... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Melihat Pemberitaan 212: Cerdas Membaca Ideologi, Menjadi Pembaca Digdaya

Foto: Headline media massa saat aksi bela Islam.

KIBLAT.NET – Terbuka kesempatan bagi lima juta peserta (ada yang menyebut 7 juta lebih) aksi bela Islam 212 yang lalu untuk memeriksa pembingkaian media terhadap aksi. Mereka hadir di sana sehingga dengan demikian bisa membaca arah pembingkaian berita media.

Pembingkaian media sangat terkait dengan ideologi media itu. Apa yang ditonjolkan, apa yang disembunyikan, akan menunjukkan posisi media dan ideologi media.

Cara paling mudah ialah dengan melihat headline surat kabar nasional dan daerah. Headline adalah berita terpenting dan disimpan di halaman pertama. Halaman depan adalah etalase media cetak.

Untuk memahami arah berita, ada beberapa yang harus menjadi catatan. Yang pertama konteks berita. Aksi Bela Islam jilid III dilakukan sebagai upaya menuntut ditegakkannya hukum secara berkeadilan atas penistaan agama yang dilakukan Ahok. Dalam berita atau judul mesti ada konteks ini. Jika tidak, maka peristiwa di Jakarta pada 2 Desember tidak akan utuh seperti realitanya.

Yang kedua adalah tuntutan ulama yang dengan nyata disampaikan dalam ceramah-ceramah mereka. Aksi 212 bukan sekedar sholat Jumat bersama. Aksi 212 memiliki target yang jelas secara hukum kenegaraan, yakni segera ditahannya Ahok.

Yang ketiga peserta yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Ini bukan aksi yang digerakkan oleh satu lembaga sosial kemasyarakatan, partai, atau perusahaan. Ini gerakan yang murni lahir dari masyarakat dan dibiayai masyarakat dari kantong mereka sendiri.

Mari diperiksa pemberitaan media. Media yang idealis itu mempraktekkan jurnalistik yang benar-benar objektif karena ‘journalism’s first obligation is to the truth’, kewajiban pertama dalam jurnalistik adalah pada kebenaran.

Kebenaran yang seperti ditulis T.D Allman: ‘Genuinely objective journalism is journalism that not only gets the facts right, it gets the meaning of events right. It is compelling not only today, but stands the test of time. It is validated not only by “reliable sources” but by the unfolding of history. Its journalism that ten, twenty, fifty years after the fact still holds up a true and intelligent mirror to events’.

Jurnalistik yang objektivitasnya murni adalah jurnalistik yang tidak saja mendapatkan fakta yang benar, tapi makna kejadian yang benar. Tidak saja tegak sebagai kebenaran sekarang, tapi tetap benar seiring waktu. Tidak sekedar divalidasi ‘sumber terpercaya’, tapi dibenarkan oleh bergulirnya sejarah. Jurnalistik yang sepuluh, dua, lima puluh tahun setelahnya, fakta itu tetap nampak sebagai cermin yang benar dan cerdas akan kejadian.

BACA JUGA  Pemuda Islam, Go International!

Lima juta warga Indonesia hadir dan merasakan langsung suasana aksi. Mereka saksi peristiwa yang tidak akan bisa dibohongi karena mata dan telinga mereka menangkap itu semua.

Ada media yang headlinenya berjudul ‘Damai Tertib Aman’; Supermassa Superdamai’ (Koran Sindo); ‘Aksi Paling Super’ (Harian Jogya); ‘Aksi 212 Luar Biasa’ (Kedaulatan Rakyat); ‘Seruan Tangkap Ahok Bergema’ adalah judul yang menggambarkan dengan baik kondisi Aksi 212.

Judul ‘Makar Terbukti Ada’ (Media Indonesia); ‘Demo 212 Tercoreng Rencana Makar’ (Tempo); ‘Rizieq Teriakkan Revolusi’ (Waspada); ‘Gagal Duduki Parlemen’ (Sumatera Ekspres); ‘Skenario Kuasai MPR’ (Sriwijaya Post); ‘Kok Nggak Ngefek Ke Penahanan Ahok’ (Rakyat Merdeka), adalah judul media yang memiliki kebencian jelas pada Muslim.

Mereka mencoba membingkai bahwa Aksi 212 memiliki hidden agenda selain tuntutan ditegakkannya hukum. Mereka juga media yang berusaha menyebarkan kebencian dan berusaha memecah belah persatuan NKRI.

Ada juga judul yang berusaha lari dari isu utamanya, seperti ‘Langkah Jokowi’ (Warta Kota); ‘Dhani Cs Tersangka Makar’. Ini dari media yang menutup mata terhadap prestasi peserta Aksi 212 dan mengalihkannya pada isu yang tidak terkait sama sekali.

Yang menarik, dua media sama-sama memiliki headline ‘Terima Kasih’, tapi dengan penyajian yang berbeda. Republika menyajikan isi pidato Presiden Jokowi secara utuh dan menunjukkan apresiasi Jokowi pada ulama dan peserta Aksi 212. Berbeda dengan media yang satu lagi yang hanya meletakkan judul tanpa penjelasan.

BACA JUGA  Budaya IDI Sebagai Strategi Ciptakan Generasi Muslim Cerdas dan Berilmu

Ada juga judul yang aneh, ‘Aksi 212 Berakhir Bahagia’ (Jawa Pos). Apanya yang bahagia? Sepanjang penista agama masih bebas, tidak ada bahagia bagi peserta aksi. Lalu juga ada media yang sama sekali tidak memberitakan Aksi 212 seperti Pikiran Rakyat.

Bagaimana menyikapi media-media di atas?

Matikan media mereka. Jangan beli media cetak mereka. Ganti langganan ke media yang jujur. Usahakan dengan sungguh-sungguh tidak masuk ke website media mereka. Lakukan piket secara berganti. Satu masuk ke website media mereka jika diperlukan, lalu screen captured isi websitenya dan bagikan kepada yang perlu. Ini supaya berkurang yang masuk ke websitenya. Dengan demikian meminimalkan klik websitenya mereka. Tingkat klik konsumen pada website media akan mempengaruhi tingkat pendapatan media dari iklan.

Kita berdaya. Ada lima juta atau tujuh juta kita semua. Plus yang tidak bisa sampai ke Jakarta karena ditahan, dibatalkan tiket, dibatalkan sewa bus dan sebagainya. Jika berkurang oplah media-media pembenci Muslim ini 3 juta eksemplar saja, ini akan membangkrutkan mereka dengan cepat.

Ada media nasional yang saat ini di ambang kebangkrutan. Ada majalah terkenal yang saat ini mulai mengurangi berbagai dana operasionalnya karena mulai defisit. Sikap kita menolak membeli media mereka akan menusuk dan memburaikan pertahanan finansial mereka. Mereka akan merasakan betapa pedihnya ditinggalkan pembaca yang selama ini setia namun sering mereka khianati.

‘Islam bersatu tidak bisa dikalahkan’, semboyan aksi ini harus nyata menjadi aksi berikutnya. Pembaca bersatu memboikot media yang sering berdusta. Apa kata mereka? Ratusan ribu? Jutaan. Bisa jadi tujuh juta. Dua kali lipat jumlah muslim berhaji di tanah suci.

 

Penulis: Maimon Herawati dosen komunikasi Universitas Padjajaran Bandung

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Dalam 2 Hari, Petisi Boikot MetroTV Sudah Ditandatangani 85.000 Orang

Sebanyak 85.060 orang telah menandatangani petisi boikot Metro TV. Petisi yang baru dibuat pada Senin, (05/12) ini langsung menuai 80ribu dukungan hanya dalam satu hari.

Rabu, 07/12/2016 19:40 2

Indonesia

Beredar Petisi Ajakan Masyarakat untuk Boikot MetroTV

Setelah maraknya gelombang aksi bela Islam 411 dan 212, terjadi perang opini di tengah masyarakat. Sejumlah media gencar memberitakan aksi bela Islam dari berbagai sudut pandang. Namun, sejumlah media mainstream justeru mendapat kecaman dari masyarakat. Kini, beredar petisi untuk memboikot media seperti MetroTV.

Rabu, 07/12/2016 19:00 4

Iran

Oposisi Iran: Garda Revolusi Bangun Markas Komando di Aleppo

Dewan Nasional Perlawanan Nasional oposisi Iran mengatakan bahwa Garda Revolusi membangun markas komando di dekat kota Aleppo, Suriah.

Rabu, 07/12/2016 17:45 0

Suriah

Pesawat Iran Ramai di Damaskus, Diduga Membawa Alutsista

Aktivitas penerbangan di bandara Damaskus meningkat dalam dua pekan terakhir. Terutama penerbangan Iran, yang meningkat dua kali lipat.

Rabu, 07/12/2016 16:39 0

Indonesia

Panglima TNI Khawatir Dana Pemberantasan Terorisme Dibiayai Asing

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan kekhawatirannya atas dana pemberantasan terorisme di Indonesia yang dibiayai oleh asing. Dan yang terbesar adalah dari Australia. "Terorisme di Indonesia anggaran paling besar masuknya dari Australia. Baru Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina," ungkapnya.

Rabu, 07/12/2016 16:19 0

Indonesia

HMI Akan Selidiki Dalang Pencatut Atributnya di ‘Parade Kita Indonesia’

Pengurus Besar Humpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) menyayangkan adanya massa Parade Kita Indonesia, pada Ahad (4/12/2016) di Car Free Day seputar kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) yang menggunakan atribut HMI secara ilegal.

Rabu, 07/12/2016 15:48 0

Indonesia

Komnas HAM: Masih Terjadi Pelanggaran dalam Penindakan Terorisme

Roichatul Aswidah menegaskan bahwa masih ada pelanggaran yang dilakukan aparat hukum dalam upaya penindakan terorisme.

Rabu, 07/12/2016 14:52 0

Indonesia

Video Amatir Sesaat Pasca Gempa Aceh

Aceh diguncang gempa pada Rabu (07/12) pukul 05.30 WIB. Gempa dirasakan kuat oleh warga, dan terasa di daerah Bireun, Sigli, dan pesisir Aceh bagian utara serta timur.

Rabu, 07/12/2016 14:23 0

Rohah

Kisah Si Penjilat Penguasa

Suatu hari Ibnu Qais Ar-Ruqyat mendatangi Abdullah bin Zubair. Ketika itu Abdullah bin Zubair menjabat sebagai gubernur Mekkah. Ibnu Qais berkata, “Berilah aku sebagian dari harta Allah.”

Rabu, 07/12/2016 13:30 0

Indonesia

Aceh Diguncang Gempa 6,4 SR, Puluhan Korban Berjatuhan

Gempa berkekuatan 6,4 SR mengguncang wilayah Pidie Jaya Aceh pada Rabu pukul 05.03 WIB. Pusat gempa di darat pada koordinat 5,19 LU dan 96,38 BT, dengan kedalaman 10 km. Atau berjarak 35,8 km barat Kota Bireun dan 51,1 km tenggara Kota Sigli.

Rabu, 07/12/2016 12:54 0

Close