... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Derita Rohingya, Derita Kita Semua

Foto: Rohingya. (Sumber: Jalalboy)

 

KIBLAT.NET – Muslim Rohingya kembali menderita. Dikutip dari Liputan6.com, Human Rights Watch melaporkan lebih dari 1.200 rumah di desa-desa yang dihuni oleh muslim Rohingya rata dengan tanah, peristiwa ini terjadi dalam kurun 10-18 November. HRW sebelumnya telah merilis gambar satelit yang mengidentifikasi 430 rumah hancur terbakar di tiga desa di Rakhine pada tanggal 13 November. Sampai saat ini belum jelas berapa jumlah korban yang tewas, baik ditembak maupun disiksa akibat serangan militer Myanmar ke Rakhine “rumah” bagi muslim Rohingya. Ada yang mengatakan 70 orang tewas, ada pula yang mengatakan 86 orang atau lebih dibantai. Sementara banyak laporan juga yang menyatakan 400 muslim Rohingya ditangkap sejak wilayah mereka dikepung (okezone.com).

Ironisnya pemerintah Myanmar terus membantah dan menyangkal bahwa telah terjadi genosida terhadap komunitas muslim Rohingya. Juru Bicara Kepresidenan Myanmar Zaw Htay mengatakan, militer tak membakar dan menghancurkan rumah-rumah suku Rohingya. Mereka juga tak memperkosa wanita Rohingya. “Kami akan bekerja sama dengan media untuk membahas isu-isu yang sensitif di masa depan,” ujarnya (Republika.com). Faktanya pemerintah Myanmar dengan menggunakan militernya telah melakukan eksekusi, penyiksaan, dan pemerkosa di Rakhine.

Aung San Suu Kyi, pemimpin pemerintahan Myanmar secara de facto hanya bungkam terhadap pembantaian yang telah terjadi selama bertahun-tahun ini. Sikap yang memalukan, mengingat Aung San Suu Kyi adalah peraih Nobel Perdamaian sementara rakyatnya tengah dibantai oleh negaranya sendiri. Kecaman pun datang dari dunia internasional yang kecewa dengan sikap Suu Kyi yang terkenal selalu diam menanggapi derita komunitas muslim Rohingya.

Diketahui 3000 muslim Rohingya mengungsi ke China, sementara mereka yang tiba di Bangladesh dengan perahu, ditolak dan didorong pergi oleh Penjaga Perbatasan Bangladesh karena dianggap imigran ilegal yang tidak memiliki kewarganegaraan. Kini mereka terombang-ambing di lautan tanpa arah dengan kekurangan bekal dan bermodal pakaian yang melekat di tubuhnya. Mereka tak mungkin kembali ke Rakhine untuk mengantarkan nyawa. Hal yang sama juga dilakukan oleh Malaysia. Padahal penguasa mereka adalah seorang muslim, membantu mereka dengan memberi makanan, tempat tinggal dan pakaian adalah kewajiban syar’i sebagai sesama muslim, termasuk mencegah intimidasi dari militer Myanmar.

BACA JUGA  RUU HIP: Tawar-Menawar Harga Pancasila

Sikap pemerintah Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia pun tak jauh beda. Semestinya Indonesia mengirimkan pasukannya untuk menghalangi pemerintah Myanmar untuk tidak membunuh, membakar harta dan rumah muslim Rohingya serta menyelamatkan mereka dari genosida yang dilakukan militer Myanmar. Bukan hanya lewat jalur perundingan dan diplomasi yang selama ini dilakukan.

Nasionalisme semu telah memudarkan dan menghilangkan rasa persaudaraan sesama muslim yang terikat kuat oleh Aqidah Islam. Sekat nasionalisme yang diciptakan oleh Barat sejak runtuhnya Kekhilafahan Islam yang terakhir -Daulah Utsmaniyah Turki-  telah berhasil mengkotak-kotakan negeri-negeri muslim menjadi 50 lebih negara bangsa. Inilah yang menjadi salah satu penyebab pudar dan hilangnya rasa kepedulian terhadap saudara muslim dibelahan bumi yang lainnya. Padahal 14 abad yang lalu Rasulullah saw telah mengingatkan kaum muslimin bahwa sesama muslim adalah saudara. Mereka ibarat satu tubuh di mana jika ada satu bagian tubuh yang sakit maka bagian tubuh yang lain ikut merasakan sakitnya.

Penguasa negeri-negeri muslim tampak tak serius menangani derita muslim Rohingya. Jalur perundingan dan diplomasi terbukti gagal dalam menyelesaikan persoalan Rohingya karena sampai saat ini Rakhine terus saja bergejolak. Mereka seolah berlepas tangan dan menyerahkannya kepada masyarakat Internasional. Nyatanya organisasi Internasional seperti PBB tidak menyelesaikan masalah apapun. Sebagai contoh, masalah Palestina masih dalam naungan PBB hampir enam puluh tahun lamanya dan sampai kini masih jalan ditempat bahkan masalah Palestina semakin kompleks. Mereka menegaskan bahwa muslim Rohingya adalah kelompok yang menerima perlakuan terburuk di dunia dan bahwa yang menimpa muslim Rohingya adalah preseden buruk bagi penegakkan HAM dunia. Mereka hanya mengecam tanpa mengambil tindakan untuk menghentikan tindakan pemusnahan etnis Rohingya  yang dilakukan pemerintah Myanmar. Sungguh peristiwa ini telah membuka mata dan hati kita serta menyingkap kedustaan dan kepalsuan dari propaganda Barat.

Sudah saatnya bagi kita untuk mengambil sikap sebagai mukmin yang benar dengan bertawakkal kepada Allah Swt, serta memecahkan masalah derita Rohingya dengan kekuatan kita sendiri. Langkah yang harus kita ambil untuk mempertahankan kehormatan kita, darah dan harta kita.

BACA JUGA  Hagia Sophia dan Surau Samping Rumahmu

Tiada solusi lain kecuali eksistensi Khilafah sebagai satu-satunya solusi bagi derita Rohingya dan  bagi derita kaum muslimin di penjuru dunia baik di Moro, Pattani, Palestina maupun Suriah. Khalifah lah yang akan melindungi rakyatnya baik muslim maupun non-muslim. Khalifah pula yang akan membela orang-orang yang tertindas di belahan bumi manapun serta apapun agama, etnis dan ras mereka. Sejarah membuktikan bagaimana Khalifah umat Islam menyelamatkan satu orang muslimah dan menaklukan kerajaan ‘Amuria. Tentu kita juga pernah membaca bagaimana kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab yang membawa sekarung gandum di punggungnya untuk makanan seorang janda dan anak-anaknya yang yatim yang sedang kelaparan. Hanya Khalifah satu-satunya pemimpin yang sangat tidak menginginkan orang-orang berkata: “burung-burung kelaparan di negeri muslim”.  Dia adalah pelindung negara dan orang-orang miskin, dan mereka yang tidak punya penjaga dan tersia-sia sebagaimana tersia-sianya umat kita saat ini yang menjadi santapan para penjahat.

Jalan keluar bagi derita muslim Rohingya bukan hanya dengan penggalangan dana dan santunan. Bukan hanya dengan membekali mereka makanan, pakaian dan tempat tinggal.  Dan bukan pula dengan memberi mereka kewarganegaraan atau dengan berdo’a.  Sebab akar persoalannya adalah mereka tidak punya pelindung dan pemimpin yang menjaga jiwa-jiwa dan kehormatan mereka, dan menjamin pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Maka dari itu Khilafah merupakan kebutuhan mendesak yang harus segera ditegakkan.  Bukan hanya kaum muslimin seluruh dunia yang membutuhkan Khilafah tapi juga umat manusia secara keseluruhan. Karena Khilafah yang akan membebaskan manusia dari keburukan kapitalisme yang rakus dan kekerasan peradaban Barat yang rusak. Dan bagi seorang muslim tegaknya Khilafah adalah kewajiban terpenting yang telah Allah Swt wajibkan kepada kaum muslimin. Khilafah adalah mahkota kewajiban yang akan menjamin pelaksanaan seluruh kewajiban lainnya untuk melanjutkan kehidupan Islam. Khilafah adalah sumber kemuliaan, kesatuan dan kemuliaan umat. Allahu ‘alam bish shawwab.

Penulis: Ummu Naflah (Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Wilayah Cikupa)


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Wilayah Lain

Bangladesh Akan Pulangkan Puluhan Warga Rohingya

Polisi Bangladesh mengumumkan, Rabu (23/11), akan memulangkan puluhan Muslim Rohingya ke Myanmar yang ditangkap saat melintasi perbatasan

Kamis, 24/11/2016 11:00 0

Palestina

Lebanon Ingin Isolasi Pengungsi Palestina dengan Pagar Beton, Hamas Mengecam

Gerakan perlawanan Palestina, Hamas mengecam rencana otoritas Lebanon untuk membangun dinding beton di sekitar kamp pengungsi Palestina di Lebanon selatan.

Kamis, 24/11/2016 10:30 0

Mesir

Al-Sisi: Tentara yang Diakui di Suriah Tentara Rezim Assad

Presiden Mesir Abdul Fatah Al-Sisi menegaskan bahwa tentara yang diakui di Suriah adalah militer rezim Assad.

Kamis, 24/11/2016 09:58 0

Irak

Milisi Syiah Culik Ratusan Warga Tal Afar di Mosul Barat

Milisi Syiah Al-Hasd Al-Syakbi, Rabu (23/11), terus menggempur kota Tal Afar di barat Mosul, untuk merebut kota yang dihuni mayoritas Sunni dari suku Trukmen itu dari kontrol ISIS.

Kamis, 24/11/2016 09:21 0

Afghanistan

Taliban Gelar Upacara Pembaretan 150 Mujahid Muda

Komisi Brigade Martir dan Kamp Militer Imarah Islam Afghanistan (Taliban) menggelar upacara pembaretan 150 siswa militer untuk bergabung ke barisan pejuang Taliban

Kamis, 24/11/2016 08:44 0

Suriah

Lagi, Rezim Assad Bombardir Pemukiman Warga Sipil di Aleppo

Sedikitnya empat orang tewas dan 10 lainnya terluka dalam gelombang serangan baru yang dilancarkan rezim Assad di Aleppo.

Kamis, 24/11/2016 08:08 0

Indonesia

Desak Penghentian Genosida Rohingya, SEAHUM Akan Datangi Kedubes Myanmar

Selain itu, Imam menambahkan bahwa gabungan lembaga-lembaga kemanusiaan itu akan melakukan unjuk rasa terkait tragedi yang dialami etnis Rohingya. Aksi itu akan dilakukan pada Jumat (25/11) lusa

Rabu, 23/11/2016 20:37 0

Indonesia

Lima Pelapor Ajukan Surat Permohonan Penahanan Ahok

Dia pun menambahkan bahwa kasus terkait pasal 156a tentang penistaan agama sudah ada yurispudensinya. Dalam kasus-kasus yang lalu, semua terdakwa kasus ini dilakukan penahanan, dari sejak ditetapkan sebagai tersangka hingga ada ketetapan hukumnya.

Rabu, 23/11/2016 19:46 0

Indonesia

Tembus Blokade Myanmar, Humanitarian Flotilla for Rohingya

Seperti diketahui, zionis Israel melakukan blokade terhadap warga Palestina. Untuk menembus blokade itu, lembaga kemanusiaan dari berbagai belahan dunia melakukan pelayaran pengiriman bantuan kemanusiaan dalam misi Freedom Flotilla.

Rabu, 23/11/2016 19:37 0

Indonesia

GNPF-MUI: Jika Memang Ada Makar, Segera Tangkap!

Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), Ust KH. Zaitun Rasmin menyatakan rencana aksi damai pada tanggal 2 Desember akan tetap berjalan.

Rabu, 23/11/2016 17:17 0

Close