... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Sebuah Genosida yang Tak Terindera

Foto: Amerika mengalami kemunduran

KIBLAT.NET – Secara etimologis genosida merupakan kombinasi dua kata Yunani, geno yang berarti rakyat atau suku, dan cide yang berarti membunuh. Adalah Raphael Lemkin, pengacara asal Polandia berdarah yahudi yang pertama kali memperkenalkan istilah genosida. Dengan dukungan dari delegasi AS, dia mempresentasikan draft awal konvensi tentang pencegahan dan hukuman atas genosida di depan majlis PBB. Majelis umum PBB pada tahun 1948 secara resmi mengadopsi konvensi tersebut.

Menurut konvensi tersebut, apa yang bisa disebut sebagai genosida adalah segala macam tindakan yang diniatkan serta dimaksudkan untuk menghancurkan, baik sebagian atau keseluruhan dari suatu kelompok bangsa, etnis, ras, atau agama tertentu. Di antara tindakan tersebut adalah, membunuh anggota kelompok, menyebabkan luka parah baik fisik maupun mental yang sulit untuk dipulihkan, sengaja menciptakan kondisi hidup suatu kelompok menjadi di ambang kematian, serta memaksakan tindakan-tindakan yang menghambat kelahiran.

Penetapan genosida sebagai kejahatan dalam hukum internasional sendiri dimaksudkan untuk mencegah agar apa yang pernah dilakukan Nazi terhadap etnis yahudi tak terulang kembali. Sebagaimana kita tahu, Nazi secara terang-terangan menganggap rasnya paling unggul dan yahudi adalah ras paling buruk yang harus dimusnahkan. Dan mereka merumuskan kebijakan-kebijakannya terkait siapa yang harus dimusnahkan dalam sebuah manual book berjudul: Mein Kampf yang berarti, perjuanganku.

Namun, di sinilah awal permasalahannya. Karena konvensi tersebut menitikberatkan pada unsur niat serta tujuan. Maka diperlukan sumber daya dan sumber dana tak sedikit dalam investigasi untuk membuktikan kedua hal tersebut ketika sebuah entitas yang diduga melakukan genosida tak menuliskannya dalam sebuah buku seperti yang dilakukan Nazi.

Rupanya inilah yang sedang dipermainkan AS hari ini. Posisi mereka sebagai salah satu pemegang hak veto membuat membuat siapapun tak berani untuk sekedar menuduh mereka melakukan genosida.

Sementara kita tahu hingga detik ini, betapa banyak nyawa umat Islam yang telah dibunuh oleh Amerika. Physicians for Social Responbility, sebuah lembaga peraih nobel perdamaian, pada bulan maret 2015 lalu mengungkapkan bahwa proyek perang melawan teror AS telah secara langsung membantai satu juta warga Iraq, dua ratus dua puluh ribu penduduk Afghanistan, dan delapan puluh ribu rakyat Pakistan, bahkan mereka menduga bahwa kemungkinan jumlah sebenarnya bisa mencapai angka dua juta jiwa lebih.

BACA JUGA  Gerakan Sahwah di Arab Saudi: Dulu Dirangkul, Kini Dimusuhi

Khusus untuk Iraq, menurut data resmi PBB, jauh sebelum Perang Teluk jilid dua, sekitar 1,7 juta jiwa telah tewas dan separuhnya adalah anak-anak akibat embargo ekonomi terhadap negara tersebut. Iraq, Afghanistan, dan Pakistan adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim. Sehingga saya berani menyimpulkan secara kasar bahwa sembilan puluh lima persen lebih dari dua juta jiwa tadi adalah muslim. Dan jika angka-angka ini masih belum mengetuk nurani anda, maka cukuplah anda bayangkan pemerintah AS telah membunuh umat Islam sejumlah peserta aksi 411 di Jakarta akhir tahun lalu.

Namun, seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Tak ada satu jari pun yang menuduh Amerika telah melakukan genosida, dengan dalih bahwa niat dan tujuan tertulis dari perang global melawan terorisme bukanlah pembunuhan massal umat Islam. Selain itu, siapa pihak yang berani melakukan investigasi terhadap pemerintah AS pada hari ini, untuk membuktikan bahwa niat dan tujuan sebenarnya dari perang global melawan terorisme adalah upaya pemusnahan terhadap sekelompok umat Islam di belahan bumi tertentu.

Tidak adanya bukti tertulis mengenai niat, serta ketidakberanian dalam menginvestigasi memang bisa dimaklumi mengingat hegemoni Amerika yang begitu kuat hari ini. Namun sebenarnya ada JALAN LAIN, yang bisa dijadikan dasar untuk sekedar “membentak” Amerika atas segala kebiadabannya selama ini.

Genocide Watch pada tahun 2002 pernah menuliskan perihal pembuktian niat ini dalam website mereka, “Niat bisa dibuktikan secara langsung dari pernyataan atau perintah. Tapi lebih daripada itu, ia bisa diduga dari sebuah pola sistematis aksi yang terkoordinasi.”

Pasca serangan 11 september, George W. Bush pernah bersumpah untuk memerangi umat Islam, sebagaimana dicatat oleh Peter Waldman dari The Wall Street Journal, “Presiden Bush bersumpah untuk membersihkan dunia dari para penjahat, kemudian memperingatkan: perang salib ini, perang melawan terorisme ini, akan berjalan dalam beberapa waktu.”

Bush menyebut perang melawan terorisme sebagai perang salib, Dan kita semua tahu, bahwa frasa perang salib tak pernah mempunyai makna selain daripada peperangan antara Kristen dan Islam.

BACA JUGA  Kemerdekaan Menurut H.O.S. Tjokroaminoto

Maka kita seharusnya sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Amerika ketika menginvasi Afghanistan dan Iraq. Pertama, berdasarkan apa yang diucapkan Bush dalam sumpahnya. Kedua, jumlah korban jiwa yang luar biasa, jika serangan WTC merenggut 3000 jiwa, maka invasi ini telah merenggut nyawa dua juta jiwa lebih. Ketiga, perang ini belum berakhir hingga hari ini meskipun sejak delapan tahun lalu Bush sudah tak menjabat sebagai presiden AS.

Artinya, perang ini bukanlah sekedar program seorang presiden yang dibatasi oleh masa jabatannya. Perang ini memang manifestasi dari sesuatu yang sedang diyakini oleh Amerika, tentang kekuasaan yang harus dipertahankan, dan siapa yang harus dimusnahkan demi melanggengkan hegemoni mereka terhadap dunia.

Ironisnya, JALAN LAIN ini pun tak ada yang mau mencobanya. Hari ini, entitas-entitas yang diharapkan umat Islam untuk menempuh jalan ini pun tak mau mencobanya. Bahkan dalam beberapa kesempatan perilaku mereka tak kalah “biadab”, genosida yang telah dilakukan Amerika seperti tak terindera oleh mereka. Arab Saudi salah satunya, sebagai negara yang dianggap sebagai “paling nyunnah” dibanding negara anggota OKI lainnya. Justru memposisikan dirinya sebagai teman baik Amerika.

Sebagaimana yang terjadi baru-baru ini, ketika deputi putra mahkota kerajaan “ahlus sunnah” Arab Saudi yang juga menjabat sebagai menteri pertahanan, Prince Mohammed bin Salman bertemu dengan presiden AS Donald Trump di Gedung Putih. Tidak ada pembahasan soal genosida ini dalam pertemuan itu. Alih-alih “membentak”, menyampaikan kecaman, dan memberi peringatan, sang pangeran justru memuji-muji Trump bahkan menganggapnya sebagai teman sejati bagi umat Islam.

Pada akhirnya, jika Arab Saudi sebagai negara “paling nyunnah” saja menjadikan pelaku genosida terhadap umat Islam sebagai teman sejati. Maka kepada “negara Islam” mana lagi umat Islam harus berharap.

Dan saya hanya bisa berucap lirih kepada rakyat Iraq, Afghanistan, dan Pakistan,
Bersabarlah wahai keluarga Yasir,
Sungguh surga telah melapangkan tempatnya untuk kalian

Dan mereka pun menjawab,
Saudaraku,
Sebenarnya kami telah melihat surga
Jika kamu ingin melihatnya juga
Maka kemarilah!
Ikut berjuang bersama kami!!!

 

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Menyingkap Gas Beracun, Senjata Pembunuh Sipil di Idlib

Diduga kuat, senjata kimia yang digunakan untuk membunuh sipil Idlib berjenis klorin atau sarin

Jum'at, 07/04/2017 05:09 0

Indonesia

Serangan Gas Beracun Bantai Rakyat Idlib, Indonesia Didesak Kutuk Tragedi HAM Suriah

Aliansi Merah Putih Peduli Suriah mendesak Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan pernyatan sikap mengutuk tragedi HAM berat di Suriah

Jum'at, 07/04/2017 01:24 0

Indonesia

Margarito Kamis: Apa Salahnya Aksi 313 Tuntut MPR Berhentikan Presiden

"Itu (aksi 313, red) hanya orang yang menyuarakan pernyataan secara terbuka, dan bahkan polisi bilang mereka mau datang ke DPR untuk mengubah UUD dan meminta memberhentikan Presiden, karena memang MPR punya wewenang untuk itu"

Jum'at, 07/04/2017 00:28 0

Indonesia

Ketua KAMMI Anggap Kasus Ahok Bukan Penistaan Agama Biasa

Dalam kasus penistaan agama, Ahok seharusnya ditahan karena telah menimbulkan keresahan masyarakat

Kamis, 06/04/2017 23:22 0

Info Event

Seruan Aksi Damai Kemanusiaan Stop Pembantaian Serangan Kimia di Idlib Suriah

Seruan Aksi Damai Kemanusiaan Stop Pembantaian Serangan Kimia di Idlib Suriah

Kamis, 06/04/2017 22:29 0

Indonesia

Pakar: Polisi Main-main Dalam Gunakan Pasal Makar

Dari sisi kelimuan penetapan pimpinan aksi 313 sebagai tersangka sulit dikatakan sebagai makar

Kamis, 06/04/2017 22:00 0

Indonesia

KAMMI: Pemerintah Jangan Obral Isu Makar

Ancaman tuduhan makar tidak mempengaruhi suara kritis KAMMI

Kamis, 06/04/2017 21:06 0

Suriah

Solidaritas Pembantaian Idlib, HTS Imbau Mujahidin Syam Tingkatkan Serangan

Salah satu faksi jihadis Suriah, Haiah Tahrir Syam (HTS) mengimbau kepada seluruh mujahidin Syam untuk membalas pembantaian oleh rezim Bashar Assad di Khan Shaikhoun, Idlib. Yakni dengan membuka front-front pertempuran di wilayah-wilayah yang dikuasai Rezim.

Kamis, 06/04/2017 20:37 0

Palestina

Hamas Eksekusi Tiga Warga Palestina di Jalur Gaza, Ini Sebabnya

Harokah al-Muqowamah al-Islamiyah (Hamas) yang berbasis di Gaza mengumumkan telah mengeksekusi orang Palestina yang bekerja sama dengan Israel. Demikian dikutip dari Middle East Monitor, Kamis (06/04).

Kamis, 06/04/2017 20:03 0

Suriah

IUMS: Sampai Kapan Masyarakat Diam Atas Pembantaian di Suriah?

Serangan senjata gas beracun yang memakan ratusan korban di Khan Shaikhoun memicu kecaman dunia internasional, tak terkecuali dari Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS). Dr. Qara Daghi selaku Sekjen IUMS mengungkapkan hal itu dalam sebuah postingan di website resminya.

Kamis, 06/04/2017 19:34 0

Close