... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Al-Qaidah dan ISIS di Mata Intelijen AS (Bag. 2)

Foto: Ilustrasi.

KIBLAT.NET – Pada tanggal 11 Mei pekan lalu, direktur baru Intelijen Nasional AS, Daniel R. Coats memaparkan analisa dan penilaian Komunitas Intelijen (IC) Amerika Serikat tentang “Prediksi Ancaman di Seluruh Dunia”. Pendahulu Coats, yaitu James Clapper, sebelumnya pernah menjelaskan pada bulan November 2016 yang lalu bahwa IC mengumpulkan dan menganalisa lebih banyak lagi data dan informasi terkini mengenahi kelompok-kelompok jihadis. Presentasi oleh Coats ini memberikan update tentang bagaimana sudut pandang Komunitas Intelijen terhadap potensi ancaman setelah enam bulan berlalu.

Banyak yang sepakat bahwa ISIS kehilangan banyak wilayah namun para analis IC memperingatkan kemampuan kelompok itu dalam melancarkan insurjensi baik di Iraq maupun Suriah. Dan faktanya, para loyalis al-Baghdadi sudah mulai melakukan perang gerilya dan melancarkan serangan-serangan teror yang spektakuler di arena pertempuran di dalam wilayah basis mereka.

Sementara, Taliban tidak terbantahkan mengalami kebangkitan secara masif di Afghanistan. Di waktu yang sama, perang melawan al-Qaidah yang terlanjur dinyatakan telah berhasil, faktanya semakin sulit dihadapi oleh unit-unit pasukan kontra-teroris di seluruh dunia. Organisasi al-Qaidah masih dianggap sebagai ancaman potensial di berbagai titik perlawanan di seluruh dunia.Bag.

Al-Qaidah

Selama 16 tahun terakhir para analis IC menulis, “AS dan negara-negara mitra kontra-terorisme global telah berhasil secara signifikan mereduksi kemampuan al-Qaidah dalam melancarkan serangan dengan korban masif berskala besar terutama di wilayah domestik negara AS.” Meskipun seandainya pendapat itu benar, faktanya bahwa ancaman al-Qaidah semakin tumbuh dan berkembang.

Al-Qaidah dan afiliasi-afiliasinya masih menjadi ancaman signifikan bagi negara-negara mitra Amerika dalam kebijakan kontra-terorisme di luar wilayah AS. Entitas jihadis al-Qaidah menerapkan strategi dengan memberikan fokus pada eksploitasi & manajemen konflik di berbagai wilayah perang, baik lokal maupun regional. Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) secara spesifik menyebut Jabhah Nusrah (JN), AQAP, AQIM, AQIS, dan al-Syabaab. Kecuali JN, kelompok-kelompok tersebut di atas secara terbuka menyatakan setia kepada sang pemimpin tertinggi, Dr. Aiman adz-Dzawahiri. Pada Juli 2016, Jabhah Nusrah  mengumumkan re-branding menjadi entitas baru bernama Jabhah Fathu Syam (JFS), sekaligus menyatakan bahwa JFS tidak ada keterkaitan apapun dengan entitas asing. Selanjutnya pada bulan Januari tahun ini, JFS bersama sejumlah kelompok oposisi jihadis Sunni lainnya melebur dan membentuk Haiah Tahrir al-Syam (HTS). Meskipun HTS menyatakan diri sebagai sebuah kelompok independen, namun di mata pemerintah AS masih dianggap sebagai JN afiliasi al-Qaidah.

BACA JUGA  Ahok Lelang Batik yang Dikenakan Saat Sidang, Ditawar Sampai Rp 100 Juta

Selama tahun 2016, JN dan AQAP sama-sama menghadapi tekanan di Suriah dan Yaman, namun mereka terbukti mampu bertahan dan masih memiliki berbagai sumber daya, stok pejuang, wilayah basis yang aman, pengaruh lokal, dan kemampuan operasional untuk menciptakan sebuah ancaman.

ODNI menggunakan kalimat yang sama untuk menggambarkan status al-Syabaab di Somalia. Tahun lalu, al-Syabaab berhasil melakukan serangan-serangan terkoordinasi level tinggi di Somalia, dan berlanjut dengan menebar ancaman ke bagian timur laut Kenya. Namun ODNI mengklaim operasi al-Syabaab di Afrika Timur berhasil ditekan menyusul gugurnya beberapa figur yang diduga sebagai perencana serangan eksternal di tubuh al-Syabaab.

AQIM memperluas jangkauan serangan mereka terhadap target Barat pada tahun 2016 dengan dua serangan besar di Burkina Faso dan Cote d’lvoire. Komunitas Intelijen memberi perhatian pada langkah merger sejumlah kelompok jihadis menjadi JNIM (Jamaah Nusrah al-Islam wal Muslimin) di awal tahun ini. Disebutkan bahwa peleburan ini bertujuan untuk mendorong persatuan di antara para jihadis terutama yang beroperasi di Mali, memperluas jihad ke wilayah Sahara dan Sahel, meningkatkan intensitas & efektifitas aksi militer, dan mempercepat regenerasi pejuang.

Di bagian lain, testimoni ODNI terlihat ingin mengecilkan kehadiran al-Qaidah di Afghanistan dan Pakistan dengan menyebut jumlah anggota al-Qaidah dan AQIS (al-Qaidah cabang Anak Benua India) terus mengalami penyusutan, dan dilanda banyak masalah di tempat-tempat persembunyian mereka pada tahun 2016 akibat operasi-operasi kontraterorisme.

Memang benar bahwa sejumlah pemimpin senior al-Qaidah dan AQIS gugur pada tahun 2016 lalu, tetapi juga terdapat bukti-bukti kuat bahwa organisasi itu mengalami perkembangan pesat di kawasan.

Misalnya pada bulan Desember, militer AS menjelaskan bahwa 250 anggota al-Qaidah terbunuh atau tertangkap di Afghanistan pada tahun 2016. Jumlah tersebut ternyata dua-setengah kali angka perkiraan maksimal pemerintah AS mengenahi jumlah keseluruhan anggota al-Qaidah di Afghanistan. Yang lebih fenomenal, pada bulan Oktober 2015 ketika pasukan AS dan sekutu lokal militer Afghan menggelar operasi gabungan di bagian selatan Afghanistan, mereka menemukan sebuah kamp pelatihan al-Qaidah yang sangat luas. Kamp seluas 30 mil persegi ini lebih luas dari kamp al-Qaidah manapun dalam sejarah. Selain itu terdapat bukti bahwa melalui AQIS, jaringan adz-Dzawahiri berkembang dan meluas di Pakistan, Bangladesh, (termasuk) kemungkinan besar juga di negara-negara di sekitar kawasan.

BACA JUGA  Arab Saudi Tetap Gelar Ibadah Haji, Tapi Dibatasi

Alhasil, ODNI menandai bahwa al-Qaidah dan AQIS dan kelompok-kelompok afiliasinya yang lain masih punya keinginan melancarkan serangan terhadap target-target AS dan Barat.

Taliban

Komunitas Intelijen AS memberikan analisa, bahwa “situasi umum keamanan di Afghanistan sangat mungkin akan semakin memprihatinkan, meskipun seandainya ada dukungan dari dunia internasional”. Kelemahan negara yang seolah permanen, kerapuhan politik pemerintahan, dan defisiensi sistemik Pasukan Keamanan Nasional Afghan (ANSF), ditambah dengan kebangkitan Taliban dan campur tangan regional dianggap sebagai faktor-faktor penghalang bagi perbaikan situasi di Afghanistan.

Pemerintah Kabul mengalami disfungsi secara politik dan tidak efektif dalam menyelenggarakan negara, sementara ANSF belum juga beranjak dari ketergantungan pada militer asing. Intelijen AS memprediksi performa ANSF akan terus menyusut menghadapi operasi militer Taliban yang sedemikian cerdas & efektif. Belum lagi banyaknya jumlah korban, masalah akut terkait desersi, minimnya dukungan logistik, dan kepemimpinan militer yang lemah. Semua hal tersebut membuat ANSF akan terus dan semakin bergantung pada dukungan finansial & militer asing untuk membuat mereka tetap eksis dan menjaga institusi agar tidak bubar.

Menurut perspektif ODNI, meskipun Taliban gagal merebut satu ibukota propinsi di tahun 2016, namun pejuang-pejuang jihadis itu mampu melesat dan menjadi ancaman terhadap beberapa ibukota propinsi. Termasuk ketika terjadi masalah di level kepemimpinan, sebagai sebuah pasukan tempur Taliban tetap solid.

Taliban juga secara efektif berhasil memilih pemimpin kedua mereka selama dua tahun masa transisi menyusul kematian Mullah Omar. Penggantinya, Mullah Mansour kemudian tampil beberapa bulan sebelum akhirnya gugur akibat serangan drone AS pada bulan Mei 2016 di sebuah wilayah di Pakistan. Meskipun Taliban merahasiakan kematian Mullah Omar dari tahun 2013 hingga 2015, disusul penggantinya yaitu Mullah Mansour yang kemudian terbunuh kurang dari satu tahun masa kepemimpinannya, Taliban terus bertempur dan meraih kemajuan signifikan pada tahun 2017.

Ada satu hal yang tak tertulis dalam update laporan terbaru ODNI ini, bahwa Taliban masih merupakan sekutu dekat al-Qaidah. Sementara ISIS cabang Khurasan atau dikenal sebagai “Wilayah Khurasan” yang mewakili kehadiran entitas pro-Daulah (ISIS) di Asia Selatan tidak mengalami perkembangan secara signifikan sebagai ancaman terhadap stabilitas Afghanistan, dan juga bagi kepentingan-kepentingan AS dan Barat di kawasan itu.

Reporter: Yasin Muslim
Sumber: Long War Journal


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Arab Saudi

Tiba di Arab Saudi, Trump Disambut Raja Salman

Pesawat Trump mendarat di Bandara Raja Khalid. Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz, menyambut langsung presiden yang pernyataan-pernyataannya anti Islam itu.

Sabtu, 20/05/2017 17:34 1

Indonesia

KH. Arifin Ilham Doakan Kapolri Dapat Hidayah dan Bebaskan Al-Khattath

"Demi menyambut kemuliaan Ramadhon, bulan rahmat dan ampunan, semoga ayahanda KAPOLRI kita terbuka hati untuk membebaskan guru dan saudara saudara kita...aamiin," katanya pada Sabtu (20/05)

Sabtu, 20/05/2017 16:17 0

Indonesia

Sambut Ramadhan, Ribuan Obor Terangi Kota Poso

Ribuan umat Islam Kabupaten Poso mengikuti pawai obor menyambut Bulan Suci Ramadhan, yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah Front Pembela Islam (DPD FPI) Kabupaten Poso bekerjasama dengan seluruh elemen dan Ormas Islam Kabupaten Poso.

Sabtu, 20/05/2017 15:15 2

Indonesia

Soal Chat Firza Husein, Presidium Alumni 212 Temui Kejanggalan

Ketua Presidium Alumni 212, Ansufri Idrus Sambo mendesak kepolisian untuk menghentikan kasus chat mesum yang menimpa Habib Rizieq.

Sabtu, 20/05/2017 00:43 0

Indonesia

Polisi Larang Keluarga Dampingi Al Khaththath di Rumah Sakit

Pihak kepolisian tetap melarang keluarga untuk mendampingi Al Khaththath.

Sabtu, 20/05/2017 00:24 0

Indonesia

IPW Curiga Kekerasan Biasa Terjadi di Lingkungan Akpol

Ketua IPW, Neta S Pane menegaskan bahwa sudah saatnya Polri dan Akpol membuka diri dan membuka secara transparan apa sesungguhnya yang terjadi di lingkungan Akpol.

Jum'at, 19/05/2017 23:18 0

Indonesia

Taruna Akpol Tewas Dianiaya Senior, Begini Tanggapan Tito

Kapolri Tito Karnavian menyesalkan kematian satu taruna Akademi Kepolisian tingkat II bernama Muhammad Adam

Jum'at, 19/05/2017 22:35 0

Indonesia

IPW: Pelaku Penganiayaan Taruna Akpol Harus Dipecat dan Dihukum

Ketua IPW, Neta S Pane menegaskan bahwa Polri harus transparan dalam mengungkapkan kasus kematian taruna Akpol tingkat II, Muhammad Adam.

Jum'at, 19/05/2017 22:01 0

Indonesia

PBNU Tegaskan Seruan ‘Minahasa Merdeka’ Tak Dibenarkan

Sekjen Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Ahmad Helmy Faishal Zain menegaskan bahwa seruan 'Minahasa Merdeka' tidak bisa dibenarkan.

Jum'at, 19/05/2017 21:11 0

Indonesia

Aksi Tolak Kriminalisasi Ulama Akan Digelar Setiap Jum’at

"Kami akan terus mengadakan hal ini sampai Habib (Rizieq Syihab) dibebaskan dari fitnah tersebut. Dan juga ustadz Khaththath dibebaskan," imbuhnya.

Jum'at, 19/05/2017 15:25 0

Close