... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Pakar Fiqih: Spanduk Tak Salatkan Jenazah Pemilih Pemimpin Kafir Tidak Salah

Foto: DR. Ahmad Zain An-Najah

KIBLAT.NET, Jakarta – Spanduk yang dipasang di sejumlah masjid di ibukota Jakarta berisi menolak menyalatkan jenazah pendukung penista agama dan pemilih pemimpin non Muslim menuai kontroversi. Sejumlah pihak memandang sikap itu berlebihan. Di lain sisi, putusan itu dianggap tepat untuk memberi pembelajaran dan peringatan kepada warga Muslim untuk kembali ke jalan yang benar.

Dalam hal ini, Doktor Syariah Universitas Al-Azahar Kairo, Dr Ahmad Zain An-Najah, menjelaskan bahwa kebijakan sejumlah masjid tersebut tidak salah menurut pandangan fiqih. Hal itu karena hukum salat jenazah Fardlu Kifayah. Artinya, jika sudah disalatkan oleh sebagian masyarakat, kewajiban warga lain gugur.

“Spanduk yang dipasang di masjid-masjid untuk tidak menyalatkan pendukung penista agama dan pemilih pemimpin non Muslim tidak salah dalam pandangan fiqih,” ujarnya saat dihubungi Kiblat.net, baru-baru ini.

Ketua Majelis Fatwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ini menunjukkan bahwa spanduk yang dipasang itu tidak melarang keluarga atau warga lain menyalatkan. Isi tulisannya hanya mengatakan bahwa pengurus atau masjid tidak menyalatkan jenazah pendukung penista agama dan pemilih pemimpin non Muslim.

Ia pun melanjutkan bahwa spanduk-spanduk itu tidak mengharamkan menyalati mayit pendukung penista agama atau pemilih pemimpin kafir. Kata yang digunakan hanyalah “tidak menyalatkan”, bukan “haram menyalatkan”.

Lebih lanjut, Direktur Pesantren Tinggi Al-Islam Bekasi ini menjelaskan bahwa tidak menyalati mayit merupakan hak. Orang yang tidak ikut menyalati bukan berarti dia menganggapnya haram.

BACA JUGA  Editorial: Menyerta Ulama Usai Pilkada

“Hal itu juga tidak berlaku hanya bagi pendukung penista agama atau pemilih calon pemimpin non Muslim. Jika pemilih pemimpin Muslim diperlakukan demikian pun dalam pandangan fiqih tidak apa-apa. Itu hak warga,” terangnya.

Pengisi tetap di sejumlah masjid dan majelis taklim di ibukota ini pun menyayangkan pernyataan sejumlah tokoh Islam dan politik terkait masalah ini. Pernyataan-pernyataan tersebut, katanya, seakan menegaskan menyalati jenazah hukumnya Fardlu Ain, wajib bagi setiap individu.

Tak Semua Pemilih Pemimpin Kafir Munafik

Terkait hukum menyalatinya, ayah empat anak ini menerangkan harus dirinci terlebih dahulu. Apakah yang bersangkutan memilih pemimpin non Muslim karena munafik, cinta dunia, takut atasan atau karena tidak paham. Jadi, tidak semua pemilih pemimpin kafir itu munafik.

Variable-variable ini memiliki konsekuensi hukum masing-masing. Namun sekali lagi, tegasnya, permasalahan menyalati jenazah itu adalah hak masing-masing. Yang tidak dibolehkan adalah berfatwa mengharamkan menyalati jenazah mereka.

Ustadz yang juga aktif menulis buku ini menekankan bahwa penjelasan di atas baru dalam persfektif fiqih. “Namun hal ini belum dilihat dari pandangan politik dan sosial,” imbuhnya.

Dari sisi politik, dibantah atau tidak, kebijakan pengurus masjid itu pasti bersinggungan dengannya. Oleh karena itu, banyak pihak menilai spanduk itu kampanye, provokasi dan intimidasi karena dianggap mendukung salah satu pasangan calon.

Pasangan calon gubernur Muslim pun pasti diuntungkan sementara pasangan non Muslim dirugikan. Maka, pihak yang merasa diuntungkan pasti setuju dengan spanduk ini dan pihak yang merasa dirugikan tidak setuju.

BACA JUGA  Istri Pengurus Masjid Al-Mukminun Bantah Warga Tolak Salati Jenazah Nenek Hindun

Sementara dari pandangan sosial, sikap semacam ini dikategorikan takzir (sanksi), yang tidak terkait dengan hukum syariat. Pendiri Pusat Kajian Fiqih dan Ilmu Islam (Puskafi) ini pun berperangsangka baik bahwa kebijakan tidak menyalatkan bertujuan sebagai sanksi sosial.

“Tujuannya mungkin dalam rangka mendidik masyarakat,” ujarnya. Apakah sanksi itu bisa membuat efek jerah atau tidak, itu tinggal dilihat praktiknya. Masyarakat diharapkan kembali ke jalan yang benar untuk memilih pemimpin Muslim melalui upaya ini. Ini dampak positif.

Di sisi lain juga terdapat dampak negatif dari sisi ini. Yaitu, munculnya kegaduhan dan perpecahan masyarakat. Hal inilah yang oleh pemerintah dijadikan alasan untuk mencopoti spanduk-spanduk tersebut. Namun Ustadz kelahiran Klaten menduga, pencopotan itu juga ada unsur politik.

“Memang, spanduk itu bisa bermata empat, tinggal kita lihat dari sisi mana,” pungkasnya.

Reporter: Sulhi El-Izzi
Editor: Imam S.

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

News

Mengubah Kemungkaran dengan Bacaan Al-Quran

Jika para pengusung kebatilan saja menggunakan seni dalam menghiasi kebatilan mereka dan menyeru kepadanya, para pengusung kebenaran juga harus bersungguh-sungguh dalam berdakwah.

Jum'at, 17/03/2017 11:06 0

Libya

Italia Evakuasi 22 Korban Luka Pasukan Haftar ke Roma

Pemerintah Italia memindahkan sedikitnya 22 prajurit militer yang dikenal Pasukan Nasional Libya pimpinan Mayor Jenderal Khalifah Haftar dari kota Benghazi, Libya timur, ke Italia. Anggota militer itu terluka dalam pertempuran terakhir merebut pelabuhan utama jalur ekspor minyal Libya, pelabuhan Sidra dan Lan Rasuf.

Jum'at, 17/03/2017 10:27 0

Fikih

Boleh Meninggalkan Shalat Jumat Asal…

Salat Jumat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim. Sama seperti ibadah lainnya, Allah tidak memerintahkan sesuatu di luar batass kemampuan hamba-Nya. Sehingga apa pun bentuk kewajibannya, jika ada udzur atau penghalang maka boleh diamalkan semampunya atau tidak diamalkan sama sekali.

Jum'at, 17/03/2017 10:06 0

Suriah

Jet Tempur AS Berada di Balik Serangan Masjid di Aleppo

Militer AS telah melakukan serangan udara di sebuah masjid yang penuh dengan jamaah di provinsi Aleppo pada Kamis (16/03). Setidaknya, lebih dari 300 jamaah berada di masjid tersebut.

Jum'at, 17/03/2017 09:37 0

Video Kajian

Rumah Tangga Vs Akademik ? [Ust. DR. A. Zain An Najah, MA.]

KIBLAT.NET – Salah satu yang menjadi momok menakutkan bagi pembelajar untuk menikah adalah takut akan...

Jum'at, 17/03/2017 08:10 0

Artikel

Awas! Anak Korban Bully Terancam Alami Penyakit Kronis Saat Dewasa

ketika di masa kanak-kanak seseorang sering mendapatkan bullying dari lingkunganya akan menderita masalah kesehatan kronis dan ganguuan kejiwaan

Kamis, 16/03/2017 17:12 0

Info Event

Buruh Lepas Ini Mendadak Stroke, Butuh Uluran Tangan Kita

Yamtono (40) warga desa Dimoro RT 02/2 Tangkisan Tawangsari Sukoharjo ini dikenal warga sebagai sosok yang giat dalam beragama. Yamtono kerap hadir dalam pengajian-pengajian di daerahnya.

Kamis, 16/03/2017 16:23 0

Artikel

Dakwah ‘Salah Alamat’

Untuk itu, penting bagi para da’i jihadis menyadari potensi dakwah 'salah alamat' ini. Pasalnya, musuh-musuh Islam di Indonesia justru menggunakan dakwah salafi irja’i untuk memberangus gerakan perjuangan Islam atau minimalnya menjauhkan umat dari para pejuang Islam.

Kamis, 16/03/2017 16:00 0

Artikel

Ketika Syekh Abdul Qadir Jailani Berbicara Tentang Bid’ah

Bid’ah adalah mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan agama tanpa ada dalil atau contoh dari nabi dan para sahabatnya. Setiap bid’ah pasti berujung kepada kesesatan. Baik itu menambah-nambah syariat atau menguranginya setelah Allah sempurnakan syariat-Nya dalam aqur’an dan as-sunnah. Karena itu, bid’ah merupakan perbuatan yang dibenci dalam islam. Para ulama telah mengingatkan bahaya perbuatan tersebut dalam karya-karya mereka. Salah satunya adalah Syekh Abdul Qodir Jailani.

Kamis, 16/03/2017 15:32 0

Amerika

Beberapa Jam Sebelum Berlaku, Keppres Baru Larangan Imigran Kembali Dibekukan

Hasil revisi perintah eksekutif (keppres) Donald Trump tentang larangan imigran (travel ban) kembali dibekukan.

Kamis, 16/03/2017 14:43 0