... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Ekstremisme, Masalah yang Muncul dan Tumbuh di Eropa Sendiri

Foto: Demonstran di Eropa.

KIBLAT.NET – Selang beberapa jam menyusul insiden serangan 22 Maret di pusat kota London, para politisi di sejumlah negara Barat langsung berkomentar dan menyerukan diterapkannya kebijakan untuk melarang imigran dari Timur Tengah. Reaksi semacam ini jelas provokatif, oportunis, dan sangat menggelikan.

Pelaku Serangan London yang Tak Terduga

Polisi akhirnya berhasil mengidentifikasi pelaku serangan London yang bernama Khalid Masood, dan bukan berasal dari Timur Tengah maupun Afrika Utara. Ia berasal dari daerah Kent, sebuah tempat yang hijau dan dijuluki sebagai “kebunnya” Inggris.  Lahir dan tumbuh besar di Inggris dengan nama asli Adrian Russell Ajao, Masood ternyata adalah seorang mualaf. Ia juga diketahui  merupakan mantan narapidana tindak kekerasan dan kepemilikan senjata di saat masih muda. Seorang bekas majikannya mengatakan, Masood yang kini berusia 52 tahun tidak menunjukkan kecenderungan terhadap “ekstremisme” Islam.

Teka-teki soal perjalanan hidup Masood yang tiba-tiba tertarik  ke dunia kekerasan pada saat usianya telah memasuki fase paruh baya benar-benar membuat pihak berwenang Inggris pusing tujuh keliling. Sejumlah pertanyaan kontemplatif layak diajukan untuk membantu menjawab kebingungan tersebut:

  1. Apa yang akan kalian lakukan jika ada salah satu anggota komunitas kalian (sendiri) menyerang kalian?
  2. Bagaimana cara kalian mencegah seorang penyerang yang sebelumnya tidak ada dalam pantauan radar dinas intelijen?
  3. Bagaimana cara kalian menangkap isyarat akan adanya sebuah serangan mematikan ketika penjahat yang berasal dari lingkungan kalian sendiri itu ternyata seorang yang “apolitis” dan tidak tertarik dengan “Islam radikal”?

Negara-negara Barat di Bawah Tekanan dalam Memerangi Teror

BACA JUGA  BJ Habibie dan Kontribusi ICMI di Masa Orde Baru

Negara-negara Barat menyikapi tiga pertanyaan di atas dengan cara yang berbeda-beda. Jerman, untuk pertama kalinya telah memulai proses deportasi 2 orang non-warga kelahiran Jerman karena diduga terlibat perencanaan serangan teror. Sementara Australia, Kanada, dan Inggris konsisten dengan kebijakan mencabut status kewarganegaraan bagi warganya yang memiliki kewarganegaraan ganda yang bergabung dengan kelompok-kelompok “ekstremis” di luar negeri.

Motivasinya jelas, bahwa pemerintah negara-negara Barat berada di bawah tekanan untuk menunjukkan mereka mampu memerangi “ekstremisme”, termasuk mencegah para “ekstremis” itu memasuki negara mereka untuk  melancarkan serangan. Ini untuk kasus Australia, Kanada, dan Inggris. Diperkirakan antara tahun 2010 s/d 2016 sedikitnya 33 orang warga negara Inggris telah dicabut status kewarganegaraannya atas tuduhan terkait terorisme.

Fenomena Populisme Ala Trump

Beberapa pemimpin Barat, seperti Presiden AS Donald Trump naik ke tampuk kekuasaan setelah jualan isu dan obral janji bahwa ia akan memastikan ancaman radikalisme tidak akan pernah menyentuh Amerika Serikat. Inilah salah satu fenomena populisme dalam dunia politik yang kini melanda negara-negara Barat.  Trump terlihat sangat keras dan ofensif saat berkampanye dengan mempersepsikan adanya hubungan antara komunitas Muslim dengan terorisme. Secara konsisten Trump berkali-kali menyatakan bahwa AS berkepentingan untuk melarang Muslim masuk ke negaranya, (dan) bagi Muslim yang sudah berada di AS harus diawasi ketat serta diberlakukan tindakan lainnya atas nama protokol patriotisme.

Sehingga tidak mengherankan apabila Departemen Kehakiman dalam kabinet Trump kemudian menyampaikan sebuah wacana yang tidak biasa mengenahi pencabutan status warga negara AS bagi warga Amerika yang terlibat terorisme. Departemen Kehakiman beralasan bahwa orang yang berafiliasi dengan teroris menunjukkan kurangnya komitmen terhadap konstitusi AS. Departemen Kehakiman AS juga berjanji akan memberlakukan kebijakan atau tindakan de-naturalisasi terhadap mereka yang diduga maupun diketahui sebagai teroris yang telah mendapatkan status sebagai warganegara dengan cara yang tidak dibenarkan. “Ini akan diberlakukan untuk mencegah eksploitasi terhadap sistem keimigrasian negara kita oleh mereka yang berniat membahayakan negara kita”, katanya.

BACA JUGA  Kedudukan Hari Asyura dalam Islam

Populisme di Eropa

Munculnya sejumlah pemimpin ekstrimis sayap kanan seperti Geert Wilders di Belanda, Jean Marie Le Pen di Perancis menandai fenomena semakin menguatnya kecenderungan ekstrimisme di Eropa. Yang terbaru, muncul Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) yang diketuai oleh Frauke Petry sejak Februari 2013 yang juga sama-sama radikal anti-Islam dan anti-imigran.

Tahun 2016 hingga awal 2017,  dunia menghadapi kejutan ganda dalam konstelasi politik global ketika akhirnya Inggris memilih untuk keluar dari anggota Uni Eropa menyusul referendum Brexit. Setelah itu disusul dengan kemenangan Donald Trump dalam pilpres di AS yang membuat Uni Eropa menjadi harapan selanjutnya bagi terciptanya stabilitas di tengah kecenderungan menguatnya kelompok-kelompok ekstrimis sayap kanan dan ultra-nasionalis di Barat.

Melihat perkembangan tren hasil pemilu di Jerman, nampaknya harapan akan terwujudnya stabilitas di Eropa perlu ditinjau kembali. Meskipun seandainya partai yang dipimpin oleh Kanselir Angela Merkel menang, hal itu tidak berarti pengaruh AfD berkurang. Sementara aktivitas dan tekanan dari ormas-ormas non-parpol seperti Neo-Nazi dan Pegida juga akan terus eksis.

Reporter: Yasin Muslim
Sumber: Orient-News

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Komnas HAM: Tuduhan Makar Ancam Kebebasan Berpendapat

Tuduhan makar terhadap sejumlah orang jelang Aksi 313 lalu dikhawatirkan akan terkesan memberi ancaman kepada masyarakat yang ingin menyampaikan pendapatnya. Terlebih jika dalam penangkapan terduga makar, tanpa disertai surat penangkapan.

Kamis, 06/04/2017 13:44 0

Indonesia

Sudah Sepekan Ditahan, Keluarga Belum Bisa Temui Al-Khaththath

"Sampai saat ini belum bertemu dengan Al Khaththath, karena memang untuk kunjungan dipersulit, dan hanya bisa kuasa hukum dan pengacaranya saja yang menemuinya" ungkap Aziz pada saat dihubungi Kiblat.net, Kamis (6/4).

Kamis, 06/04/2017 12:45 0

Analisis

Siyono Dihabisi, Perang atau Hukum?

Di negeri ini pun sudah mulai nampak gejalanya, dalam kasus Siyono misalnya. Sudah satu tahun sejak jasadnya terbujur kaku karena perbuatan aparat yang “mempertahankan diri”,

Kamis, 06/04/2017 12:35 0

Indonesia

Polri Masih Selidiki Sebab Perwira Pemburu Santoso Bunuh Diri

Informasi yang berhasil dihimpun Kiblat.net menyebutkan, Perwira Brimob tersebut diketahui bernama Ipda Zasmi Diaz, alumni Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2015. Korban diduga tewas akibat bunuh diri dengan senjata api

Kamis, 06/04/2017 12:15 0

Suriah

Tak Hanya Pernafasan, Bom Kimia di Khan Sheikhoun Juga Serang Saraf

WHO menjelaskan bahwa paparan serangan gas kimia di Khan Sheikhoun ini menyebabkan para korban mengalami gangguan pernapasan akut yang berujung dengan kematian.

Kamis, 06/04/2017 11:45 0

Indonesia

Pemuda Muhammdiyah: Ahok Jadikan Al-Maidah 51 Bahan Ledekan

Barang bukti video Ahok ingin membuat wifi bernama “Surat Al Maidah 51” dengan password “kafir” memperkuat bukti penodaan agama yang dilakukannya. Pedri juga mengatakan, Ahok mengatakan hal itu untuk lelucon.

Kamis, 06/04/2017 11:12 0

Suriah

Rusia Benarkan Jet Suriah di Balik Serangan di Khan Sheikhoun, Idlib

“Pesawat militer Suriah menyerang kawasan gudang senjata di pinggiran timur kota Khan Sheikhoun di provinsi Idlib,” kata pernyataan Dephan Rusia melalui akun resmi Facebook, seperti dinukil CNN Arabic, Rabu.

Kamis, 06/04/2017 10:40 0

Indonesia

Hacker Lulusan SMP Ini Bobol Situs Tiket Online Hingga Polri

Hacker SH meretas sedikitnya 4.600 setelah belajar secara otodidak

Kamis, 06/04/2017 10:14 0

Indonesia

Muhammadiyah Sudah Tentukan Awal Ramadhan 2017, Ini Tanggalnya

Awal Ramadhan 1438 H, organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia itu menetapkan jatuh pada Sabtu 27 Mei 2017. Nasir menjelaskan bahwa hilal ketika Matahari terbenam hari itu sudah terlihat.

Kamis, 06/04/2017 09:37 0

Indonesia

Pengacara Ahok Tuduh Semua Pelapor Bertujuan Politik

"Saksi pelapor itu sebagian dari FPI, atau orang yang punya afiliasi dari FPI. Semua itu bagi kita satu jaringan. Walaupun dia ada di Palu, dia ada di Padangsidempuan tapi berkaitan satu sama lain, ini politik semua. Karena kepentingan pilkada di DKI. Jadi bagai kita ini semua jelas. Ini akan kita ajukan di pledoi," kata Humphrey di Gedung Kementrian Pertanian, Jakarta pada Selasa (04/04).

Kamis, 06/04/2017 09:26 0

Close