Dilarang Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa, Apa Hikmahnya?

KIBLAT.NET – Salah satu yang perlu kita ketahui sebelum memasuki bulan suci ramadhan adalah larangan berpuasa di akhir bulan Sya’ban, yaitu sehari atau dua hari menjelang masuknya Ramadhan. larangan ini telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu sabdanya:

لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ, إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا, فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bila seseorang memang terbiasa melakukan puasa sunah, maka silakan melakukannya.”(HR Bukhari dan Muslim)

Maksudnya adalah dilarang berpuasa secara mutlak. Adapun amalan sunah yang sudah biasa dikerjakan, maka hadits di atas menyebutkan bahwa diperbolehkan melakukan kebiasaan tersebut. Misalnya, puasa hari Senin dan Kamis. Demikian juga bagi yang memiliki tanggungan puasa wajib, seperti puasa qadha atau kafarah maka yang lebih utama baginya adalah tetap membayar utang puasanya tersebut.

Perihal hadis di atas, Syekh Ibnu Utsaimin menjelaskan, “Para ulama berbeda pendapat terkait dengan larangan ini, apakah larangan haram atau larangan makruh? Yang kuat adalah larangan haram. terutama hari yang diragukan di dalamnya.” (Syarh Riyadus Shalihin, 3/394)

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلا تَصُومُوا

Jika telah memasuki pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kamu semua berpuasa,” (HR.  oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmizi)

Tentang hikmah dari larangan tersebut, Para ulama mengungkapkan bahwa larangan tersebut agar tidak menambahkan jumlah hari di dalam melaksanakan puasa Ramadhan. Larangan tersebut juga sebagai bentuk kehati-hatian supaya tidak menyerupai ahlul kitab dalam menjalankan tata cara puasa mereka. Menurut kebiasaan ahlul kitab, mereka menambahkan sesuatu yang bukan bagian darinya, menurut perkiraan akal dan hawa nafsu mereka, baik ketika mengawali ataupun saat mengakhiri. Atas dasar itulah harus ada pemisah antara puasa wajib dan puasa sunah. Atas dasar itu pula disyariatkan pemisahan antara shalat wajib dan shalat sunnah dengan salam, berbicara, atau berpindah tempat. (Lathâ`If Ma’ârif, Hal; 105)

Hikmah lain yang terpenting juga adalah menghindari diri dari larangan berpuasa pada hari yang diragukan. Keterangan ini dikuatkan dalam sebuah riwayat dari Ammar bin Yasir, ia berkata, “Siapa yang berpuasa di hari yang diragukan, maka dia telah melakukan kemaksiatan kepada Abul Qasim (Rasulullah) sallallahu’alaihi wa sallam.” (HR. Tirmizi dan dinyatakan shahih oleh Al-Albany di dalam Shahih Tirmizi, no. 553)

Hari yang diragukan adalah hari ketiga puluh bulan Sya’ban ketika tidak terlihat bulan sabit dikarenakan mendung atau semisalnya. Dinamakan hari yang diragukan karena ada kemungkinan hari ketiga puluh bulan Sya’ban dan ada kemungkinan hari pertama di bulan Ramadan. Diharamkan berpuasa kecuali bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa dan bertepatan pada hari tersebut. Wallahu a’lam bis shawab!

Penulis: Fakhruddin

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat