Meramu Tuts Keyboard Menjadi Amunisi Dakwah dan Jihad

KIBLAT.NET – Dakwah merupakan sebuah tuntutan bagi setiap orang yang mengaku bahwa dirinya muslim. Tak mesti di depan ratusan atau ribuan pasang mata, ajakan kepada kebaikan meski untuk seorang pun terhitung dakwah. Sejak zaman Rasulullah hingga hari ini, tuntutan tersebut akan senantiasa melekat. Menyebar-luaskan ideologi, menyampaikan kebenaran, dan membantah segala bentuk kebathilan merupakan bagian dari makna dakwah itu sendiri. Seperti apapun media yang ditempuh untuk memperaktikkannya.

Di zaman Rasulullah, dakwah dilakukan pada setiap kesempatan. Yaitu dengan memanfaatkan momen-momen tertentu untuk menjelaskan tuntunan Islam. Berbagai momen dakwah yang dipakai di zaman itu adalah hasil pembacaan sebuah peluang, meskipun media yang digunakan terbatas. Adapun hari ini, media yang tersedia jauh lebih beragam dari selain media yang digunakan di zaman dahulu. Hari ini ada radio, televisi, surat kabar dan media online yang kian melengkapi keragaman tersebut.

Media dan Musuh Islam

Faktanya adalah, media-media yang ada justru lebih dulu digunakan oleh musuh-musuh Islamuntuk menebar kebenciannya terhadap Islam. Orang-orang Islam tertinggal beberapa langkah dalam hal tersebut. Media hari ini tidaklah menampilkan isu umat Islam kecuali dengan perspektif liberalisme, hedonisme, feminisme dan terorisme. Yaitu segala isme yang bisa dipastikan hanya berujung ke satu muara; Ghazwatul Fikri ­(Perang Pemikiran). Dan musuh-musuh Islam dengan Amerika sebagai dalang sekaligus nakhodanya, telah membuktikan bahwa setiap tahunnya mereka menyuplai secara khusus dana satu miliar dolar kepada media massa untuk sebuah propaganda. Tujuan mereka adalah agar opini publik mampu tergiring menuju stigmatisasi buruk terhadap Islam.

Berikut contoh konkritnya:­­

No

Media berita

Judul Berita

1 Media Sekuler A Pemberontak Suriah
2 Media Sekuler B Teroris Suriah
3 Media Islam Pejuang Suriah

Padahal ketiga media tersebut mengambil peristiwa yang sama, yaitu: Revolusi Suriah.

Contoh lain yang pasti kita belum bisa melupakannya adalah pemberitaan mengenai Aksi Bela Al-Qur’an. Meskipun yang menjadi topik pemberitaan sama, namun ketidakadilan dalam mengemban amanah jurnalistik sangat nampak. Misalnya, Salah satu surat kabar menulis headline berita Aksi Bela Al-Qur’an dengan judul ‘Makar Terbukti Ada’, media lainnya tampil dengan judul ‘Demo 212 Tercoreng Rencana Makar’ serta ‘Skenario Kuasai MPR’ yang dibawakan oleh media yang serupa.

Media Bagi Dakwah

Pesan yang tertangkap dari media-media di atas adalah ketidakberimbangan dalam pemberitaan. Namun, dari pada kita terus mencela kegelapan, akan lebih bijak bila kita mau bangkit dari sofa, untuk kemudian menyalakan sebatang lilin agar menyinari. Dan itulah beda kita dengan mereka hari ini, kita sibuk berteori, sedangkan mereka terus bekerja.

Penggunaan berbagai sarana yang ada saat ini, harus mampu menjadikan media sebagai sarana penyebaran dakwah, terlebih media online. Hal ini demi efektifitas dakwah itu sendiri. Alhasil, dakwah tidak lagi terbatas hanya dilakukan oleh para da’i atau muballigh dengan berbicara di atas mimbar, namun lebih dari itu. Sehingga, siapa saja bisa mengambil peran dalam rangka mendukung agama Islam ini. Sekecil apapun perannya, meski hanya dengan menulis satu-dua kalimat di akun social media yang dimilikinya.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat