... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Wajah Peradaban Islam

KIBLAT.NET – Teori “benturan antar peradaban” ala Samuel P. Huntington telah melahirkan sebuah keyakinan bahwa negara-negara yang ada bisa dikelompokkan dalam sembilan peradaban: Barat, Amerika Latin, Afrika, Islam, Sino, Hindu, Ortodoks, Budha, dan Jepang. Dari sembilan itu setidaknya ada lima yang dianggap besar, dalam artian baik sejarah maupun potensi benturan antar kelimanya berada pada level intensitas yang tinggi. Kelimanya adalah Barat, Hindu, Sino, Ortodoks, dan Islam.

Sayangnya, sejak awal teori ini dipopulerkan, Islam secara faktual menjadi satu-satunya peradaban yang dianggap tidak memiliki negara “juara”. Barat tentu saja diwakili dengan baik oleh Amerika dan negara-negara eropa barat, Hindu sudah menjadi satu kesatuan dengan India, Sino atau Konghucu sudah sejak awal bersenyawa dengan Cina, dan ortodoksi masih bisa diwakili oleh Rusia yang mencoba berdiri di atas puing-puing Uni Soviet dengan segala kekurangannya.

Namun tidak begitu dengan Islam. Kehancuran Imperium Islam terakhir yaitu Turki Ustmani telah membawa telah membawa dunia Islam kepada tatanan baru yang benar-benar asing dan mungkin terasa aneh bagi seorang muslim di masa itu. Garis perbatasan antar wilayah yang baru pun dibuat dan terasa tidak masuk akal untuk beberapa tempat seperti Irak, Suriah, Yordania, dan Lebanon. Konsep nation state (negara bangsa) pun mulai diperkenalkan kepada umat Islam. Meskipun konsep ini dianggap berhasil membangun dunia barat, namun pengadopsiannya sebagai pengganti sistem pemerintahan Islam ternyata tak berjalan mulus.

Kata nation (bangsa) tak pernah mampu dijiwai secara maksimal oleh muslim terlebih bagi seorang muslim yang taat. Tidak ada kata dalam bahasa arab yang mampu memberikan makna yang sepadan untuk nation. Pemahaman teritorial nation sebagai sesuatu yang terbatas di dalam suatu ruang geografik dan politik yang ketat, yang di dalamnya berlaku suatu etnisitas umum, tak pernah mengakar dalam budaya politik Islam.

Meskipun di masa lampau, terjadi pertempuran antar entitas politik Islam yang dilatarbelakangi kebanggan berlebihan terhadap suatu ras atau etnis, namun secara tekstual dan konstitusional mereka tak pernah mengelompokkan manusia berdasarkan asal-usul maupun tempat kelahirannya. Tolok ukur penilaian manusia adalah tentang ketaatannya terhadap perjanjian dengan Allah, dan pengelompokan manusia pun lebih sederhana; muslim dan kafir, muslim menjadi penguasa dan kafir menjadi pengikut.

Salah satu landasannya adalah Surat Ali Imran ayat 110 yang menyatakan bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik. Selama ayat tersebut masih berdengung di telinga umat Islam, sulit bagi orang Islam untuk menjiwai sepenuhnya panggilan “hai bangsa Turki, hai bangsa Irak, hai bangsa Indonesia”. Maka dari itu, para penguasa dunia Islam pasca Utsmani pun berupaya sedemikian rupa mengajak rakyatnya untuk move on dari kenangan-kenangan indah kejayaan Utsmani.

Meskipun tanpa disadari, hal itu bisa berarti berpisah jalan dengan warisan Islam. Setidaknya ada dua cara yang mereka tempuh, pertama melalui pendekatan arkeologis, kedua melalui pemaksaan liberalisme dan sekularisme. Melalui pendekatan arkeologis, sejarah masa lalu digali untuk membentuk ulang kesetiaan umat Islam pada dunia pra-Islam, narasi sejarah pun dibuat sedemikian rupa agar Islam nampak sebagai satu bagian kecil dalam sejarah mereka.

Upaya “penyadaran” umat Islam akan “identitas asli” mereka dengan mengkait-kaitkan mereka kepada sejarah masa lampau nyaris terjadi di seluruh belahan dunia Islam. Mesir bisa menjadi contoh yang baik dalam hal ini. Taha Hussein merumuskan dalam karyanya yang berjudul “Mustaqbal Ats Tsaqafah fi Mishr” tentang pentingnya Mesir untuk menjadi barat ketimbang Islam.

Menurutnya, perkembangan peradaban Islam di masa lampau tak lepas dari kesediaan umat Islam pada masa itu meminjam budaya Persia dan Bizantium, maka sudah seharusnya Mesir secara terbuka meminjam budaya Barat yang modern.

Bagi Hussein, menjadi Barat bagi Mesir sejatinya adalah pulang kampung. Posisi geografis Mesir, budaya mediteraniannya, sejarah kejayaan Firaun, dan tak lupa Alexandria yang menjadi benteng bagi filosof-filosof Yunani lebih dari cukup untuk menyebut Mesir sebagai Barat. Karena itulah, bagi Hussein sudah merupakan sebuah keharusan bagi Mesir untuk menyatu ke Barat dalam pengertian, bentuk, maupun realitas.

Pada akhirnya pemikiran Taha Hussein ini menjadi justifikasi intelektual bagi penguasa Mesir untuk menelan bulat-bulat cara-cara dan kebiasaan eropa. Asrama-asrama bergaya Inggris pun dibangun untuk anak-anak kelas berkuasa, pertemuan-pertemuan sastra ala eropa mulai diadakan, mampu berbicara dua bahasa eropa menjadi sebuah prestasi, dan menonton film vulgar yang diputar di bioskop menjadi hal yang biasa.

Adapun cara yang kedua, yaitu pemaksaan liberalisme dan sekularisme telah dicontohkan dengan baik oleh seorang Mustafa Kamal Attaturk. Di atas puing-puing reruntuhan kekhilafahan, Mustafa Kamal mendirikan negara baru bernama Republik Turki. Dirinya bertekad penuh membentuk sebuah negara bangsa yang benar-benar sekuler dan tak lagi berkaitan dengan masa lalu.

DR Abdullah Azzam menggambarkan dengan baik dalam Al Manarah Al Mafqudah bahwa sekularisme ala Attaturk telah mencapai pada tingkat yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh Dunia Barat sekalipun. Di mana masjid-masjid ditutup dan dirubah menjadi gudang makanan, berbahasa arab adalah kejahatan, dan berjilbab adalah sebuah tindak kriminal.

Memang tidak semua penguasa dunia Islam mengambil langkah ekstrem seperti Mesir pada awal abad ke 20 dan Turki era Attaturk. Penguasa dunia Islam lainnya lebih memilih melakukannya secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan masyarakat yang ada dalam menerima elemen-elemen perubahan. Tetapi sama saja, hal itu akan berakhir pada perpisahan jalan dengan sejarah dan warisan peradaban Islam.

Kesimpulannya, Islam tak memiliki “negara juara” bukan karena kelemahannya, namun lebih karena keengganan negara-negara yang ada untuk mengisi posisi tersebut. Islam hanya menjadi sebuah label untuk menjaga legitimasi para pemimpin di hadapan rakyatnya, namun di sisi lain roda pemerintahan mereka secara perlahan berjalan ke arah barat.

Dan jika boleh memprediksi, mungkin akhir ceritanya adalah entitas-entitas negara di dunia Islam pada suatu hari tak lagi relevan mewakili wajah peradaban Islam. Dan besar kemungkinan negara-negara tersebut dalam perspektif para pendukung teori “benturan antar peradaban” tidak lagi dianggap sebagai “Islam” yang mengancam hegemoni peradaban barat.

Kalau sudah begini, apa yang dikatakan oleh Akhuna Anwar Al Awlaki mungkin ada benarnya, “Para raja, emir, dan presiden (di dunia Islam) pada hari ini tidak memenuhi syarat untuk memimpin sebuah bangsa, bahkan sekumpulan kambing sekalipun tidak layak dipimpin oleh mereka.”

 

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Prancis

Le Pen Sebut Penjajahan Perancis Beri Manfaat bagi Aljazair

Kandidat presiden dari Partai Front Nasional (FN), Marine Le Pen, kembali menyanjung kolonialisme atau penjajahan Perancis. Kali ini, ia menyebut bahwa negara bekas koloni mendapatkan banyak manfaat karenanya.

Kamis, 27/04/2017 19:10 0

Indonesia

Jika Ahok Divonis Bebas, Din Akan Pimpin Aksi

Namun nyatanya, Din sudah menjadi pimpinan aksi selama ini. Walaupun Ahok belum diputus bersalah atau dibebaskan dari tuduhan penodaan agama dalam persidangan.

Kamis, 27/04/2017 18:30 0

Turki

Erdogan: Negara Barat Abaikan Tragedi Kelaparan di Afrika

Belasan juta warga Afrika tengah mengalami kekeringan dan kekurangan pangan. Terkait hal ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut negara-negara Barat telah mengabaikan mereka.

Kamis, 27/04/2017 17:12 0

Indonesia

Din: Negara Jangan Tersandera ‘Satu Faktor Pemecah Belah Bangsa’

Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu juga mengajak untuk mengembangkan sikap toleransi, yaitu untuk tidak memasuki wilayah keyakinan pihak lain dan tidak mengganggu ha-hal suci yang dianut oleh pihak lain.

Kamis, 27/04/2017 16:16 0

Indonesia

Tuntutan Hukum Ahok, MUI: Itu Permainan

“Secara kasat mata, ini ada kecenderungan memainkan hukum, berbahaya, adanya yurisprudensi terhadap penista agama. Oleh karena itu tidak ada kesimpulan yang lain kecuali bermain hukum,” tandas Din.

Kamis, 27/04/2017 15:34 0

Rusia

Ketika Lavrov dan Al-Jubeir Saling Berbantah Soal Iran dan Suriah

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir bertemu rekan Rusianya Sergey Lavrov di Moskow. Pandangan keduanya saling berrtentangan ketika menyinggung masalah peran Iran dan serangan kimia di Suriah.

Kamis, 27/04/2017 14:42 0

Turki

Turki Tangkap 1.000 Lebih Infiltran di Jajaran Kepolisian

Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu mengatakan operasi pada Rabu (26/04) malam menargetkan jaringan Gulen yang disebut 'imam rahasia'.

Kamis, 27/04/2017 14:15 0

Afrika

Puluhan Pengungsi Suriah Terlunta-lunta di Perbatasan Maroko-Aljazair

Menurut Amari, bahkan di antara mereka ada yang melahirkan. Proses persalinan itu dilakukan sendiri dengan arahan dari aktivis di ujung telepon.

Kamis, 27/04/2017 12:31 0

Kolom

Apa Setelah Pilkada?

Politik umat Islam harus melampaui persoalan elektoral belaka (Pilkada). Agar umat Islam tidak menjadi anak tangga bagi sekelompok elit yang haus menggapai kekuasaan. Agar ulama tak sekedar karpet merah bagi ambisi-ambisi sekelompok elit yang melata menuju kekuasaan.

Kamis, 27/04/2017 10:55 0

Syam

Syaikh Abdullah Al-Muhaisini Turut Kabarkan Wafatnya Qari Indonesia

Ulama asal Saudi itu membagikan berita qari meninggal di Channel Telegram pribadinya pada Rabu (26/04). Ia memforward berita tersebut dari Channel Telegram lainnya.

Kamis, 27/04/2017 10:13 0

Close