... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Politik dan Agama, Haruskah Dipisah?

Foto: Jokowi

“Memisahkan agama dari panggung politik merupakan penghancuran terhadap sebagian besar ajaran agama dan hal yang demikian tidak mungkin dilakukan oleh kaum muslimin kecuali setelah mereka tidak beragama Islam lagi (murtad).” (Syaikhul Azhar, Muhammad Khidr Husain)

KIBLAT.NET – Belakangan ini, topik hubungan agama dengan negara kembali menjadi perbincangan publik. Himbauan Jokowi agar tidak mencampuradukkan persoalan agama dengan politik telah menuai kritik dari sejumlah tokoh Islam. Memisahkan agama dari politik dinilai sama saja merubah negara menjadi sekuler. Padahal ideologi sekuler jelas bertentangan dengan keyakinan mayoritas rakyat indonesia.

Namun demikian, di tengah derasnya hujan kritik tersebut, ternyata ada juga tokoh dari ormas Islam yang mengamini seruan Jokowi tersebut. Ketua Umum ormas salah satu ormas besar di Indonesia membenarkan bahwa memisahkan negara dengan persoalan politik selaras dengan ajaran Islam. Baginya, dalam berpolitik tidak perlu bawa-bawa agama. Demikian juga sebaliknya, dalam beragama juga tidak perlu berpolitik. Politik tidak boleh dicampuradukkan dengan agama. Sebab, jika politik dan agama digabungkan, maka politik akan menjadi radikal. Ketika ada oposisi, maka oposisi akan disingkirkan atas nama kafir, murtad dan lain sebagainya.

Agama itu sesuatu yang suci, sementara politik kotor. Maka sesuatu yang suci jangan dicampurkan dengan yang kotor. Karena itu, sebuah kaidah yang biasa diulang-ulang oleh mereka yang berpemikiran seperti ini ialah; la siyasata fid din wa laa din fis siyasah (tidak ada politik dalam beragama dan tidak ada agama dalam berpolitik).

BACA JUGA  ISIS Serang Pasukan Israel di Yerusalem, Benarkah?

Ide yang Hendak Memisahkan Agama dengan Negara

Sulit dipungkiri bahwa diantara penyebab kemunduran peradaban barat pada abad pertengahan (baca; zaman kegelapan) adalah adanya dominasi gereja yang mengatur kebijakan pemerintah. Saat itu, raja diatur oleh gereja. Efeknya, siapapun yang membawa pemikiran dan bertentangan dengan doktrin gereja, maka layak baginya  untuk mendapatkan hukuman.

Naifnya, banyak doktrin gereja tidak sejalan dengan perkembangan ilmu sains. Pembunuhan Nicholas Coppernicus dan Galileo Galilei sebagai ilmuwan yang menyatakan teori peredaran bumi mengelilingi matahari, menjadi salah satu bukti pertentangan doktrin gereja dengan sains. Kondisi inilah yang kemudian muncul semangat memisahkan peran agama dalam aturan Negara.

Sementara agama Islam jelas tidak pernah mengalami sejarah yang demikian. Karena memang tidak ada ajarannya yang bertentangan dengan perkembangan sains ataupun menyalahi hajat hidup manusia. Justru dalam perjalanannya, Islam menjadi penuntun yang membimbing para negarawan dalam kehidupan berpolitik hingga mampu menciptakan kesejahteraan hidup masyarakat.

Di sisi lain, satu hal yang diyakini bersama bahwa Islam adalah agama yang komprehensif. Mengatur seluruh sisi kehidupan manusia. Artinya, ketika seseorang menyatakan dirinya seorang muslim, maka secara otomatis ia siap diatur dengan aturan islam dalam seluruh aspek kehidupannya. Sementara pendapat yang hendak memisahkan agama dari panggung politik sama seperti orang-orang sekuler atheis atau mereka yang setengah-setengah dalam mengamalkan Islam. Syariat hanya diyakininya sebatas aturan masjid dan sekitarnya saja. Sementara dalam lingkup negara dianggapnya tidak relevan lagi dengan zaman sekarang ini.

BACA JUGA  Ramadhan dan Pendidikan Jihad

Syaikh Muhammad Syakir Syarif menyebutkan bahwa ada dua bentuk sekulerisme pada hari ini, yaitu sekulerisme atheis (tidak mengakui adanya Allah) dan sekulerisme non atheis. Setelah menjelaskan keduanya, beliau berkata, “Kesimpulannya; Sekulerisme dengan kedua bentuknya tadi merupakan sebuah kekafiran yang sangat nyata, tak ada keraguan sedikitpun dalam hal ini. Maka siapa saja yang memercayai salah satu dari kedua bentuk tersebut, berarti telah keluar dari Islam. waiyadzubillah.

Sebab, Islam merupakan agama yang syamil. Islam mempunyai manhaj yang jelas dan sempurna dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Baik aspek rohani, politik, ekonomi, moral dan sosial. Islam tidak membolehkan serta tidak menerima adanya manhaj lain yang mengatur aspek kehidupan tersebut. Karena Allah ta’ala berfirman tentang wajibnya masuk dalam manhaj dan ajaran islam secara kaffah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan… (Al-Baqarah: 208)

Kemudian Allah Ta’ala juga berfirman tentang kafirnya orang yang menerima sebagian manhaj Islam dan menolak sebagian manhaj Islam lainnya:

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al Baqarah; 85) (lihat; Al-Ilmaniyah wa Tsimaruha Al Khabitsah, Muhammad Syakir As-Syarif, hal. 8

Baca halaman selanjutnya: Bagaikan Saudara Kembar yang...

Halaman Selanjutnya 1 2
... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Politik dan Agama, Haruskah Dipisah?”

  1. abdul aziz

    entah apa bahasanya..yg jelas kalau anda mengakui keberadaan islam anda jangan menggugat kami untuk memilih pemimpin dg cara kami, yaitu pantang memilih pemimpin kafir, oposisi kami yang bergabung dg kafir jelas termasuk kafir karena sama dgnya (KAFIR), ayatnya begitu kan?..sedangkan tentang politik islam itu berpolitik lho.. lihatlah sejarah bhw Nabi dan para kholifahnya itu berpolitik membentuk negara dan kekuasaan agar kuat menegakkan islam kaffah..

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Eropa

Negara Ini Yakin Rusia dan Iran Terlibat Serangan Gas Beracun di Idlib

"Mereka yang terlibat atas kejahatan yang tidak manusiawi ini harus bertanggung jawab. Termasuk rezim Assad dan pemerintahannya," ungkapnya.

Kamis, 06/04/2017 15:15 0

Artikel

Pencabutan Status Kewarganegaraan bagi Teroris, Adilkah?

Sejumlah ahli hukum mengatakan bahwa pencabutan status kewarganegaraan bagi teroris warga AS justru akan semakin mempertegas tren pasca 11/9 terkait perlakuan yang berbeda (baca: tidak adil) terhadap para terduga dan terdakwa teroris dengan para pelanggar hukum lainnya.

Kamis, 06/04/2017 14:47 0

Artikel

Ekstremisme, Masalah yang Muncul dan Tumbuh di Eropa Sendiri

Selang beberapa jam menyusul insiden serangan 22 Maret di pusat kota London, para politisi di sejumlah negara Barat langsung berkomentar dan menyerukan diterapkannya kebijakan untuk melarang imigran dari Timur Tengah. Reaksi semacam ini jelas provokatif, oportunis, dan sangat menggelikan.

Kamis, 06/04/2017 14:14 0

Indonesia

Komnas HAM: Tuduhan Makar Ancam Kebebasan Berpendapat

Tuduhan makar terhadap sejumlah orang jelang Aksi 313 lalu dikhawatirkan akan terkesan memberi ancaman kepada masyarakat yang ingin menyampaikan pendapatnya. Terlebih jika dalam penangkapan terduga makar, tanpa disertai surat penangkapan.

Kamis, 06/04/2017 13:44 0

Indonesia

Sudah Sepekan Ditahan, Keluarga Belum Bisa Temui Al-Khaththath

"Sampai saat ini belum bertemu dengan Al Khaththath, karena memang untuk kunjungan dipersulit, dan hanya bisa kuasa hukum dan pengacaranya saja yang menemuinya" ungkap Aziz pada saat dihubungi Kiblat.net, Kamis (6/4).

Kamis, 06/04/2017 12:45 0

Analisis

Siyono Dihabisi, Perang atau Hukum?

Di negeri ini pun sudah mulai nampak gejalanya, dalam kasus Siyono misalnya. Sudah satu tahun sejak jasadnya terbujur kaku karena perbuatan aparat yang “mempertahankan diri”,

Kamis, 06/04/2017 12:35 0

Indonesia

Polri Masih Selidiki Sebab Perwira Pemburu Santoso Bunuh Diri

Informasi yang berhasil dihimpun Kiblat.net menyebutkan, Perwira Brimob tersebut diketahui bernama Ipda Zasmi Diaz, alumni Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2015. Korban diduga tewas akibat bunuh diri dengan senjata api

Kamis, 06/04/2017 12:15 0

Suriah

Tak Hanya Pernafasan, Bom Kimia di Khan Sheikhoun Juga Serang Saraf

WHO menjelaskan bahwa paparan serangan gas kimia di Khan Sheikhoun ini menyebabkan para korban mengalami gangguan pernapasan akut yang berujung dengan kematian.

Kamis, 06/04/2017 11:45 0

Indonesia

Pemuda Muhammdiyah: Ahok Jadikan Al-Maidah 51 Bahan Ledekan

Barang bukti video Ahok ingin membuat wifi bernama “Surat Al Maidah 51” dengan password “kafir” memperkuat bukti penodaan agama yang dilakukannya. Pedri juga mengatakan, Ahok mengatakan hal itu untuk lelucon.

Kamis, 06/04/2017 11:12 0

Suriah

Rusia Benarkan Jet Suriah di Balik Serangan di Khan Sheikhoun, Idlib

“Pesawat militer Suriah menyerang kawasan gudang senjata di pinggiran timur kota Khan Sheikhoun di provinsi Idlib,” kata pernyataan Dephan Rusia melalui akun resmi Facebook, seperti dinukil CNN Arabic, Rabu.

Kamis, 06/04/2017 10:40 0