... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Biadab! Kekerasan Seksual Telah Digunakan sebagai Taktik Penindasan di Suriah

Foto: Perempuan Suriah berjalan di antara bangunan hancur di lingkungan Jouret al-Syiah, Homs, yang dikuasai pemerintah Suriah. (Foto:AFP/Louai Beshara)

KIBLAT.NET – Perkosaan sistematis, kekerasan seksual dan pelecehan telah dilakukan oleh pasukan propemerintah di Suriah, selama konflik berlangsung. Sebuah laporan baru dari Pusat Kajian Perempuan, Perdamaian dan Keamanan London School of Economics telah mendokumentasikan pola kekerasan seksual terhadap perempuan oleh pasukan propemerintah Suriah antara 2011-2014.

Berdasarkan lebih dari 70 wawancara dengan 20 korban perkosaan, mantan tahanan di penjara pemerintahan, dokter, pengacara dan pembelot dari aparat keamanan pemerintah, temuan menunjukkan pemerkosaan telah digunakan secara sistematis oleh pihak berwenang Suriah. Cara ini dipakai untuk menindas perempuan yang dianggap bersekutu dengan oposisi.

Marie Forestier yang membuat laporan tersebut dalam wawancaranya dengan Syria Deeply menjelaskan bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan oleh pasukan pro-rezim Suriah adalah bagian dari kebijakan represi pemerintahan Basyar Assad.

“Ada pola yang jelas tentang korban, pelaku dan konteks dari kesaksian korban. Mereka menunjukkan bahwa perkosaan dalam konflik Suriah bukan kejahatan oportunistik atau terisolasi (isolated crime), melainkan bagian dari kebijakan represi pemerintah.”

Pada sebagian besar orang yang ia wawancarai, pasukan pro-pemerintah menargetkan perempuan yang dianggap terkait dengan oposisi. Contohnya mereka yang menjadi relawan kemanusiaan atau menyimpan gambar bendera oposisi Suriah di telepon genggamnya. Ini sudah cukup untuk dianggap terkait dengan oposisi, bahkan lebih sering disebut sebagai aktivis atau anggota dari kelompok bersenjata. Perempuan yang tidak terlibat dalam setiap jenis kegiatan politik, tetapi tinggal di lingkungan oposisi juga dianggap prooposisi.

BACA JUGA  Berdampak Negatif, Faksi Oposisi Suriah Larang Anggota Bermain Game PUBG

Menurut temuannya, perkosaan terjadi selama serangan di kubu oposisi, di sela-sela interogasi di penjara dan di pos pemeriksaan. Dari penelitian tersebut, kejahatan seksual lebih sering terjadi di wilayah pesisir dan provinsi-provinsi tengah Homs dan Hama.

Kesaksian yang dikumpulkan menunjukkan bahwa kekerasan seksual di penjara telah terorganisir. Berdasarkan kesaksian korban yang selamat, itu dilakukan oleh agen keamanan. Mereka mendistribusikan pil kontrasepsi setiap hari dalam tiga tahanan yang berbeda dan dijalankan oleh intelijen Suriah. Salah satu kasus, seorang dokter telah dipaksa untuk membantu aborsi pada seorang tahanan setelah diperkosa.

Mayoritas perempuan yang bersaksi diperkosa di pusat-pusat penahanan intelijen. Sebagian besar pelaku adalah pejabat keamanan, dari petugas tingkat rendah sampai direktur cabang intelijen. Seringkali, beberapa agen memerkosa seorang tahanan pada waktu yang sama. Dalam beberapa kasus, direktur memerintahkan bawahannya untuk memperkosa seorang tahanan.

“Perkosaan juga terjadi selama operasi militer dan penculikan. Dari kesaksian yang saya kumpulkan, ada pelaku dari militer serta pasukan paramiliter. Misalnya, pemerkosaan dilaporkan terjadi selama pembantaian terkenal dari al-Houla di Homs Mei pasukan 2012. Paramiliter pro-pemerintah yang dikenal sebagai “Syabihah” menyerbu desa, memperkosa wanita dan membunuh lebih dari seratus orang, hampir setengah dari mereka anak-anak,” ungkapnya.

Forestier menjelaskan bahwa orang-orang yang selamat harus menghadapi beban besar psikologis di lingkungannya. “Banyak orang yang selamat menghadapi hukuman ganda. Mereka tidak hanya telah diperkosa, tetapi banyak juga telah ditolak oleh keluarga mereka. Beberapa wanita mengatakan kepada saya bahwa suami mereka menceraikan setelah mengetahui mereka telah diperkosa. Lainnya kehilangan hak asuh anak-anaknya.”

BACA JUGA  Pro Kontra Qunut Subuh dan Sikap Bijak Para Ulama

Forestier menyarankan bahwa korban harus mendapatkan keadilan dan bahwa pelakunya harus diadili, entah bagaimana mekanismenya. Pemerkosaan tidak seharusnya diperlakukan sebagai kejahatan sekunder atau sebagai masalah yang tidak dapat dihindari dalam perang.
Reporter: Salem
Sumber: Syria Deeply

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video Kajian

Generasi Kebangkitan Islam Menurut Sayyid Quthb

KIBLAT.NET –  Sayyid Quthb merupakan seorang ulama Mesir ternama  yang sudah menulis banyak buku. Banyak...

Rabu, 22/03/2017 09:42 0

Indonesia

Jadi Saksi Pihak Ahok, KH Ahmad Ishomuddin Sebut Sikap Keagamaan MUI Picu Demo

KH Ahmad Ishomuddin juga menyebut sikap keagamaan MUI jadi pemicu laporan masyarakat terkait penistaan agama yang dilakukan Ahok

Rabu, 22/03/2017 09:15 0

Indonesia

Yayasan Keadilan Untuk Semua Sambut Positif Kedatangan IHH

Kedatangan IHH ke Indonesia memperjelas bahwa tuduhan Kapolri soal dana GNPF MUI disalurkan ke kelompok teroris tidak benar

Rabu, 22/03/2017 08:12 0

Indonesia

Merasa Terganggu Atas Tuduhan Kapolri, Alasan IHH Datang Ke Indonesia

Kapolri diminta klarifiksi pernyataan yang menuduh IHH salurkan dana bantuan kemanusiaan ke kelompok teroris di Suriah

Rabu, 22/03/2017 07:39 0

Indonesia

DPR Minta Kepolisian Teliti Soal IHH

DPR akan segera menyurati Kapolri soal informasi tentang IHH

Rabu, 22/03/2017 07:24 0

Indonesia

Fadli Zon: Hubungkan IHH dengan Teroris, Suatu Hal yang Berbahaya

Fadli Zon: Hubungkan IHH dengan Teroris, Suatu Hal yang Berbahaya

Selasa, 21/03/2017 20:08 0

Indonesia

IHH Temui DPR RI Klarifikasi Tuduhan Dana Teroris

Oleh karena itu, Fadli Zon mengaku akan mengirimkan surat kepada kepolisian tentang klarifikasi dan keberatan yang dilayangkan oleh IHH.

Selasa, 21/03/2017 19:28 0

Manhaj

Kata Siapa Syariat Islam Kejam?

Selama ini penerapan syariat islam sering dipahami sebatas penegakkan hudud (hukum pidana Islam). Syariat hanya digambarkan dengan hukuman cambuk, potong tangan, rajam, pancung dan sebagainya. Sepertinya kejam sekali. Maka tak heran jika kemudian ada anggapan di beberapa kalangan awam bahwa hukum Islam diskriminatif dan tidak manusiawi. Pemahaman seperti ini sengaja dihembuskan oleh mereka yang tidak menginginkan syariat Islam tegak.

Selasa, 21/03/2017 19:15 0

Indonesia

Ruby Sempat Mengaku Tak Ada Diskriminasi, Komnas HAM: Akan Kita Investigasi

Terkait hal ini, Komisioner Komnas HAM, Maneger Nasution mengatakan bahwa ia akan menindaklanjuti konferensi pers tersebut, dikarenakan tidak adanya kuasa hukum dari Ruby. Jika memang ada intimidasi dalam konferensi pers tersebut, hal itu patut disayangkan.

Selasa, 21/03/2017 16:40 0

Indonesia

Bantah Lakukan Perusakan, LUIS Malah Bantu Korban Penyerangan Social Kitchen

Sekjen LUIS menyatakan bahwa dalam SOP tak boleh ada perusakan

Selasa, 21/03/2017 15:19 0

Close