... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Diskriminatif, Program Kontra Ekstremisme (CVE) Hanya Menyasar Muslim

Foto: Diskriminatif, Program Kontra Ekstremisme (CVE) Hanya Menyasar Muslim

KIBLAT.NET – Departemen Keamanan Dalam Negeri AS telah memicu kemarahan para aktivis hak-hak sipil setelah badan pemerintah tersebut memberikan bantuan uang sebesar US$ 10 juta ke sejumlah lembaga penegak hukum dan LSM. Diklaim bahwa langkah itu merupakan bagian dari program kontra-ekstremisme kekerasan atau yang di Amerika dikenal sebagai CVE (Countering Violent Extremism).

Sebagaimana dinyatakan dalam CVE sendiri, misi mereka adalah mengatasi akar radikalisme melalui upaya membangun “hubungan yang berbasis kepercayaan kepada masyarakat”. Meskipun demikian, kelompok-kelompok hak sipil mempertanyakan dan mengkritisi program-program itu dan menganggapnya diskriminatif karena hanya menyasar Muslim Amerika.

Pada tahun 2014, sebanyak 20 organisasi hak asasi, termasuk Uni Kebebasan Sipil Amerika (ACLU), mengirim surat ke Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk menyampaikan keprihatinan mereka terhadap program tersebut. Dikatakan, CVE meminta masyarakat untuk melapor apabila melihat ada ungkapan/ ujaran, termasuk individu atau orang-orang yang mencurigakan di lingkungan mereka kepada penegak hukum.

Hasil dari pengawasan yang menggeneralisir ini, baik  yang dilakukan oleh pemerintah maupun “mitra” mereka dari kalangan masyarakat telah menciptakan iklim ketakutan dan ketidakberanian orang untuk berbicara dengan bebas. Hal itu karena setiap orang harus berhati-hati dengan ucapan mereka, dan dengan siapa mereka bicara. Jangan sampai mereka dilaporkan gara-gara terlibat dalam tindakan yang sebenarnya masih belum jelas definisinya apakah termasuk melanggar hukum atau tidak, karena hanya berdasarkan kecurigaan.

BACA JUGA  Menag Fachrul Razi, Jerami Terakhir di Punggung Jokowi?

Abed Ayoub, direktur bidang hukum Komite Anti-Diskriminasi Amerika-Arab (ADC) mengatakan, bahwa CVE bermasalah karena melanggar prinsip pemisahan negara dengan gereja dengan cara membidik komunitas Muslim. ADC sendiri merupakan sebuah organisasi hak-hak sipil yang berbasis di Washington DC. ADC juga telah memperingatkan kelompok-kelompok Muslim dan Arab untuk tidak mengajukan proposal bantuan dana termasuk beasiswa CVE.

“Pada dasarnya CVE memaksa organisasi-organisasi itu menjadi informan mereka dengan memata-matai masyarakat,” kata Ayoub kepada Middle East Eye. “Inilah sebenarnya maksud dan tujuan dari bantuan tersebut diberikan. Apakah Anda mengira uang itu diberikan secara gratis? (Dan) Anda pun berfikir bahwa tidak ada jebakan dalam uang tersebut?”

Ayoub menambahkan, terlepas dari motif organisasi-organisasi penerima bantuan tersebut, pemerintahan Trump mendatang kemungkinan besar akan memanfaatkan program kerja sama ini untuk semakin menekan hak-hak sipil warga Muslim. Menurutnya, menjauhkan generasi muda dari ekstremisme merupakan sebuah usaha yang baik, namun langkah itu seharusnya dilakukan atas inisiatif sendiri dari masing-masing komunitas masyarakat tanpa harus mengaitkannya dengan ras/ etnis ataupun agama tertentu.

Saat pengumuman program bantuan yang dilaksanakan pada hari Jum’at (13/01) pekan lalu, Departemen Keamanan Dalam Negeri mengatakan bahwa CVE juga bekerja untuk mencegah radikalisasi pada kelompok-kelompok sayap-kanan. Namun Ayoub menolak dan menganggap pernyataan itu hanya sekedar lip-service. Ia menegaskan bahwa inisiatif/ program CVE hanya terkait dan menyasar kelompok Muslim.

BACA JUGA  Jokowi: Investasi Minim Karena Investor Tak Dilayani dengan Baik

Sebuah organisasi non-pemerintah lainnya yang berbasis di Chicago bernama Jaringan Aksi Arab-Amerika juga mengecam pengumuman bantuan tersebut. Jaringan aksi ini menyeru organisasi-organisasi sipil untuk menolak  CVE, “Say no to CVE”. Pada mulanya gagasan CVE berasal dari sebuah tulisan mengenai kebijakan Gedung Putih pada tahun 2011 berjudul “Memberdayakan Mitra Lokal untuk Mencegah Ekstrimisme Kekerasan di Amerika Serikat”.

Setelah kelompok ISIS muncul dan eksis pada tahun 2015, FBI meluncurkan program online yang dianggap kontroversial bertajuk “Jangan Menjadi Boneka”. Program ini ditujukan bagi para siswa dan guru terutama untuk membantu orang-orang yang terpengaruh ekstremisme. Tahun 2016 yang lalu, Kongres telah menyetujui program bantuan CVE di lingkungan Departemen Keamanan Dalam Negeri.

“CVE menyatakan tidak diskriminatif, namun faktanya CVE diskriminatif,” kata Asha Noor, seorang pengacara gerakan “Take on Hate” untuk memerangi kebencian. “CVE membidik kelompok masyarakat di mana Muslim adalah mayoritas. Isi CVE sendiri memperkuat anggapan bahwa Muslim identik dengan kekerasan dan harus dicurigai terkait dengan ekstremisme kekerasan,” imbuhnya.

Noor berpendapat bahwa peningkatan kapasitas dan bantuan untuk kesehatan mental diperlukan oleh semua lapisan masyarakat, tetapi bantuan finansial untuk kedua hal tersebut seharusnya tidak dilihat dari kacamata keamanan. “Terlalu fokus pada soal ekstremisme akan memarjinalkan Muslim Amerika,” katanya.

Baca halaman selanjutnya: Ada sesuatu yang rancu dan...

Halaman Selanjutnya 1 2 3
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Terkait Bendera Negara, Yusril: Penegak Hukum Harusnya Bersikap Persuasif

Dengan demikian, tidak semua warna merah putih adalah otomatis adalah bendera negara RI. Kain yang berwarna merah putih namun tidak memenuhi kreteria syarat-syarat untuk dapat disebut sebagai bendera RI, bukanlah bendera RI.

Selasa, 24/01/2017 15:03 0

Suriah

Oposisi Suriah Terima Permintaan Rusia terkait Fath Syam, Jika…

Delegasi oposisi Suriah menolak untuk menyinggung soal Jabhah Fath Syam sebelum milisi Syiah Iraq, Afghanistan, dan Iran keluar dari Suriah. Hal itu ditegaskan Osama Abu Zaid dalam perundingan untuk Suriah di Astana, Kazakhstan, yang dimulai Senin (23/01) kemarin.

Selasa, 24/01/2017 14:39 0

Mesir

AS Berencana Suplai Bantuan Militer untuk Mesir

Presiden baru AS, Donald Trump akan memberikan bantuan militer kepada Mesir dalam perang melawan terorisme. Demikian dilansir situs Al-Arabiya, Senin (23/01).

Selasa, 24/01/2017 14:12 0

Indonesia

Alhamdulillah, Akhirnya Nurul Fahmi Dibebaskan Setelah Ada Jaminan

Nurul Fahmi, (26 tahun) pembawa bendera berlafaz kalimat tauhid pada aksi 161 akhirnya dilepaskan oleh pihak kepolisian pada siang ini, (24/01) selepas shalat zuhur.

Selasa, 24/01/2017 14:08 0

Indonesia

Lurah Pulau Panggang: Ahok Menyebut “Dibohongi Pakai Al-Maidah 51”

Sidang ketujuh kasus penistaan agama oleh Ahok, Selasa (24/01), menghadirkan saksi fakta dari Lurah Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Yulihardi. Dalam kesaksiannya, ia mengatakan bahwa Ahok benar menyebut Surat Al-Maidah ayat 51.

Selasa, 24/01/2017 13:45 0

Amerika

Direktur Baru CIA Diduga Akan Aktifkan Kembali Model Penyiksaan “Waterboarding”

Wakil Presiden AS Mike Pence akhirnya melantik Mike Pompeo sebagai Direktur CIA yang baru. Pelantikan ini diselenggarkan tidak lama setelah Mike Pompeo berhasil memperoleh suara terbanyak dari para senator AS.

Selasa, 24/01/2017 13:26 0

Indonesia

Saksi Pelapor Ahok: Budidaya Ikan Kok Bicara Al-Maidah?

"Bicara budidaya ikan kok bicara Al- Maidah. Kan bisa bicara yang lain," ucapnya di ruang persidangan di Kementrian Pertanian (Kementan) Jakarta Selatan pada Senin (24/01).

Selasa, 24/01/2017 12:02 0

Editorial

[Editorial] Tafsir ala Penguasa

Bila dibiarkan kalimat-kalimat sakral yang dulu dianggap sebagai pemersatu bangsa, bisa disalahgunakan menjadi pemecah-belah. Semua berhak menafsirinya—apalagi memang tidak ada tafsir tunggal dalam hal ini—untuk kemudian menggunakannya sesuai dengan kehendak dan keinginan masing-masing.

Selasa, 24/01/2017 11:52 0

Amerika

Trump Dukung Upaya Anti “Teror” Rezim Al-Sisi

Gedung Putih mengatakan Presiden Donald Trump menghubungi Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi melalui telepon pada Senin (23/01), menegaskan kesiapannya untuk terus memberikan bantuan militer pada Mesir dalam rangka mendukung perang melawan "terorisme".

Selasa, 24/01/2017 11:34 0

Tarbiyah Jihadiyah

Kunci Kemenangan itu Bernama Kesabaran

Para ulama sepakat bahwa kenikmatan tidak diraih dengan kenikmatan. Kenikmatan hanya bisa diraih dengan ujian, jerih payah, kesempitan, dan pengorbanan. Dengan inilah kenikmatan bisa diraih pada akhirnya. Oleh karena itu, Allah berfirman berkenaan dengan orang-orang sabar dalam beberapa tempat, mencapai sembilan puluh tempat di dalam Al-Qur’an.

Selasa, 24/01/2017 10:30 1

Close