... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Pro-Kontra Relokasi Kedubes AS untuk Israel ke Jerrusalem

KIBLAT.NET, Jerrusalem – Selama kampanye Pemilihan Presiden lalu, tim Donald Trump seringkali berbicara tentang pemindahan kedutaan besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Namun sejak pelantikan, isu yang diperdebatkan itu menjadi lebih bernuansa.

Pernyataan yang dikeluarkan sebelum sambungan telepon pertama pasca-pelantikan antara Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhir pekan lalu, dan kemudian diperkuat dalam keterangan pers di Gedung Putih, Sekretaris Pers Gedung Putih Sean Spicer,  menepis kemungkinan cepatnya relokasi kedubes ke Yerusalem yang diyakini banyak kalangan bakal memicu kemarahan dunia Arab.

“Kami bahkan baru pada tahap awal sekali membicarakan masalah ini. Tidak ada keputusan apa-apa,” tulis Spicer dalam email, Minggu waktu setempat.

Sejumlah media massa dan kelompok pro-pendudukan Israel menanggapi hal itu sebagai pertanda positif. Mereka menafsirkan kalimat penghuni baru Gedung Putih itu sebagai indikasi bahwa pembicaraan mengenai pemindahan kedubes itu telah dimulai, meski mengakui langkah itu bisa menimbulkan reaksi yang luar biasa menyangkut stabilitas religional.

Namun para pejabat Israel menyatakan masalah itu tidak terlalu disiggung selama 30 menit perbincangan telepon antara Trump dan Netanyahu. Para diplomat menilai agenda itu sengaja ditutup dulu, setidaknya hanya untuk saat ini.

“Kedengarannya seperti jalan ke belakang,” tutur seorang pejabat Israel dalam pesan teks usai pernyataan Spicer soal wacana relokasi itu.

Diplomat lainnya mengatakan bahwa selama pembicaraan via telepon itu, Netanyahu tidak berusaha menagih janji dari Trump menyangkut relokasi kedubes AS atau meminta kepastian waktu.

Mantan juru bicara kementerian luar negeri Israel Yigal Palmor berasumsi kalimat “tidak sekarang” yang disampaikan Spicer itu adalah istilah lama dalam dunia diplomasi. “Makna sebenarnya adalah  ‘Jangan hubungi kami, kamilah yang menghubungi kalian,” kata Yigal Palmor via Twitter. Tetapi jubir Netanyahu tidak merespon komentar tersebut.

Tidak Ada Satu Kedubes Berdiri di Jerussalem

BACA JUGA  Ratusan Warga Palestina Bentrok dengan Pemukim Yahudi dan Polisi Israel

Kendati perdana menteri Israel tidak terlihat menentang rencana AS memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem yang dianggap Israel ibukota abadi dan tak terpisahkannya serta ingin semua kedutaan besar asing berada di kota ini, di Israel sendiri ada kekhawatiran bahwa pemindahan kedubes ke Yerusalem dapat merusak stabilisasi.

Saat ini menurut kementrian luar negeri Israel tidak ada satu pun negara yang kedutaan besarnya di Yerusalem. Costa Rika dan El Salvador memang pernah selama beberapa tahun menempatkan kedubesnya di Yerusalem, tapi mereka telah pindah ke Tel Aviv.

Alasannya adalah status final Yerusalem mesti ditentukan lewat negosiasi langsung antara Israel dan Palestina yang menginginkan Negara Palestina beribukota di Yerusalem timur.

Jika AS memindahkan kedubesnya ke sana, maka secara eksplisit negara itu mengakui bahwa Yerusalem milik Israel, menghiraukan hasil negosiasi-negosiasi sebelumnya dan tampak berpihak ke satu sisi proses perdamaian di mana AS sendiri adalah aktor kunci dibalik proses tersebut.

Trump berkeinginan supaya menantunya, Jared Kushner, menjadi mediator perdamaian Israel dan Palestina. Untuk mengerjakan tugas ini, Kushner dan AS harus terlihat independen dan hati-hati. Bagi rakyat Palestina, memindahkan kedutaan besar itu artinya telah melanggar batasan.

Yordania dan Mesir, negara-negara Arab yang memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, telah mengingatkan langkah pemindahan kedubes AS itu. Begitu pula, mantan presiden Barack Obama dan mantan menteri luar negeri John Kerry mengatakan relokasi itu akan menimbulkan ledakan region.

BACA JUGA  Israel Tangkap Khatib Jumat Masjid Al-Aqsha


Relokasi Kedubes AS ke Tel Aviv dapat Menimbulkan Kemarahan Global

Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah menggelar pembicaraan dengan Raja Abdullah dari Yordania di Amman, Minggu pekan lalu. Para pejabat Palestina menyatakan bahwa sang raja yang menjadi pelindung tempat suci Islam di Yerusalem, mengutarakan keprihatinannya menyangkut isu pemindahan kedubes AS itu. Abbas dan Raja Abdullah bersepakat bahwa akan ada daftar langkah yang harus ditembus untuk merelokasi kedutaan besar.

Belum jelas langkah apa yang akan diambil Yordania, tetapi menutup kedutaan besarnya di Israel, menghentikan kerjasama keamanan atau menangguhkan kesepakatan damai 1994, semua itu adalah kemungkinan-kemungkinan langkah yang akan diambil Yordania apabila AS tetap bersikukuh memindahkan kedubesnya ke Yerusalem.

Yordania juga tidak mau penduduk mereka yang keturunan Palestina dan jumlahnya sangat besar itu, terpancing amarahnya oleh langkah AS itu.

Mesir yang menandatangani kesepakatan damai dengan Israel pada 1979 dan menjalin kerja sama keamanan dengan Israel, juga berkeberatan dengan rencana Trump untuk merelokasi Kedubes itu. Mesir melihat bahwa relokasi itu sebagai “masalah yang sangat mudah memicu gejolak”.

“Saya tidak ingin ego terbujuk oleh spekulasi mengenai apa yang akan atau tidak akan terjadi, tetapi saya kira semua orang menyadari pentingnya masalah ini,” kata Menteri Luar Negeri Samed Shoukry kepada korps diplomatik asing pada 4 Januari.

“Ini adalah salah satu dari sekian masalah final yang harus diatasi kedua belah pihak. Semua itu ialah kepentingan kita semua dimana masalah itu hanya dapat diselesaikan lewat perundingan,” sambung dia seperti dikutip Reuters.

Reporter : Syafi’i Iskandar
Sumber: Reuters

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Info Event

Secercah Senyuman Mahasiswa Patani di Indonesia

Dalam wisata ini, mahasiswa Patani (Thailand Selatan) di Indonesia dapat mengetahui kebudayaan di Indonesia. Mereka juga menuturkan ada juga kebudayaan yang hampir sama dengan kebudayaan di Patani khususnya di kepulauan Riau, seperti pakaian kebudayaan, permainan tradisional dan rumah-rumah tradisional.

Selasa, 24/01/2017 20:16 0

Indonesia

Pengacara Ahok Sebut Semua Pelapor Berafiliasi dengan FPI, Advokat: Itu Dibuat-buat

Penasehat Hukum Ahok, Rony Talapessy menuding bahwa semua pelapor kasus Ahok ada afiliasinya dengan Front Pembela Islam (FPI). Menurutnya, hal itu sudah tidak objektif.

Selasa, 24/01/2017 19:40 0

Indonesia

Yusril Himbau Polisi Berhati-hati dan Cegah Kesan Semakin Jauh dari Umat Islam

"Karena itu, saya menghimbau polisi untuk bersikap obyektif dan mengambil langkah hukum yang hati-hati untuk mencegah kesan yang kian hari kian menguat bahwa polisi makin menjauh dari umat Islam dan sebaliknya makin melakukan tekanan," jelas Yusril.

Selasa, 24/01/2017 19:05 0

Artikel

Bersyukur dalam Musibah dan Bersabar dalam Nikmat

Sabar dan syukur adalah dua hal yang menunjukkan adanya iman di dada seorang yang mengaku mukmin. Ketiadaan syukur akan berakibat kufur yang akan menyingkirkan iman di hati. Demikian pula ketiadaan Sabar akan menghilangkan pengakuan keberimanan seseorang oleh Allah. Namun, patut untuk direnungi, bahwa syukur dapat pula untuk musibah, dan sabar dapat pula untuk nikmat.

Selasa, 24/01/2017 18:36 1

Indonesia

Tim Advokasi GNPF MUI: Kesaksian Lurah Panggang Menguatkan Dakwaan Jaksa

Nasrullah yakin Majelis Hakim akan memutuskan Ahok bersalah. Untuk itu, ia mengajak seluruh komponen masyarakat Indonesia untuk terus mengawal persidangan Ahok ini dan mempercayakan putusan atas percaya ini kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara

Selasa, 24/01/2017 18:11 0

Indonesia

Habib Rizieq: Jutaan Teknologi Rectoverso untuk Uang Kertas, Kenapa Ambil Palu Arit?

"Indonesia negara ketuhanan. Faham yang antituhan dilarang berkembang di Indonesia. Tidak hanya pahamnya tapi juga atributnya tidak boleh ada di Indonesia"

Selasa, 24/01/2017 17:26 0

Munaqosyah

Tipologi Polisi, Dahulu dan Akhir Zaman

Pembelaan mereka terhadap tiran nan zalim menjadikan mereka meninggalkan nilai-nilai agama, melupakan tugas asal mereka dalam mengawal syariat Islam dan keamanan umat.

Selasa, 24/01/2017 17:05 0

Indonesia

Ketum PKB: Bangsa Indonesia Hadapi Masalah Serius

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhamimin Iskandar, mengatakan bahwa bangsa Indonesia sedang menghadapi masalah yang sangat serius, yaitu isu SARA (Suku Agama Ras Antargolongan) dan radikalisme.

Selasa, 24/01/2017 16:26 0

Artikel

Diskriminatif, Program Kontra Ekstremisme (CVE) Hanya Menyasar Muslim

CVE (Countering Violent Extrimism) adalah program yang menyebabkan perpecahan dan ketidakpercayaan masyarakat, yang secara tidak adil membidik komunitas Muslim di Amerika.

Selasa, 24/01/2017 15:51 0

Indonesia

Terkait Bendera Negara, Yusril: Penegak Hukum Harusnya Bersikap Persuasif

Dengan demikian, tidak semua warna merah putih adalah otomatis adalah bendera negara RI. Kain yang berwarna merah putih namun tidak memenuhi kreteria syarat-syarat untuk dapat disebut sebagai bendera RI, bukanlah bendera RI.

Selasa, 24/01/2017 15:03 0

Close