... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Mempersempit Gerak Khatib

Foto: Khatib Jumat

 

KIBLAT.NET – Wacana pemerintah soal standarisasi khatib patut dikritisi. Kementerian Agama (Kemenag) beralasan mengangkat wacana itu karena adanya masyarakat yang mengeluh dengan khutbah yang mencaci, mencela, dan mengkafir-kafirkan (https://www.kemenag.go.id/berita/451877/lagi-menag-tegaskan-pemerintah-tidak-intervensi-isi-khutbah).

Pertanyaan perlu diajukan. Siapa masyarakat ini? Dan seperti apa isi khutbah itu? Bila Kemenag belum bisa menerangkannya, maka wajar kita curiga. Apalagi wacana ini muncul saat sedang panas-panasnya kasus penistaan agama dan kompetisi Pilkada. Sangat sensitif!

Jangan-jangan khatib yang mengecam mulut Ahok yang menista Al-Qur’an dan Ulama, dianggap begitu. Jangan-jangan khatib yang menyeru aparat menyeret Ahok ke penjara, dianggap begitu. Atau jangan-jangan khatib yang menyatakan Ahok kafir dan menegaskan haram memilih pemimpin kafir, juga dianggap begitu. Kemenag harus gamblang menjelaskan! Agar kita tak salah paham. Biar tak gaduh.

Kata Menteri Agama, standarisasi itu ulama memberikan kriteria kualifikasi atau kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang khatib Jum’at agar khutbah memang disampaikan oleh ahlinya, serta sesuai syarat dan rukunnya. Kalau begini, sepertinya itu sudah ada sejak zaman Rasulullah. Sudah ada panduannya di hadits dan kitab-kitab bukan? Lalu buat apa bikin lagi? Tak perlu lah meragukan kemampuan para khatib kita. Sudah lama khatib-khatib kita berkhutbah. Dan damai-damai saja.

Seperti diakui Tokoh Masyumi, Mohamad Roem, dalam bukunya “Bunga Rampai dari Sejarah 3” terbitan 1983. “Khatib harus memenuhi syarat-syarat untuk boleh memberi khutbah di masjid. Ia harus hafal surat-surat yang akan dibacakan, dan mengucapkannya dengan fasih. Ia seorang yang dipilih oleh jamaah. Dan lagi hal itu sudah berjalan berabad-abad juga. Suasana masjid harus dijaga. Justru suasana masjid itu menjamin khatib tidak akan melampaui batas yang baik-baik.”

Dalam standarisasi khatib, lanjut Kemenag, pihaknya tidak akan mengatur-atur isi khutbah. Tapi bila kita melihat alasan mereka menstandardisasi khatib di awal tadi, sangat nyata mereka ingin isi khutbah sesuai seleranya. Hanya saja seleranya dititipkan kepada Ulama yang nantinya menstandardisasi khatib. Yang harapannya tentu Ulama menuruti seleranya. Pendeknya, Ulama dijadikan alat mereka!

BACA JUGA  Hendak Kemana (Ke)Menteri(an) Agama?

Bila kita membaca sejarah, maka sikap mereka mirip dengan tindakan rezim orde baru. Hanya saja lebih lunak.

Mengingat Sjafruddin Prawiranegara dan A.M. Fatwa
Kala itu, seperti diceritakan Tempo (23/8/1980), penguasa orde baru memberi syarat kepada dua orang yang akan menjadi khatib shalat Idul Fitri, yaitu Sjafruddin Prawiranegara dan A.M. Fatwa, agar menyerahkan teks khutbahnya kepada panitia untuk dicek sebelum disampaikan. Ini dilakukan karena penguasa menganggap khutbah kedua tokoh ini biasanya memancing emosi masyarakat.

Pemeriksaan teks khutbah ini tentu saja agar isi khutbah sesuai dengan selera penguasa. Sangat lucu bukan, khatib dinasihati penguasa?

Awalnya, Sjafruddin tidak mau menyerahkan teks khutbahnya. Namun setelah diminta berkali-kali, ia mengalah. Setelah dicek oleh Asisten Intelijen Kodam V Jaya, Kolonel Agus, khutbahnya yang berjudul “Kembali kepada Pancasila dan UUD 1945” dianggap menyinggung masalah Pancasila dan UUD 1945 yang bisa menggelisahkan masyarakat. Menurut Menteri Agama kala itu, Alamsyah, 80% dari isi khutbahnya ialah soal-soal politik. Pihak Pelaksana Khusus Daerah (Laksusda) lalu memintanya menghapus masalah-masalah politik. Namun Sjafruddin menolak. Akibatnya, ia dilarang menjadi khatib.

Berbeda dengan Sjafruddin, A.M. Fatwa sejak awal menolak menyerahkan teks khutbahnya yang berjudul “Tegakkan Pancasila dalam Wajah Manusia, bukan dalam Wajah Hantu.” Akhirnya, panitia menggeser tugasnya dari khatib menjadi imam. Sementara, tugas khatib digantikan oleh Kosim Nurseha Notowardoyo dari Dinas Pembinaan Mental TNI AD.

A.M. Fatwa jelas tidak suka. Sebelum mengimami salat, ia sampaikan kepada jamaah bahwa dirinya batal menjadi khatib karena dilarang pihak yang berwajib. Selesai salat, Kosim ceramah. Tak disangka, keributan pecah!

Begitu Kosim naik mimbar, teriak-teriakan mulai terdengar menyuruh ia turun dan A.M. Fatwa naik. Beberapa benda dilempar ke arah khatib. Tapi Kosim bergeming. Khutbahnya jalan terus. “Berbagai caci maki ditujukan pada saya, tapi saya teruskan khutbah sampai selesai,” kata Kosim.

Sebagian jamaah yang ditaksir berjumlah 18 ribu orang itu berusaha mendekati mimbar. Namun dicegah para petugas keamanan dengan tembakan ke atas, “Dor!”

BACA JUGA  Di Balik Pekik Takbir Bung Tomo

Sebagai buntut dari keributan itu, A.M. Fatwa ditahan pada tanggal 12 Agustus 1980. Namun pada 14 Agustus 1980, ia dibebaskan dengan status tahanan kota melalui Surat Izin Jalan Komando Operasi Pemulihan dan Keamanan Daerah (Kopkamtibda) Jaya. Surat ini, menurut Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, tak dikenal dalam prosedur dan proses hukum acara di Indonesia.

Andai penguasa tidak ikut campur dan melarang A.M. Fatwa jadi khatib, mungkin kejadiannya akan lain. Tak akan ada keributan yang kita sesalkan itu dan tak akan ada duka di hari raya.

Tahun sebelumnya, A.M. Fatwa juga sempat ditahan beberapa hari lantaran khutbahnya yang berjudul “Para Pemimpin Sadar dan Istighfarlah” dianggap terlalu keras mengecam pemerintah. Akibatnya, ia juga dipecat sebagai karyawan DKI.

Setelah insiden di hari raya itu, berkumpul lah Menteri Agama, Alamsyah, Ketua MUI, Buya Hamka, Ketua MUI Jakarta, Kiai Abdullah Syafi’ie, dan Laksusda Jaya di gedung Departemen Agama. “Prak, prak, prak!” Tiga kali, Hamka memukul meja. Alamsyah dan Kiai Syafi’ie yang duduk di sampingnya sampai terkejut.

“Saya tidak setuju kesempatan berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha dijadikan medan politik!” tegas Hamka.

Menurut Hamka, kedua hari raya itu adalah hari suci, hari perdamaian, dan hari gembira. “Sayang, masih ada rekan-rekan yang menggunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan ketidakpuasan politiknya,” ungkapnya.

Soal pengecekan teks khutbah, Hamka juga tidak suka. “Kalau semua khatib, khutbahnya harus diperiksa dulu, saya berhenti saja jadi khatib!” tegasnya.

Timbulnya keresahan, keributan, dan kegaduhan akibat politik penguasa Orde Baru yang mencurigai dakwah Islam dengan mempersempit gerak khatib, sepatutnya menjadi pelajaran mahal bagi kita. Bahwa mengatur-atur isi khutbah khatib bukanlah tindakan yang dewasa. Sudah menjadi kewajiban bagi para khatib untuk lantang menyuarakan kebenaran dan keadilan dengan berpegang ajaran Islam. Maka alangkah bijaknya bila pemerintah membuang jauh-jauh wacana standardisasi khatib itu.

 

 

Oleh: Andi Ryansyah, Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)/jejakislam.net

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Tersangka Kasus Dugaan Makar Firza Husein Ajukan Praperadilan

Ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana, Firza Husein ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus makar. Saat ini, ia tengah ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua karena dianggap tidak kooperatif.

Senin, 06/02/2017 20:00 0

Indonesia

Serikat Pekerja Pers: Media Harus Berpihak, Terutama pada Kebenaran

Ketua Pengurus Harian Serikat Perusahaan Pers (SPS), Ahmad Djauhar mengungkapkan bahwa setiap berita pasti memiliki framing dan keberpihakan. Hal itu bergantung dengan siapa yang membuat berita tersebut.

Senin, 06/02/2017 19:35 0

China

Polusi Udara Tinggi, Cina Bangun Hutan Vertikal

Rencananya hutan vertikal tersebut akan menampung 1.100 pohon serta 2.500 tanaman gantung dan perdu

Senin, 06/02/2017 19:08 0

Indonesia

Pengacara Keberatan Firza Husein Dikaitkan Pornografi Padahal Ditangkap Karena Makar

Pengacara tersangka kasus dugaan makar Firza Husein, Dahlia Zein keberatan kliennya diperiksa perihal kasus pornografi di masa penahanan

Senin, 06/02/2017 18:14 0

Pakistan

Diplomat Afghanistan di Karachi Ditembak Mati Pengawal Pribadinya

Pihak kepolisian setempat menyebut pelaku penembakan berkewarganegaraan Afghanistan dan menggunakan senjata otomatis

Senin, 06/02/2017 18:12 0

Indonesia

Alumni IMM Desak Polisi Proses Ancaman Ahok Terhadap KH Ma’ruf Amin

"Pernyataan tersebut tidak boleh dipandang sebagai ucapan tanpa implikasi serius terhadap KH. Ma'ruf Amin. Karena pernyataan tersebut merupakan pembunuhan kareakter terhadap sosok beliau,"

Senin, 06/02/2017 17:28 0

Video News

Video Editorial: Tafsir Ala Penguasa

KIBLAT.NET — Awal tahun 2017 diwarnai dengan suhu politik yang cukup panas. Kasus penistaan agama...

Senin, 06/02/2017 16:15 0

Amerika

Segera Bertemu Donald Trump, Benjamin Netanyahu akan Bahas Isu Palestina

Pertemuan dipandang sebagai salah satu pembicaraan penting berkenaan dengan sejumlah isu. Termasuk proses pembicaraan Israel-Palestina dan relokasi Kedutaan besar AS ke Yerusalem.

Senin, 06/02/2017 15:12 0

Irak

“Senjata Terbaik Lawan ISIS adalah Militer Lokal”

NATO telah mulai melatih tentara Iraq tentang bagaimana menetralisir bom yang ditanam oleh kelompok ISIS. NATO juga memperluas program ini di tempat lain, yakni di negara tetangga Yordania.

Senin, 06/02/2017 14:20 0

Amerika

Keppres Dibatalkan, Trump Perketat Keamanan Perbatasan AS

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan pada Senin (06/02), telah menghimbau kepada para petugas perbatasan negara untuk memperketat penjagaan. Termasuk dalam melakukan prosedur pemeriksaan.

Senin, 06/02/2017 13:49 0

Close