‘Emak-emak’ dalam Panggung Sejarah Indonesia

 

“Bahwa oentoek mempertahankan dan menegakkan Negara Repoeblik Indonesia menurut hoekoem Agama Islam, termasoek sebagai satoe kewadjiban bagi tiap-tiap orang Islam”

KIBLAT.NET – Begitulah sepotong kalimat bara api saat KH Hasyim Asyari mengumandangkan ‘Resolusi Jihad’ tanggal 10 November 1945. Maka gayung pun bersambut, dan api yang dikobarkan pun tersulut. Seruan sang Kiyai disambut para pemuda bangsa. Tidak hanya bapak-bapak, ibu-ibu pun ambil bagian dalam misi perjuangan kemerdekaan ‘Ibu Pertiwi’.

‘Emak-emak’ seketika menjelma menjadi aktor dalam berbagai profesi. Yang mulanya memasak untuk keluarga, menjadi koki-koki bagi pejuang di medan laga. Ada juga yang menjadi bidan dan dokter dadakan mengobati serdadu yang terluka. Pun, banyak yang mengangkat bedil melontarkan timah panas ke arah penjajah. Dan sebagian yang lain, membuka ‘laundry’ menangani pakaian para tentara.

Dalam perjuangan bangsa ini, wanita tak pernah luput dalam sinergi memperjuangkan kemerdekaan negeri. Selama ratusan tahun penjajahan atas bangsa ini, kita mengenal banyak sosok wanita baja dalam panggung sejarah perjuangan Indonesia.

Kita mengenal sosok Cut Nyak Dien dari Aceh, ratu jihad nusantara yang menggelorakan perjuangan melawan penjajah. Ada pula RA Kartini yang berusaha membuka sekat-sekat adat atas wanita, agar wanita memperoleh hak pendidikan yang sama dengan pria. Dari tanah Minang, ada Siti Roehana, wanita yang dinobatkan sebagai wanita jurnalis pertama. Berjuang dengan tulisannya lewat media yang ia bentuk untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Dan banyak wanita lain yang berjuang di daerah mereka masing-masing dengan spirit pejuangan yang sama. Spirit untuk merdeka.

Selalu Ada Wanita Hebat di Balik Pria Hebat

“There always though women behind a great man.” Begitulah kata pepatah kuno. Selalu ada wanita hebat di belakang pria yang hebat. Terlalu banyak jika kita ingin menceritakannya satu demi satu. Dalam dinding sejarah telah terpahat sosok-sosok besar negeri ini. Dan tentu, di belakang mereka ada wanita hebat yang bersanding menemani.

Kita mengenal sosok Teuku Umar, Buya Hamka, KH Ahmad Dahlan,dan KH Hasyim Asyari. Para tokoh besar di tiap masanya masing-masing. Berjuang dengan cara dan bidangnya sendiri-sendiri. Ada yang melalui kemiliteran, pendidikan, tulisan, dan politik. Dalam kata lain, merekalah Bapak Bangsa yang telah berjuang untuk kemerdekaan Ibu Pertiwi ini.

Namun siapa sangka, di belakang mereka ada wanita-wanita hebat yang menemani jalan pahit perjuangan ini. Yang memiliki pengaruh yang besar dalam setiap keputusan-keputusan yang diambil dan langkah strategis dalam berbagai persoalan yang mereka hadapi.

Cut Nyak Dien, menemani Teuku Umar melalui jalan panjang perjuangan mengusir Belanda dari tanah mereka. Berpindah dari satu daerah ke daerah yang lain, berjuang bersama sang suami tercinta. Ikut berperang bersama rakyat Aceh mengusir serdadu penjajah yang ingin merengut kemerdekaan mereka. Tanpa lelah tanpa henti, hingga akhirnya sang suami pergi dahulu menemui sang Ilahi

Adalah Siti Raham, kekasih dari seorang ulama besar negeri ini, Buya Hamka. Selain sebagai ibu dari 12 orang anak, Siti Raham juga banyak membantu Hamka dalam setiap keputusan yang diambil. Salah satunya adalah saat sang suami ditawari pangkat Mayor Jenderal Tituler oleh Jenderal Nasution yang kala itu menjabat sebagai Panglima ABRI dan merangkap sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Sebuah gelar penghormatan kepada Hamka atas jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Penulis Tafsir Al-Azhar ini meminta pendapat sang pujaan hati. Dan Siti Raham menyarankan untuk menolak gelar tersebut. Keputusan itu pun diambil oleh Hamka.

Jika KH Ahmad Dahlan sebagai Founding Father Muhammadiyah, maka istri tercinta Siti Walidah atau yang lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan adalah Founding Mother Aisiyah. Kedua pasangan ini bahu membahu berjuang untuk kemerdekaan bangsa melalui pendidikan. Melalui Aisiyah, Nyai Dahlan mengajarkan kepada para wanita tentang hak dan kewajiban mereka dalam Islam. Serta peran yang bisa mereka sumbangkan sebagai bentuk dukungan mereka dalam perjuangan bangsa ini.

Dari KH Hasyim Asyari, kita akan melihat putrinya, Nyai Khoriyah. Menikah di usia yang sangat muda dengan murid dari ayahandanya, KH Maksum Ali. Setelah sang suami meninggal ia menggantikan posisi suami memimpin pesantren Seblak dari tahun 1933-1938. Kemudian di tahun terakhir ia memimpin pesantren, ia kembali menikah dengan KH Muhaimin, lalu ikut dengan sang suami pindah ke Makkah. Saat suami menjadi pimpinan Madrasah Darul Ulum Makkah menggantikan Syaikh Yasin Al-Fadany, ia pun mencetuskan untuk mendirikan Madrasah putri pertama di tanah suci. Dan dari sinilah ia mendidik putri-putri Indonesia mendalami Islam dalam berbagai disiplin keilmuan. Yang harapannya, saat kembali ke kampung halaman, mereka menjadi para pendidik yang siap mendidik para wanita Indonesia.

Semoga Allah Merahmati ‘Emak-emak’ Indonesia

Dalam panggung sejarah Indonesia, wanita tak pernah surut dalam kontribusi kemerdekaan bangsa. Kita mengenal banyak ‘Emak-emak’ hebat dalam sejarah kepahlawanan wanita. Tidak hanya Cut Nyak Dien, Cut Muetia, dan RA Kartini yang kita kenang. Tapi pahlawan wanita bangsa ini adalah semua ‘Emak-emak’ yang ambil bagian dalam ukiran sejarah perjuangan bangsa. Karena dari merekalah ‘Agent of Change’ dilahirkan dan dipersiapkan.

Sudi kiranya wanita hari ini kembali membuka lembar-lembar sejarah tentang perjuangan ‘Ibu’ mereka dahulu. Agar mereka kembali sadar, apa dan bagaimana seharusnya peran mereka dalam proses menentukan masa depan bangsa. Semoga Allah merahmati ‘Emak-emak’ Indonesia.

Daftar pustaka :

  1. Andi Ryansyah. (2015). “Muslimat NU: Dedikasi Untuk Negeri”. jejakislam.net.
  2. Beggy Rizkiyansyah. (2015). “Nyai Khoiriyah: Ulama Perempuan yang Terlupakan”. Majalah Jejak Islam edisi kedua (PDF), Desember 2015.
  3. Sarah Mantovani.(2015). “Siti Raham: Antara Peran Politik dan Penjaga Kehormatan Buya Hamka”. Majalah Jejak Islam edisi kedua (PDF), Desember 2015
  4. Tristia Riskawati. (2014). “Jalan Jihad Jurnalisme Uni Roehanna”.jejakislam.net
  5. “Siti Walidah Dahlan, Wanita Pejuang dari Aisiyah” http://www.republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/14/10/31/neaj4928-siti-walidah-dahlan-wanita-pejuang-dari-aisyiyah

Penulis: Fadjar Jaganegara

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat