumor di kalangan garis keras. Teoritikus terkemuka Garda, Hassan Abbasi bahkan mengklaim ada satu aura yang aneh dalam kegiatan kampanye Raisi. Beberapa foto pria bersenjata di Suriah yang memperlihatkan tulisan dukungan kepada Raisi sudah menjadi hal yang biasa dan beredar di media sosial di Iran. Tabloid mingguan Sobh-e Sadegh milik Garda Revolusi dalam edisi terakhir hampir seluruh isinya mengulas dan memberi dukungan kepada Raisi, meskipun tidak menyebutkan nama Raisi secara langsung.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat