... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Pro Kontra Menyolatkan Jenazah Pemilih Pemimpin Kafir

Foto: Spanduk Tidak Menyalatkan Jenazah Pendukung Pemimpin Kafir

KIBLAT.NET – Dalam sebuah perjalanan aksi 112 di masjid Istiqlal, penulis pergi bersama seorang teman. Di atas kereta, teman penulis bertanya, kira-kira kalau bapak saya meninggal, bolehkah saya menyolatkannya? Penulis bertanya, “Memangnya ada apa dengan bapak antum?”. Dia bilang kalau bapaknya pendukung pemimpin kafir.

Tidak berapa lama setelah kejadian tersebut spanduk-spanduk tidak menyalatkan jenazah pendukung pemimpin kafir mulai ramai di beberapa masjid Jakarta. Tertulis, “Masjid ini mensholatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama”.  Masjid demi masjid seakan berlomba untuk memasang spanduk semisal.

Sampai pada suatu ketika media mainstream menaikkan sebuah berita tentang seorang nenek yang tidak disholatkan karena mencoblos pemimpin kafir saat pilkada beberapa waktu lalu. Framingnya pun menyudutkan umat Islam.

Penulis sendiri memahami kenapa spanduk itu dibuat. Sebagai penyadaran dan memberikan efek jera kepada pendukung pemimpin kafir. Inisiatif spanduk tersebut berangkat dari surat An-Nisaa 138 yang menyebutkan hanya orang munafik yang memilih pemimpin kafir. Sementara di dalam surat At-Taubah 84 dijelaskan larangan menyolatkan orang munafik.

Di sini terjadi penghakiman/vonis nifak terhadap muslim yang memilih orang kafir sebagai pemimpin. Apakah sesederhana itu memvonis orang sebagai munafik? Terlebih vonis itu dilakukan tanpa pengkajian dahulu terhadap objek vonis.

Munafik dan Cara Rasul Menyikapinya

Sebelum kita membahas lebih lanjut, ada baiknya kita memahami dulu apa itu munafik. Imam Al Jurjani di dalam At Ta’rifaat berkata, “Munafik adalah yang menyembunyikan kekufuran di dalam hati dan menampakkan iman secara lisan.” (At Ta’rifat 1/298)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Munafik adalah orang yang keluar dari keimanan secara batin setelah dia masuk Islam secara zahir.” (Majmu Al Fatawa 7/300)

Kalau kemunafikan itu letaknya di hati, lantas bagaimana kita mengetahui kenifakan seseorang? Nah, ada baiknya kita membahas bagaimana Islam mengajarkan kita dalam menilai dan memandang seseorang.

BACA JUGA  KOKAM Siap Terlibat di Palestina

Ada sebuah kaidah di dalam Islam yang berbunyi, ‘Kami menghukumi apa yang tampak bagi kami dan adapun yang tidak tampak, kami serahkan kepada Allah.’ Ini adalah kaedah besar dalam menghukumi seseorang.

Penilaian terhadap seseorang di dalam Islam didasarkan pada hal yang kasat mata dan terindra. Bukan berdasarkan syak dan prasangka. Dasar dari kaidah ini adalah hadits dari Usamah bin Zaid. Beliau berkata, “Suatu ketika saya diutus oleh Rasulullah dalam sebuah ekspedisi. Pada pagi hari di Haraqot Juhainah saya mendapati seorang laki-laki. Kemudian laki-laki tadi mengucap lailaaha illallah. Tapi, saya tetap menusuknya. Hal ini mengganjal dipikiran saya, dan saya ceritakan kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Beliau berkata, “Apakah kamu tetap menusuknya (baca:membunuhnya) setelah dia mengucap laailaaha illallah? Saya berkata, “Wahai rasulullah, dia mengucapkannya hanya karena takut akan pedang (dibunuh).” Beliau berkata, “Kenapa tidak engkau belah hatinya hingga engkau tahu hatinya mennyatakan keimanan atau tidak.” Dan beliau terus mengulang pertanyaan itu sehingga saya berharap saya masuk Islam saat itu.” (HR Bukhori dan Muslim)

Imam An Nawawi berkata, “Sesungguhnya kamu ditugasi untuk bertindak atas apa yang tampak dan diucapkan oleh lisan. Sementara permasalahan hati, kamu tidak memiliki cara untuk mengetahuinya. Maka Rasulullah mengingkari keengganan Usamah bin Zaid yang enggan menghukumi secara zahir dengan berkata, “Sudahkah engkau belah perutnya?” (Syarh Shohih Muslim 2/107)

Ibnu Taimiyah berkata, “Karena Iman yang zahir padanya hukum dunia berlaku tidaklah sama dengan iman yang ada di batin yang bisa menjadikan pemiliknya selamat di akhirat.” (Al Iman : 197)

Beliau melanjutkan, “Oleh karena itu Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- menghukumi orang-orang munafik berdasarkan zahir mereka. Padahal Nabi mengetahui kemunafikan mayoritas mereka. Hal ini dilakukan Nabi guna menegaskan sebuah kaedah besar yaitu, mereka secara zahir mukmin, mereka sholat, puasa, haji, berperang dan mereka saling menikahkan dan mewarisi. Nabi tidak menghukumi kaum munafik sebagaimana kafir yang menampakkan kekufurannya.” (Al Iman : 198)

BACA JUGA  Raja Salman Tunjuk Anaknya Jadi Putra Mahkota Baru Arab Saudi

Di dalam nukilan di atas jelas bahwa walaupun Nabi mengetahui orang-orang munafik di Madinah, tetapi Nabi memperlakukan mereka layaknya orang beriman. Selama mereka tidak menampakkan kenifakannya. Ini menjadi poin penting pada pembahasan ini.

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa menjadikan orang kafir sebagai pemimpin adalah ciri orang munafik sebagaimana firman Allah dalam surat  An Nisa’ Ayat 138 -139. Allah SWT berfirman :

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Artinya, “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS An Nisa’ 138-139).

Sementara di dalam surat At-Taubah ada larangan untuk menyolatkan orang munafik. Allah SWT berfirman :

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Artinya, “Jangan kalian menyolati seseorang dari mereka (Munafik) dan jagan kalian berdiri di kuburan mereka (mendoakan). Sesungguhnya mereka telah kufur kepada Allah dan rasul-Nya dan meninggal dalam keadaan fasik.” (QS At Taubah 84)

Apakah berbekal 2 ayat ini, setiap orang yang mencoblos (memilih) calon non muslim bisa langsung divonis munafik sehingga tidak boleh disholatkan?

Baca halaman selanjutnya: Vonis Nifak yang Salah Alamat...

Halaman Selanjutnya 1 2 3
... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Demo Santa Clara, Polisi Tembaki Massa Umat Islam dengan Gas Air Mata

Aksi demonstrasi menolak pembangunan gereja Santa Clara berawal dari dugaaan adanya pelanggaran izin dan adminsitrasi, seperti pemalsuan tanda tangan.

Jum'at, 24/03/2017 17:32 0

Indonesia

Solidaritas Ibu Fatmi, Massa Kamisan Tuntut Jokowi Tutup Izin Semen Indonesia

Puluhan massa berkumpul di depan Gedung Sate, Bandung, pada Kamis sore, (23/03). Massa menuntut agar presiden Joko Widodo mencabut izin Pabrik Semen Indonesia.

Jum'at, 24/03/2017 17:30 0

Suriah

Pejuang Suriah Rebut Desa Baru di Hama Tanpa Pertempuran, Ini Sebabnya

pejuang mengirim tiga bom mobil ke desa tersebut. Ternyata, serangan itu membuat mental militer Suriah jatuh dan melarikan diri sebelum bertempur.

Jum'at, 24/03/2017 17:05 0

Video Kajian

Khutbah Jum’at : Mereka yang Dicintai Allah (Ust. Dr. Anung Al Hamat, Lc. M.Pd.I)

KIBLAT.NET – Dalam hadits Rosulullah SAW bersabda yang artinya : “Jika Allah SWT telah mencintai...

Jum'at, 24/03/2017 16:41 0

Amerika

NATO Tuding Taliban Dapat Pasokan Senjata dari Rusia

Propaganda Amerika Serikat terhadap Taliban kian gencar. Seorang jenderal AS bahkan mengeluarkan pernyataan bahwa Rusia memasok senjata kepada Taliban untuk melawan pasukan Amerika dan NATO di Afghanistan.

Jum'at, 24/03/2017 16:20 0

Afghanistan

Taliban Rebut Distrik Sangin di Helmand, Tewaskan 100 Lebih Pasukan NATO

Pejuang Taliban pada Kamis (23/03) merebut distrik strategis di Sangin, wilayah Helmand, Afghanistan selatan. Hal ini menandai kemajuan Taliban di wilayah Helmand yang beberapa waktu lalu merebut distrik Lashkar Gah.

Jum'at, 24/03/2017 15:38 0

Irak

Gempuran Sporadis Jet AS dan Militer Irak Sebabkan Ratusan Warga Mosul Tewas

Sumber petugas Pertahanan Sipil Mosul melaporkan kepada Al-Jazeera, Kamis (23/03), pihaknya telah mengevakuasi sebanyak 214 jenazah warga sipil dari reruntuhan bangunan di Mosul barat. Ratusan korban ini dari tiga lingkungan di kawasan Mosul barat, yang menyaksikan pertempuran sengit antara pasukan ISIS dan militer pemerintah yang didukung milisi Syiah serta koalisi AS.

Jum'at, 24/03/2017 15:00 0

Artikel

Kelompok-kelompok Jihadis di Sahel Afrika Saling Melebur, Mimpi Buruk bagi AS dan Barat

Di awal Maret ini, kelompok jihadis Ansharuddin, AQIM (Cabang al-Qaidah di Afrika Sahara), Al-Murabithun, dan Katibah Macina (yang juga dikenal sebagai Front Pembebasan Macina) dilaporkan saling meleburkan diri dan membentuk entitas kelompok jihadis baru yang lebih besar bernama Jamaah Nusrah al-Islam wal Muslimin (JNIM).

Jum'at, 24/03/2017 14:23 0

Indonesia

PWPM Jateng: Kita Seperti Hidup di Negara Asing

"Saya prihatin. Kita sekarang merasa hidup di tengah-tengah hidup negara asing. Lebih dari 80 persen aset penting yang berkaitan hajat hidup orang-orang banyak dikuasai oleh bangsa asing," tegasnya saat orasi di depan Gedung KPK, Jakarta pada Jumat (24/03).

Jum'at, 24/03/2017 12:54 0

Indonesia

Desak Usut Uang 100 Juta Siyono, Dahnil Ajak Ketua KPK Salat Jumat Bersama

"Nanti ada Salat Jumat. Kami undang KPK untuk Salat Jumat," ungkap Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Jum'at, 24/03/2017 11:40 0