... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Berjuang Bersama Ahlul Kiblat

Foto: Umat Islam di Indonesia akan menggelar reuni 212 Jilid II. Momentum Aksi Bela Islam pada 2 Desember 2017. Foto: Ratusan ribu kaum Muslimin berkumpul di lapangan Monumen Nasional saat Aksi 212.

KIBLAT.NET – Salah satu pelajaran berharga yang bisa dipetik kaum muslimin Indonesia dari Aksi Bela Islam 411, 212, dan 112 adalah tumbuhnya kesadaran kaum muslimin untuk bersatu. Mayoritas ormas Islam, jama’ah Islam, dan majlis taklim dengan segala keberagamannya ternyata bisa menyatu dalam aksi-aksi kolosal tersebut. MUI, MIUMI, FPI, Persis, Al-Irsyad, DDII, MMI, Wahdah Islamiyah, Hasmi, dan puluhan kelompok Islam lainnya menyatu tanpa sekat.

Kesadaran untuk membela kesucian Al-Qur’an dan melawan kezaliman rezim telah menjadi bahan bakar bagi tumbuhnya ukhuwah Islamiyah antar berbagai elemen umat Islam. Hal itu tentu adalah sebuah nikmat yang sangat agung dari Allah SWT. Betapa Allah SWT dengan kekuasaan-Nya telah menyatukan hati-hati kaum muslimin dari berbagai elemen. Sebelum 411 dan 212, bersatunya berbagai elemen kaum muslimin adalah peristiwa yang sangat sulit dibayangkan akan terjadi.

Sayangnya, dalam suasana bersama-sama membangun ukhuwah Islamiyah dan melawan kezaliman rezim tersebut; muncul di sana-sini suara sumbang. Suara-suara minoritas elemen tersebut mempertanyakan keabsahan momen langka. Momen berkumpul, bersatu, dan bahu-membahunya elemen-elemen muslim dengan beragam latar belakang. Menurut mereka, bagaimana mungkin Ahlus Sunnah harus bersatu dengan Ahlul Bid’ah? Bagaimana mungkin aktivis Islam harus bersatu dengan muslim “nasionalis”? Bagaimana mungkin orang yang berakidah tauhid bersatu dengan orang-orang yang terjerumus dalam syirik?

Menurut mereka, persatuan dan ukhuwah harus dibangun di atas akidah tauhid dan manhaj perjuangan yang sama. Menurut mereka, peristiwa berkumpul, bersatu, bersaudara, dan berjuang bersama dengan elemen-elemen muslim yang beragam latar belakangnya tersebut merupakan penyimpangan dari akidah yang benar dan manhaj yang benar.

BACA JUGA  Peran Ulama dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Berangkat dari keyakinan tersebut, mereka enggan untuk berkumpul, bersaudara, dan berjuang bersama dengan mayoritas elemen muslim tersebut. Mereka memilih untuk mempertahankan eksklusifisme (keelitan) kelompok mereka sendiri.

Menurut mereka, kemenangan Islam hanya bisa diperjuangkan oleh kelompok minoritas yang teguh di atas “kebenaran”. Jika semua anggota kelompok mereka sudah benar akidahnya dan lurus ibadah mahdhahnya, niscaya secara otomatis kejayaan Islam akan tegak. Banyaknya elemen muslim dengan keberagaman pemahaman dan latar belakang mereka, justru dianggap penghalang datangnya pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT. Demikian anggapan sebagian umat Islam tersebut.

Rasulullah SAW Memberi Teladan

Memang benar bahwa kemenangan dan pertolongan dari Allah SWT akan dikaruniakan kepada umat Islam yang istiqamah berjuang di atas kebenaran. Ketabahan, ketegaran, dan kesabaran dalam memegang teguh kebenaran adalah ciri dari elemen Islam yang akan meraih kemenangan. Umat Islam yang mampu melakukan hal itu biasanya berjumlah minoritas. Hadits-hadits mutawatir tentang Ath-Thaifah Al-Manshurah menegaskan hal itu.

Meski demikian, tidak boleh dipungkiri bahwa dalam memperjuangkan tegaknya kemenangan Islam; Rasulullah SAW sendiri merangkul semua elemen umat. Beliau berdamai dan bekerja sama dengan kaum Yahudi dan musyrikin Madinah. Rasulullah SAW bergaul, hidup bersama, dan berjuang bersama dengan orang-orang mukmin dan orang-orang munafik.

Dalam barisan Rasulullah SAW terdapat orang-orang sangat shalih, sebagaimana terdapat para pelaku dosa besar. Di barisan beliau terdapat pejuang-pejuang gigih lagi ikhlas, sebagaimana terdapat juga orang-orang yang masuk Islam atau berjuang demi keuntungan duniawi.

BACA JUGA  Peran Ulama dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Beragam manusia dengan latar belakang berbeda-beda terhimpun dalam pasukan Rasulullah SAW. Secara bijaksana, beliau berupaya untuk merangkul mereka. Beliau sangat menginginkan petunjuk bagi mereka. Beliau hidup bersama mereka, berjuang bersama mereka, dan mengalami susah dan payah bersama mereka. Bahkan, beliau mengalami kalah dan menang bersama mereka.

Generasi sahabat sebagai generasi terbaik kaum muslimin adalah generasi manusia “sewajarnya”. Sebagai manusia biasa, mereka juga memiliki sifat-sifat kelemahan dan kekurangan. Namun kelemahan dan kekurangan mereka tersebut tertutup sedemikian rupa oleh kesolidan ukhuwah mereka. Mereka seia-sekata, berjuang bersama, susah dan bahagia bersama, kalah dan menang bersama, hingga akhirnya Allah SWT menjayakan Islam.

Kita hidup di akhir zaman, terpaut 14 abad dari zaman Rasulullah SAW dan sahabat. Kwalitas keislaman, keimanan, dan ketakwaan kita jauh lebih rendah dibandingkan kwalitas generasi sahabat. Di zaman sahabat, keberagaman tingkat keislaman dan ketakwaan tersebut tetap dihargai dan diberdayakan secara maksimal. Lantas, bagaimana mungkin kwalitas keislaman dan ketakwaan umat Islam di zaman sekarang —yang jauh lebih rendah tersebut— harus ditolak, dipungkiri, dan dijauhi? 

Baca halaman selanjutnya: Membangun Pakta Pertahanan...

Halaman Selanjutnya 1 2 3
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Wilayah Lain

Oposisi Tuntut Milisi Syiah Keluar dari Suriah

Delegasi Oposisi Suriah di Jenewa kembali menyinggung keterlibatan milisi Syiah di Suriah.

Selasa, 28/02/2017 19:30 0

Wilayah Lain

Di Jenewa, Oposisi Suriah Tegaskan Rezim Tak Niat Gencatan Senjata

Ketua biro politik faksi oposisi Suriah Jaisyul Islam, Muhammad Alloush mengungkapkan bahwa Rusia telah memberikan lampu hijau rezim Assad untuk melancarkan pemboman.

Selasa, 28/02/2017 19:10 0

Indonesia

Saudi Akan Bangun Sekolah Bahasa Arab di Tiga Kota Besar

Dalam Kunjungan kenegaraan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud, selain untuk meningkatkan hubungan antar negara, juga akan membangun tiga sekolah di tiga kota besar.

Selasa, 28/02/2017 18:44 0

Artikel

Waspadalah! 5 Gejala Ini Jadi Tanda Ponsel Anda Disadap

Penyadapan bisa menimpa siapa saja, waspadai lima gejala ini bisa jadi

Selasa, 28/02/2017 18:23 0

Indonesia

Raja Salman Akan Tandatangani 10 MoU dengan Indonesia

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-Saud akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Sebelum itu, Kedutaan Arab Saudi mengadakan jumpa pers kepada insan media.

Selasa, 28/02/2017 17:46 0

Indonesia

Ucapan Ahok Berindikasi untuk Pengaruhi Umat Islam Abaikan Al-Maidah: 51

Sidang lanjutan kasus penodaan agama dengan terdakwa Ahok menghadirkan saksi ahli agama, Habib Rizieq Syihab. Dalam pemeriksaan, ia menegaskan bahwa kasus ini bukan masalah penafsiran Al-Maidah 51, tapi penodaan agama Islam.

Selasa, 28/02/2017 17:30 0

Indonesia

Soal Santunan Haji Bagi Keluarga Densus 88, Dubes Saudi: Shohih

Raja Salman bin Abdulaziz akan menyantuni keluarga anggota Densus 88 yang tewas, karena dianggap sebagai syuhada

Selasa, 28/02/2017 17:09 1

Indonesia

Jadi Saksi Ahli di Sidang Ahok, HRS Tegaskan Tak Bawa Dendam Pribadi

Ketua Dewan Pembina GNPF-MUI, Habib Rizieq Syihab menegaskan bahwa orang non muslim tidak punya otoritas dalam menyampaikan Al-Quran. Menurutnya, orang Islam saja tidak semua boleh menyampaikan.

Selasa, 28/02/2017 16:33 0

Indonesia

Di Sidang Ahok, Habib Rizieq Jelaskan Hukuman Non Muslim yang Menista Islam

Ketua Dewan Pembina GNPF-MUI, Habib Rizieq Syihab, menegaskan bahwa hukuman bagi orang yang menghina Islam adalah mati. Bila orang Islam diminta bertaubat. Jika menolak maka hukuman mati juga.

Selasa, 28/02/2017 15:57 0

Indonesia

Ditanya Soal Aksi Bela Islam, Ini Jawaban Dubes Arab Saudi

Ketika ditanya perihal Aksi Bela Islam 411 dan 212, Osama mengatakan bahwa itu adalah masalab internal negara Indonesia dan tidak akan ikut campur mengenai hal itu.

Selasa, 28/02/2017 15:56 0

Close