Siapkan Logistik untuk Musyawarah, Pria Ini Jalani Sidang Terorisme

KIBLAT.NET, Jakarta – Seorang pegawai pabrik kulit, Gatot Witono (48 tahun) menjalani sidang perdana kasus dugaan tindak pidana terorisme. Pria asal Magetan itu dikait-kaitkan dengan kelompok yang sebelumnya ditangkap di Klaten.

Sidang perdana Gatot digelar pada Rabu (12/04) di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Agenda sidang yang dipimpin oleh hakim ketua Eris Sudjarwanto tersebut mengagendakan pembacaan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum, Muhammad Husaini mendakwa terdakwa dengan dua pasal. Pasal pertama yang dikenakan pada pria yang ditangkap pada 25 Oktober 2016 itu adalah pasal 15 juncto pasal 7 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberntasan Tindak Pidana Terorisme yang telah ditetapkan menjadi Undang-undang nomor 15 tahun 2003. Pasal lainnya adalah pasal 13 huruf c undang-undang yang sama.

Jaksa mendakwa Gatot dengan tuduhan terkait dengan kelompok Klaten, yang memiliki bengkel senapan angin dan sejumlah senjata tajam. Kelompok itu juga dituding sebagai bagian dari Jamaah Islamiyah (JI). Baca juga: [Wawancara] Lurah Selosari: Gatot Witono Bukan Orang Tertutup, Dia Teman Main Badminton Saya

Menanggapi dakwaan jaksa, kuasa hukum terdakwa, Farid Ghozali mengatakan keterkaitan Gatot hanya sebatas menyiapkan logistik untuk kegiatan musyawarah. Sementara soal organisasi dia Gatot tak tahu menahu, termasuk pembicaraan pembuatan bengkel senapan maupun senjata tajam. “Pembicaraan-pembicaraan itu dia tidak tahu, hanya dikait-kaitkan,” imbuhnya.

BACA JUGA  SE Kapolri: Penyidik Diminta Bedakan Pencemaran Nama Baik dan Kritik

Soal dakwaan terkait senapan angin, menurut Farid hal itu tidak dilarang oleh undang-undang. Hanya saja penggunaannya diatur dalam Peraturan Kapolri (Perkap).

Selain itu, Farid mengungkapkan, Gatot juga tidak pernah bersembunyi atau bersikap layaknya seorang buronan. Bahkan di masyarakat, kata Farid, dia pernah dipercaya menjadi ketua rukun tetangga (RT).

Tuduhan Teror Dipertanyakan

Farid pun mempertanyakan dakwaan jaksa yang mengaitkan Gatot dengan pasal 15, dengan yang berisi permufakatan jahat untuk menyebabkan teror. Jika tuduhan tersebut dialamatkan kepada Jamaah Islamiyah (JI), jaksa tidak pernah membuktikan tindakan teror yang dilakukan kelompok tersebut.

“Kalau kemudian misalnya mereka menyiapkan sesuatu, tapi jaksa dalam persidangan tidak pernah membuktikan bahwa kelompk ini akan melakukan kegiatan teror, katakanlah akan menyerang suatu tempat,” ujar pria dari Tim Pengacara Muslim (TPM) itu.

Sementara soal adanya tujuan menegakkan syariat atau pun negara Islam, Farid menilai selama ini jaksa tak pernah membuktikan cara-cara yang dilakukan. Menurut Farid, tujuan yang sama juga dimiliki oleh kelompok Islam yang lain, misalnya Hizbut Tahrir Indonesia.

“Misal i’dad dalam menegakkan syariat Islam, tapi bentuk terornya kan tidak ada,” pungkas Farid.

 

Reporter: Imam S.
Editor: Fajar Shadiq

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat