... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Mengurai Benang Kusut Tauhid Hakimiyah

Foto: Sayyid Qutb

KIBLAT.NET – Tidak ada hukum yang paling sempurna dan paling lanyak ditegakkan di muka bumi ini melainkan hukum yang telah ditetapkan Allah Ta’ala, di dalamnya terdapat keadilan yang dicari-cari oleh umat manusia. Akan tetapi ada diantara mereka yang tidak menghendaki keadilan tersebut sehingga berusaha mencari hukum selain hukum Allah demi memuaskan hawa nafsu pribadi ataupun golongannya.

Allah berfirman, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum Allah)? (QS. al-Maidah: 50). Pertanyaan ini merupakan istifham inkari (pertanyaan untuk mengingkari) yang tidak membutuhkan jawaban, karena sudah pasti hukum Allah yang lebih baik dari pada hukum yang disepakati oleh akal manusia.

Telah Datang Zamannya

Kewajiban berhukum dengan hukum Allah merupakan kesepakatan para ulama berdasarkan Al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’ (konsensus ulama) tidak ada yang menyelisihi kesepakatan ini. Namun, semakin berkembangnya zaman perkara ini kian dilupakan umat, terutama oleh para penguasa negeri-negeri kaum muslimin, mereka lebih senang berhukum dengan undang-undang buatan manusia dan berusaha menyingkirkan undang-undang-Nya dari ingatan kaum muslimin.

Apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah telah menjadi sebuah kenyataan, yaitu tali Islam yang pertama kali terlepas adalah masalah hukum. Sebagaimana dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَتُنْتَقَضُ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةٌ عُرْوَةٌ فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَتْ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُ نَقْضِهَا الْحُكْمُ وَآخِرُهَا الصَّلاَةُ

Dari Abu Umamah al-Bahili, bahwa Rasulullah bersabda, “Tali-tali ikatan Islam pasti akan terlepas satu persatu, ketika satu tali ikatan lepas, maka akan disusul ikatan yang lainnya, dan yang pertama kali terlepas adalah masalah hukum sedangkan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Hakim no. 7022).

Akan tetapi, bukan berarti umat Islam harus pasrah dan beranggapan bahwa sudah menjadi sebuah ketetapan bahwa manusia akan melupakan undang-undang Allah, sehingga tidak perlu ada usaha dan upaya menegakkan dan memperjuangkannya kembali. Pernyataan seperti ini tiada keluar melainkan dari lisan orang-orang yang gagal faham persoalan takdir.

Melihat realita hari ini, sebagian dari ulama muta’akhirin (kontemporer) berusaha agar umat tetap memperhatikan masalah tersebut, serta tidak melupakannya. Oleh karena semakin banyaknya umat yang tak paham urgensi berhukum dengan hukum Allah, maka ada ulama muta’akhirin yang mengklasifikasikan hal tersebut ke dalam pembagian tauhid. Yaitu tauhid hakimiyah yang pada dasarnya masih bagian dari tauhid ‘uluhiyah.

Menyelami Makna Tauhid Hakimiyah

Tauhid hakimiyah adalah mengesakan Allah dalam hukum dan tasyri’ (kewenangan legislatif), bahwa Allah adalah satu-satunya penetap hukum dan pembuat syari’at dan tidak diperbolehkan melakukan kesyirikan dalam hukum-Nya (dengan membuat hukum tandingan) dengan suatu apapun. (Ali bin Nayif as-Syuhud, Arkanu al-Iman, hlm. 35).

Istilah ini tidak dikenal pada generasi ulama salaf, namun Syaikh Ali bin Hudair al-Hudair mengatakan dalam kitabnya al-Wasith (hlm.19) bahwa istilah ini muncul pada abad ke 13 disaat marak ramai diberlakukannya undang-undang positif. Munculnya istilah baru ini dalam pembagian tauhid menjadi perdebatan sengit diantara para ulama. Ada yang tidak mempermasalahkan istilah ini, tetapi adapula yang mengkritisinya, bahkan sampai mengatakan sebagai perkara yang bid’ah yang diharamkan.

Taklid Buta

Perbedaan sudut pandang merupakan satu keniscayaan, sehingga wajar muncul pendapat yang tak satu suara. Namun sangat disayangkan, sebagian kalangan menjadikan  pendapat yang melarang istilah ini sebagai senjata untuk menyalahkan saudaranya, tanpa melihat pendapat ulama lainnya. Bahkan mereka menjadikannya sebagai ciri khawarij versi mereka. Hal ini disebabkan karena taqlid buta terhadap pendapat ulama tertentu tanpa mau menoleh kepada ulama yang lain, sehinga hilangnya sifat tasamuh dalam perkara ijtihadi.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak boleh seseorang berhujah dengan perkataan salah satu ulama dalam perkara yang masih diperselisihkan akan tetapi hujjah adalah nash, ijma’ dan dalil yang diambil istinbath darinya, pengutamaannya berdasarkan dalil syar’i bukan dari perkataan salah satu ulama.” (Majmu’ Fatawa, 26/202).

Diantara  kalangan yang kontra, juga ada  yang memandang  ulama pencetus istilah ini sebagai ulama yang penuh dengan catatan ‘hitam’ sehingga mereka pun menolaknya mentah-mentah tanpa melihat dalil dan argumen pendapat tersebut. Efek samping dari semua itu adalah hilanglah sikap adil dan bijaksana dari diri mereka, padahala Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu lakukan.” (QS. Al-Maidah: 8).

Baca halaman selanjutnya: Pembagian Tauhid Bukan Perkara...

Halaman Selanjutnya 1 2
... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

2 comments on “Mengurai Benang Kusut Tauhid Hakimiyah”

  1. frederik

    Saudaraku Akhi Ibnu Syamsin / Yanisari Teams

    Mungkin artikel Anda masih mengambang dan “tampak seolah-olah”
    bahwa biarlah para pembaca yang “memilih” jalannya sendiri sesuai
    dengan keyakinan masing-masing, karena berhukum pada hukum
    Allah SWT adalah baik, dan yang tidak pun tidak apa-apa.

    TIDAK SESEDERHAN ITU (Menurut pendapatku) :

    Bukankah Allah SWT pernah berfirman :
    QS Al-Maa’idah ayat 44 :
    “Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang KAFIR.”

    QS Al-Maa’idah ayat 49 :
    “Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.
    Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak
    memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.”

    Syaikhul Islam Ibnu Taimyah berkata :
    “Jika seseorang diangkat sebagai pemimpin dan diperintahkan untuk berhukum
    dengan selain hukum Allah dan rasul-Nya atau diperintahkan untuk tidak adil
    sebagaimana perintah Allah dan rasulnya, maka syarat tersebut batil
    berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.
    Begitu pula halnya jika dia memerintahkan kepada hal-hal yang menyelisihi hukum Allah.”
    (Kitab Al-Uqud li Ibni Taimiyah, hal. 17, Tahqiq oleh syaikh Muhammad Hamid Al Faqi,
    diterbitkan oleh maktabah As-Sunnah Al-Muhammadiyah)

    Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menafsirkan ayat ini
    (QS Al-Maa’idah ayat 49-50) :
    “ Allah Ta’ala mengingkari orang yang berpaling dari hukum Allah
    -hukum yang telah muhkam (kokoh), meliputi seluruh kebaikan dan mencegah setiap keburukan-
    kemudian orang tersebut justru berpaling kepada yang lain, berupa pandangan-pandangan,
    hawa nafsu dan berbagai peristilahan yang dibuat oleh manusia tanpa bersandar kepada
    Syariat Allah, sebagaimana masyarakat jahiliyah berhukum kepada kesesatan dan kebodohan,
    hukum yang mereka buat berdasarkan pandangan dan hawa nafsu mereka.
    Sama halnya seperti Bangsa Tartar yang berhukum dengan kebijakan-kebijakan kerajaan yang diambil dari keputusan raja mereka, Jengis khan, raja yang telah menyusun al Yasaq untuk mereka, yaitu kitab kumpulan hukum yang diramu
    dari berbagai syariat yang berbeda, termasuk dari Yahudi, Nasrani dan Islam. Di dalamnya juga terdapat banyak hukum yang semata-mata dia ambil dari
    pandangan dan hawa nafsunya. Kitab itu kemudian berubah menjadi syariat (undang-undang) yang diikuti oleh anak keturunannya, yang mereka dahulukan ketimbang hukum yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah rosulullah.
    Siapa melakukan hal tersebut maka dia telah kafir.
    Ia wajib diperangi sampai mau kembali merujuk kepada hukum Allah dan RasulNya,
    sampai dia tidak berhukum kecuali dengannya (Kitab dan Sunnah) baik sedikit maupun banyak.”

    BERHATI-HATILAH MENJADI ULAMA SUU’
    yang menyembunyikan KEBENARAN !!!

  2. muhamad

    sepertinya anda salah paham. coba anda baca dengan teliti.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Jurnalis Ranu Muda Ditangkap, Komisi III DPR: Polisi Sudah Mulai Represif

“Kita ini punya kebebasan dalam berpendapat yang diatur dalam Undang-undang Dasar, sehingga insiden penangkapan kemarin itu sangat disayangkan,”

Rabu, 28/12/2016 17:31 0

Amerika

Mossad Adakan Pertemuan Rahasia dengan Staf Trump

Kepala badan intelijen nasional Israel, Mossad melakukan kunjungan rahasia ke Amerika Serikat untuk bertemu dengan para staf Presiden terpilih Donald Trump dan memberi arahan mereka soal keamanan.

Rabu, 28/12/2016 16:40 0

Rusia

Pistol Pengawal Putin Ini Diklaim Salah Satu Terbaik di Dunia

Pistol dengan berat tidak sampai 1 kg (0,995 kg) ini dapat bertahan dalam kondisi suhu -50°C hingga +50°C. Dengan panjan 8,8 inch (225 mm), pistol ini dikenal memiliki akurasi yang sangat baik, dengan jarak tembak efektif 218 yard (200 m).

Rabu, 28/12/2016 16:02 0

Indonesia

5 Pihak Jamin Penangguhan Penahanan Ranu Muda

"Ranu ini kan melakukan tugas jurnalismenya, jadi kita berharap tugas itu dilindungi secara hukum tidak di kriminalisasi,"

Rabu, 28/12/2016 15:20 0

Yaman

Pemberontak Hutsi Mendapat Serangan Masif, Puluhan Militan Tewas

Puluhan pemberontak Syiah Hutsi tewas pada Selasa (27/12), setelah pasukan pemerintah melancarkan serangan terbaru untuk mengakhiri bulan kebuntuan militer, terutama di distrik Nehim provinsi Sana'a dan Shabwa.

Rabu, 28/12/2016 14:30 0

Indonesia

Pemuda Muhammadiyah Sukoharjo: Ranu Muda Terapkan Etika Jurnalisme Islam

Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Sukoharjo mendatangi Mapolda Jawa Tengah, Selasa (27/12) untuk menyerahkan surat pernyataan penjaminan penangguhan penahanan Ranu Muda

Rabu, 28/12/2016 13:45 0

Indonesia

Sidang Keempat Ahok di Kementan, Ini Agendanya

Majelis Hakim Jakarta Utara telah menetapkan untuk menolak eksepsi Ahok dan penasehat hukumnya.

Rabu, 28/12/2016 13:41 0

Suriah

Kuburan Massal Ditemukan di Aleppo, Ulah Siapa?

Kementerian pertahanan Rusia mengatakan bahwa pasukannya telah menemukan kuburan massal di Aleppo. Juru bicara kementerian, Mayor Jenderal Igor Konashenkov menambahkan bahwa puluhan mayat ditemukan, dengan tanda-tanda penyiksaan dan mutilasi.

Rabu, 28/12/2016 12:20 0

Indonesia

Soal Pemanggilan Pengelola PO NPM, Begini Penjelasan Polda Metro Jaya

"Pemanggilan Angga tidak ada sangkut pautnya dengan aksi 212 kemarin,”

Rabu, 28/12/2016 11:39 0

Turki

Erdogan: Kami Punya Bukti Koalisi AS Dukung Teroris di Suriah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Selasa (27/12), menegaskan pihaknya memiliki bukti lengkap dengan gambar dan video bahwa koalisi yang dipimpin oleh pasukan Amerika Serikat memberikan dukungan kepada kelompok teroris di Suriah, termasuk di antaranya Daulah Islamiyah (ISIS).

Rabu, 28/12/2016 10:49 1