... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Masyumi Melawan Korupsi

KIBLAT.NET – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan mendapat serangan keji dari orang tak dikenal. Ia disiram cairan asam sulfat yang menghancurkan wajahnya dan hampir membuatnya buta di suatu pagi selepas shalat subuh. Banyak pihak menduga serangan itu terkait dengan giatnya Novel membongkar kasus megakorupsi E-KTP.

Serangan pada Novel Baswedan adalah salah satu bukti beratnya perang melawan korupsi dan koruptor. Perang yang dimulai sejak lama, termasuk oleh Masyumi. Berikut tulisan Beggy Rizkiansyah, pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) terkait peran Masyumi dalam memberantas korupsi.


Situasi saat itu begitu nestapa. Satu per satu tokoh-tokoh dari partai yang dikenal partai berbasis Islam terperosok kubangan lumpur korupsi. Umat merasa tak berdaya, kehilangan asa.

Bagaimana mungkin para tokoh yang sebagian dari mereka dikenal saleh bisa terbuai bujuk rayu korupsi? Kesedihan umat Islam, berlawanan dengan tokoh sekuler. Mereka bernyanyi bersama mencemooh para tokoh, serta-tentu saja- menyudutkan Islam yang masuk ke kancah politik. Isu korupsi menjadi pisau menjagal Islam dalam politik.

Ini merupakan bencana, karena pegiat partai berbasis Islam harusnya sadar bahwa ketika mereka berpartai, mereka membawa bendera yang lebih besar, yaitu agama. Pengharapan rakyat lebih tinggi dari partai-partai lain. Wajar pula jika mata jeli tokoh sekuler sudah mengintai setiap gerak-gerik partai Islam dan mencari cela dan celah sekecil apa pun, dan siap mencincangnya beramai-ramai. Inilah yang mungkin luput kita sadari. Apa daya, sekali lagi, kita malas menengok sejarah barang sekejap. Padahal salah satu partai Islam terbesar bernama Masyumi telah menorehkan tinta perjuangan dalam usaha membasmi korupsi.

Korupsi memang bukan barang baru di negeri ini. Sejak diwariskan oleh pemerintah kolonial, korupsi menjangkiti kaum pribumi. Bahkan ketika kemerdekaan telah kita raih dari tangan penjajah, bau amis korupsi ternyata ikut melekat di tangan para politisi kita sejak dini. Karya semacam Korupsi (Pramoedya Ananta Toer) dan Senja di Jakarta (Mochtar Lubis) menggambarkannya melalui untaian cerita.

Ketika itu praktek korupsi begitu menggurita, penuh manipulasi. Modus yang dikenal pada periode 1950-an adalah ‘Importir aksentas’ atau pengusaha ‘Ali-Baba’. Kebijakan nasionalisasi saat itu diakali para ‘Importir aksesntas.’ Sebuah akal-akalan perusahaan nasional (dalam negeri) yang menjual kembali izin impor kepada perusahaan asing. Begitu pula taktik ‘Ali-Baba’, sebuah modus yang berkedok importir pribumi untuk mendapatkan fasilitas impor dari pemerintah. Padahal di balik importer ini hanyalah pengusaha Cina atau Belanda. Maka hal semacam ini lazim disebut ‘Ali-Baba’ atau Ali-Willem.

BACA JUGA  Imparsial: Pengadaan Alutsista Rawan Korupsi

Ketika itu, negara di bawah pemerintahan Kabinet Ali Sastroamidjojo I (Juli 1953-Juli 1955). Pemerintah kala itu memang menggelorakan ekonomi nasional (termasuk nasionalisasi) dengan memberikan kredit-kredit pada pengusaha nasional. Namun, Menteri Keuangan saat itu, Iskaq Tjokrohadisoerjo (1953-1955), melakukan politik nasional dalam ekonomi dengan banyak diskriminasi. Ia mengutamakan pengusaha dari partai PNI saja, atau yang menyokong pemerintahan PNI (Ali) sehingga diberi kemudahan tanpa memperhatikan kemampuan.

Termasuk salah satunya, perusahaan importir kertas baru, Inter Kertas, yang setengah dari sahamnya dimiliki oleh Sidik Djojosukarto. Menteri Iskaq berbuat seperti ini, bukan tanpa alasan. Tampaknya PNI mengejar persiapan untuk pemilu tahun 1955. Bahkan mengambil kebijaksanaan untuk menyokong dana partai. Bersama Ong Eng Die (keduanya dari PNI), mereka memerintahkan dana kementerian untuk disimpan di Bank Umum Nasional, suatu bank PNI.

Mereka juga merombak personalia dan administrasi kementerian terutama yang berhubungan dengan perdagangan dan perindustrian. Menteri Iskaq juga pernah membatalkan Koperasi Batik Indonesia sebagai satu-satunya importir cambrics, dan memberi lisensi ini kepada beberapa importir tak berpengalaman. Selain itu dia juga memberikan izin impor kertas untuk pemilu kepada suatu perusahaan yang sahamnya dimiliki orang-orang PNI.

Kebijakan-kebijakan seperti ini mendapat tentangan keras dari partai Masyumi. Ketua Seksi Ekonomi dari parlemen, KH Tjikwan (Masyumi) mengajukan mosi di parlemen untuk interpelasi, guna mempertanyakan kebijakan Menteri tersebut. Mosi untuk interpelasi diterima dengan suara bulat. Namun mosi tak percaya berakhir dengan kegagalan. Kegagalan ini lebih bersifat politis, yaitu pemihakan kekuatan antara oposisi dan partai yang ikut dalam kabinet. Walaupun begitu, Partai NU yang ikut serta dalam kabinet turut mengirimkan nota politik yang berisi kekhawatiran tentang masalah ekonomi. Begitu pula PSII yang juga ikut dalam kabinet menyatakan tidak bertanggungjawab atas kelanjutan kebijakan menteri-menteri dari PNI itu.

BACA JUGA  Alasan Kerahasiaan Dinilai Jadi Penyebab Dugaan Korupsi Alutsista Sulit Diungkap

Kabinet Ali Sastroamidjojo menyerahkan kekuasaannya kepada Boerhanoeddin Harahap pada 12 Agustus 1955. Di sinilah kemudian Kabinet Boerhanoeddin yang berasal dari Masyumi membuktikan dirinya melawan korupsi dengan lantang. Kabinet Boerhanoeddin langsung melancarkan kampanye anti korupsi. Pasal lima dari program kabinet ini adalah memberantas korupsi.

Kabinet ini langsung menyikat orang-orang yang terindikasi korupsi. Beberapa hari setelah dilantik, Mr. Djodi Gondokusumo, bekas Menteri Kehakiman ditangkap. Begitu pula Menteri Keuangan Ong Eng Die. Rumah Iskaq Tjokroahdisurjo digeledah. Saat itu Iskaq sendiri sedang berada diluar negeri. Ia berkali-kali dipanggil pulang. Tetapi perjalanannya di luar negeri diperpanjang. Dalam biografinya, ia mengakui, sebetulnya ia hendak pulang, tetapi di Singapura ia dijemput Lim Kay, yang diutus pimpinan pusat PNI.

Iskaq sendiri tahun 1960 divonis bersalah oleh pengadilan, namun kemudian diselamatkan Soekarno dengan grasinya. Daftar orang-orang yang ditahan termasuk beberapa orang di badan penyelidik negara, pejabat kantor impor, serta pengusaha (importir). Penangkapan merebak di mana-mana. Bandung, Surabaya, Sumatera tengah, Jawa tengah hingga Penang. Termasuk di Singapura, Konsul Jenderal Arsad Astra juga dipanggil pulang dan ditahan.

Delapan hari setelah dilantik, Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap – yang saat dilantik baru berusia 38 tahun- menjelaskan kebijakannya melawan korupsi. Ia menjelaskan, tujuan kebijakannya itu ialah demi memperbaiki kembali keadaan yang tak sehat dalam masyarakat, dan juga di dalam kalangan pemerintahan sebagai akibat dari tindakan-tindakan korup oleh berbagai orang, maka pemerintah menganggap perlu untuk menjalankan tindakan-tindakan yang keras dan tegas.

Ia juga menegaskan tak pandang bulu membasmi korupsi, tanpa peduli partai, golongan atau agamanya. Ia kemudian juga menggencarakan perlawanan dengan memperluas kekuasaan Jaksa Agung. Ia membebaskan Jaksa Agung dari tiap pembatasan sehingga dapat bertindak terhadap siapa saja atas dasar hukum.

Baca halaman selanjutnya: Kabinet Boerhanoeddin Harahap...

Halaman Selanjutnya 1 2
... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Rilis Syamina

Lapsus Syamina: Perang Narasi Musa vs Firaun

Firaun segera kembali mengalihkan narasi, dengan menanyakan tentang hakikat dakwah Musa, namun dengan cara yang tidak beradab, ejekan, dan penghinaan, “Siapa Tuhan semesta alam itu?”

Rabu, 12/04/2017 17:14 0

Asia

Tolak Syarat BRN Melayu Patani, Thailand Negosiasi dengan Faksi Lain

Junta militer Thailand pada Selasa, (12/04) menolak tawaran bersyarat dari kelompok utama perlawanan Muslim Patani di Thailand selatan untuk masuk ke dalam pembicaraan damai formal.

Rabu, 12/04/2017 17:10 0

Indonesia

Asyiik.. Jadi Setingkat Menteri, Kepala BNPT Gelar Rapat Kenaikan Tunjangan

“Hal ini tentunya sejalan dengan penetapan, bahwa jabatan Kepala BNPT adalah jabatan setingkat menteri, maka hasil evaluasi jabatan yang dijadikan dasar pemberian tunjangan kinerja selama ini perlu dievaluasi ulang,” katanya.

Rabu, 12/04/2017 15:29 0

Indonesia

Jika Tuntutan Dibacakan Sekarang, Elektabilitas Ahok Bisa Menurun

"Ini kalo misalnya Ahok dituntut 3 tahun atau 4 tahun atau 5 tahun misalnya, mau tak mau Ahok kan terbebani, elektabilitasnya kan jatuh menjelang pilkada. Jadi mereka mencampurbaurkan antara hukum dan politik,” jelasnya.

Rabu, 12/04/2017 15:08 0

Asia

BRN Melayu Patani Tolak Rencana Perdamaian di Bangkok

Barisan Revolusi Nasional Melayu Patani (BRN), sebuah kelompok pejuang Islamis paling menonjol di selatan Thailand menolak rencana perdamaian militer dalam sebuah pernyataan pada Selasa, (12/04).

Rabu, 12/04/2017 14:45 0

Indonesia

Sidang Ahok Ditunda, Kapolda Metro Jaya Mengaku Jadi Lebih Fokus

Dengan ditundanya sidang Ahok, maka menurut Iriawan, pihaknya lebih fokus saat mengamankan hari pencoblosan yang jatuh pada 19 April 2017 mendatang.

Rabu, 12/04/2017 14:43 0

Asia

Proses Damai Patani, BRN Ajukan 3 Tuntutan Ini

BRN didirikan sejak 13 Maret 1963 oleh Haji Abdul Karim Hassan. Mereka memiliki sejumlah gerakan underbouw, yang paling besar di antaranya adalah BRN-Coordinasi. BRN-Coordinasi termasuk berupaya menegakkan nilai-nilai keislaman di wilayah Patani. BRN-C juga memiliki sayap paramiliter yang terkenal dengan sebutan 'Pejuang Kemerdekaan Patani'. Kini BRN dipimpin oleh Hassan Taib.

Rabu, 12/04/2017 13:47 0

Asia

Barisan Revolusi Nasional Siap Hadiri Dialog Damai Patani

Barisan Revolusi Nasional (BRN) sebuah kelompok perjuangan rakyat Melayu di Patani, Thailand Selatan menyatakan akan menghadiri forum dialog perdamaian Patani Patani Peace Dialogue yang diselenggarakan pada Senin, (10/04).

Rabu, 12/04/2017 13:31 0

Info Event

Dosen Politeknik Negeri Bandung Tingkatkan Keimanan dengan ‘Ngopi’

Dosen Politeknik Negeri Bandung (POLBAN) gelar kajian bertajuk, "Ngobrol Perkara Iman, (NGOPI)," di Masjid Bahrul Ulum P4TK BMTI Bandung, sekitar perumahan Polban, Selasa, (11/04).

Rabu, 12/04/2017 13:10 0

Rusia

Dua Pelatih Militer Rusia Tewas dalam Serangan Mortir di Suriah

Laporan soal jatuhnya korban dari tentara Rusia di Suriah kembali muncul. Kali ini dua orang tentara Rusia tewas dan beberapa lainnya terluka akibat serangan mortir.

Rabu, 12/04/2017 12:58 0