... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Amar Makruf Nahi Mungkar Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET – Siapa yang tak kenal dengan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani? Ulama besar yang satu ini tentu tidak asing lagi di telinga umat Islam. Nama lengkap beliau adalah Abdul Qadir bin Abu Shalih Musa Jinki Dausat Al-Jailani. Beliau dilahirkan di negeri Jailan, yaitu sebuah daerah terpencil di belakang Thabaristan. Karena itu, beliau dijuluki dengan “Al-Jailani”, artinya seorang yang berasal dari negeri Jailan.

Ulama yang berkelahiran pada tahun 471 Hijriyah ini mulai mengadakan perjalanan menuntut ilmu ke kota Baghdad pada tahun 488 H. Usia beliau saat itu sekitar 18 tahun. Di Baghdad, beliau bertemu dengan banyak ulama terkenal yang beliau timba kearifan dan keilmuannya sehingga menjadi seorang alim yang menguasai berbagai macam disiplin ilmu.

Ibnu Rajab menggambarkan beliau di dalam kitab Dzail Thabaqat Hanabilah, “Beliau adalah seorang tokoh peradaban, teladan orang-orang arif, pemimpin para ulama, kharismatik lagi berwibawa, memiliki ilmu yang luas, dan bijaksana.”

Di antara gelar yang disematkan untuk Syekh Abdul Qadir Jailani adalah Al-Imam. As-Sam’ani memberinya gelar itu dengan mengatkan, “Syekh Abdul Qadir Jailani adalah imam rujukan mazhab Hambali dan pemuka mereka di zamannya.” Selain itu, Syekh jailani juga mendapatkan gelar “Syekhul Islam” dari Imam Adz-Dzahabi.

Membangkitkan Semangat Amar Makruf Nahi Munkar

Abdul Qadir berpandangan bahwa amar makruf nahi munkar adalah asas terpenting untuk memelihara masyarakat dan mengatur kebaikan di dalamnya, meskipun masih banyak kerusakan-kerusakan yang tertinggal di sana.

Amar makruf nahi munkar merupakan kewajiban atas setiap muslim, apa pun posisinya di tengah masyarakat. Pemerintah harus mencegah kemungkaran dengan tangannya, para ulama mencegah kemungkaran dengan lisannya, dan orang umum mengingkari kemungkaran dengan hatinya. (Al-Ghaniyyah, 1/44, 45)

BACA JUGA  BPJS dan Model Pemiskinan Masyarakat

Para ulama maksudnya adalah orang yang berhak mengatakan sesuatu itu baik dan boleh, atau sesuatu itu buruk dan haram. Sedangkan para penguasa dan masyarakat umum, tugas mereka ialah pelaksana apa-apa yang telah ditetapkan para ulama dalam masalah tersebut.

Para ulama yang menduduki posisi ini (menetapkan yang baik dan buruk) adalah para ulama yang menempuh jalan kezuhudan saja, bukan selain mereka, kriterianya ialah:

  • Hendaknya pelaksana amar makruf nahi munkar adalah seorang yang memiliki ilmu.
  • Mengetahui kemungkaran yang ia melarang orang-orang darinya dengan pengetahuan yang pasti (definitif), karena dikhawatirkan ia akan terjatuh pada prasangka-prasangka dan dosa tersebut. Oleh karenanya, termasuk yang wajib ialah mencegah dosa-dosa yang tampak tanpa harus meneliti dosa-dosa yang telah ditutupi, karena Allah melarang hal tersebut.
  • Hendaknya orang yang melaksanakan amar makruf dan nahi munkar mempertimbangkan kerusakan besar dan bahaya yang bisa saja menimpa dirinya, hartanya, dan keluarganya. (Hakadza Dzhahara Jail Shalahuddin, hal: 216)

Syarat Dalam Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Segala sesuatu tentu tidak boleh bertindak secara asal-asalan. Terlebih dalam bab ibadah yang erat kaitannya dengan orang banyak. Karena itu, sebelum melakukan Amar ma’ruf nahi mungkar ada beberapa syarat atau ketentuan yang perlu diperhatikan bersama. Syekh Abdul Qadir telah menetapkan langkah-langkah amar makruf nahi munkar dengan beberapa persyaratan berikut ini:

  1. Melaksanakannya dengan lembut dan penuh kasih sayang, bukan dengan kata-kata yang penuh kemarahan. Wajib memperhalusnya dengan rasa simpati terhadap manusia disebabkan mereka telah terjatuh ke dalam pancingan setan.
  2. Senantiasa sabar dan tawadhu’, menghindari hawa nafsu, menguatkan keyakinan, menghukumi dengan bijak dalam menangani perkara-perkara mereka.
  3. Menegur para pelaku kemaksiatan dengan cara yang santun dan baik, karena menegur dengan santun lebih berpotensi untuk diterima. Jika teguran dengan santun tidak mempan, hendaklah meminta tolong kepada orang saleh. Jika tetap tidak ada pengaruhnya, maka bawalah ia ke hadapan penguasa.
  4. Tidak berbicara panjang lebar tentang masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para ulama di hadapan orang yang melakukan perbuatan tersebut. Contohnya, mazhab Hanbali mengingkari permainan catur, sedangkan mazhab Syafi’i mempebolehkannya. Sebab, berpanjang lebar di dalam perkara-erkara yang diperselisihkan akan menyebabkan pertentangan mazhab-mazhab lainnya, serta membuka pintu-pintu perdebatan dan permusuhan. Berlaku bijaksana di sini lebih wajib. Adab seorang yang berilmu lebih diutamakan ketimbang ilmunya. (Nasy’atu Al-Qadiriyah, hlm: 168)
BACA JUGA  Malcolm X: Figur Perlawanan Rasisme di AS

Tujuan dari amar ma’ruf nahi mungkar adalah membangun masyarakat di atas pilar-pilar kebaikan serta membersihkan mereka dari segala macam bentuk kemungkaran. Dalam penerapannya, amal ibadah yang satu ini sering kali terjadi gesekan-gesekan dari pihak musuh. Karena itu, ketentuan yang ditetapkan oleh Syekh Abdul Qadir merupakan sebuah pandangan beiau agar penerapan amar ma’ruf nahi mungkar tidak hilang arah atau gampang terprovokasi oleh musuh. Sehingga bukan kebaikan yang diraih, justru dapat mengundang fitnah bagi umat islam itu sendiri. Wallahu ‘alam bis shawab!

 

Penulis : Fakhruddin

Disadur dari: Biografi Imam Al-Ghazali dan Syekh Abdul Qadir Jailani, Karya Ali Muhammad Ash-Shallabi, Penerbit Beirut Publishing, Jakarta Timur


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Irak

Beredar Video Milisi Peshmerga Irak Tembaki Pengungsi Etnis Arab

Pengguna media sosial beberapa saat lalu saling membagi video kekejaman etnis yang dilakukan milisi Kurdi Peshmerga terhadap pengungsi etnis Arab Irak. Jika video ini benar, menguatkan laporan sejumlah organisasi kemanusiaan bahwa milisi Peshmerga melakukan pembantaian etnis.

Rabu, 22/02/2017 09:40 0

Indonesia

Bacaan Al-Qur’an Bocah Yatim Ini Bikin Haru Peserta Aksi 212

Zahri (10 th), santri Pondok Tahfidz Yatim Dhuafa Tasikmalaya, turut hadir dalam Aksi 212 jilid II yang digelar di depan Gedung DPR RI, Selasa (21/02) kemarin.

Rabu, 22/02/2017 09:08 0

Indonesia

Fadli Zon: Gara-gara Ahok, Hukum di Indonesia Sakaratul Maut

Ia menilai penyebabnya adalah tidak adilnya aparat dalam menegakkan hukum, terutama dalam penanganan kasus Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama yang menjadi terdakwa penistaan agama.

Rabu, 22/02/2017 08:38 0

Wilayah Lain

Pusat Kebudayaan Islam di Swedia Dibakar Orang Tak Dikenal

Penyerangan terhadap fasilitas warga minoritas muslim kembali terjadi di Eropa. Kali ini, sebuah Gedung Pusat Kebudayaan Islam di kota Gothenburg, Swedia barat, menjadi sasaran.

Rabu, 22/02/2017 08:02 0

Indonesia

Kesalahan Dalam BAP Tak Masalah, yang Penting Ada Pelanggaran Hukum

Pakar Hukum Pidana, Prof. Mudzakir mengatakan bahwa dalam melakukan pelaporan suatu kasus, masyarakat tidak perlu mengetahui soal pasal yang bersangkutan dengan tindak pidana.

Rabu, 22/02/2017 06:48 0

News

Prof. Mudzakir: Salah Satu Ancaman Kebhinekaan Adalah Penghinaan Agama

Salah satu ancaman persatuan dan kesatuan Indonesia adalah penghinaan agama. Hal itu diungkapkan oleh Pakar Hukum Pidana Universitas Islam Indoensia Yogyakarta, Prof. Mudzakir.

Rabu, 22/02/2017 06:37 0

Indonesia

Ketika Habib Rizieq Tenangkan Massa 212 yang Soraki Wakil Ketua Komisi III

Komisi III DPR RI akhirnya menemui massa Aksi 212 Jilid II di depan gedung DPR RI, Selasa (21/02). Di antara yang hadir adalah Ketua Komisi III, Bambang Soesatyo, Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Mulfachri Harahap, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Trimedya Pandjaitan, Anggota Komisi III DPR RI Arsul Sani dan Fahira Idris.

Rabu, 22/02/2017 06:15 0

Indonesia

Saksi Ahli Hukum Pidana Tekankan Ahok Singgung Al-Maidah 51 Sengaja

Pakar Hukum Pidana Universitas Islam Indoensia (UII) Yoogyakarta, Prof. Mudzakir mengungkapkan bahwa Ahok telah berulang kali menyinggung Al-Maidah 51.

Rabu, 22/02/2017 06:00 0

Indonesia

KAMMI Tegaskan Ahok Tak Layak Pimpin Jakarta, Ini Alasannya

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), menegaskan masyarakat DKI Jakarta untuk memilih calon gubernur yang muslim dan amanah. Pesan itu disampaikanya dalam orasi saat meramaikan Aksi 212 Jilid II untuk menuntut pemberhentian terdakwa penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan stop kriminalisasi ulama pada Selasa, (21/2), di depan Gedung DPR RI.

Rabu, 22/02/2017 05:44 0

Indonesia

Muhammadiyah: Al-Maidah 51 Bukan Alat Pemecah Belah

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Yunahar Ilyas, menegaskan bahwa surat Al-Maidah 51 bukan alat pemecah belah bangsa. Menurutnya, memilih pemimpin karena agama tidak menyalahi konstitusi.

Rabu, 22/02/2017 05:29 0

Close