Talbis Musuh dalam Penegakan Syariat Islam

KIBLAT.NET – Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebenaran pasti akan ditentang oleh kebatilan begitu pula sebaliknya. Islam sebagai satu-satunya dien yang haq di sisi Allah tentunya akan menjadi batu sandungan bagi orang munafik dan kafir. Para pemeluk dienul Islam akan dihadapkan pada ancaman, intimidasi dan hambatan dari musuh-musuh Allah baik secara terang-terangan maupun terselubung.

Musuh-musuh Allah tidak akan pernah rela Islam kembali berjaya . Mereka menghalalkan segala cara untuk menghancurkan sendi-sendi Islam bagaimanapun caranya. Mulai dari mengangkat senjata hingga perang pemikiran.

Tercatat dalam sejarah bagaimana gigihnya orang munafik dan kafir memerangi Islam. Kemenangan dan kekalahan pun silih berganti hingga mereka sadar bahwa para mujahid Islam adalah orang-orang yang lebih mencintai kematian daripada kehidupan. Mustahil mengalahkan sekelompok pasukan yang mendambakan kematian.

Beralih Strategi

Musuh-musuh Allah pun mulai menggunakan strategi lain untuk melemahkan Islam. Ketika supremasi Islam mulai melemah dan secara tidak sadar kaum muslimin berada di dalam genggaman, maka mereka tidak akan membangunkan singa yang tertidur dengan menyulut konfrontasi bersenjata.

Mereka tetap membolehkan umat Islam melakukan amalan ibadah mahdhoh, seperti shalat, puasa zakat dan berhaji. Namun, dari sisi penerapan syariat, musuh Allah ini mencampuradukkan dengan hukum atau undang-undang buatan mereka.

Sejarah mengajarkan pada kita tatkala pasukan Tartar memasuki kota Baghdad pada tahun 656 Hijriyah, dan menguasai sebagian wilayah Islam. Hulaghu Khan, panglima pasukan Tartar bermaksud memberlakukan undang-undang buatan pemimpinnya Jenghis Khan, pada kaum muslimin. Undang-undang itu bernama Ilyasiq atau “As-Siyasah Al-Mulkiyah” (Undang-undang Kenegaraan).

BACA JUGA  Perpres Investasi Miras, HNW: Ada Peluang Diberlakukan di Semua Daerah

Pada saat itu, para alim ulama bangkit melakukan penentangan terhadap rencana Hulaghu Khan. Mereka menghimpun kaum muslimin di suatu tempat, lalu salah seorang di antara mereka mengangkat kitab Ilyasiq dan bertanya kepada khalayak, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Ilyasiq!” Lalu ia berfatwa dengan suara keras, “Barang siapa menghukumi dengan kitab ini maka ia telah kafir. Dan barang siapa berhukum dengannya maka ia telah kafir.”

Tatkala Ibnu Taimiyah menyeru kaum muslimin untuk memerangi bangsa Tartar, mereka tampak ragu dan mengemukakan alasan, “Bagaimana mereka kita perangi, sedangkan mereka telah mengucapkan syahadat, bahkan sebagian mereka mengerjakan shalat dan zakat?” Lalu Ibnu Taimiyah berkata:

لو رأيتموني في صفوف التتار وعلي رأسي مصحفا فاقتلوني

“Jika kalian melihat aku ada di antara mereka dan mushhaf Al-Qur’an berada di atas kepalaku maka tetap bunuhlah aku!”

Kemudian pelajaran yang lain saat Napoleon masuk ke Mesir membawa undang-undang Prancis. Setelah tentara kolonial Prancis ditarik mundur dari Mesir, kekuasaan jatuh ke tangan seorang penjahat besar yang merusak Dunia Islam, yakni Muhammad Ali Basya. Ia mengirim beberapa kelompok misi kebudayaan ke Prancis untuk mempelajari hukum dan perundang-undangannya.

Putra-putra Mesir yang diberangkatkan ke Prancis saat itu, pergi membawa dua syahadah, dan kembali hanya membawa satu syahadah. Pergi membawa dua syahadah (kesaksian) Lâ ilâha illallah Muhammadur rasulullah kemudian kembali ke Mesir membawa satu syahadah (gelar Diploma atau ijazah) yaitu mereka adalah alumnus suatu fakultas di Universitas Prancis, atau dari suatu akademi bahasa Prancis, dan sebagainya.

BACA JUGA  Ustadz ABB Bertemu Cak Nun, Ini Yang Dibahas

Di antara mereka yang dikirim ke Prancis adalah seorang alumnus Al Azhar bernama Rifa’ah Ath-Thahthawi. Di sana, ia membuang surbannya dan mencuci Islam dari otaknya. Kemudian setelah kembali ke Mesir, ia memberikan nasihat kepada Muhammad Ali Basya supaya mau mengadopsi sistem perundang-undangan Prancis. Ia menulis sebuah buku untuk Muhammad Ali Basya yang diberi judul, “Talkhish al Bariiz” (Emas murni dari hasil penyaringan budaya Prancis di Paris). Mulai saat itulah mereka mulai mem-preteli hukum-hukum Islam.

Syaikh Abdullah Azzam memberikan perumpamaan bagaimana mereka memodifikasi hukum Islam

“Ibarat Islam itu sebuah jam, mereka melepas satu persatu komponennya dari bawah setiap hari, kemudian menggantikannya dengan komponen Prancis. Tetapi mereka tidak mengganti kacanya, tidak mengubah rangkanya, atau jarum-jarumnya, sehingga lahirnya, jam itu masih tampak asli, padahal komponennya telah berubah semua,” jelas syaikh di Tarbiyah Jihadiyah.

Itulah yang terjadi saat ini. Syiar-syiar Islam tetap ditegakkan. Puasa Ramadhan masih berjalan, bahkan kuota haji ditambah dan didirikan badan-badan pengelola zakat. Masjid-masjid tetap dibangun tetapi inti ajaran Islam diubah secara total, sedang tidak sedikit umat Islam yang tidak menyadarinya.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat