Harapan Seuntai Doa untuk Bima yang Tengah Berduka

KIBLAT.NET – Bima memang unik, dari atas pesawat kita akan dimanjakan dengan melihat indahnya pegunungan dan kaldera Tambora yang mendunia. “Letusan beberapa tahun silam telah membuat kaldera yang sangat besar. Tambora membentuk kaldera kering terbesar di Indonesia dan ketinggiannya berkurang dari sekitar 4.000 meter menjadi 2.000an meter,” jelas Dzul, warga asli Bima.

Bila kita cermati dari ketinggian 2.000 meter dalam pesawat yang menuju Bima, tampak geografis dataran pulau Sumbawa. Kota Bima terlihat paling menonjol dikelilingi perbukitan dengan batuan keras dan banyak tumbuh pohon bidara diatasnya. Bidara di sini termasuk tumbuhan liar yang mudah dicari di setiap jengkal tanah di Bima.

Mengenal Bima memang asyik, belum lagi dari timur jauh nampak daratan Pulau Komodo, yang dikenal dengan binatang purba yang hidup di pesisir pasir merahnya dan serunya sailing trip di sekelilingnya. Atau tentang Perhelatan MTQ XXVI lalu di Nusa Tenggara Barat telah memamerkan miniatur Kesultanan Islam Bima yang melegenda itu.

Alam yang menantang hingga lautan yang membentang, di hadapan itulah suasana Bima yang terik. Suasana yang akan sangat mempengaruhi karakter psikososial penghuninya.

Belum lagi dengan lingkungan berpacuan kuda, berburu, memanah ikan dan mengarungi lautan makin lengkap jejak pengalamannya. Wajar bila lingkungan telah membentuk karakter mereka yang kuat dan keras bila memegang prinsip.

Potretnya keindahan suasana petang di Kota Bima sebelum banjir melanda
Potretnya keindahan suasana petang di Kota Bima sebelum banjir melanda

Ada oleh-oleh yang unik di sini, selain ada madu khas Bima dan susu kuda, ada juga Rimpu. Rimpu adalah suatu pakaian khas leluhur budaya yang berasal dari suku Bima, dimana para wanita Bima menggunakan sarung (tembe nggoli) untuk dijadikan jilbab, busana adat identitas Muslimah di masa kejayaan kesultanan Islam Bima. Pakaian kemuliaan para darah biru di masa kerajaan yang kini mulai berangsur-angsur menghilang.

BACA JUGA  Indonesia Menuju Jurang Perpecahan Tak Berujung?

Rimpu Mpida (mirip cadar) dipakai sevagai tanda perempuan masih lajang, sedangkan Rimpu Colo (muka terbuka) adalah tanda wanita telah bersuami. Rimpu masih eksis di daerah-daerah tertentu yang masih memegang kuat tradisi peninggalan kerajaan. Apalagi rimpu asli tenun tangan di perkampungan di Tambora atau Sape Bima itu lebih halus dan lembut, harganya pun lumayan berkelas. Itulah Bima, ada khas rimpu pada masa dahulunya, ada pacuan berkuda yang menjadi tantangan dan lautan luas yang menantang untuk melaut menaklukan samudera.

Bukan membanggakan, namun bolehlah berbagi. Bila Anda mengenal Hamdan Zulva, mantan seorang hakim konstitusi Republik Indonesia, dialah salah satu putra terbaik kota Bima yang pernah dikenal jagat Nusantara. Selain itu, banyak alim ulama tokoh kesultanan Bima yang sudah sedianya ada namun masih asing di tengah kita.

Bima memang kota sejarah, terlahir banyak aktivis Islam, tokoh nasional, pejabat, dan saudagar, para penghafal Al-Qur’an dari dalamnya. Namun, semuanya kini tengah dirundung duka dengan datangnya banjir dahsyat yang terjadi beberapa hari lalu.

Banjir menggenang hingga setengah badan. Suasana kota Bima dalam keadaaan seperti kota mati, hiasan benhur (dokar.Red) tak dijumpai lagi. Situasi Bima saat itu menjadi lumpuh total. Berhari-hari listrik padam, sinyal jaringan komunikasi terputus, akses jembatan penghubung dimana-mana terputus, bandara pun ditutup.

Hari ini kita terpanggil haru lagi, sembab air mata harus mengalir lagi. “Usai shalat Jum’at itu tiba-tiba datang air bah yang sangat besar menuju tempat kami,” tutur salah seorang ustadz yang menyaksikan langsung datangnya banjir. “Buku-buku perpustakaan itu telah hanyut. Karpet, mimbar dan lainnya fasilitas masjid pun tak terselamatkan. Mungkin dari ini masjid kami memulai dari awal nol lagi. Hanya ada tiang dan atap penyangga. Hasbunallah wanikmal wakiil,” imbuhnya.

BACA JUGA  Indonesia Menuju Jurang Perpecahan Tak Berujung?
Banjir dengan ketinggian lebih dari setengah badan orang dewasa. (Sumber: Republika)
Banjir dengan ketinggian lebih dari setengah badan orang dewasa. (Sumber: Republika)

Banjir kali ini terbesar dalam satu dekade terakhir. Banyak analis menilai bahwa banjir akibat penggundulan hutan atau aktivitas penambangan liar, atau segudang sebab lainya. Fokus berbenah itulah pelajaran muhasabah kejadian air bah kali ini. Mengiba menghibur diri ada salah apa gerangan dan ujian pelajaran apa yang Allah akan sampaikan. Apa mau diungkapkan, selain berbaik sangka dengan takdir kehendak Allah ‘azza wa jalla. Inilah ujian yang harus kita menyadarinya. Sabar, sabar dan sabar tanpa putus menyerah harapan.

Apa mau dikata, Allah menguji semua yang ada di kota ini, semua yang mengaku Muslim dan saudara seiman. Aleppo di Suriah serta Bumi Islam lainnya belumlah usai nasib ceritanya. Tapi, bolehlah kita berharap dengan seuntai doa, untuk Bima juga Aceh yang hari ini tengah berduka.

Penulis: Ali Azmi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat