Lembaga HAM Tripoli Desak PBB Usut Kejahatan Milisi Haftar

KIBLAT.NET, Tripoli – Organisasi Solidaritas untuk Hak Asasi Manusia, sebuah LSM yang berbasis di Tripoli, mengatakan milisi yang setia kepada Jenderal Khalifa Haftar melakukan “kejahatan perang” terhadap warga sipil di Ganfouda, sebelah barat Benghazi yang terjadi beberapa waktu lalu.

“Kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan oleh milisi yang setia kepada Operasi Dignity (pasukan Haftar) terus menerus terjadi di Benghazi sejak 2014,” kata pernyataan media kelompok itu pada Sabtu (25/03). “Pada tanggal 18 Maret pasukan Haftar menggali kuburan dan mengambil sejumlah mayat di Ganfouda dan menyeret mereka di jalan-jalan.”

Tindakan keji itu dipamerkan oleh perwira senior milisi Haftar, termasuk Kolonel Mahmoud Al-Werfally dan Mayor Jenderal Wanis Bokhamada yang berdiri di samping mayat ketika mereka menarik keluar dari kuburan. Bukti lebih lanjut dari kejahatan ini terungkap dari rekaman yang beredar di media sosial, termasuk “pembunuhan di luar hukum, penyiksaan dan degradasi tahanan.”

Beberapa hari lalu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Libya (LNHCR) mengungkapkan “kejahatan perang” yang dilakukan oleh pasukan Haftar saat mengambil kendali Benghazi. Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh pimpinan Operasi Dignity mengakui bahwa pelanggaran telah terjadi, namun pihaknya menyangkal bertanggung jawab dalam kasus tersebut.

“Tindakan tidak mencerminkan pandangan dari pimpinan umum,” kata pejabat Operasi Dignity Operasi. “Hal itu dilakukan secara personal dan individual,” klaimnya.

Selanjutnya, LNHCR menyalahkan Pemerintah Persatuan Nasional di Tripoli, misi PBB di Libya dan kantor kejaksaan ICC atas pelanggaran tersebut. LNHCR memperingatkan mereka bahwa warga sipil di Ganfouda dikhawatirkan akan menerima perlakuan balas dendam oleh pasukan Operasi Dignity.

“Kelompok menyerukan Dewan HAM PBB untuk komisi misi pencari fakta untuk menyelidiki kejahatan mencolok yang dilakukan oleh milisi Operasi Dignity ini,” tegas kelompok HAM itu.

Reporter: Ibas Fuadi
Sumber: Middle East Monitor

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat