... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Pasukan Khusus Rusia Dilaporkan Berada di Perbatasan Mesir-Libya

KIBLAT.NET, Kairo – Hanya sehari setelah pejabat-pejabat tinggi AS menyinggung soal dukungan Rusia terhadap pemimpin Tentara Nasional Libya, Jenderal Khalifa Haftar, terdapat sejumlah laporan dari Reuters bahwa Rusia telah mengerahkan satu unit pasukan khusus ke satu wilayah di Mesir bagian barat, dekat dengan Libya.

Para pejabat Mesir sendiri dilaporkan mengklaim sudah ada 22 personil anggota pasukan khusus Rusia yang ditempatkan, namun mereka enggan berkomentar secara detil terkait misi serdadu Rusia tersebut. Apa latar belakang dan untuk apa sebenarnya militer Rusia itu berada, termasuk bagaimana rencana keterlibatan mereka selanjutnya di Libya hingga saat ini masih sangat spekulatif. Pasukan khusus Rusia dikenal dengan nama Spetnaz yang begitu ditakuti, namun pada dekade 1980-an pasukan elit Beruang Merah ini dipecundangi oleh mujahidin di medan tempur Afghanistan.

Ada kemungkinan Jenderal Haftar yang sudah lama menjadi aset sekaligus agen CIA ini sedang berusaha memperoleh dukungan dari Rusia. Dalam beberapa bulan terakhir, Jenderal Haftar bersama pasukannya mati-matian bertempur melawan aliansi jihadis yang tergabung dalam Brigade Pertahanan Benghazi untuk merebut terminal ekspor minyak di Ras Lanauf. Brigade Pertahanan Benghazi adalah aliansi kekuatan Islamis-Jihadis, termasuk elemen-elemen al-Qaidah yang merupakan efek alamiah dari Arab Spring di Libya. Pada bulan Juli 2016, aliansi ini dilaporkan menembak jatuh sebuah helikopter militer Perancis menewaskan seluruh awaknya.

BACA JUGA  Perdana Menteri Sipil Pertama Sudan Umumkan Kabinet Masa Transisi

Soal keberadaan pasukan Rusia ini ada satu hal yang janggal, bahwa di saat pejabat-pejabat Mesir secara tidak resmi mengkonfirmasi pengerahan pasukan Rusia, justru juru bicara militer menyangkal sama sekali tidak ada pasukan asing di Mesir. Pernyataan jubir militer ini jelas keliru karena AS dan sejumlah negara lainnya telah diketahui secara luas menempatkan tentaranya di Mesir selama beberapa tahun terakhir.

Meskipun AS tidak suka apabila Rusia mendukung Jenderal Haftar untuk merebut terminal ekspor minyak, namun AS juga tidak terlihat mem-backup pasukan “pemerintah persatuan” pimpinan Haftar di medan pertempuran menyusul kekalahan Haftar dengan lepasnya wilayah di sekitar terminal minyak Ras Lanauf. Sejumlah pihak melihat tewasnya duta besar Amerika, Christopher Stevens, dalam insiden di Benghazi tahun 2012 lalu masih menjadi mimpi buruk AS sehingga enggan mengerahkan pasukan secara langsung untuk mendukung Jenderal Haftar melawan jihadis.

Reporter: Yasin Muslim
Editor: Antiwar

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

DDII Bantah Keluarkan Fatwa Resmi Larangan Menyalati Mayit Pendukung Pemimpin Kafir

DDII tidak bertanggung jawab terhadap penyebaran itu. Itu hanya tulisan pribadi atau draft yang belum matang

Rabu, 15/03/2017 09:55 0

Video Kajian

Ust. Farid Okbah, MA.: Agar Selamat Jalanmu

KIBLAT.NET – Ust. Farid Okbah, MA.: Agar Selamat Jalanmu. Orang-orang mukmin adalah orang-orang yang disebut...

Rabu, 15/03/2017 09:25 0

Indonesia

Sistem Pengawasan Kinerja Densus Tak Ada, Kasus Siyono Berpotensi Terulang

kait masalah Terorisme, Yati mengatakan bahwa penanganan terorisme selama ini oleh aparat penegak hukum masihlah kurang tepat. Banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam penindakkannya.

Rabu, 15/03/2017 01:00 0

Indonesia

Tim Andvokasi GNPF MUI Nilai Saksi yang Dihadirkan Ahok Nggak Nyambung

"Sebenarnya juga tidak ada relevansinya juga saksi dihadirkan kalau hanya sebatas membahas kejadian masa lampau yang sebelum penodaan agama di dakwakan. Jadi itu nggak ada hubungannya," katanya kepada Kiblat.net di Gedung Kementrian Pertanian Jakarta Selatan pada Selasa (14/03).

Rabu, 15/03/2017 00:30 0

Indonesia

Saksi dari Bangka Belitung Buktikan Niat Ahok Nodai Agama Sudah Sejak Lama

Koordinator pengawalan sidang Ahok dari Tim Advokasi GNPF-MUI, Nasrullah Nasution menilai bahwa niat Ahok untuk menodai Al-Quran sudah ada sejak lama.

Selasa, 14/03/2017 18:48 0

Indonesia

Pemerintah Disarankan Bermusyawarah, Bukannya Revisi UU Ormas

La Ode menyebut revisi UU Ormas itu penting terkait dengan proses pendaftaran ormas yang belum terintegrasi dengan baik. Ada pula potensi ormas-ormas yang menjadi wadah berkembangnya paham yang berlawanan dengan Pancasila.

Selasa, 14/03/2017 18:00 0

Suara Pembaca

Tutup Musyawarah Kerja Yayasan Amanatul Ummah, Ini Pesan Wakil Bupati Poso

Melalui kesempatan tersebut Wakil Bupati Poso juga berpesan kepada jajaran Yayasan Wakaf Amanatul Ummah agar tetap konsisten dengan tugas mulia yayasan.

Selasa, 14/03/2017 17:03 0

Info Event

Asah Kemampuan Jurnalistik dan Kepenulisan, FPM STAI Denpasar Gelar Seminar

Kegiatan Seminar Jurnalistik dan Kepenulisan ini didukung penuh oleh Kampus STAI Denpasar dan Kominfo DEMA STAI Denpasar. Diakhir acara para peserta yang beruntung mendapatkan merchandise buku dari Muhammad Taufik Maulana.

Selasa, 14/03/2017 16:23 0

Indonesia

Saksi Ahok Ungkit Kekalahan di Pilkada Babel dalam Sidang Penistaan Agama

Nasrullah juga menegaskan bahwa jika Ahok dan tim penasehat hukumnya membawa permasalahan Pilkada di Bangka Belitung dalam sidang penodaan agama tidaklah relevan.

Selasa, 14/03/2017 15:43 0

Indonesia

Sekjen Al-Khairaat Poso: Sabar, Fokus dan Kerja Keras Jadi Kunci Muslim Sukses

Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jendral Al-Khairaat Poso, DR. H. Lukman S. Tahrir, MA dalam materi ceramah ilmiahnya

Selasa, 14/03/2017 14:29 0

Close