Distorsi Makna Rahmatan Lil Alamin

Aplikasi Penjagaan Maslahat Dalam Islam

Hifdz ad-din dilihat dari keharusan untuk mewujudkannya (jihat al-wujud) seperti perintah untuk beriman kepada Allah, mencintai-Nya, mengagungkan-Nya, mengetahui nama-nama dan sifat-Nya. Kemudian kewajiban untuk berpegang teguh kepada Islam, mempelajari serta mendakwahkannya. Sedangkan dari sisi harus meniadakannya (jihat al-‘adam), ada perintah untuk berhati-hati terdahap perkara riya’, perintah untuk menjauhi bid’ah dan memerangi para pelakunya, perintah untuk memerangi orang-orang murtad. Masalah ini berkaitan erat dengan perkara-perkara yang bersifat i’tiqadiyah (keyakinan).

Hifdz an-nafs dilihat dari jihat al-wujud, aplikasinya seperti kebolehan untuk memakan hal-hal yang diharamkan dalam keadaan darurat dan perintah untuk mencari nafkah. Dari jihat al-‘adam  haramnya membunuh jiwa yang tidak bersalah dan kewajiban untuk melakukan qishash.

Hifdz al-‘aql dilihat dari jihat al-wujud adanya perintah syari’at untuk mengikuti petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah, sebab akal tidak bisa membedakan antara baik dan buruk kecuali atas bimbingan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Sedangkan dari jihat al-‘adam keharaman berjudi, nyanyian, melihat hal-hal yang diharamkan, keharaman khamer, ganja, dan jenis-jenis narkoba lainnya

Hifdz an-nasl dilihat dari jihat al-wujud adanya anjuran untuk menikah, keharusan adanya saksi dalam pernikahan dan perintah untuk menafkahi keluarga. Sedangkan dari jihat al-‘adam adanya larangan untuk berzina dan adanya ketetapan hukum syari’at bagi bagi pezina, larangan untuk mencerai istri kecuali dalam keadaan darurat, keharaman menyingkap aurat dan memandang yang bukan mahram, haramnya ikhtilath antara laki-laki dan perempuan, serta keharaman meremehkan pendidikan anak.

BACA JUGA  Praperadilan HRS: Delik Umum Tak Bisa Digabung Delik Khusus

Yang terakhir adalah hifdz al-maal, dilihat dari jihat al-wujud kewajiban untuk bekerja dan berusaha, kewajiban untuk menjaga harta yang menjadi tanggungan, anjuran untuk bershadaqah, kebolehan jual beli dan berhutang. Dari jihat al-‘adam haramnya merampas harta, mencuri dan adanya ketetapan hukuman bagi pencuri, perintah mempertahankan harta benda jika dirampas, haramnya merusak harta dan menghilangkan harta milik orang lain tanpa sebab. (Maqashid as-Syari’ah ‘Inda Ibn at-Taimiyyah, 445-487).

Inilah maslahat universal yang dikehendaki oleh syari’at. Jika semua maslahat itu terwujud secara sempurna, maka Islam akan menjadi rahmatan lil ‘alamin. Letak rahmatan lil ‘alaimin-nya pada  maslahat yang terkandung dalam syari’at Islam yang bukan hanya diakui oleh agama Islam saja, tetapi oleh semua agama. (al-Muwafaqat, 1/31).

Akan tetapi, dalam mewujudkan semua maslahat diatas harus terakomodir oleh sistem yang berasal dari Islam, ia tidak akan sempurna ketika diatur oleh sistem yang notabene bukan dari Islam. Akan banyak maslahat yang hilang karena tidak bisa diterapkan dalam sistem tersebut, padahal Allah tidak menghendaki demikian. Perintah Allah jelas untuk totalitas dalam beragama:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara sempurna dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu. (QS. al-Baqarah: 208).

BACA JUGA  Sidang Praperadilan HRS, Pengacara Ajukan Saksi Fakta dan Ahli Pidana

Maka rahmatan lil ‘alamin, bukan melulu bicara soal toleransi dan intoleransi, soal kehidupan antar agama dalam bernegara, atau soal kearifan lokal, tapi mencakup seluruh syari’at secara global dan terperinci. Rahmatan lil Alamin akan terwujud ketika syari’at Islam dilaksanakan secara kaafah (sempurna) dibawah payung sistem Islam yang bernama khilafah a’la minhaj an-nubuwah. Wallahu a’lam.

Penulis: Ashabul Yamin

Editor : Abu Absi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat