Bentrokan Demo Santa Clara Dipicu Provokasi

KIBLAT.NET, Bekasi – Unjuk rasa menentang pendirian Gereja Santa Clara, Bekasi pada Jumat (24/03) diwarnai kericuhan. Aksi damai berujung bentrok setelah ada provokasi.

Aksi menolak pendirian Gereja Santa Clara diinisiasi oleh ulama dari Pondok Pesantren At-Taqwa Bekasi. Ajakan untuk aksi damai menolak pendirian rumah ibadah ilegal itu pun disebarkan melalui pesan berantai di media sosial.

“Kemarin kita aksi kesepakatan aksi damai, kemudian berangkat dari pesantren sekitar jam setangah dua,” kata wakil koordinator lapangan aksi damai menolak Gereja Santa Clara, Ustadz Aang Kunaifi kepada Kiblat.net, Sabtu (25/03).

Aang menjelaskan pihaknya telah melaporkan rencana pelasanaan aksi damai itu, dan telah mengantongi izin dari pihak kepolisian. Pihaknya pun melakukan sosialisasi melalui media sosial dan radio terkait rencana demo itu.

Rencana awal, aksi tersebut berupa tabligh akbar di depan Gereja Santa Clara, isinya berupa orasi dari para tokoh. Sesampainya di lokasi, rombongan dari pesantren disambut ribuan jemaah dari berbagai ormas yang telah terlebih dahulu tiba di sekitar gereja. “Kita tidak mau masuk sebenarnya,” ujar Aang.

Situasi berubah ketika mobil orasi yang membawa sound system berusaha maju ke barisan depan. Mobil itu sedianya akan berada di tengah-tengah, antara pagar gereja dengan peserta aksi damai. Menurut Aang, saat itulah muncul provokasi yang datang dari arah aparat.

“Tiba-tiba dari pihak kepolisian sudah mulai melempar sesuatu. Awalnya mereka cuma melempar semacam botol minuman, tiba-tiba ada yang menembak gas air mata,” ungkapnya.

BACA JUGA  Harun Yahya Divonis Penjara 1.075 Tahun

Aang menjelaskan tembakan gas air mata pertama itu sebenarnya hanya berada di area aparat. Mendengar ada suara tembakan, kerusuhan di tengah massa tak bisa dielakkan. Peserta aksi segera merangsek ke arah aparat yang mengamankan aksi.

Massa seketika bergerak maju. Aang menegaskan bahwa peserta aksi hanya melemparkan botol-botol air minum sebagai tindakan balasan. “Cuma anehnya, kita dilempari dengan batu, bekas semen, batu bangunan dari dalam gereja sampai banyak yang luka anak-anak kita,” terangnya.

Sejumlah peserta aksi mengalami luka dalam bentrokan itu, termasuk yang mengalami luka di bagian mata hingga robek di bagian kepala. Sedikitnya, sebanyak tujuh orang mengalami luka-luka dalam insiden itu. Aang mengaku tak dapat menghitung peserta yang mengalami luka ringan akibat bentrokan.

“Sementara berita yang beredar di media massa, yang jadi korban hanya polisi. Selalu diputar balikkan faktanya,” pungkas Aang.

Reporter: Imam S.
Editor: Wildan Mustofa

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat