... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Bertahap (Tadarruj) Dalam Menegakkan Syariat Islam

Foto: Ilustrasi

Islam adalah agama yang sempurna. Syariatnya menyeluruh, mengatur seluruh sisi kehidupan manusia. Sebagai konsekuensi iman, setiap muslim dituntut untuk mengamalkan syariatnya secara kaffah (totalitas). Kesempurnaannya wajib diterima secara utuh. Tidak boleh ada satu pun yang ditinggalkan, diabaikan, bahkan ditolak. Allah Ta’ala berfirman:

 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Perihal ayat di atas, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Allah ta’ala berfirman menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syari’at; melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan sesuai dengan kemampuan mereka.” (Tafsir Ibn Katsir, 1/335)

Kemudian dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)

Kewajiban menegakkan syariat sudah disepakati oleh setiap muslim. Siapa pun tidak dianggap beriman jika tidak mau tunduk dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. Namun kemudian sebuah pertanyaan muncul, bagaimana jika kaum muslimin di suatu daerah lama terbelenggu dengan sistem hukum jahiliyah. Sehingga banyak di antara mereka yang tidak lagi memahami syariat Islam dengan benar. Lalu bagaimana jika daerah tersebut berhasil dipimpin kembali oleh kelompok umat Islam, apakah harus diterapkan syariat secara utuh atau dilakukan secara bertahap?

BACA JUGA  Ikhwanul Muslimin dan Kiprahnya dalam Pembebasan Palestina

Penegakkan Syariat, haruskan bertahap (tadarruj)?

Tadarruj adalah melakukan sesuatu secara bertahap, perlahan dan tidak sekaligus. Maksud tadarruj di sini adalah tahapan dalam menegakkan syariat Islam di tengah-tengah masyarakat disebabkan kondisi mereka yang belum memahami hakikat syariat dengan baik. Dengan catatan, pada saat yang sama tetap ada upaya serius untuk menerapkannya secara sempurna.

Secara global, tadarruj dapat dipahami sebagai tahapan dalam menegakkan syariat. Kaitannya dengan hal ini tadarruj di sini bisa bermakna dua macam, yaitu:

Pertama; Menjelaskan hakikat syariat kepada manusia secara perlahan. Setahap demi setahap sehinga bisa dipahami dengan baik secara menyeluruh. Menjelaskan dimulai dari yang mudah sampai kepada yang sulit dipahami, dari yang ringan sampai yang berat dan sebagainya. tadarruj seperti ini adalah wajib ditegakkan oleh para ulama.

Kedua: tadarruj dengan maksud tahapan dalam menyadarkan umat untuk meninggalkan undang-undang kufur dan menggantikannya dengan undang-undang syar’i. Tidak langsung menerapkan semua syariat dengan cara sekaligus. Dan ini adalah kewajiban yang harus dipahami oleh para penuntut ilmu dan penguasa (ulil amri).

Sebagian orang ada yang menganggap bahwa tadarruj itu bermakna tahapan waktu diturunkannya syariat. Artinya, dia mengamalkan Islam sesuai dengan zaman yang ditafsirkannya sendiri. Misalnya, ada yang menganggap bahwa saat ini masih berada di periode mekah, lalu dia mamahami jika seluruh syariat yang diturunkan di Madinah belum wajib untuk dijalankan. Pemahaman ini jelas bertolak belakang dengan maksud yang terdapat dalam kajian para ulama. sebab, ajaran Islam telah diturunkan secara sempurna dan mengamalkannya merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Sebuah kaidah fikih menyebutkan:

الميسور لايسقط بالمعسور

BACA JUGA  Potret Taliban di Mata Wartawan BBC, Sebuah Laporan Perjalanan

“Sesuatu yang mudah dilaksanakan tidak gugur/ditinggalkan karena adanya yang sulit dilaksanakan.”

Karena itu, perlu ditekankan bahwa makna tadarruj di sini bukan mengamalkan sebagian ajaran Islam dimana kita mampu mengamalkannya secara menyeluruh. Dan bukan juga bermakna menerapkan syariat secara bertahap dengan maksud mengingkari sebagian syariat yang lain.

Jadi, sebelum memastikan hukumnya penting bagi kita memperhatikan perbedaan antara mereka yang berusaha menerapkan syariat pada fase penyadaran masyarakat (upaya merubah sistem) dengan mereka yang menolak dan tidak mau menerima hukum syariat.

Lalu pertanyaan berikutnya adalah bagaimana penerapan syariat ketika kaum muslimin berhasil menguasai suatu daerah? Apakah harus dilaksanakan secara bertahap atau harus diterapkan sekaligus.

Para ulama berbeda pendapat ketika menyimpulkan masalah ini. Sebagian menguatkan pendapat harus adanya tahapan dalam menegakkan syariat. Sebab, semuanya tidak boleh lepas dari maslahat atau mafsadah yang muncul setelahnya.

Sementara sebagian yang lain berpendapat  bahwa tadarruj tidak diperbolehkan dalam menegakkan syariat. Sebab, syariat Islam telah turun dengan sempurna sebagai pedoman hidup umat Islam. Namun untuk mengurai hukum dalam permasalahan ini, perlu kiranya kita memahami hakikat tadarruj beserta macam-macamnya dengan tepat.

Dalam kitab Syariah Islamiyah Wa Fiqqhut Tathbiq, Syaikh Abul Hasan Al-Bulaidi menerangkan, “Makna tadarruj yang tepat dalam persoalan ini adalah menerapkan apa yang mungkin diterapkan dari hukum-hukum syariat. Dalam penerapannya, benar-benar menghasilkan maslahat serta terhindar dari mafsadah. Atau dalam makna lain; ketika menerapkan hukum syariat dalam sebuah realitas wajib memerhatikan seluruh syarat dan penghalangnya.”

Secara global, perlu dipahami bahwa tadarruj terbagi menjadi tiga macam. Masing-masing dari tadarruj tersebut memiliki hukum yang berbeda, ke-tiga bentuk tadarruj tersebut adalah:

Baca halaman selanjutnya: Pertama: Tadarruj Tasyri’...

Halaman Selanjutnya 1 2 3
... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Uncategorized

9 Cara Terbaik Menyambut Bulan Suci Ramadhan

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.”

Selasa, 23/05/2017 19:15 0

Indonesia

Ingin Temui Jokowi di Istana, Aparat Usir Paksa Mahasiswa

"Kami sudah minta bertemu dengan pak Jokowi tapi ngga diterima. Kami diangkat-angkat, diusir secara paksa,"

Selasa, 23/05/2017 17:46 0

Indonesia

Amien Rais Sebut Negara Digadaikan dalam Kasus Reklamasi

"Dengan adanya buku Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok yang ditulis oleh Marwan Batubara, bisa menggugah kepolisian dan kejaksaan untuk mengusutnya,"

Selasa, 23/05/2017 17:17 0

Indonesia

TKI Kecewa Tak Ditemui Jokowi Saat Kunjungan ke Arab Saudi

Presiden Joko Widodo menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Negara-negara Arab, Islam-Amerika Serikat di King Abdulaziz Convention Center, Riyadh, Ahad (21/5)

Selasa, 23/05/2017 16:44 0

Indonesia

An-Nasr Institute: Kriminalisasi Jurnalis Ranu Muda Konsekuensi Perang Peradaban

"Jadi kriminalisasi menurut saya adalah akibat hilir dari satu model perang peradaban,"

Selasa, 23/05/2017 15:54 0

Tazkiyah

Mujahid, Sang Pemburu Keajaiban

Mujahid melihat keduanya (Harut dan Marut) dalam keadaan tergantung terbalik seperti dua gunung yang sangat besar. Saat mujahid melihatnya, ia berucap, “Subhânallâhi Khâliqihumâ (Mahasuci Allah, Pencipta keduanya).”

Selasa, 23/05/2017 15:00 0

Indonesia

Tiga Pasal KUHP Ini Dinilai Ancam Kerja Jurnalis

LBH Pers menilai pasal-pasal tersebut rancu dan multi tafsir

Selasa, 23/05/2017 14:49 0

Indonesia

Didemo Umat Islam, Gubernur Kalbar Diminta Tak Ugal-ugalan Bicara

Jika kepala daerah bicara ugal-ugalan hasilnya didemo

Selasa, 23/05/2017 14:23 0

Rohah

Laki-laki Hamil, Kok Bisa?

Setelah menikah dan hidup bersamanya, aku terkejut melihat perutnya yang membesar. Pada awalnya, kami mengira ia terkena penyakit busung lapar, Ternyata dia hamil.

Selasa, 23/05/2017 13:45 0

Analisis

Analisis: Dibalik Pencabutan Banding Ahok

Pencabutan banding sebagaimana dimaksudkan oleh Ahok telah menuai spekulasi, ada apa gerangan?

Selasa, 23/05/2017 09:12 0