... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Abu A’la Al-Maududi, Tokoh Revolusioner Islam Asal Pakistan

Foto: Sayyid Abu A'la Al-Maududi

Sebuah negara Islam adalah negara Muslim. Tetapi sebuah negara Muslim mungkin bukan sebuah negara Islam sampai konstitusi negaranya berdasarkan Al-Quran dan Sunnah. (Abu A’la Al-Maududi rahimahullah)

KIBLAT.NET – Sebagian umat Islam pasti akan mengernyitkan dahi jika mendengar kata politik. Karena politik yang ada saat ini dipenuhi intrik-intrik kotor demi mencapai tujuan apapun itu. Entah jujur untuk menyejahterakan rakyat atau untuk membesarkan perut semata.

Namun, siapa sangka ternyata dari dalam tubuh kaum muslimin muncul penggagas-penggagas politik Islam yang piawai. Mestinya mereka adalah sosok yang jujur dalam perjuangan tanpa ada sedikitpun kepentingan pribadi. Salah satunya adalah tokoh dari Pakistan ini.

Dia adalah penggagas politik Islam yang disegani. Karya-karyanya udah tersebar di Eropa, Asia bahkan mencapai benua Afrika. Selain dikenal sebagai ahli politik Islam, dirinya juga dikenal sebagai tokoh yang getol melawan paham sekulerisme, nasionalisme, emansipasi, komunisme dan sosialisme. Terlahir dari keluarga yang terhormat dan religius membuat pendidikannya benar-benar terjaga. Di adalah Sayyid Abu A’la Al-Maududi

Mengenal Sayyid Abu A’la Al-Maududi

Sayyid Abu A’la Al-Maududi adalah figur penting dalam kebangkitan Islam pada abad ke-20. Dikenal sebagai salah satu tokoh muslim besar di bidang jurnalisme, akidah dan filosofi politik islami. Lahir pada 25 September 1903 di kota Aurangabad di wilayah Haidar Abad (India). Ia berasal dari keluarga syarif (keturunan Nabi), sangat terhormat dan cukup terpandang karena pernah mengabdi kepada Dinasti Mughal, yaitu pada era Muhammad Bahadur Syah Zafar. (Bahadur Syah adalah raja pengganti Aurangzeb pada tahun 1707. Bahadur hanya berkuasa selama lima tahun saja, dan pada era inilah awal mula era kemunduran kerajaan Mughal sebelum datangnya Inggris). Nenek moyang Al-Maududi sebenarnya dulu menetap di semenanjung Arab. Seribu tahun yang lalu, sebagian keluarganya hijrah ke kota Herat. Pada akhirnya, pada abad 19 Hijriah kakek Al-Maududi hijrah ke India.

Tempat kelahiran Al-Maududi di Aurangabad

Di masa kanak-kanak, Al-Maududi mendapat pelajaran langsung dari ayahnya. Sayyid Ahmad Hassan–Ayah  Al-Maududi–menyukai tasawuf dan berhasil mewujudkan kondisi yang sangat religius serta zuhud bagi pendidikan anak-anaknya. Ahmad Hassan adalah satu dosen pengajar sekaligus pengacara. Ia lahir di India pada 1266 H atau 1850 M.

BACA JUGA  Menengok Masjid Al-Bakhri, Masjid Unik Berbentuk Kapal di Cimahi

Ahmad mengakhiri karirnya pada 3 Rajab 1321 H atau 25 September 1903. Hari ia mengakhiri karirnya bertepatan dengan lahirnya Al-Maududi karena memang ia pensiun untuk mendidik anak-anaknya khususnya Al-Maududi. Ia berusaha keras membesarkan mereka dalam kultur syarif dengan sistem pendidikan klasik. Dalam sistem ini tidak ada pelajaran bahasa Inggris dan yang ada hanya bahasa Arab, Persia dan Urdu. Karena itu, ia piawai dalam bahasa Arab di usia muda pada saat usia 9 tahun.

Jadi, bisa dibilang Ahmad berperan sebagai ayah sekaligus guru pertama bagi Al-Maududi. Ahmad juga melibatkan beberapa temannya sesama pengajar untuk mengasah kepandaian Al-Maududi.

Pada usia 11 tahun, Al-Maududi masuk sekolah modern madrasah Fawqaniyya Mashriqiyya di Aurangabad. Sekolah ini berafiliasi pada Uthmaniyah University Hyderabad, yang mengajarkan ilmu-ilmu klasik dan modern sekaligus. Maududi adalah sosok yang tak pernah puas dengan satu ilmu tertentu. Di usianya yang sangat muda, dia telah bersentuhan dengan berbagai disiplin ilmu. Dia telah belajar al-Miqat fil Al-Mantiq dalam bidang logika, al-Quduri dalam bidang fiqh dan Shamail al-Tirmidzi dalam bidang Hadits. Di usia sebelia ini, dia telah mampu menerjemahkan buku Al-Mar’ah Al-Jadidah karya Qasim, pengarang Mesir kenamaan ke dalam bahasa Urdu. Penerjemahan ini adalah berkat kemampuannya yang sangat tinggi dalam bahasa Arab.

Sekolah modern madrasah Fawqaniyya Mashriqiyya di Aurangabad

Akan tetapi lima tahun kemudian ia terpaksa meninggalkan sekolah formalnya setelah ayahnya sakit keras dan wafat. Penyakit ayahnya yang berkepanjangan dan krisis finansial, telah memaksa Al-Maududi meninggalkan bangku sekolah dan harus menerima realitas hidup yang pahit. Dalam usia lima belas tahun, Maududi kecil sudah harus bisa menghasilkan uang lewat keringatnya sendiri. Yang menarik pada saat itu Al-Maududi kurang menaruh minat pada soal-soal agama, dan ia hanya suka politik. Karenanya, Al-Maududi tak pernah mengakui diri sebagai seorang alim. Kebanyakan biografi yang ada, Al-Maududi disebut sebagai jurnalis yang belajar agama secara otodidak.

BACA JUGA  GNPF MUI Silaturahim ke Istana Merdeka, Sampaikan Kriminalisasi Ulama

Tahun 1918, ia pindah ke Binjur untuk memenuhi minat intelektualnya, terutama di bidang politik. Ia bergabung dengan saudaranya Abul Khair dan memulai karirnya sebagai seorang editor dan jurnalis. Ketika itu semangat nasionalisme India tumbuh subur. Dalam beberapa esai ia memuji pemimpin Partai Kongres, khususnya Mahatma Gandhi dan Madan Muhan Malaviya. Pada akhirnya nanti Al-Maududi akan mengritik tokoh ternama India ini. Saat itu terjadi pelarangan penerbitan media cetak oleh pemerintah India, sehingga memaksa Al-Maududi menyudahi pekerjaan ini.

Tahun 1919, ia pindah ke Jubalpur untuk bekerja di media mingguan partai pro-Kongres yang bernama Taj. Di sini dirinya berperan aktif memobilisasi kaum muslim untuk mendukung Partai Kongres. Karena ketekunannya dalam bekerja, media ini sempat di terbitkan harian. Aktivitasnya yang bergelut dengan dunia informasi membuat wawasannya terbuka. Ia pun mulai mengenal dan menguasai buku-buku sejarah, fisiologi, sosiologi dan perbandingan agama. Tak lama kemudian, kedua bersaudara ini pindah ke Delhi.

Di Delhi, Al-Maududi semakin intens dengan arus intelektual dalam komunitas muslim. Pandangan politik Al-Maududi pun semakin religius. Ia bergabung dengan Tahrik-i Hijrah (Gerakan Hijrah) yang mendorong muslimin India untuk meninggalkan India ke Afghanistan sebagai Dar Al-Islam (Negeri Islam) yang bebas dari jajahan Inggris. Ia pun berkenalan dengan pemimpin penting Khilafahm Muhammad Ali, dan bersamanya menerbitkan koran nasiona Hamdard. Namun, kiprah Al-Maududi di sini tak bertahan lama.

Baca halaman selanjutnya: Tahun 1921, Al-Maududi...

Halaman Selanjutnya 1 2 3 4
... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

GN KOKAM Siap Terjunkan Jutaan Orang Jika Pemerintah Main-main dalam Kasus Ahok

Ketua Komando Gerakan Nasional Komando Kawal Al-Maidah (GN KOKAM), Masyhuri Mashuda menegaskan bahwa permintaan Polda Metro Jaya untuk menunda sidang tuntutan hukum Ahok merupakan bentuk intervensi dalam proses hukum.

Senin, 10/04/2017 16:30 0

Indonesia

Ketua DKPP Ingin Sidang Tuntutan Ahok Ditunda Hingga Pilkada DKI Usai

Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshiddiqie mengaku setuju atas usulan penundaan sidang penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Bahkan, Jimly berharap sidang bukan hanya ditunda setelah pemungutan suara, tapi setelah penetapan pemenang Pilkada DKI Jakarta.

Senin, 10/04/2017 15:55 0

Indonesia

Mahasiswa Diimbau Bangkit di Bawah Panji Islam

"Mahasiswa jika serius ingin melakukan perubahan maka tidak ada jalan lain selain Islam. Perubahan hakiki bisa terjadi hanya dengan Islam," tutup Andika.

Senin, 10/04/2017 14:45 0

Indonesia

Kapolri: Agama Dapat Menghancurkan Negara dalam Pertarungan Politik

Pemikiran ini menurutnya juga berimbas terhadap politik dunia di Timur Tengah, yang berhasil mempengaruhi pemikiran orang-orang Islam dengan doktrin 'ummah', yakni semua muslim bersaudara.

Senin, 10/04/2017 14:15 16

Turki

Erdogan Desak Rusia Hentikan Dukungan terhadap Assad

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Sabtu (08/04) meminta Rusia untuk mempertimbangkan kembali dukungannya terhadap rezim Basyar al-Assad menyusul serangan senjata kimia di Idlib awal pekan lalu.

Senin, 10/04/2017 13:09 0

Suara Pembaca

Menemukan Sahabat Masa Depan

Merubah pemikiran hedonis dalam berjuang menentukan sahabat masa depan. Agar sahabat yang dipilih benar-benar membawa suasana yang berkualitas dan dengan harapan bersama menggapai ridha dan Surga Pencipta.

Senin, 10/04/2017 10:45 0

Mesir

Ledakan Bom Guncang 2 Gereja Koptik di Mesir

Ledakan terjadi hampir bersamaan di Tanta dan Alexandria

Senin, 10/04/2017 09:42 0

Mesir

43 Orang Tewas dalam Pengeboman Gereja Koptik di Mesir

Sedikitnya 43 orang tewas dan 119 luka-luka akibat dua ledakan bom dekat gereja pada hari Ahad, (09/04).

Senin, 10/04/2017 09:37 0

Indonesia

ALYF Indonesia Desak Pemerintah Tegas dalam Penyelesaian Tragedi Suriah

Seluruh elemen bangsa Indonesia diajak untuk bersama-sama mengirimkan doa dan bantuan terbaik bagi warga Suriah menyusul serangan gas beracun di Idlib

Senin, 10/04/2017 09:05 0

Indonesia

Kecam Serangan Gas Beracun Idlib, ICMI Desak PBB Lakukan Investigasi

Ketua ICMI, Jimly Asshiddiqie mengatan serangan gas merupakan pelanggaran atas hukum internasional yang melarang penggunaan senjata kimia dalam perang

Ahad, 09/04/2017 22:06 0