... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Jihad Pakubuwana IV dan Makar yang Menghancurkannya

KIBLAT.NET – Nama kecilnya adalah Bendara Raden Mas Sambadya, terlahir dari permaisuri Pakubuwana III yang bernama Gusti Ratu Kencana. Dilahirkan pada hari Kamis Wage, 18 Rabiul Akhir 1694 atau 2 September 1768. Setelah diangkat menjadi raja dia pun mendapat gelar Sri Susuhunan Pakubuwana IV.

Tidak seperti ayahnya, yang cenderung inferior dan patuh di hadapan VOC, Pakubuwana IV justru menjadi sosok raja yang sangat membenci VOC. Kecerdasannya serta pribadinya yang religius telah membawanya kepada cita-cita yang terasa utopis pada masa itu. Yaitu, menyatukan kembali Mataram dan memberlakukan hukum Islam di dalamnya.

Pakubuwana IV tampaknya paham betul bahwa konsep ulil amri dalam Islam adalah sinergi antara ulama dan umaraa (penguasa). Tanpa ulama penguasa akan cenderung bertindak lalim, sementara ulama tanpa penguasa akan berarti sebuah kematian bagi ilmu-ilmu yang dikuasainya. Maka dari itu, dia mengangkat empat orang ulama sebagai abdi dalem kinasih (abdi dalem terpercaya), yaitu Kiai Nur Saleh, Kiai Wiradigda, R. Panengah, dan Kiai Bahman.

Untuk mengurangi pengaruh adat istiadat Hindu yang masih berakar di masyarakat Surakarta, Sunan secara langsung mendatangkan para ulama dari luar daerah untuk terjun berdakwah ke masyarakat. Salah satunya adalah kiai Jamsari yang datang dari daerah Banyumas, dia ditempatkan di wilayah sebelah barat daya keraton Surakarta yang pada hari ini dikenal sebagai kampung Jamsaren. Di sana, ia mendirikan sebuah masjid yang menjadi pusat tempat dakwahnya. Karena merupakan utusan raja, pada akhirnya tidak hanya masyarakat umum yang mengikuti pengajiannya, namun para bangsawan dan pejabat istana pun penasaran dengan pengajiannya. Sehingga pada akhirnya ajaran Islam yang diserukan kiai Jamsari dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh semua kalangan.

Dalam hal peradilan, Pakubuwana IV menjadikan pengadilan surambi (agama) sebagai pengadilan tertinggi. Ruang lingkupnya pun diperluas, di mana tidak hanya mengurusi persoalan seputar perkawinan dan warisan saja, namun juga mengurusi perkara-perkara jinayat (pidana).
Vonis hukuman pada pengadilan surambi dikenal dengan istilah Kisas. Meskipun memiliki kemiripan nama, namun secara terminologis berbeda dengan istilah Qishash dalam Al Qur’an.

Di dalam Al Qur’an, Qishash merupakan pemberian hukuman terhadap pelaku kejahatan yang di mana bentuk hukuman tersebut serupa dengan apa yang telah dilakukannya. Misalnya, apabila seseorang terbukti membunuh dengan sengaja, maka dia akan dibunuh juga. Dan juga apabila seseorang terbukti dengan sengaja mencederai mata seseorang hingga sang korban kehilangan fungsi penglihatannya, maka dia pun akan dijatuhi hukuman serupa.

Sementara istilah Kisas maknanya lebih luas, tidak terbatas pada kasus pembunuhan, namun hukuman untuk pencuri pun disebut dengan kisas, sebagaimana dikutip dalam serat sultan surya ngalam: “Yen ana wong mamaling kalebu kisas, kisasana tugelen tangane tengen, yen kongsi ganep pindho, tugelen tangane tengen kiwo, yen ganep ping telu tugelen sukune tengen, yen ganep ping pat, tugelen sukune tengen kiwo.” (Jika ada orang mencuri maka dia terkena kisas, kisaslah dengan memotong tangan kanannya. Jika diulangi untuk kedua kalinya, potonglah tangan kirinya. Jika diulangi lagi ketiga kalinya, potonglah kaki kanannya. Dan jika diulangi kemmpat kalinya, potong kaki kirinya).

Sunan juga mempopulerkan istilah diyat mugalalah dan diyat mupakakah, mengadopsi pembagian diyat menurut madzhab syafii yaitu diyat mughalladzah sebagai hukuman atas pembunuhan yang dilakuakan secara sengaja ataupun menyerupai sengaja (syibhul ‘amd), dan diyat mukhaffafah sebagai hukuman atas pembunuhan terjadi karena kesalahan (khata’).
Maka dari itu, Sunan pun membentuk tim eksekutor yang dinamai Abdi Dalem Singanagara, tugasnya memotong leher terdakwa yang dijatuhi hukuman mati dengan keris, dan juga memotong tangan dan kaki.

Sunan juga menetapkan aturan yang ketat untuk para abdi dalem, di mana setiap ketidakpatuhan pada ajaran agama akan berujung peringatan, teguran, disposisi jabatan, atau bahkan ada yang dipecat. Dan dalam upayanya mengurangi kejahatan di masyarakat, Sunan secara tegas dan terang-terangan mengharamkan minuman keras dan opium.

Sunan Pakubuwana IV menjadikan ibadah shalat jumat sebagai momen untuk berbaur dengan rakyatnya. Di mana setiap hari jumat dia selalu shalat jumat di masjid agung dan tak jarang bertindak sebagai khatib.

Berbagai kebijakan yang diambil Sunan tersebut memang tak bisa disebut sekedar bernuansa Islam, namun memang benar-benar bernafaskan Islam. Hal ini tentu membuat VOC khawatir, mereka pun menghasut pejabat-pejabat yang tersisih untuk melakukan perlawananan. Selain itu mereka juga menghasut kasultanan Yogyakarta serta pura Mangkunegaran, pihak VOC menyampaikan bahwa mimpi Pakubuwana IV untuk menyatukan Mataram secara tidak langsung akan mendelegitimasi kedaulatan mereka.

Akhirnya, pada bulan November 1790 ribuan pasukan koalisi VOC, Mangkunegaran,dan Yogyakarta pun mengepung keraton Surakarta yang hanya dikawal ratusan orang. Mereka menuntut Sunan agar menyerahkan keempat ulama yang menjadi abdi dalem kinasih, apabila tuntutan tidak dipenuhi Sunan akan diturunkan secara paksa dari takhtanya. Menurut pihak koalisi, keempat ulama tersebut telah memberikan pengaruh tidak baik kepada Sunan. Sampai-sampai pihak kasultanan Yogyakarta menuliskan dalam Babad Mangkubumi bahwa doktrin-doktrin para ulama tersebut adalah sihir yang menyeleweng dari ajaran Rasul.

Para pejabat keraton yang selama ini kurang menyukai kebijakan islamisasi Sunan pun mulai mempengaruhi Sunan untuk memenuhi tuntutan para pengepung ketimbang harus kehilangan takhtanya. Hal ini membuat Sunan gamang dan pada akhirnya bersedia memenuhi tuntutan tersebut.

Meskipun Sunan Pakubuwana IV pada akhirnya menyerahkan keempat abdi dalem kinasih, bukan berarti Sunan mengabaikan nasib mereka. Setelah pengepungan itu berakhir, Sunan melanjutkan perjuangannya melalui jalur advokasi sehingga mereka berempat tidak sampai dijatuhi hukuman mati.

Disclaimer : Dalam tulisan ini penulis memang tidak menyertakan referensi. Karena sejatinya tulisan ini hanyalah sebuah ikhtisar dari LAPSUS SYAMINA Edisi 14/Oktober 2016 yang berjudul “PAKEPUNG 1790, Penggagalan Upaya Penerapan Syariat Islam di Keraton Surakarta oleh Belanda dan Sekutunya”.

 

 

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Singapura

Masjid dengan Nama Presiden Pertama Singapura, Yusof Ishak Resmi Dibuka

Sebuah masjid dengan nama presiden pertama Singapura Yusof Ishak secara resmi dibuka pada hari ini, Jum'at 14 April 2017. Upacara pembukaan ini diresmikan oleh janda mendiang, Noor Aishah serta disaksikan oleh Perdana Menteri Lee Hsien Loong dan Menteri Urusan Muslim Dr. Yaacob Ibrahim.

Jum'at, 14/04/2017 20:34 0

Opini

Densus untuk Siapa?

Isu terorisme kembali muncul di permukaan, Densus 88 pun beraksi. Sejumlah warga Muslim terduga teroris ditangkap di Jawa Timur. Awalnya, tiga orang warga Paciran, Lamongan. Mereka adalah H, ZE, dan HE yang ditangkap di tempat terpisah dan tanpa perlawanan.

Jum'at, 14/04/2017 19:12 2

Analisis

Serangan Udara AS Tewaskan 18 Milisi Kurdi, Kesalahan atau Dimanfaatkan?

Selama bertahun-tahun, serangan drone AS sebagian dimanfaatkan oleh kabilah-kabilah untuk menghantam kabilah lainnya yang bersengketa dengan cara memberi informasi yang salah dan mengklaim target itu sebagai posisi “pemimpin al-Qaidah”. Sehingga di samping berperang melawan “teroris”, AS juga terseret dalam perang antar klan.

Jum'at, 14/04/2017 17:40 0

Suriah

Bashar Assad Sebut Video Korban Serangan Kimia Khan Shaikhoun Palsu

Upaya cuci tangan atas pembantaian rakyat Suriah kembali ditunjukkan Bashar Assad. Dalam serangan senjata kimia di Khan Shaikhoun, ia mengklaim bahwa serangan itu tidak pernah dilakukannya. Bahkan, ia menyebut video-video yang beredar tentang aksi kejam tersebut palsu.

Jum'at, 14/04/2017 17:06 0

Philipina

Militer Filipina: Pemimpin Abu Sayyaf Berniat Menyerahkan Diri

Radullan Sahiron, pemimpin tertinggi Abu Sayyaf di provinsi Filipina selatan, berencana ingin menyerahkan diri. Demikian menurut seorang pejabat keamanan Filipina seperti dikutip World Bulletin, Jum'at (14/04).

Jum'at, 14/04/2017 16:46 0

Indonesia

Polisi Sebut Teror Novel terkait Bisnis Jilbab Online, Dahnil: Itu Lawakan

Terkait hal ini, Dahnil Anzar Simanjuntak menyikapi sikap polisi tersebut sebagai sebuah lawakan. "Itu lawakan, justru dengan cara seperti itu, malah masyarakat tidak percaya dengan polisi," katanya di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jum'at (14/04).

Jum'at, 14/04/2017 16:08 0

Suriah

Rezim Assad Edarkan Selebaran Fitnah terhadap Syaikh Al-Muhaisini

Pesawat-pesawat tempur Suriah yang dikirim Bashar Assad menjatuhkan selebaran fitnah dari atas kota Idlib. Selebaran dimaksud untuk memfitnah dai asal Arab Saudi yang bertahun-tahun di Suriah, Syaikh Abdullah bin Muhammad Al-Muhaisini.

Jum'at, 14/04/2017 15:10 0

Indonesia

Jum’at Mubarokah, Masjid Al-Islam Bekasi Sediakan Makan Siang Gratis

Masjid Al-Islam, Islamic Center Bekasi, memberikan makan siang gratis bagi jamaah shalat Jum'at. Pemberian makan siang secara cuma-cuma itu telah dilakukan dalam sebulan terakhir.

Jum'at, 14/04/2017 14:26 0

Video Kajian

Khutbah Jum’at : Hati-hati dengan Lisan [Ust. Jayyad Al Faza, S.Pd.I ]

KIBLAT.NET – Lisan merupakan hal yang acapkali menjerumuskan seseorang yang tak bisa menjaganya. Namun, bagi...

Jum'at, 14/04/2017 13:18 0

Indonesia

Tegas Pilih Pemimpin Muslim, Jawara Betawi Ini Ditahan Polisi

KIBLAT.NET, Jakarta- Pembina Jawara Betawi, H. Abu Bakar bin Sadelih yang dilaporkan karena berikrar memilih...

Jum'at, 14/04/2017 11:48 0