... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Siyono Dihabisi, Perang atau Hukum?

Foto: Anak-anak dan kerabat Siyono berziarah di makam ayahnya

KIBLAT.NET – Pada tahun 2014 lalu, aktor senior Hollywood, Ben Affleck hadir dalam sebuah diskusi panel yang diselenggarakan oleh Fair Fax Media. Dengan penuh emosi, ia mengatakan, “Kita telah membunuh lebih banyak Muslim dibanding mereka membunuh kita.”

Ungkapan Ben tersebut tentu bukan isapan jempol belaka. Lima tahun sebelumnya, Stephen M. Walt, seorang profesor hubungan internasional di Harvard University, pernah menulis: “Berapa banyak orang Islam yang dibunuh oleh AS dalam tiga puluh tahun terakhir, dan berapa banyak warga AS yang dibunuh oleh orang Islam? Mendapatkan jumlah yang tepat atas pertanyaan ini mungkin bisa dikatakan tidak mungkin, tapi juga tidak perlu, karena dalam hitungan kasar pun, jumlahnya jelas-jelas sangat timpang.”

Semua berawal dari Tragedi 11 September 2001. Pasca runtuhnya menara kembar WTC, Bush mengeluarkan dua pernyataan yang sekilas tampak berlawanan. Pertama dia menyatakan bahwa pelakunya akan dibawa ke pengadilan, namun selanjutnya dia justru mendeklarasikan perang melawan terorisme.

Dalam pernyataan pertama, Bush menggunakan bahasa hukum, artinya serangan WTC adalah sebuah tindak kejahatan, AS hanya perlu menyelidiki, mengumpulkan bukti-bukti lalu menangkap pelaku dan membawanya ke pengadilan.

Sedangkan pada pernyataan lanjutannya, Bush menggunakan bahasa perang. Ruang lingkup perang lebih luas ketimbang hukum. Keruntuhan WTC tak lagi dianggap sebuah tindak kejahatan melainkan sebagai serangan musuh. Maka sebuah serangan haruslah dibalas dengan serangan pula, dan tujuan perang adalah menghabisi musuh hingga tak mampu melakukan serangan balik. Hal itu menunjukkan bahwa fokus telah bergeser dari siapa pelaku penyerangan WTC kepada siapapun yang mempunyai kebencian serta menyimpan hasrat untuk menyerang AS.

BACA JUGA  Lima Terdakwa Ricuh 21-22 Mei Sujud Syukur Atas Vonis Hakim, Ada Apa?

Untuk menyebut siapa musuhnya, Bush mulai mempopulerkan istilah teroris. Berbagai kriteria tentang siapa yang bisa disebut teroris mulai dibuat, dan berbagai kelompok yang dianggap memenuhi kriteria tersebut pun dimusuhi meskipun secara faktual mereka tak tahu menahu perihal serangan WTC.

Karena memakai bahasa perang, maka penggunaan senjata mematikan menjadi legal, asalkan mengarah kepada musuh, apapun tingkat keterlibatannya. Tukang masak menjadi target yang sah seperti halnya jenderal musuh. Dan dalam aturan perang, collateral damage atau korban sipil yang tak dapat dihindari masih bisa ditoleransi. Menurut perspektif hukum, polisi yang mengejar penjahat dilarang meledakkan sebuah apartemen hanya karena sang penjahat bersembunyi di apartemen tersebut.

Namun dalam perspektif perang, sekelompok pasukan udara sah-sah saja mengebom sebuah bangunan jika di dalamnya terdapat pasukan musuh. Karena itulah, setiap jatuh korban sipil, AS tak pernah meminta maaf namun justru menyesalkan mengapa rakyat sipil harus tinggal satu bangunan dengan teroris, tidak mengungsi ke daerah yang lebih aman.

Kendati begitu, pilihan untuk memakai bahasa perang ada konsekuensinya, salah satunya adalah serangan balasan dari pihak musuh menjadi boleh dan tidak bisa dipandang sebagai sebuah tindak kriminal. Pada akhirnya, status gedung kembar WTC menjadi sama dengan rumah sakit di Kunduz ataupun pesta perkawinan di Yaman; collateral damage alias korban sipil yang tak bisa dihindari.

Maka dari itulah, Bush juga memakai bahasa hukum untuk melakukan delegitimasi terhadap serangan balasan dari pihak musuh. Di mana dalam perspektif hukum, perlawanan pelaku kriminal terhadap penegak hukum tidak diperbolehkan dan bisa diperkarakan menjadi dakwaan baru. Di sinilah “kecerdasan” Bush, ketika menyerang kelompok yang dianggap teroris dia menggunakan bahasa perang, sehingga dia dapat menyerang dan membunuh mereka tanpa harus membuktikan kejahatan apa yang telah mereka lakukan. Dan apabila jatuh korban sipil, atas nama collateral damage Bush tak perlu merasa bersalah.

BACA JUGA  BJ Habibie dan Kontribusi ICMI di Masa Orde Baru

Namun, ketika teroris menyerang balik dia akan berbicara menggunakan bahasa hukum, sehingga serangan balasan teroris di mata dunia tampak seperti sebuah aksi kriminal yang parsial tanpa sebab musabab. Dunia pun mendukung AS untuk menghukum pelaku kriminal tersebut, lalu AS menghukum teroris dengan perang. Begitu seterusnya…

Kasus Siyono

Kombinasi absurd perang-hukum ala AS masih berjalan hingga detik ini dan sepertinya akan terus berjalan untuk waktu yang lama, bahkan penyataan Bush soal “bersama kami atau bersama teroris” secara tidak langsung mewajibkan negara-negara di belahan bumi manapun untuk melakukan hal serupa.

Di negeri ini pun sudah mulai nampak gejalanya, dalam kasus Siyono misalnya. Sudah satu tahun sejak jasadnya terbujur kaku karena perbuatan aparat yang “mempertahankan diri”, namun hingga detik ini tak jelas apa kejahatan yang telah diperbuatnya. Namun aparat juga tak serta merta menganggap kematiannya sebagai sebuah kesalahan.

Kalau sudah seperti ini, bolehlah saya berasumsi bahwa Siyono telah dihabisi dengan bahasa perang, namun di sisi lain upaya perlawanannya terhadap aparat (jika memang benar melawan) diceritakan kepada kita semua dengan bahasa hukum.

Dan seandainya asumsi saya benar. Saya cuma bisa berpesan kepada Ibu Suratmi dan perempuan-perempuan lain yang bernasib serupa, “Harap bersabar, ini ujian.” [fjr]

 

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Polri Masih Selidiki Sebab Perwira Pemburu Santoso Bunuh Diri

Informasi yang berhasil dihimpun Kiblat.net menyebutkan, Perwira Brimob tersebut diketahui bernama Ipda Zasmi Diaz, alumni Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2015. Korban diduga tewas akibat bunuh diri dengan senjata api

Kamis, 06/04/2017 12:15 0

Suriah

Tak Hanya Pernafasan, Bom Kimia di Khan Sheikhoun Juga Serang Saraf

WHO menjelaskan bahwa paparan serangan gas kimia di Khan Sheikhoun ini menyebabkan para korban mengalami gangguan pernapasan akut yang berujung dengan kematian.

Kamis, 06/04/2017 11:45 0

Indonesia

Pemuda Muhammdiyah: Ahok Jadikan Al-Maidah 51 Bahan Ledekan

Barang bukti video Ahok ingin membuat wifi bernama “Surat Al Maidah 51” dengan password “kafir” memperkuat bukti penodaan agama yang dilakukannya. Pedri juga mengatakan, Ahok mengatakan hal itu untuk lelucon.

Kamis, 06/04/2017 11:12 0

Suriah

Rusia Benarkan Jet Suriah di Balik Serangan di Khan Sheikhoun, Idlib

“Pesawat militer Suriah menyerang kawasan gudang senjata di pinggiran timur kota Khan Sheikhoun di provinsi Idlib,” kata pernyataan Dephan Rusia melalui akun resmi Facebook, seperti dinukil CNN Arabic, Rabu.

Kamis, 06/04/2017 10:40 0

Indonesia

Hacker Lulusan SMP Ini Bobol Situs Tiket Online Hingga Polri

Hacker SH meretas sedikitnya 4.600 setelah belajar secara otodidak

Kamis, 06/04/2017 10:14 0

Indonesia

Muhammadiyah Sudah Tentukan Awal Ramadhan 2017, Ini Tanggalnya

Awal Ramadhan 1438 H, organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia itu menetapkan jatuh pada Sabtu 27 Mei 2017. Nasir menjelaskan bahwa hilal ketika Matahari terbenam hari itu sudah terlihat.

Kamis, 06/04/2017 09:37 0

Indonesia

Pengacara Ahok Tuduh Semua Pelapor Bertujuan Politik

"Saksi pelapor itu sebagian dari FPI, atau orang yang punya afiliasi dari FPI. Semua itu bagi kita satu jaringan. Walaupun dia ada di Palu, dia ada di Padangsidempuan tapi berkaitan satu sama lain, ini politik semua. Karena kepentingan pilkada di DKI. Jadi bagai kita ini semua jelas. Ini akan kita ajukan di pledoi," kata Humphrey di Gedung Kementrian Pertanian, Jakarta pada Selasa (04/04).

Kamis, 06/04/2017 09:26 0

Indonesia

Video Wawancara Ahok dengan Al-Jazeera Diputar, Ini Tanggapan Pengacara GNPF-MUI

"Di TV Al-Jazeera tersebut, Ahok mengatakan tidak menyesal dan bahkan Ahok dengan tegas mengatakan akan mengulangi perkataannya tersebut apabila ke Kepulauan Seribu lagi. Itu merupakan bentuk arogansinya," tegasnya kepada Kiblat.net di Gedung Kementrian Pertanian Jakarta Selatan seusai sidang.

Kamis, 06/04/2017 09:17 0

Indonesia

DDII Desak Polisi Buktikan Tuduhan Makar

Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Mohammad Siddik mempertanyakan perihal penangkapan demi penangkapan para aktivis Islam akhir-akhir ini. Menurutnya, penangkapan dengan alasan makar tersebut harus disertai dengan adanya bukti fisik, bukan hanya sekedar desas-desus orang saja.

Kamis, 06/04/2017 09:00 0

Video Kajian

Tabligh : Agar Kau Tak Galau [ Ust. Farid Okbah ]

KIBLAT.NET – Dalam data WHO, didapat angka bunuh diri yang luar biasa di seluruh dunia....

Kamis, 06/04/2017 08:16 0

Close